
Namun baru beberapa saat Hakim meninggalkan meja Arsy dan yang lain nya. Sebuah teguran kembali mengusik kebersamaan mereka.
"Lho Nak Putra, Kata nya Nissa Kamu sedang bertugas, kok malah kumpul di sini ?". Seorang wanita paruh baya berhijab biru senada dengan gamis yang di kenakan itu berjalan menghampiri Putra.
Putra menghela nafas nya pelan, saat wanita itu berdiri di samping kursi tempat nya duduk.
"Assalamu'alaikum Bu Rahma". Sapa Putra ramah, seraya mengatup kedua telapak tangan sebatas dada. Ardi dan Bagas melihat kearah Putra dengan penuh tanda tanya. Pasal nya mereka berdua belum pernah bertemu dengan sosok wanita paruh baya tersebut.
Sedangkan mereka berdua sudah mengenal semua keluarga Putra termasuk yang di pelosok Kalimantan juga yang berada di Jerman dan Malaysia. Jadi wajar jika kedua sahabat nya itu tampak melihat penuh penjelasan kepada Putra mengenai wanita paruh baya yang menyapa akrab Putra tersebut.
"Waalaikumsalam". Jawab wanita yang di panggil Putra dengan Bu Rahma yang ikut mengatup kedua telapak tangan nya sebatas dada. Bu Rahma memperhatikan Reina dengan seksama, seulas senyum tipis seolah mengejek penampilan Reina yang tomboy terlihat di wajah Bu Rahma, dan itu tertangkap oleh sudut mata Reina juga yang lain nya.
"Oh iya, perkenalkan ini Bu Rahma, Ibu mertua Almarhum Tyo". Para wanita tampak bangkit dari duduk nya guna menghampiri Bu Rahma dan mencium punggung tangan kanan Rahma secara bergantian. Sedangkan para pria mengatup kedua telapak tangan mereka sebatas dada, menandakan memberi salam kepada Rahma.
"Ibu sendiri kesini nya?'. Tanya Putra mengalihkan pertanyaan awal Bu Rahma.
"Tidak, kebetulan Anissa sedang memesan makanan". Bu Rahma masih memperhatikan Reina yang sedang melanjutkan makan nya.
"Boleh Ibu dan Anissa bergabung bersama kalian?". Mereka saling melemparkan pandangan kepada satu sama lain. Dilihat nya makanan mereka pun sudah habis tak tersisa termasuk Putra.
"Maaf Bu, Kami sudah selesai dan akan melanjutkan pertemuan membahas kasus Kami". Bu Rahma tampak menghela nafas kecewa atas pernyataan Putra.
Lagi-lagi Pria ini menolak kehadiran Bu Rahma juga sang Putri Anissa. Sejak kasus yang melibatkan pasang mereka masing masing, Putra memang sengaja menjaga jarak dengan Anissa.
Entahlah, hanya saja Bu Rahma merasa Putra adalah sosok pria yang layak untuk di jadikan suami untuk putri semata wayang nya Anissa.
Bukankah nasib mereka sama, sama sama di khianati oleh pasangan yang kebetulan pasangan mereka pula, jadi bisa kan kalau mereka saling bahu membahu mengatasi permasalahan mereka.
Namun hal itu justru berbanding terbalik dengan Putra yang merasa jengah, karena Bu Rahma selalu menghubungi sang Mama dan terkadang bertamu ke rumah Mama nya bersama dengan Anissa.
Awal nya Putra cukup tertarik dengan Anissa, namun saat wanita mulai menunjukkan sifat posesif nya Putra pun akhir nya memilih menghempaskan perasaan terhadap Anissa.
__ADS_1
Dan sejak saat itulah Dia sudah tidak memiliki perasaan apa pun terhadap Anissa, namun tampak nya hal tersebut berbanding terbalik dengan Anissa.
Tak jarang Anissa menghubungi Putra baik itu Panggilan Telepon ataupun Video Call, dan Putra selalu tidak selalu menanggapi nya. Namun terkadang Anissa nekat menghubungi sang Mama, sehingga mau tidak mau Putra pun menerima panggilan tersebut melalui HP sang Mama.
"Mas Putra". Putra menghela nafas pelan, mendengar suara wanita memanggilnya. Sesosok wanita berpakaian hijab syar'i berwarna hijau tosca itu sudah berdiri di samping Bu Rahma sambil membawa baki berisi menu makanan yang mereka pesan
"Kita duluan aja ya Put". Ardi memutuskan untuk menyelesaikan acara makan mereka, kala melihat para sahabat juga pasangan mereka mulai terlihat saling melemparkan pandangan seolah enggan terlibat dengan masalah Putra dan juga untuk menjaga privasi Putra.
