Oh My Dosen ( Remake )

Oh My Dosen ( Remake )
Bab 9. Chika Patah Hati


__ADS_3

"Chika ..."


Tok .. Tok... Tok


"Chika buka pintu nya".


Chika seolah menulikan telinga nya mendengar gedoran pintu juga suara Bagas yang berteriak memanggil dari balik pintu.


"Sayang buka pintu nya Nak". Kali ini terdengar suara lirih Oma Shinta memanggil nya. Namun hal itu tidak jua membuat nya beranjak dari posisi duduk nya saat ini.


Dia mendudukkan tubuh dengan melipat kedua lutut nya dan meletakkan dagu nya di atas kedua lutut nya dengan menenggelamkan kepala nya di dalam lipatan tangan nya.


Tangis kecil menghiasi kamar yang di tempati nya selama belasan tahun ini. Entah apa yang di tangisi nya, Dia pun tak tahu, hanya dada nya tiba tiba saja terasa nyeri kala mengetahui kalau Bagas adalah Adit kakak angkat nya.


"Sayang buka pintu nya Nak". Kembali suara Oma terdengar lirih meminta nya membukakan pintu kamar nya.


"Apa Chika sudah nggak sayang sama Oma lagi?". Tanya Oma sendu, membuat Chika mengangkat kepala nya dan menghapus air mata nya.


"Chika sayang Oma kok". Chika menjawab pertanyaan Oma Shinta dari balik pintu.


"Kalau begitu buka pintu nya. Kita bicara ya sayang". Tutur Oma lembut, membuat Chika pun berdiri dari duduk nya guna membuka pintu kamar nya.


Ceklek


Pintu kamar Chika pun terbuka. Tampak Oma sedang berdiri dengan di rangkul oleh Bagas disertai helaan nafas lega keduanya.


Tubuh renta Oma sudah tidak sanggup untuk berdiri lama, apalagi dengan kondisi nya saat ini, membuat Chika pun merasa menyesal karena sudah membuat Oma kesayangan nya harus berdiri cukup lama untuk membujuk nya membuka pintu kamar nya.


Oma Shinta sangat menyayangi Chika sama seperti Dia menyayangi Bagas, karena itulah Dia merasa sangat sedih melihat Chika sedih seperti ini.


Oma melepaskan rangkulan Bagas dan kemudian merentangkan kedua tangan nya, Chika pun menghambur kedalam pelukan Oma Shinta.


"Maafin Chika Oma". Oma mengusap lembut pucuk kepala Chika. Bagas pun menghela nafas perlahan, seraya mengusap lembut punggung Chika yang sedang menangis dalam pelukan Oma.


"Jangan pegang-pegang. Bukan Mahram". Ucap Chika menepis tangan Bagas dari punggung nya dan menatap tajam Bagas.


Oma pun tertawa kecil mendengar protes Chika. Sementara Bagas mendengus kesal.


"Lagi haru biru begini, masih aja protes". Ucap Bagas lalu melipat kedua tangan nya di dada.


"Jangan karena lagi haru biru, Pak Bagas malah memanfaatkan situasi". Ucap Chika. Oma pun mencubit pelan ujung hidung Chika dengan gemas.


"Adit, Chika". Ucap Oma, membenarkan panggilan untuk Bagas.

__ADS_1


"Enakan manggil Pak Bagas Oma. Kan sama aja Kak Adit sama Pak Bagas itu orang yang sama". Ucap Chika.


"Beda Chika, Adit itu Kakak angkat Kamu. Bagas itu Dosen Kamu yang Ganteng". Ucap Bagas di susul cembikan Chika.


"Udah, udah. Lama lama vertigo Oma kambuh kalau kalian berdebat terus". Lerai Oma.


"Kita bicara lagi setelah makan malam". Ucap Oma.


"Kamu, kalau Kamu masih menganggap Oma ini sebagai nenek kamu dan keluarga Kamu, jangan pernah keluar lagi dari rumah ini". Ucap Oma kepada Bagas, hingga membuat lelaki dewasa itu tersenyum meringis, dan Chika menyunggingkan senyum kecil kepada Bagas.


"Hal yang sama juga berlaku buat Kamu Nona". Ucap Oma yang membuat senyum kecil Chika pun memudar.


"Sudah lewat Maghrib. Lekas mandi lalu Sholat". Titah Oma yang di angguki oleh Chika dan Bagas.


"Selepas Sholat Maghrib, bantu Oma siapkan makan malam yang sayang". Chika mengangguk mendengar ucapan Oma.


"Oma ke kamar dulu. Jangan bertengkar". Ucap Oma sebelum beranjak meninggalkan Chika dan Bagas.


Oma pun berjalan meninggalkan Chika dan Bagas didepan kamar Chika dan Bagas. Ya Kamar Chika berhadapan dengan kamar Bagas atau Adit.


