
"Riska. Bangun". Ardi menepuk-nepuk pelan pipi Riska. Umi Risma datang menghampiri Ardi dan kemudian memberikan minyak aromatherapy yang selalu dia bawa kemana-mana kepada Ardi.
Ardi mengoleskan sedikit minyak tersebut ke ujung hidung Riska, lalu Pria itu menyingkap sedikit hijab yang Riska kenakan untuk melihat luka Riska akibat jeratan Daniel tadi.
"Kita ke rumah sakit saja Ar". Pinta Umi yang di angguki Ardi.
Ardi pun segera membopong tubuh istri ke mobil nya dengan di iringi Umi Risma yang berjalan di belakang Ardi.
Arsy, Lia dan Juwono yang melihat dari kejauhan Ardi membopong Riska pun segera mengikuti arah langkah Ardi.
Sementara itu drama Daniel yang masih belum usai itu masih terlihat berlanjut. Bagas menyerahkan semua nya kepada Putra serta jajaran nya untuk menangani Daniel. Karena Dia harus mengikuti sang istri yang beberapa hari ini juga mendapatkan ancaman dari orang yang tidak di kenal.
Riska masih belum juga sadarkan diri saat tiba di Rumah Sakit, dan hal itu tentu saja membuat Ardi, Umi Risma serta yang lain nya khawatir.
Ardi bahkan tidak meninggalkan Riska saat Dokter menangani Riska di ruang IGD. Pria itu ngotot ingin tetap berada di samping istri nya walau pun Dokter juga perawat meminta Ardi untuk keluar dari ruangan IGD.
Beruntung saat Ardi ngotot ingin tetap berada di sisi istri nya, istri sang pemilik Rumah Sakit yang juga seorang Dokter Spesialis Anak di Rumah Sakit itu mengizinkan nya untuk tetap mendampingi istri nya dengan syarat pria itu tidak menganggu aktifitas Dokter juga Perawat yang akan menangani Riska.
"Bang..." Panggil Riska lirih saat membuka mata nya perlahan lahan.
"Alhamdulillah, Kamu sudah sadar. Apa yang sakit sayang?". Tanya Ardi saat Riska membuka mata nya.
Ardi membantu Riska yang ingin duduk
"Nggak ada, cuma leher Aku agak ngilu aja dikit". Ucap Riska menyentuh leher nya yang sudah di perban oleh Dokter setengah jam yang lalu sebelum Riska sadarkan diri.
"Ada luka di leher Kamu. Maafkan Abang. Abang sudah lalai menjaga Kamu". Ardi mengenggam erat telapak tangan Riska dalam tangkupan kedua telapak tangan nya.
Pria itu menundukkan kepala nya sambil mengecupi telapak tangan Riska tanpa henti.
"Nggak apa apa Abang". Riska mengusap lembut kepala suami nya.
"Abang takut Kamu kenapa kenapa Dek". Riska tersenyum kepada Ardi.
__ADS_1
"Tapi kan sekarang Aku nggak kenapa kenapa Bang. Udah ah jangan sedih lagi. Malu sama bewok, masa tampang sangar hati Hello Kitty". Riska tersenyum kecil melihat reaksi Ardi yang mendengus kesal kala sang istri menyamakan nya dengan karakter kartun kucing yang identik dengan Hello Kitty.
"Ih malah ngambek. Sini atuh". Riska merentangkan tangan kiri nya lebar lebar yang kemudian di sambut sang suami yang masuk kedalam pelukan nya.
"Sakit nggak?". Ardi menyingkap hijab yang Riska kenakan dan kemudian menyentuh perban yang melingkar di leher Riska dengan lembut.
"Nggak Bang. Segini mah nggak sakit. Yang bikin Aku beneran sakit aja udah nggak bisa Aku rasain sakit nya". Riska berucap lirik. Ardi pun kemudian menarik tubuh Riska kedalam pelukan nya.
"Jangan sedih lagi. Ada Abang, Umi juga teman teman Kamu yang selalu ada buat Kamu". Bisik Ardi seraya mengusap lembut pucuk kepala Riska.
Ardi melerai pelukan nya dengan Riska. Pria itu lalu mendudukkan tubuh nya di sisi kiri bangkar Riska.
Kedua telapak tangan Riska Ardi genggam dengan erat. Kedua nya saling bertatapan, hingga Riska merasakan debaran jantung nya semakin kencang saat kedua mata gelap Ardi menatapnya dengan penuh cinta.
"Abang berjanji mulai sekarang dan sampai ajal memisahkan, Abang akan selalu menjaga Kamu, dan juga mereka".
