Oh My Dosen ( Remake )

Oh My Dosen ( Remake )
Bab 43. Melepaskan Dengan Ikhlas


__ADS_3

"Terima Kasih atas kedatangan kalian. Mohon di maafkan kesalahan Oma yang sudah memaksa kalian untuk menikah ". Juwono menghela nafas, Lia tampak memicing kan matanya kepada Juwono.


"Kata siapa Kami terpaksa karena Oma?". Lia mengukir senyuman mendengar ucapan Juwono. "Justru, Saya harus yang seharus nya berterima kasih kepada Oma, Mas. Karena Oma Saya jadi mempunyai pasangan hidup, dan kembali ke jalan yang lurus". Bagas menepuk bahu kanan Juwono dengan mengukir senyuman kecil menanggapi ucapan terakhir Juwono.


"Memang sempat belok kemana Kang Ju Won?".Tanya Arsy di sela-sela sedih nya.


"Yah sempet lirik ke Andra, Justine, Brayn, Brandon, aduh sakit sayang... ". Juwono memegang pinggang kanan nya saat mendapatkan cubitan melintir dari Lia kala mengabsen deretan para penggemar nya yang tak bisa di lanjutkan nya lagi.


"Bercanda sayang. Aku tuh belok cuma buat kamuflase aja biar bisa dapat istri yang benar-benar tulus mau menerima Aku apa ada nya bukan ada apa nya". Ucap Juwono menggenggam erat kedua telapak tangan istri nya.


"Kamuflase kok malah jadi ban**". Ujar Lia kesal.


"Kalau pura-pura miskin, lumpuh, buta atau cacat lain nya sudah biasa sayang. Kalau jadi ban** itu baru luar biasa, sayang". Lia memutar malas kedua bola kepada Juwono yang tengah tersenyum kecil menggoda nya.


"Alasan. Pokok nya selama seminggu ke depan Kang Ju Won nggak dapat jatah". Ucapan Lia, membuat Juwono menelan saliva nya dengan susah. Otak pun langsung melontarkan penolakan dan berucap "No way. Anaconda tidak bisa masuk kedalam sarang?. Big To The No". Ungkap hati Juwono memberontak.


Juwono menggenggam kedua tangan istri nya dengan erat, lalu mengecupi nya dengan lembut.


"Jangan kan seminggu, semalaman aja nggak masuk sarang, sudah pasti bikin Anaconda nggak bisa tidur, sayang ". Rengek Juwono, hingga membuat Arsy menyunggingkan senyuman melihat interaksi sepasang suami istri yang sangat jauh berbeda baik karakter, sikap dan juga sikap mereka tersebut pun merasa sedikit terhibur di balik duka nya kehilangan Oma Shinta untuk selama nya.


Bagas yang masih berdiri di samping istri nya yang tengah memeluk pinggang nya itu, tampak mengelus lembut pucuk kepala istri nya yang sedang di letakkan di perut nya dengan


"Seminggu, no debat". Lia pun memilih duduk di samping Arsy berseberangan dengan Bagas yang berdiri. Tawa kecil Arsy menghiasi perdebatan Lia dan Juwono tersebut.


"Kita kedepan yuk. Oma sudah mau di mandikan". Ujar Bagas sesaat melihat isi pesan di HP nya, Arsy pun mengangguki pelan ucapan Bagas.


🌷


🌷


🌷


Selepas pengajian hari pertama kepergian Oma di gelar ba'da Isya, Arsy lebih memilih menghabiskan waktu nya di kamar Oma Shinta.


Apalagi setelah pemakaman, Lia memutuskan untuk pulang karena, tiba-tiba wanita itu merasakan pusing dan juga mual. Sehingga di sinilah Arsy saat ini, di balkon kamar Oma seraya menatap langit gelap di keliling bintang.

__ADS_1


"Mas...". Bagas memeluk pinggang Arsy dari belakang kala istri nya itu menatap langit malam yang gelap dari balkon kamar Oma Shinta.


"Sudah malam. Istirahat lah,sayang". Bagas mengecup dengan lembut pipi kanan Arsy dari belakang.


"Apa Oma sudah bahagia di sana ya Mas?". Arsy menunjuk sebuah bintang yang berkelip paling terang di tengah bintang lain nya.


"Insya Allah sayang". Bagas mengeratkan pelukannya kepada Arsy. "Belajar lah untuk menerima istirahat semua dengan ikhlas". Arsy meraih kedua lengan Bagas yang tengah memeluk nya dari belakang dan mengeratkan pelukan tersebut


"Kamu nggak mau kan di alam sana, Oma tidak jadi melangkah karena Kamu yang masih berat melepaskan kepergian nya?". Arsy menggelengkan kepala nya lalu mengenggam punggung tangan Bagas yang masih memeluk nya dari belakang.


"Bagus". Bagas mengecup lembut pucuk kepala Arsy hingga membuat wanita itu tersenyum manis. Kedua nya menikmanti keheningan dan dingin nya malam seraya menatap pekat bya langit malam yang bertaburan bintang.


