
"Maafkan Chika Oma. Bisakah kali ini Chika menjadi egois?".
"Maafkan Chika jika keputusan Chika ini membuat Oma kecewa".
"Jika memang Oma tidak ingin Chika dan Kak Adit bersama, baiklah Chika akan menuruti keinginan Oma untuk selalu menjadikan Kak Adit sebagai Kakak Chika".
Oma dan Adit membulatkan bola mata mereka. Mereka serentak memandang kearah Chika yang sedang tersenyum.
"Tapi, izinkan Chika menolak lamaran Kak Dito". Oma terdiam.
Lagi-lagi Oma memijat kening nya. Sebenarnya Oma pun tidak mau berpisah dengan Chika. Oma sudah terlalu menyayangi Chika dan menganggap nya sebagai cucu kandung nya.
Namun permasalahan Adit lah membuat nya enggan melepaskan sematan Gumilang pada nama Chika.
"Sampai kapan pun Kak Adit akan selalu menjadi Kakak Chika". Adit melepaskan genggaman tangannya dengan Chika dengan kasar.
"Apa ini yang Oma inginkan?. Mengikat Chika di dalam keluarga Gumilang, dengan tetap menjadikan nya sebagai adik Adit?". Tanya Adit dengan nada kesal.
"Lebih baik, Adit di cap sebagai pembunuh daripada harus mengikat Chika menjadi keluarga Gumilang dengan menganggap nya sebagai Adik!".
"Oma tau kan sejak Papa dan Mama meninggal, Adit sudah mengatakan kalau kelak Adit akan menikahi Chika sebagai bentuk pertanggungjawaban Adit. Namun semua nya berubah setelah Chika SMP, niat Adit yang dulu ingin mengikat Chika karena tanggung jawab semua nya berubah, setelah Adit menyadari kalau menikahi Chika kelak bukanlah karena rasa tanggungjawab, tapi karena Adit mencintai Chika. Dan Oma tahu hal itu!" Ucap Adit panjang lebar yang membuat Oma Shinta hanya bisa terdiam dan Chika menatap tak percaya kepada Adit.
Adit pun beranjak meninggalkan kamar Oma Shinta dengan penuh kecewa.
"Adit". Seolah menulikan telinga nya, Adit mengacuhkan pangilan Oma Shinta.
"Maafkan Kak Adit ya Oma". Chika pun duduk bersimpuh di hadapan Oma Shinta. Meletakkan kepala nya di kedua paha sang Oma hingga Oma pun mengusap lembut pucuk kepala nya.
"Apa Oma keterlaluan?". Chika menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Oma Shinta.
"Tidak Oma. Oma hanya ingin yang terbaik untuk Chika juga Kak Adit".
"Tapi bisakah Chika memohon kepada Oma, agar tidak ikut menyalahkan Kak Adit dengan menyebut Kak Adit sebagai pembunuh juga?". Pinta Chika kepada Oma Shinta.
"Chika ikhlas kedua orang tua Chika meninggal dunia karena kecelakaan. Toh semua bukti tidak ada yang mengarah kesengajaan Kak Adit". Oma Shinta terdiam mendengar ucapan Chika.
"Kak Adit pun sama dengan Chika. Dia pun menjadi korban atas tindakan sengaja yang sudah di lakukan orang yang tidak bertanggung jawab itu".
Bahkan sampai saat ini kita tidak mengetahui siapa orang yang telah dengan sengaja menyerempet motor Kak Adit, sehingga Kak Adit menabrak motor yang Ayah Chika kemudikan". Tutur Chika lembut.
"Dibandingkan terus menyalahkan Kak Adit, bukankah lebih baik kita mencari tahu siapa pelaku sebenarnya?".
"Chika tau ada beberapa hal yang sengaja Oma sembunyikan dari Kak Adit juga Chika, tentang peristiwa tersebut". Chika mengangkat kepala nya guna menatap Oma Shinta.
__ADS_1
Pandangan mata Oma Shinta bertemu dengan tatapan memohon Chika.
"Bagilah kisah tentang Kami yang Oma sembunyikan dari Kami. Kami sudah dewasa, InsyaAllah Kami siap dan ikhlas menerima semua nya". Oma Shinta, menangkup wajah Chika dengan kedua telapak tangannya. Senyum manis menghiasi wajah Chika, seolah mengungkapkan agar Oma membagi kisah yang selama belasan tahun ini di simpannya sendirian.
"Maafkan Oma".
"Chika selalu menyayangi Oma". Chika pun memeluk tubuh Oma.
"Maafkan Oma Chika. Mungkin hal ini akan semakin membuat mu tersakiti". Oma menepuk-nepuk bahu Chika dengan lembut.
"Selama ada Oma disisi Chika, InsyaAllah Chika akan kuat menghadapi nya". Chika pun mengecup kedua pipi Oma Shinta dengan lembut.
"Baiklah, Oma akan memceritakan semua nya kepada Kalian berdua, apa yang Oma sembunyikan selama ini. Kalau begitu, panggil Adit dan tunggu Oma di ruang keluarga ".Chika pun beranjak dari posisi nya.
