
Ya wanita muda itu adalah Riska. Putri tunggal Amanda entah dari Bastian atau Daniel, yang pasti nya hingga saat ini Amanda masih menjadi partner ranjang Ayah dan Anak tersebut. Ya walaupun beberapa waktu km terakhir ini hanya Daniel lah yang rutin memuaskan Amanda.
Riska pun tertawa kecil dengan nada miris meratapi nasib nya yang harus menerima kenyataan bahwa di dalam darah nya mengalir pula darah yang sama dengan pasangan yang di sebutnya sun*** tadi.
"Jika boleh memilih, lebih baik Aku tidak dilahirkan dari rahim nya, Tar. Namun mau gimana lagi, pada kenyataannya dari rahim nya lah Aku dilahirkan". Pria bernama Akhtar itu hanya tersenyum tipis menanggapi keluhan Riska.
"Apa ada yang mencurigakan dari kamar Opa?". Akhtar Menggelengkan kepala nya.
"Bu Manda baru saja meletakkan alat penyadap di tempat yang sudah kita sepakati, dan semua nya langsung ngelink ke Pak Putra juga Pak Ardi". Riska tersenyum seraya melihat kearah CCTV yang masih menampilkan Amanda yang baru selesai membersihkan diri.
"Dasar jal***". Umpat Riska saat melihat Amanda menggoda kearah CCTV dengan meliuk-liuk tubuh polos nya sambil mengenakan pakaian nya.
"Kenapa mengalihkan pandangan, Tar?". Tanya Riska saat melihat Akhtar justru tidak melihat kearah layar monitor melainkan sibuk dengan layar HP nya.
"Apa yang mau di lihat. Layar HP lebih menarik dibandingkan tubuh nya". Ucap Akhtar santai.
"Jangan munafik, semua lelaki pasti akan tertarik melihat yang...".
"Jangan sama kan Aku dengan Opa juga Papa Kamu, masih banyak lelaki baik di luar sana yang jauh berbeda dari Opa dan Papa Kamu, Ka". Sergah Akhtar memotong ucapan Riska.
Akhtar menatap dalam Riska, hingga membuat Riska pun gugup.
"Aku hanya menjalankan penyamaran yang sudah kita sepakati. Dan Kamu tau hal itu kan. Ingat!. Jangan menganggap semua pria itu sama seperti Opa juga Papa Kamu. Dan Aku juga beberapa pria yang Kamu kenal berbeda dengan mereka". Akhtar pun beranjak dari posisi duduk nya.
"Apa hasil pantauan CCTV ini ngelink juga ke Pak Putra dan Pak Ardi, Tar?". Akhtar menganggukkan kepala nya. Pria seusia Riska yang merupakan seorang hackers Kepercayaan Ardi tersebut pun seperti nya hendak beranjak meninggalkan ruangan.
" Aku keluar dulu ". Akhtar menyentuh pucuk kepala Riska dan merisak dengan lembut rambut Riska sebelum akhirnya keluar dari ruangan pemantau CCTV.
Perlakuan manis Akhtar membuat Riska meletakkan kedua telapak tangan nya di dada nya. Perlahan-lahan Riska tersenyum mengingat perhatian Akhtar selama hampir sebulan ini.
Riska kembali mengalihkan pandangan ke layar pemantau CCTV, ternyata Amanda sudah tidak berada di dalam ruangan istirahat Daniel, hingga ruangan itu pun kosong. Gadis itu menghela nafas sambil merenggangkan tubuh nya di atas bangku.
Beberapa minggu yang lalu, selepas konferensi pers yang dilakukan Bagas dan Arsy, Riska memutuskan untuk menemui Ardi selalu pengacara Bagas.
🍇🍇 Flash Back 🍇🍇
__ADS_1
"Selamat Siang Pak Ardi". Sapa Riska saat memasuki ruang kerja Ardi di sebuah firma hukum di kota nya.
"Selamat Siang". Ardi membalas sapaan Riska dengan ragu-ragu, karena ini adalah pertempuran pertama mereka.
Mereka pun berjabatan tangan sebelum Ardi menyuruh Riska untuk duduk guna mengutarakan maksud pertemuan mereka ini.
"Perkenalkan Saya Riska Hidayat, putri tunggal dari Ibu Amanda Hidayat dan Bapak Bastian". Ardi pun terkejut dengan perkenalan yang Riska sampaikan. Riska hanya tersenyum membalas keterkejutan Ardi.
"Wah, ada keperluan apa ini Mbak Riska, yang merupakan salah seorang calon pewaris RH Company sudi berkunjung ketempat Saya ini". Ucap Ardi berpura-pura menerima kehadiran Riska dengan ramah.
"Tak perlu sungkan seperti itu Pak Ardi". Riska tersenyum ramah menanggapi ucapan Ardi.
"Panggil saya Riska saja, tidak usah pakai Mbak Pak". Ardi pun hanya mengangguk kecil membalas perkataan Riska.