"Dingin. Kita masuk yuk". Bagas menarik pinggang Arsy dari belakang. Pria itu tidak jua melepaskan pelukan nya, sehingga mereka pun berjalan dengan berdempetan saling berpelukan.


Arsy memandang pembaringan Oma yang kosong dengan sprei yang masih sama seperti tadi pagi.


"Mau tidur di sini?". Arsy menggelengkan kepala nya mendengar pertanyaan Bagas. "Ya sudah kita ke kamar ya". Bagas pun melepaskan pelukan nya lalu menggenggam erat tangan Arsy dan kemudian berjalan beriringan keluar dari kamar Oma.


"Tidur lah". Ujar Bagas kala merebahkan tubuh Arsy ketika mereka sudah tiba di kamar mereka.


"Mas ada kerjaan sedikit. Nanti Mas menyusul". Arsy mengerucutkan bibir nya hingga membuat Bagas pun gemas


Cup


Sebuah kecu*** singka singgah di bib** mungil Arys hingga membuat kedua bola mata wanita muda itu membulat sempurna.


"Atau Si Eneng minta di kunjungin Si Entong?".


Wajah Arsy langsung memerah seketika, kala Bagas membahas kunjungan si Entong, yang selama seminggu ini setiap hari berkunjung ke rumah Si Eneng tiga kali sehari.


Hadeuh Mas Bagas udah kaya minum obat aja tiga kali sehari.


Arsy mengusap lembut wajah Bagas dengan telapak tangan kanan nya kala sang suami menggoda nya dengan kerlinga da tatapan mesum nya.


"Udah sana kerjain dulu kerjaan nya". Arsy pun mendorong lembut tubuh Bagas menjauhi nya. "Ya sudah. Mas tinggal dulu ya". Arsy menganggukkan kepala nya lalu merebahkan tubuh nya di atas pembaringan nya. Bagas merapikan selimut untuk membungkus tubuh Arsy sebatas dada nya.

__ADS_1


"Jangan mikir yang macam macam". Arsy mengangguk pelan seraya menguap kecil.


Cup


Bagas menci** kening Arsy sebelum melangkah pergi keluar kamar nya. Selepas kepergian Bagas, Arsy pun mulai menutup kelopak mata nya.


"Nanda". Sebuah suara lembut seorang pria membuat Arsy membuka mata nya perlahan-lahan.


"Dimana Aku?". Bisik hati Arsy kala melihat hamparan tanah luas membentang dengan awan putih yang memenuhi langit.


"Nanda sayang". Suara lembut seorang wanita hinggap di telinga Arsy.


Arsy mengerjapkan matanya berkali-kali kal melihat sepasang suami-istri tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya.


"Alhamdulillah, Kamu sekarang sudah menjadi seorang istri". Sang wanita menghampiri Arsy lalu mengusap lembut pucuk kepala Arsy. Tubuh nya terasa hangat kala menerima usapan dari wanita yang belum pernah di lihat nya tersebut. Tiba-tiba saja kedua kelopak mata nya menetaskan air mata nya.


"Jadilah istri yang sholehah. Yang bisa menjadi rumah di kala suami pulang". Kali ini sang pria yang mengusap lembut pucuk kepala Arsy. Entah mengapa Arsy justru melebarkan kedua tangan nya lalu. memeluk dengan erat sepasang suami istri tersebut.


"Ayah dan Bunda, menitipkan sesuatu untuk kalian". Arsyt melerai pelukan mya kepada sepasang suami istri tersebut.


"Tolong di rawat dan di jaga. Kelak mereka lah yang akan membantu Kamu, Suami Kamu juga Kami semua di akhirat nanti". Wanita itu mengusap dengan lembut perut Arsy. Sementara sang pria mengecup kening Arsy dengan lembut.


"Ayah?". Pria itu mengangguk pelan kala Arys melihat kepada nya. "Bunda?". Wanita itu tersenyum lalu mengangguk pelan seraya mengusap lembut pipi kanan Arsy.


Arsy kembali memeluk kedua nya dengan erat seolah tak ingin melepaskan mereka.


"Oma titip Adit juga mereka ya, Sayang ". Arsy mengurai pelukan kepada kedua orang tua nya, saat mendengar suara Oma Shinta. Kedua bola mata nya membulat kala melihat sang Oma sudah berada di samping kedua orang tua nya.


"Papa dan Mama juga titip Adit dan mereka ya, Nak". Seorang pria berwajah mirip dengan Bagas serta seorang wanita berwajah bule menghampiri Arsy yang berdiri mematung memandangi satu persatu wajah yang baru di kenali nya selain sang Oma.


"Papa Bas?". Pria berwajah mirip Bagas itu mengangguk. "Mama Elle?". Wanita itu mengangguk kala Arsy menyebutkan nama panggilan kesayangan yang selalu Bagas ucapkan untuk sang Mama.


##############


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK NYA YA

__ADS_1


SEE YOU NEXT BAB


__ADS_2