"Chika". Panggil Bagas saat Chika membalikkan tubuh nya untuk memasuki kamar nya.


Chika tidak membalikkan tubuh nya. Gadis itu lebih memilih menatap pintu kamar nya di banding harus berhadapan dengan Bagas.


"Kita bicara lagi nanti Pak". Ucap Chika lalu membuka pintu kamar nya dan masuk kedalam kamar nya.


Gadis itu mengunci pintu kamar nya sebelum melangkahkan kaki nya menuju ranjang nya.


"Huh... Baru mau melabuhkan hati malah harus sakit hati". Gumam Chika lirih lalu mengambil bantal dan meletakkan nya di paha nya.


"Ah... Kenapa juga harus jadi suka sama Pak Bagas yang ternyata Kak Adit". Ucap Chika geram sambil memukuli bantal nya.


"Ya Tuhan... Chika. Lupakan perasaan mu buat Pak Bagas. Ingat Pak Bagas itu Kak Adit". Monolog Chika berucap.


"Dan Kak Adit itu Kakak Kamu". Ucap mengingat diri nya sendiri.


"Astaghfirullahalazim, Maghrib udah mau habis". Chika pun menyudahi acara bermonolog tentang perasaan nya. Gadis itu segera menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar nya.


Selepas mandi dan Sholat Maghrib juga mengaji beberapa a'in Chika pun keluar dari kamar nya menuju dapur.


Sudah menjadi rutinitas gadis itu untuk membantu Oma mengolah masakan. Walaupun ada Mbak Iyah yang membantu, namun Oma dan Chika lebih memilih memasak aneka lauk menu makan mereka, sementara Mbak Iyah biasa nya meracik dan mencuci sayuran atau bahan mentah lain nya.


"Malam ini mau makan apa Oma?". Tanya Chika saat baru menapakkan kaki nya di dapur.

__ADS_1


Dengan sigap Chika meraih apron pink milik nya yang selalu bertengger manis disisi kiri kulkas, dan kemudian mengenakan nya.


"Adit paling suka capcay seafood, juga gurame asam pedas". Jawab Oma, mulai memarinasi ikan.


Yap, Oma lebih senang memarinasi ikan sebelum di olah, kata Oma agar ikan nya lebih terasa bumbu nya.


Kalau Chika hanya bisa nurut titah nya sang Koki handalan keluarga Gumilang tersebut. Pokok nya semua yang di masak Oma pasti selalu enak dan bisa di pastikan ludes tak tersisa.


Namun sejak beberapa tahun terakhir ini, Oma lebih sering meminta Chika yang mengolah sesuai dengan apa yang Oma Shinta ajarkan.


Dan hasil nya masakan Chika pun sekarang terasa sama dengan yang Oma masak.


"Oma duduk aja ya biar Chika aja yang masak". Ucap Chika yang di angguki oleh Oma.


"Neng Chika, ini sayuran nya sudah Mbak cuci". Ucap Mbak Iyah menyerahkan sebuah baskom kecil sedang berisi sayuran.


"Iya Mbak, taruh di situ saja Mbak. Makasih Mbak". Chika pun mulai menyalakan kompor dan menumis bumbu capcay, hingga membuat dapur pun menjadi harum masakan.


Seperti hari hari sebelum nya acara masak memasak itu pun selalu penuh dengan tawa canda. Mbak Iyah yang latahan selalu menjadi korban keisengan Chika dalam memasak.


"Rame banget dapur, udah kaya di pasar". Kegiatan tawa itu terhenti ketika sebuah suara mengejutkan mereka.


Bagas pun berjalan menuju dapur. Pria dewasa ini semakin bertambah terlihat muda saat mengenakan pakaian santai.


Dengan celana cargo sebatas lutut serta kaos putih pas badan yang menampilkan tonjolan otot di dada, membuat penampilan nya tampak seperti pria di bawah usia 30 tahun.


Chika pun mengalihkan pandangannya kearah Bagas, dan sial nya dia justru mengagumi penampilan pria tersebut.


Dan alhasil wajah nya tampak memerah saat bertemu pandang sekilas dengan Bagas.


Bagas hanya tersenyum kecil melihat wajah Chika yang tiba-tiba bersemu merah.


Pria dewasa itu pun berdiri di belakang kursi Oma, melingkarkan kedua tangan nya di leher Oma, yang dibalas tepukan pelan di punggung tangan Bagas.


Bagas menatap lekat Chika yang sedang sibuk mengaduk aduk isi di wajan. Senyumannya terukir saat melihat Chika sesekali mencuri pandang kearahnya.


"Itu masakannya Chika bisa di makan Oma?". Chika mengetuk keras wajan saat mendengar ucapan Bagas


########


HADEUHH PAK DOSGAN SENENG BANGET SEH BIKIN MOOD SI NENG CHIKA AMBYAR 😂😂😂


#########

__ADS_1


__ADS_2