"Mereka?". Riska menatap Ardi penuh keheranan. Ardi mengangguk anggukan kepala sambil mengusap lembut perut Riska yang masih rata.
"Maksud Abang, Aku hamil?". Tanya Riska tak percaya. Lagi lagi Ardi menganggukkan kepala nya berulang ulang.
"Nggak mungkin. Abang pasti bercanda kan?". Ardi memandang Riska heran.
Pasal nya sang istri tampak tidak percaya bahkan terlihat kecewa akan berita yang di sampaikan nya. Dan hal itu membuat Ardi kecewa.
"Kamu nggak mau mempunyai anak dari Abang?". Riska mengerjap tak percaya saat Ardi bertanya dengan nada tinggi.
"Bukan, bukan begitu Bang. Maksud A...".
"Kamu kecewa karena sekarang Kamu sedang mengandung anak Aku?. Begitu !". Ardi memotong ucapan Riska dengan kesal, dan Riska menggeleng geleng kan kepala nya.
"Bukan Abang. Bukan begitu. Maksud Aku, bagaimana Aku bisa langsung hamil, padahal kita baru saja melakukan hubungan ba*** beberapa hari yang lalu". Ucap Riska cepat.
Wanita itu sengaja berbicara dengan cepat agar sang suami tidak lagi memotong ucapan nya.
__ADS_1
"Kita sudah menikah selama hampir 3 bulan Riska. Jadi wajar kalau Kamu saat ini hamil 4 minggu" Riska semakin bingung bagaimana mungkin Dia bisa hamil 4 minggu.
Tunggu dulu. Riska kemudian berpikir. Bukankah sang suami bilang kalau Dia selalu melepaskan ha*** se***** kepada nya saat Dia tengah lelap tertidur.
"Astaghfirullahalazim, Abang". Riska memekik kencang lalu memukuli lengan Ardi dengan kencang berkali kali.
"Abang sih make Aku pas Aku lagi lelap, jadi Aku kan nggak sadar kalau...".
"Kalau habis Abang gr***in terus Abang hajar gitu". Riska memukul dengan kencang bahu kanan Ardi hingga Ardi mengaduh kesakitan.
"Lagian Abang, udah kaya predator, orang lagi lelap malah di perawanin". Protes Riska kesal.
"Lah, salah Kamu sendiri tidur udah kaya kebo. Di gr*** bahkan di coblos setiap malam nggak sadar.Mata doang yang merem, tapi badan udah kaya penari ular meliuk kesana kemari. Belum lagi de***** Kamu, ya salam. Biarpun merem tapi nikmat, sampe Kamu tuh berkali kali...".Riska melemparkan bantal kepada Ardi tanpa sempat pria itu melanjutkan ucapan nya.
Wajah Riska seperti nya sudah merah padam. Dia merutuki kebodohan nya yang kalau tidur sudah seperti kebo, tidak akan bangun walau ada gempa sekali pun.
Dan hal itu terbukti sudah dengan keadaannya yang sekarang sedang hamil tanpa di ketahui kalau sang suami menggarap nya setiap malam selama hampir beberapa bulan ini.
"Alhamdulillah". Gumam Riska tak percaya sambil mengusap lembut perut nya.
Ardi mendudukkan tubuh nya di samping Riska dan kemudian merebahkan kepala nya di kedua paha Riska dengan kepala yang menghadap perut Riska.
Senyum terukir kala melihat ulah sang suami yang sibuk mengecupi perut rata nya. Tangan kanan mengusap lembut kepala Ardi, hingga tak lama kemudian terdengar suara dengkuran halus yang berasal dari Ardi.
"Terima kasih Bang". Gumam Riska sambil mengusap lembut wajah Ardi yang tengah tertidur.
"Terima kasih sudah mau menerima kehadiran Aku di kehidupan Abang. I Love You Bang". Gumam Riska mengusap lembut rahang Ardi yang masih di tumbuh bewok cukup tebal, namun hal itu justru membuat Riska semakin menyukai nya.
"I Love You Too Wifey". Gumam Ardi yang lalu tiba tiba bangkit dari posisi nya dan kemudian melu*** bi*** Riska dengan lembut.
Riska sempat terkejut sebelum akhir nya wanita itu membalas lu***** bi*** Ardi, bahkan Riska melingkarkan kedua lengan nya di leher Ardi, hingga Ardi semakin memperdalam lu*****.
Kedua nya saling menikmati satu sama, hingga mereka tidak menyadari kehadiran para tamu yang tak di undang yang menatap aksi mereka sambil menggeleng geleng kan kepala nya.
__ADS_1
"Astaghfirullahalazim".