Oh My Dosen ( Remake )

Oh My Dosen ( Remake )
Bab 92. Prahara Bocoran


__ADS_3

Arsy mengedipkan kedua kelopak berkali di hadapan sang suami yang sedang melipat kedua tangan nya sebatas dada.


"Please Mas, kasih bocoran dikit aja". Kali ini kedipan nya di iringi dengan rengekan manja.


"Itu nama nya curang". Ucap Bagas tegas.


Arsy menghela nafas pasrah. Seperti nya wanita hamil itu memang harus membuka buku makalah pelajaran Bagas.


Dengan langkah gontai, Arsy pun akhir nya mendudukkan tubuh nya di kursi belajar kamar mereka.


"Kalau ada yang nggak ngerti Kamu bisa tanya. Tapi untuk bocoran soal, maaf Mas nggak bisa kasih tau Kamu". Arsy mengangguk pelan saat Bagas mengusap lembut pucuk kepala nya yang tidak berhijab.


"Ish... Mas Bagas sanaan ah. Ganggu tau". Protes Arsy saat Bagas memainkan rambut Arsy yang tergerai dengan memilin nya.


"Bau nya enak sayang". Arsy menggeliat kala tangan menyingkap rambut panjang nya ke sisi kiri, dan kemudian menghirup aroma yang menguar dari ceruk Arsy.


"Mas Bagas. Jangan ganggu ah. Nggak tau apa kalau Aku lagi belajar buat tes besok". Arsy menjauhkan wajah Bagas dari ceruk leher nya dan kemudian berusaha untuk berkonsentrasi belajar lagi.


"Sebentar aja Dek". Rengek Bagas.


Tanpa Bagas sadari, Arsy menyeringai kan senyuman dengan sangat tipis.


"No. Aku nggak mau kalau pas besok tes nilai Aku jelek.Kamu belum tau aja Dosen itu Mas. Selain galak dia juga pelit nilai". Bagas mendengus kesal mendengar curhat an Arsy.


"Lagi pula, memang Mas mau menghadap DosGanSum kesayangan Aku itu?. Nggak kan?. Jadi mending sekarang duduk yang manis. Liatin Aku lagi belajar. Nanti kalau ada yang nggak Aku ngerti Aku nanya sama Mas. Ok" . Arsy mengakhiri celotehan nya dengan menghadiahkan Bagas sebuah kecupan di pipi kanan suami nya itu.


"Udah ih, sana dulu". Arsy mendorong tubuh Bagas agar sedikit menjauh dari nya.


Seperti nya sang istri benar benar ingin berkonsentrasi belajar, jadi semua godaan yang Bagas lancarkan tidak berpengaruh apa pun terhadap nya.


🌷


🌷


🌷


"Dasar pelit". Gerutu Lia sesaat setelah ujian berlangsung dan Bagas sudah meninggalkan ruang kelas.


"Pelit apaan. Gue aja nggak di kasih bocoran soal nya apaan". Balas Arsy.


"Bohong banget Lo nggak mungkin Pak Bagas nggak ngasih bocoran". Sunggut Lia kesal.

__ADS_1


Arsy pun menoyor kening Lia, hingga wanita itu menatap Arsy dengan singit.


"Lo pikir, gara gara Gue istri nya, suami Gue ngasih bocoran soal gitu?. Heh, Pa'ul, laki Gue nggak bakalan mau ngasih bocoran soal. Buat Dia kejujuran itu adalah hal yang paling utama". Ucap Arsy. Lia memutar malas kedua bola mata nya menanggapi ucapan Arsy.


"Berisik Lo pada". Protes Reina dan Riska bersamaan.


"Cabut ah. Babang Bebeb Gua udah nungguin". Ucap Riska lalu meletakkan tas ransel nya di bahu sebelah kiri nya.


"Bareng Ris. Kaya nya Mamas bareng sama Om Ardi dateng nya". Reina pun bersiap ikut dengan Riska.


"Lo pada mau balik apa masih mau di sini?". Tanya Riska saat melihat kedua sahabat nya yang tengah hamil itu masih santai duduk di kelas.


"Balik lah". Jawab Arsy dan Lia bersamaan.


"Ya Lo rapiin lah perabotan Lo. Buruan deh. Lelet Lo pada". Ucap Riska kesal.


"Astaghfirullah Riska. Biar begini begini Gue kakak Lo ya. Lo harus menghormati Gue tau nggak". Riska memutar malas kedua bola mata nya mendengar protes Arsy.


"Ya ampun Kakak. Buruan di beresin". Arsy dan Lia pun merapikan peralatan tulis mereka dan memasukkan nya kedalam tas ransel mereka. Hingga akhir nya mereka pun akhir nya keluar kelas.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Wanita hamil yang tengah menunggu kelahiran putra pertama nya itu tampak begitu risau.


Sementara sang suami saat ini tidak bisa hadir menemani nya karena sedang mengikuti seminar para dosen yang di adakan di luar kota.


