
"Kalian tampak akrab sekali. Kalau boleh tahu apa hubungan di antara kalian ? ". Putra dan Reina saling berpandangan satu sama lain dengan heran.
"Kalau menurut Ibu dan Mbak setelah melihat interaksi Kami, hubungan seperti apa yang sedang Kami jalani saat ini?". Anissa menggantung suapan sup nya lalu melihat sekilas kearah Reina lalu tersenyumlah tipis saat pandangan nya bertemu dengan Reina.
Niat nya ingin menuguk sup pun terpaksa di hentikan nya. Janda yang kata nya masih bersegel itu meletakkan sendok di atas mangkuk sup, dan kemudian menatap Reina dengan tajam.
Putra yang merasa tidak nyaman dengan sikap Anissa juga Bu Rahma yang tidak bersahabat dengan Reina itu pun bermaksud ingin mengakhiri pertemuan tidak penting ini dengan segera.
Namun Reina yang paham dengan sikap Putra justru menahan pergerakan Putra. Gadis itu spontan meraih tangan kiri Putra yang berada di atas meja lalu menepuk nya dengan pelan
Putra mengalihkan pandangan nya kepada Reina, senyum Putra terukir kala sekilas melihat Reina mengangguk pelan seraya tersenyum.
"Pasti nya bukan sepasang kekasih, bukan?". Reina mengulum senyum saat Anissa menjawab pertanyaan nya tadi.
Pikir Reina pasti akan sangat menarik memancing emosi ibu dan anak ini bukan. Toh Putra sudah meminta nya untuk tinggal bukan?.
Hal itu membuat Reina merasa kalau posisi nya saat ini lebih menang di bandingkan Anisaa juga Bu Rahma, karena Putra mengharapkan bantuan nya untuk menghadapi kedua wanita berpakaian syar'i tersebut.
"Benar tebakan Mbak. Kami memang bukan sepasang kekasih". Senyum Anissa dan Bu Rahma seketika itu juga langsung merekah.
"Karena usia Mas Putra yang sudah tidak muda lagi, pasti nya hubungan kami memang lah bukan sepasang kekasih, namun lebih layak di sebut sebagai sepasang calon pengantin". Reina tertawa terbahak-bahak dalam hati, bisa bisanya lambe nya mengucapkan kata yang kelak akan di sesali nya tersebut.
Hati nya semakin bersorak-sorai kala melihat kedua bola mata Ibu dan anak yang berada di hadapannya itu terbelalak dengan lebar.
"Bukan begitu Mas?". Putra menganggukkan kepala cepat.
Memang dasar Reina itu ratu drama, maka agar lebih meyakinkan drama yang sedang diperankan nya itu, Reina pun meraih lengan kiri Putra, memeluk lengan kekar yang tengah berbalut kaos hitam pres body sehingga menampilkan rentetan otot lengannya.
Dengan memasang wajah puppy eyes Reina merebahkan kepala nya di bahu Putra, menatqp kearah Bu Rahma dan Anissa, hingga Anissa dan Bu Rahma pun meradang.
__ADS_1
"Wanita seperti ini sangat tidak cocok Kamu jadikan sebagai pendamping hidup Kamu Nak Putra". Reina terkekeh geli menanggapi ucapan sarkas yang Bu Rahma arahkan kepada nya. Senyum Anissa terukir mengejek terarah kepada Reina yang kini melepaskan rangkulan nya dari lengan Putra.
Lagi lagi dengan tenang Reina menepuk bahu Putra dengan lembut, agar pria itu tidak membalas ucapan sarkas Bu Rahma.
"Lalu wanita macam apa yang cocok untuk menjadi pendamping hidup anak saya Bu Rahma?". Sebuah sentakan mengalihkan perhatian ke empat nya kepada arah suara.
"Mama". Gumam Putra saat melihat sang pemilik suara yang kini sudah berdiri di samping nya.
"Mampus Gue!" Bisik hati Reina menjerit kala melihat kearah samping Putra.
Sesosok wanita berhijab namun tidak syar'i langsung menarik paksa Putra dari duduk nya hingga membuat pria itu pun berdiri, dan memberikan tempat duduk nya kepada wanita tersebut.
Mama Putra melihat kepada Reina yang sedang tersenyum seraya menundukkan kepala nya kepada Mama Putra.
