
"Oh ternyata karena Pria tua ini, alasan Kamu meminta putus dari Aku".
Seorang pria muda berdiri di samping meja yang tengah Reina duduki dan kebetulan Putra yang sama sama jomblo dengan Reina itu duduk di samping Reina, karena para sahabat koplak nya lebih memilih duduk di samping pasangan mereka masing masing.
"Pria tua?". Gumam Putra lalu menatap tajam pria muda yang tampak seusia Akmal keponakan nya Ardi.
"Ya siapa lagi kalau bukan Anda". Pria muda itu menunjukkan jari telunjuk nya kepada Putra dengan tatapan penuh amarah.
"Sopan lah sedikit dengan orang yang Kamu sebut Pria tua itu, Pria muda". Putra menepis kasar telunjuk pria muda itu karena posisi nya tepat di samping pria muda itu.
"Jangan bikin keributan di sini, Hakim". Ucap Reina yang hendak bangkit dari duduk nya, namun Putra menahan pergerakan Reina, hingga memaksa gadis itu pun tetap berada di posisi nya.
Yap ternyata Pria muda itu adalah hakim, mantan kekasih Reina yang di putuskan oleh Reina karena terpergok selingkuh dengan salah seorang ayam kampus yang merupakan sahabat nya Elsa.
"Woi, Diyta". Bagas mendongakkan wajah nya kepada Putra lalu melihat nya dengan heran.
Hakim tampak terkejut saat Putra yang di panggil nya Pria Tua itu memanggil nama Bagas dengan nada santai, dan Hakim yang tengah cemburu itu tidak menyadari kalau ada Bagas di meja tersebut.
"Apa begini, cara Lo ngedidik murid Lo?". Tanya Putra.
"Dia nggak ambil matkul Gue. Lagi juga ini kan bukan urusan kampus. Jadi ya Elo urus aja sendiri". Jawab Bagas santai, yang di hadiahi pukulan kecil di lengan nya dari Arsy.
"Kenapa sayang?. Benerkan ini urusan nya Putra sama itu mantan nya Reina?". Ucap Bagas di selingi tanya.
"Mata Kamu dimana yang modelan gituan kok di pacarin". Juwono yang biasa nya hanya diam, kini menimpali ucapan Bagas.
Lia menghela nafas sambil mengusap lembut perut nya yang sudah sedikit besar itu, karena ulah sang suami yang menjadi kompor di sela pertikaian masalah Reina. Karena sang suami pasti akan memakai dalil bawaan Utun ketika Lia menanyakan sifat usil nya.
"Lagi katarak dia, maka nya pacaran sama tuh makhluk". Ini lagi makhluk kini bergelar istri pengacara menimpali celoteh usil Juwono.
__ADS_1
"Lagi pake kacamata kuda Dia, maka nya nggak merhatiin sekitar nya". Lia menepuk jidat nya sendiri, kala Ardi ikut menimpali ucapan sang istri.
" Salah, mata Gue kena ulkus pas jadi pacar nya ". Balas celoteh Reina yang di senyumi para penghuni kasat mata meja.
"Dasar para sugar baby". Gumam Hakim. Lia yang mendengar nya segera beranjak dari duduk nya lalu memukul dengan keras belakang leher Hakim, hingga membuat kepala Hakim nyaris terjerunuk.
"Jaga mulut Lo Kim. Se enggak nya para pria yang menurut Lo sugar daddy ini lebih bertanggung jawab dari pada Elo, baik secara penampilan, sikap juga finasial". Ucap Lia kesal.
Juwono langsung meraih Lia untuk duduk kembali di tempat nya, pria itu dengan lembut mengusap usap bahu Lia.
"Kalau di proses kena pasal apa aja nih Pak Komandan Putra, Kasat Disreskrim P*******". Hakim membulatkan kedua bola mata nya lalu melihat kepada Putra, sambil memperhatikan detail wajah Putra yang ternyata tidak asing di mata nya.
"Sial". Gumam Hakim, kala menyadari kebenaran ucapan Ardi.
Nyali nya seketika itu juga langsung menciut. Wajah garang nya berubah menjadi gugup, bahkan Hakim mengusapi belakang leher nya yang tadi di pukul oleh Lia guna menutupi kegugupan nya.
