
"Mama, nggak mau ngusap perut Aku juga?". Ucap Riska lirih.
Amanda dan yang lain nya kecuali Ardi melihat Riska dan Ardi bergantian dengan kebingungan.
"Maksud Lo hamil Ris?. Kok bisa?".
"Aduh. Sakit dodol". Umpat Arsy kesal, karena tiba tiba saja Riska memukul lengan kanan nya.
"Ya bisa lah, orang Gue punya suami". Sunggut Riska kesal.
Amanda menatap tak percaya kepada Riska. Kalau anak nya sedang hamil berarti Dia akan segera menjadi nenek.
Seutas senyum mengembang dari bibir Amanda, wanita itu kembali memeluk Riska dengan erat.
"Alhamdulillah. Selamat ya Sayang". Amanda mengusap perut Riska dengan lembut, seraya mengumamkan sebait doa untuk cucu nya kelak.
"Wah, kaya nya Tante Manda bakal jadi NekMud neh". Celoteh Lia yang seperti nya sejak tadi wanita yang tengah hamil itu bosan terdiam.
"NekMud?". Amanda mengernyit kan kening nya bingung.
"Iya Tante. Nenek Muda hahahha". Jawab Lia tertawa sendiri sementara yang lain nya tampak terdiam tak mengerti.
Baru lah setelah Lia menghentikan tawa nya, mereka menyadari lelucon yang Lia ucapkan setelah bibir wanita hamil itu maju beberapa senti disertai wajah yang tertekuk kesal, karena tak ada yang menanggapi lelucon nya.
Tawa pun pecah bukan karena lelucon Lia, tapi karena melihat wajah Lia yang sudah bulat semakin bulat.
"Maaf sayang. Aku nggak ngerti kalau Kamu lagi ngelawak". Ucap Juwono sambil tertawa kecil.
Lia mendengus kesal lalu berbisik "Kang Juwono. Kamu tidur di luar selama seminggu".
Juwono pun langsung menghentikan tawa nya dan menatap memelas kepada istri nya.
Bisa dipastikan Pria itu akan tidak bisa tidur tanpa memeluk istri nya. Lebih tepat nya Pria itu tidak akan bisa tidur sebelum berbincang bincang dengan kedua jagoan nya.
"Tunggu Gue masih bingung, bukan nya Elo bilang Om Ardi belum ...".
"Ck, gituan aja di bahas. Yang penting inti nya Riska sedang hamil 4 minggu dan anak Kami kembar. Masalah gimana bisa jadi, itu nggak usah di bahas. Oke". Ucap Ardi yang di angguki Riska.
"Ck. Nggak seru". Protes Arsy Lia juga Reina bersamaan.
__ADS_1
"Permisi Pak Putra, Kami harus segera membawa Bu Manda kembali ke Rutan". Semua nya terdiam saat seorang sipir wanita meminta izin kepada Putra.
"Oh iya. Baik lah kalau begitu". Ucap Putra yang mengizinkan kedua orang sipir kembali memborgol kedua tangan Amanda.
"Mama pergi dulu ya Nak. Jaga kesehatan". Ucap Amanda.
"Mama juga, jaga kesehatan, InsyaAllah nanti Riska juga Bang Ardi akan menjenguk Mama". Amanda tersenyum lalu mengusap lembut pucuk kepala Riska.
"Tante pamit ya Nanda. Sekali lagi maaf kan Tante". Ucap Amanda yang di balas pelukan oleh Arsy.
"Saya titip Riska ya Ar". Ucap Amanda kepada Ardi. Ardi mengangguk karena Dia bingung ingin memanggil Amanda dengan sebutan apa. Hal itu di karena kan usia mereka yang sebaya.
"Maafin Aku Ditya". Bagas memundurkan langkah nya saat Amanda mendekati nya.
Amanda hanya bisa menghela nafas, sungguh sebenar nya Dia masih sangat berharap Bagas masih menyimpan rasa untuk nya.
Namun melihat Bagas yang menghindari nya dan sorot mata yang selalu tertuju kepada Arsy membuat Amanda menyadari, bahwa sudah tak ada kesempatan yang tersisa untuk nya.
"Karena Aku, Papa Daniel juga Bastian, Kamu juga harus kehilangan kedua orang tua juga nama baik Kamu. Aku berjanji akan membongkar semua nya agar nama Kamu bisa kembali bersih. Dan juga mendapat keadilan serta pertanggung jawaban atas kematian kedua orang tua Kamu dari Papa Daniel". Bagas hanya mengangguk menanggapi ucapan Amanda. Dia justru langsung menghampiri Arsy yang masih terduduk di bangkar Riska dan kemudian mengecup pucuk kepala Arsy dengan lembut, hingga membuat Arsy menenggelamkan kepala nya di perut Bagas.