"Baik Oma". Ucap Chika lalu beranjak keluar dari kamar Oma Shinta.
Selepas kepergian Chika, Oma Shinya pun berjalan menuju lemari pakaiannya. Dengan berat hati, Oma meraih sebuah amplop coklat dan kemudian memeluknya dengan erat seraya menghapus air mata yang mulai menetes di pelupuk mata nya.
"Bismillah, semoga hal ini bisa mengurangi beban ku selama ini". Ucap lirih Oma sebelum menutup pintu lemari pakaian nya.
########
"Kak Adit mau kemana?". Tanya Chika saat melihat Adit keluar dari kamar nya dengan membawa sebuah tas.
Chika pun bergegas mengejar langkah Adit dan berdiri di hadapan Adit, memaksa Adit menghentikan langkah nya. "Oma mau bicara".
Adit mengambil nafas pelan, lalu menatap Chika, "Apalagi yang mau Oma bicarakan?".
"Ish. Jangan kaya anak kecil, kerjaan ngambekan melulu. Malu sama umur udah mau 40 tahun, tapi hobi nya ngambek". Chika pun menarik paksa tas Adit lalu meletakan nya di lantai sebelum akhirnya Dia merangkul lengan Adit dan membawa pria dewasa itu menuju ruang tamu.
"Lepasin. Bukan Mahram". Proses Adit sambil mukul pelan tangan Chika.
"Ish, iya". Chika pun melepaskan rangkulan dan menganti nya dengan menarik ujung kaos Adit.
"Oma". Panggil Chika saat tiba di ruang keluarga.
"Iya sayang. Duduklah" Titah Oma. Oma duduk di sofa single seat sementara Chika dan Adit duduk di sofa panjang yang berada di sisi kiri Oma.
"Buka dan baca lah ini". Oma menyerahkan amplop coklat yang warna nya sudah nyaris luntur itu kepada Adit.
" Apa ini, Oma?". Adit membolak-balikan map yang Oma Shinta berikan, sementara Chika yang tampak begitu penasaran mendekatkan duduk nya kepada Adit.
"Jauhan Dek. Kamu tuh bikin Kakak grogi kalqu berdakatan kaya gini tau". Protes Adit di susul cembikan Chika.
__ADS_1
"Cih. Disuruh buka dan baca malah ngegombal". Adit memutar malas kedua bola mata nya mendengar ucapan Oma Shinta, hingga membuat Chika memukul bahu Adit dengan bantal sofa.
"Yang sopan". Ucap Chika sambil membulatkan mata nya kepada Adit.
"Iya. Maaf Oma". Adit pun mengalah dan meminta maaf kepada Oma Shinta, hingga senyuman mencibir pun di hadiahkan Oma Shinta untuk Adit.
Adit pun membuka map coklat yang Oma Shinta berikan, mata nya membulat sempurna saat membolak-balikan berkas yang tengah di baca nya.
"Ini maksudnya apa Oma?". Adit melemparkan berkas itu ke atas meja ruang tamu. Tatapan penuh intimidasi diarahkan kepada sang Oma yang tampak sedang kebingungan.
Chika meraih berkas yang di lemparkan oleh Adit. Hal yang sama pun di lakukan oleh Chika. Hanya saja gadis itu lebih memilih diam, hanya tatapan penuh tanya menghiasi pandangan nya kepada Oma Shinta.
"Kedua orang tua Chika memang sengaja di bunuh, dan Kamu memang sengaja di targetkan sebagai tersangka nya". Ucap Oma lirih.
"Apa salah Adit Oma?".
"Bahkan Adit tidak mengenal kedua orang tua Chika". Ucap Adit menahan amarah nya
"Kamu mengenal mereka sekilas". Adit kembali mencoba mengingat rupa kedua orang tua Chika. Namun tidak ada satupun petunjuk yang mengingatkan nya kepada kedua irang tua Chika.
"Bastian Prakoso". Adit tersentak mendengar nama yang selalu Adit hindari belasan tahun ini. "Amanda Saraswati Hidayat". Adit bahkan menelan kasar saliva nya saat mendengar nama terakhir yang Oma Shinta ucapkan.
"Maksud Oma?".
"Siapa mereka bagi Kamu? ".
"Seorang mantan sahabat dan seorang pengkhianat". Ucap Adit lirih.
Chika lebih memilih terdiam, walaupun banyak pertanyaan yang ingin Dia tanyakan perihal dua nama tersebut. Dua nama yang membuat wajah Adit langsung berubah masam dan seolah menyimpan dendam.
"Kamu tau siapa itu Amanda?". Adit menggelengkan kepala nya.
"Amanda Saraswati Hidayat adalah adik kandung Rahmat Hidayat, pemilik RH Company. Tante dari Ananda Arsy Hidayat alias Arsyka Cahaya Gumilang".
##########
HAYO HAYO... KIRA KIRA RAHASIA APA SIH YANG DISIMPAN SAMA OMA SHINTA????
JANGAN LUPA DI LIKE, KOMEN NYA YA...
KALAU BERKENAN TINGGALKAN VOTE NYA YA
##########
__ADS_1