"Apa bisa saya panggil Om Ardi, karena seperti nya Bapak seusia dengan kedua orang tua Saya". Riska sengaja mengajukan pernyataan yang membuat Ardi menyunggingkan senyuman kecil nya.
"Silahkan, Saya tidak keberatan. Senyaman nya Kamu aja Riska". Ardi pun membalas santai ucapan Riska.
Ardi melihat Riska tampak ragu ragu seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Apa Om bisa membantu Saya ?". Ardi menegakan posisi duduk nya berhadapan dengan Riska.
"Sekiranya bisa, InsyaAllah Saya akan bantu sebisa Saya". Riska menarik nafas sebelum menghempaskan nya dengan cepat.
"Bisa tolong Saya mengembalikan RH Company kepada Chika?". Ardi melihat kepada Riska dengan penuh keheranan.
"Apa, Kamu tidak salah bicara Riska?".Nada bicara Ardi sedikit naik intonasi nya, namun masih menampilkan wajah yang terlihat dingin namun tenang.
"Mengembalikan RH Company kepada Arsy?". Riska mengangguk menjawab pertanyaan Ardi, dan Ardi pun hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Riska.
"Apa yang sedang kalian rencanakan?". Tanya Ardi dingin, seraya menyenderkan tubuh nya ke sofa dengan kedua tangan yang bersedekap di dada nya. Riska mengangkat sebelah alis nya melihat kearah Ardi yang sedang menatap nya dingin.
"Apa menurut Om, Saya melakukan ini karena Orang tua saya?". Tanya Riska yang di jawab Ardi menggendikan kedua bahu nya santai. Riska menghela nafas pelan lalu menyandarkan tubuh nya ke Sofa dengan wajah frustasi.
"Saya ingin membantu Om untuk memberikan bukti keterlibatan kedua orang tua serta Opa Saya dalam kecelakaan yang menewaskan kedua orang tua Chika, yang merupakan Paman dan Tante Saya". Ardi tampak memperhatikan dengan seksama wajah Riska, yang tidak menampakkan sedikit pun kebohongan.
__ADS_1
"Apa alasan Kamu ingin membantu Kami, mengungkapkan bukti keterlibatan mereka. Mereka orang tua Kamu lho". Riska tersenyum tipis mendengar pertanyaan Ardi.
"Saya sudah lelah dengan tingkah mereka.Bukan nya sadar, tingkah mereka semakin menjadi. Karena itulah Saya ingin membantu Om untuk mencari bukti keterlibatan mereka dan mengungkapkan kejahatan mereka, agar mereka berhenti berbuat jahat dan mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka". Ucap Riska panjang lebar menjelaskan maksud kedatangan nya menemui Ardi.
"Walaupun dengan mengkhianati Mereka, yang notabene adalah Orang tua Kamu?. Keluarga terdekat Kamu?". Ardi memberondong pertanyaan yang menyudutkan posisi Riska.
"Bukan kan Chika juga saudara Saya. Tak ada salah nya kan kalau Saya membantu nya untuk mendapatkan kembali hak nya?". Riska membalikkan pertanyaan Ardi dengan santai namun penuh keyakinan.
"Walaupun dengan menjadi pengkhianat Mereka?". Riska menganggukkan kepala nya dengan yakin.
"Apa yang menjadi jaminan kalau Kami, kalau Kamu memang ingin membantu Kami, bukan menusuk Kamu dari belakang". Riska mengeluarkan sebuah flash disk dati dalam dompet nya dan meletakkan nya di meja.
"Ini baru sebagian bukti yang Saya kumpulkan selama beberapa tahun terakhir ini. Memang belum banyak, tapi cukup untuk membungkam mereka jika mulai bertindak mencelakai Chika juga Pak Bagas". Ardi pun mencondongkan tubuh nya untuk mengambil flash disk tersebut, dan kemudian meraih HP nya guna menghubungi seseorang.
Tak lama kemudian seorang pemuda seusia Riska masuk ke dalam ruangan Ardi dengan menenteng sebuah laptop keluaran terbaru.
"Akhtar, tolong Kamu cek ini". Pria bernama Akhtar itu pun menerima memory card yang Ardi berikan dan kemudian duduk di samping Ardi.
Kedua jemari tangan nya bergerak dengan lincah dengan tatapan mata yang hanya tertuju pada layar laptop nya.
Sebuah senyuman terukir di balik wajah tampan nya yang berhiaskan kacamata kala melihat hasil dari flash disk yang Riska berikan tadi.
"Nice job sweetie". Puji Akhtar sambil mengedipkan mata kanan nya kepada Riska.
Deg
##################
TBC
MOHON MAAF MASIH BELUM BISA DOUBLE UP YA
JANGAN LUPA LIKE, VOTE JUGA KOMEN NYA YA
SEE YOU NEXT BAB
__ADS_1