Mama Putra mengulas senyum kepada Reina. Senyum nya semakin merekah kala Reina tanpa di minta Putra segera meraih tangan kanan nya dan kemudian mencium punggung tangan nya dengan takdzim.
"Waalaikumsalam Sayang". Balas Mama Putra dengan ramah.
"Jadi...". Mama Putra yang bernama Rani itu pun mengubah duduk nya menghadap kepada Bu Rahma dan Anissa yang tengah melihat keakraban Reina dan Mama Rani.
Mama Rani melipat kedua tangan nya sebatas dada seraya menyenderkan tubuhnya kebelakang bangku.
"Menurut Bu Rahma, wanita seperti apa yang cocok dengan Putra saya?. Apakah wanita berhijab yang paham akan akidah namun justru mengejar pria yang sudah jelas jelas nya bukan Mahram nya?. Atau seorang wanita yang biasa saja, yang mungkin masih belum paham batasan mahram nya?". Bu Rahma hanya terdiam. Bi*** nya tiba tiba saja menjadi keluh, tak sanggup menanggapi ucapan Mama Rani yang benar ada nya.
Anissa Putri semata wayang nya itu, memang tertarik kepada Putra, dan sering kali menghubungi Putra atau secara tiba tiba menemui Putra ke tempat nya bertugas.
Dan tak jarang Anissa memperkenalkan diri nya sebagai calon pendamping Putra, yang menggantikan posisi Dita yang tewas bersamaan dengan suami nya yang merupakan pasangan selingkuh istri Putra tersebut.
"Saya pribadi lebih memilih gadis yang apa ada nya namun masih bisa belajar lagi untuk memahami batas Mahramnya, di bandingkan wanita yang paham akidah namun seolah melupakan siapa Mahram nya".
__ADS_1
Jleb
Anissa tertunduk malu mendengar ucapan Mama Rani, sementara BU Rahma tampak tidak terima dengan ucapan Mama Rani yang seolah menyindir sang Putri.
"Maksud Bu Rani, anak Saya tidak tau batasan marham nya kepada Nak Putra?". Seolah tak terima dengan ucapan Mama Rani, Bu Rahma pun berucap dalam nada tinggi.
Mama Rani mengangkat kedua bahu nya sambil tersenyum tipis.
"Bukan kah di awal pertemuan kita, Bu Rani sempat tertarik untuk mendekatkan Nak Putra dengan Anissa?". Bu Rahma pun bertanya kepada Mama Rani seraya memberikan senyuman mengejek.
Mama Rani membalas nya dengan senyuman tipis menanggapi ucapan Bu Rahma. Di tegakan tubuh nya, agar duduk nya agar lebih tegak.
"Saya akui iya". Senyum Anissa dan Bu Rahma tampak mengembang hanya untuk sesaat saja.
Karena setelah nya senyum itu perlahan lahan surut kala Mama Rani berucap.
"Sebelum Anissa menganggu pekerjaan Putra dengan mengaku sebagai calon istri anak Saya. Dan saya lebih tidak suka lagi dengan sikap nya yang selalu menghubungi anak saya dengan tidak tahu waktu. Bahkan seringkali menganggu istirahat Saya. Karena itulah, Saya menjadi tidak menyukai sikap dan kelakuan Puteri Bu Rahma tersebut. Jadi, berhubung kita bertemu saat ini. Maka izinkan saya untuk mengungkapkan keinginan Saya kepada Bu Rahma juga Anissa, untuk tidak menganggu Putra lagi". Mama Rani sengaja menjeda ucapan nya kepada Bu Rahma dan juga Anissa.
"Toh selama ini Putra pun tidak pernah menjanjikan kepada putri Bu Rahma status apa pun bukan?". Mama Rani menatap tajam Anissa yang sedang tertunduk, di kedua belah kelopak mata nya mulai keluar beberapa tetes air mata.
"Jadi Saya minta, mulai detik ini jangan pernah lagi menganggu Putra. Dan Saya ingatkan kembali, di antara Putra dan Anissa tidak pernah terjalin ikatan apa pun juga ".
#################################
KISAH AWAL PERTEMUAN PUTRA DAN ANISSA ADA DI BAB TERAKHIR NYA NOVEL YANG BERJUDUL " SEBUAH RASA YANG SAMA ". YA
JANGAN LUPA DI LIKE JUGA KOMEN YA
SEE YOU NEXT BAB
__ADS_1