"Penghinaan kepada aparat negara, penghinaan di muka umum, membuat keributan dan mengganggu ketertiban di muka umum, serta penyebaran fitnah. Kira-kira berapa tahun hukuman nya Pak Ardi? ". Glek Hakim menelan saliva nya dengan kasar kala pandangan mata nya melihat kepada Ardi.
Sosok Ardi sebagai pengacara muda yang sedang naik daun karena berani membuat para pemimpin RH Company saat ini sedang menunggu hasil penyelidikan kepolisian mengenai kasus pembunuhan berencana terhadap keluarga Arsy dan Bagas.
"Satu satu atau semua nya. Kalau satu ya bisa lama lah hukumannya, kalau di gabung ya tetep sama juga lama hukuman nya. Minimal 5 tahun lah di prodeo". Ujar Ardi santai.
Hakim berusaha menelan saliva nya kembali dengan perlahan lahan, namun apalah daya tenggorokan nya terasa sulit untuk melakukannya.
Wajah nya sudah semakin pucat pasi, kala Putra berdiri tepat di hadapannya.
Nyali Hakim semakin ciut manakala menyadari tubuh Putra yang lebih tinggi dan juga kekar di banding kan nya. Dengan Reina saja dia sudah kalah dan habis dipukuli mantan nya itu kala memergoki perselingkuhan nya. Apalagi harus berurusan dengan Putra, bisa suram masa depan nya nanti.
Kedua bola mata Putra membulat, saat Hakim tiba tiba bersujud di hadapan nya.
__ADS_1
Hakim benar benar merendahkan harga diri nya agar Putra tidak menuntut dengan dengan pasal berlapis.
"Gue ajakin sujud di hadapan Allah, Lo nggak pernah mau, giliran sujud di depan polisi Lo nggak usah di suruh". Umpat Reina kesal.
"Maafin Saya Pak. Saya khilaf, Saya tidak tahu kalau Bapak Polisi". Rengek Hakim. Pria muda itu bahkan tanpa malu malu lagi bersujud menyembah kepada Putra.
"Astaghfirullahalazim. Bangun, ngapain Kamu sujud sambil menyembah Saya kaya gitu. Mau pasal nya Saya tambah lagi dengan pasal penistaan agama?". Bentak Putra, dan Hakim pun berdiri dengan tertunduk malu.
"Maka nya kalau mau ngelabrak jangan asal ngelabrak aja". Kedua bola mata Lia membulat menatap sang suami yang sejak Lia hamil itu mulut nya menjadil cumil. Padahal semenjak kembali menjadi Juwono, Miss Juwita sudah bisa bersikap tak banyak bicara layak nya pria pada umum nya.
"Lambe mu Kang". Lia menepuk pelan ujung bi*** Juwono dengan ujung sendok yang tengah di gengam nya.
Bukan nya marah Juwono justru dengan gemas mengecupi pipi kiri Lia.
"Astaghfirullahalazim Kang. Udah ah". Juwono terkekeh pada saat Lia sibuk menghindari wajah nya dari kecupan iseng Juwono.
"Urusan kalian sudah selesai, atau masih mau lanjut?. Kalau mau lanjut silahkan dilanjutkan di tempat lain. Saat ini Kami sedang menikmati makan kami". Reina mengangguk sementara Hakim hanya terdiam menanggapi perkataan Putra.
"Baik. Anda bisa silahkan kembali ke tempat Anda semua". Bagai kerbau yang di cocok hidung nya. Hakim pun beranjak meninggalkan meja tempat Arsy dan yang lain nya berkumpul.
Semua yang berkumpul di meja tempat Arsy pun menghela nafas lega nya. Namun baru beberapa saat Hakim meninggalkan meja Arsy dan yang lain nya. Sebuah teguran kembali mengusik kebersamaan mereka.
"Lho Nak Putra, Kata nya Nissa Kamu sedang bertugas, kok malah kumpul di sini?".
###################
TBC
JANGAN LUPA DI LIKE JUGA KOMEN YA
__ADS_1
SEE YOU NEXT BAB
BYE BYE