"Kita meeting nya besok aja. Kaya nya ada masalah yang harus Kamu selesaikan terlebih dahulu". Ujar Bagas menepuk bahu Putra.
"Duluan ya Pak Putra". Ucap Arsy, Lia juga Riska bersamaan. Sementara Reina yang hendak mengikuti jejak para sahabat nya tak bisa bergerak, karena Putra terlihat sengaja menghalangi nya.
"Kami permisi lebih dahulu Bu, Mbak. Assalamu'alaikum". Bagas mewakili istrinya juga para sahabat beserta istri mereka berpamitan kepada Bu Rahma dan Anissa.
"Waalaikumsalam". Bu Rahma dan Anissa membalas salam yang Bagas ucapkan sebelum mereka berjalan meninggalkan tempat duduk mereka selama hampir satu jam ini dan melupakan keberadaan Reina yang masih tertahan oleh Putra.
"Permisi Pak, Saya mau lewat". Ucap Reina setengah berbisik kepada Reina dengan nada memohon.
"Nggak mau ah. Saya nggak mau ikut campur urusan Bapak". Bisik Reina menolak permintaan Putra.
Anissa mengernyitkan kening nya, karena melihat posisi Reina dan Putra yang tengah berbisik itu terlihat cukup akrab
Putra seolah menutupi keberadaan Reina dengan tubuh kekar nya, dan kalau di lihat mereka seperti pasangan yang sedang bertengkar.
"Rein, balik nggak?". Arsy berteriak saat menyadari kalau Reina masih tertinggal dan melihat Reina masih tetap berada di tempat nya, sementara yang lain nya sudah berada di depan pintu masuk keluar restoran.
Reina dan Putra menghentikan debat bisik mereka lalu melihat kearah Arsy. Reina mengangguk menanggapi Arsy, namun Putra menahan pergerakan nya, bahkan pria itu meraih tas punggung Reina dan menaruh nya di bahu kanan nya.
"Duluan aja, Rein bareng Saya". Bukan Reina yang menjawab,nada Putra lah yang berucap dan menanggapi ucapan Arsy.
Arsy mengangkat ibu jari kanan nya dan melanjutkan langkah nya keluar dari restoran sambil merangkul mesra lengan sang suami yang sibuk mengusak kepala Arsy yang berbalut hijab biru.
__ADS_1
Reina yang kesal dengan sikap Putra yang seolah memaksa nya ikut masuk kedalam masalah pribadi Putra itu akhirnya memutuskan untuk kembali duduk di tempat nya semula sambil melipat kedua tangan nya sebatas dada nya.
"Kaya nya Nak Reina ingin pulang bersama teman teman nya, kenapa tidak di izinkan saja Nak Putra?". Ujar Bu Rahma yang lalu mengambil duduk di bangku yang berhadapan dengan Reina.
"Saya sudah berjanji kepada orang tua nya untuk mengantarkan nya kembali setelah tadi saya menjemput nya". Ucap Putra lalu kembali duduk di samping Reina.
Seorang waiters menghampiri meja mereka dan membersihkan meja yang akan mereka gunakan.
Anissa yang mengambil duduk di hadapan Putra itu tampak sesekali melirik Reina dengan tatapan mencibir, namun Reina tampak tidak perduli, toh tugas nya hanya menemani Putra saja bukan?.
"Mau tambah dessert?". Tanya Putra kepada Reina yang berusaha mengalihkan perhatian Anissa juga Bu Rahma dari mereka berdua.
"Nggak usah Mas, Aku udah kenyang". Putra tersenyum kepada Reina, karena seperti nya Reina paham maksud Putra yang menahan nya pergi bersama teman teman nya.
"Minuman?". Tawar Putra lagi.
"Nggak Mas, bisa kembung Aku kebanyakan minum". Ujar Reina mengerucutkan bi*** nya.
Putra yang gemas pun mengusak lembut rambut Reina yang di kuncir kuda.
"Akrab sekali ya Nak Putra dan Nak Rein. Kalau apa hubungan di antara kalian? ".
######################
TBC
JANGAN LUPA LIKE JUGA KOMEN NYA
SEE YOU NEXT BAB
BYE BYE
__ADS_1