Amanda pun berjalan meninggalkan ruang IGD dengan diapit oleh dua sipir yang sejak dari pengadilan mengawal nya.
"Semoga saja, keterangan Amanda bisa membuat Daniel mendekam seumur hidup di penjara". Ucap Putra.
Reina memberikan kode dengan mengarahkan dagu nya kearah Riska yang tengah tertunduk mendengar ucapan Putra
"Maaf kan ucapan Saya". Ucap Putra menyesal kepada Riska, dan Riska mengagguki pelan ucapan permintaan maaf Putra kepada nya.
Reina berdecak kecil, karena sang suami terlihat kaku saat meminta maaf.
"Maafin omongan Mas Putra ya Ris". Reina menghampiri Riska dan kemudian memeluk nya dengan erat.
"Apa yang di ucapin Pak Putra benar kok. Jadi nggak usah minta maaf". Membalas pelukan Reina dengan erat.
"Baik Papa Daniel, Papa Bastian juga Mama Manda memang sudah seharus nya menerima hukuman yang setimpal atas semua perbuatan mereka". Ucap Riska lirih.
Bagas pun melerai pelukan nya kepada Arsy, lalu beranjak menjauh dari Arsy untuk memberikan ruang kepada para sahabat itu untuk saling menguatkan satu sama lain.
''Udah jangan sedih lagi. Kasian para bayi kita kalau Mama nya pada sedih begini. Huaaaaaaaaaa". Lia yang merangsek langsung memeluk Arsy, Riska juga Reina.
__ADS_1
Keempat nya pun berpelukan dengan erat sambil menangis dan tak lama kemudian tangis itu hilang berganti dengan tawa ketika mereka menyadari posisi berpelukan mereka.
"Kita udah kaya teletubbies ya". Tawa ke empat nya kembali pecah, mana kala mereka berucap sama secara bersamaan.
Para suami pun hanya bisa menggeleng pasrah melihat kelakuan para istri kecil mereka yang bisa tertawa setelah beberapa saat lalu menangis.
"Siap siap di repotin sama si ngidam ya Ar". Bagas menepuk nepuk punggung kanan Arfi sedikit keras. Ardi hanya menghela nafas pasrah.
"Selamat bergabung di club Sugar Daddy Hubies". Juwono menepuk punggung kanan Putra hingga Putra menatap Juwono dengan tajam.
Namun seperti nya Juwono terlihat acuh, bukti nya Pria itu malah tersenyum kecil melihat tatapan Putra. Putra bergidik ngeri, ketika Putra teringat bahwa Juwono sempat menjadi seorang Miss selama 10 tahun.
Bagas tertawa kecil melihat wajah Putra yang ketakutan kepada Juwono. Hingga Bagas pun menepuk punggung Putra.
Putra mengalihkan pandangan nya kearah Bagas. Bagas merangkul bahu Putra.
"Tenang aja, Dia udah ada pawang nya jadi udah insyaf". Ucap Bagas namun tetap saja membuat Putra bergidik ketika berdekatan dengan Juwono.
"Hanya waspada aja Dit". Ucap Putra yang justru mengundang tawa nya.
"Nasib mu Juju, udah insyaf masih aja ada yang takut". Juwono tampak terkejut kala Bagas menepuk keras bahu nya tak mengerti maksud dari ucapan Bagas, apalagi saat Dia mengalihkan pandangan nya kearah Putra yang justru tengah melihat kearah nya dengan tatapan tajam.
"Kenapa Dia?" Cicit Juwono kepada Bagas.
"Dia paling takut sama Wa To The Ria" Ucap Bagas yang membuat Juwono terkejut dan langsung merubah wajah ramah nya menjadi kesal.
"Gue bukan Wa To The Ria ya Mas. Gue tuh seneng makeup in orang, maka nya nya Gue jadi lemah gemulai, tapi Gue masih waras. Tuh liat bukti nya, cuma berapa minggu anak nya Pak Beni udah tekdung!" Ucap Juwono yang mendapat tawa dari Bagas dan Ardi.
"Ya nasib Kamu lah, siapa suruh dulu belok" Ujar Putra tak mau di salahkan.
"Bukan belok Put, cuma agar tersesat" Kembali Bagas menimpali ucapan Putra.
"Untung Dia tau jalan pulang. Coba kalau nggak Dia bakal jadi butiran debu" Kembali Bagas berucap yang langsung Lia timpali.
"Di kata Suami saya itu lagu apa Pak"
"Nah tuh tau" Suara tawa menggema di dalam ruangan perawatan Riska, membuat Riska pun ikut tertawa dan sedikit melupakan masalah keluarga yang tengah di hadapi nya saat ini.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa bantu like dan komen nya ya ...
See you next bab