Hari ini adalah sidang terakhir Amanda, sementara Bastian sudah di jatuhi hukuman 20 tahun penjara karena telah dengan sengaja melakukan percobaan pembunuhan terhadap Bagas.


Daniel sendiri di jatuhi hukuman mati, karena selain sebagai otak pembunuhan kedua orang tua Arsy, Daniel juga menjadi otak pembunuhan kedua orang tua Bagas.


Selain pembunuhan dua keluarga, Daniel juga di tersangkakan sebagai tersangka utama kasus penggelapan legalitas perusahaan dari Rahmat Hidayat kepada Amanda, serta kasus penyelewengan dana di RH Company.


Sementara Amanda sendiri masih menjalani persidangan nya sebagai tersangka kasus pembunuhan kedua orang tua Arsy dan penggelapan legalitas RH Company.


"Chika, Lo bisa duduk nggak?. Si Utun puyeng liat Aunty nya mondar mandir kaya setrikaan". Arsy melenguh kesal saat Lia berucap sambil mengusapi perut nya yang lebih buncit dari Arsy.


"Lo tuh ye...". Belum sempat Arsy melanjutkan ucapan nya. Pintu ruang sidang terbuka.


Beberapa wartawan yang sudah menunggu sejak tadi segera berlarian menghampiri pintu ruang persidangan.


Amanda tampak keluar dari ruang persidangan dengan tangan terborgol kedepan serta kepala yang tertunduk.

__ADS_1


Dengan di apit oleh dua orang sipir wanita, Amanda berusaha menghindari para wartawan yang mencerca nya dengan bermacam pertanyaan.


Kilatan sinar blitz membuat Amanda merasa terganggu, hingga membuat wanita itu pun berang.


"Permisi Mas". Ujar salah satu sipir wanita yang mengapit Amanda.


Namun bukan nya menyingkir para wartawan itu justru semakin mendekat kepada Amanda, bahkan saking dekat nya tanpa sengaja seorang wartawan yang membawa kamera yang berada tepat di belakang Amanda, membenturkan kamera tersebut kearah belakang kepala Amanda.


"Aduh". Pekik Amanda kesakitan.


"Maaf, Mbak Saya tidak sengaja". Ucap Wartawan itu saat Amanda membalikkan tubuh nya dan menatap tajam kearah wartawan wanita tersebut.


"Mata Kamu di taruh dimana?". Bentak Amanda.


"Saya kan udah minta maaf Mbak". Ucap Wartawati itu dengan nada sedikit tinggi.


"Kamu pikir dengan maaf saja sudah cukup hah!". Sarkas Amanda yang secara sengaja menyenggol bahu wartawati itu dengan bahu nya dengan kencang, hingga membuat wartawati itu terdorong kebelakang.


Wartawati tersebut ternyata tidak menerima perlakuan yang Amanda berikan. Ketika wartawati itu hendak mengangkat tangan kanan nya kearah Amanda, sebuah tangan menghalangi nya.


"Jangan macam macam, Saya bisa menuntut Anda". Arsy menarik tangan wartawati itu dengan kasar dan kemudian menghempaskan nya.


Dan sorot kamera pun berubah kearah Arsy dan juga wartawati tersebut. Arsy memberikan kode kepada kedua orang sipir yang membawa Amanda agar beranjak pergi.


Arsy menatap tajam wartawati berita yang ternyata orang yang sama dengan wartawati yang pernah dengan sengaja ingin mendorong Arsy beberapa hari lalu, pada saat Arsy menolak memberikan pernyataan tentang hukuman yang Arsy inginkan untuk Amanda.


"Ternyata Mbak Marsella". Wartawati itu memundurkan tubuh nya beberapa langkah ke belakang, kala Arsy mengenalinya.


"Ternyata ancaman Saya beberapa hari yang lalu itu Mbak acuhkan?". Arsy tersenyum kecil melihat Marcella yang tampak ketakutan.


"Saya akan mensomasi Mbak juga Media yang memperkerjakan Mbak, karena sudah menganggu privasi dan juga membuat keonaran yang akan atau bahkan sudah mencelakai orang lain". Kedua bola mata Marcella membulat dengan sempurna. Sungguh wartawati itu tidak mau kalau karir nya sebagai jurnalis harus berakhir karena keteledoran nya.


"Maaf kan Saya Mbak Arsy". Ucap Marcella menyesal.


"Dan buat yang lain nya. Saya tidak akan segan segan menuntut Anda sekalian, semisalnya Anda sekalian tidak tertib dan justru menggangu privasi Kami". Para pencari berita itu hanya terdiam, dan mulai menurunkan kamera mereka.


Arsy pun berjalan dengan santai meninggalkan kerumunan para pencari berita itu, yang kini kesal karena tanpa mereka sadari Amanda sudah di bawa pergi kembali ke Rumah Tahanan.


Jangan lupa like dan komen nya ya ...


See you Next Bab

__ADS_1


__ADS_2