Oh My Dosen ( Remake )

Oh My Dosen ( Remake )
Bab 13. Menolak


__ADS_3

Ceklek


Chika membuka pintu kamar nya sedikit. Tampal Adit berganti pakaian mengenakan kaos hitam longgar dan celana cargo sebatas lutut itu sudah berdiri di depan kamar Chika.


Tanpa permisi Adit memasuki kamar Chika dan menguncinya, kedua alis Chika saling bertautan melihat Adit yang kini sedang menatap nya dengan tajam.


"Kita bicara". Adit menarik tangan Chika, memaksa gadis itu untuk duduk di tepi ranjang.


Adit pun mengambil kursi belajar Chika dan kemudian meletakkan di hadapan Chika hingga kini mereka duduk saling berhadapan.


"Kamu menerima permintaan Oma?". Chika mengangguk pelan.


"Yakin?". Lagi-lagi Chika menganggap hingga membuat Adit mengerang frustasi.


Pria dewasa itu menyugar rambut nya ke belakang sebelum akhirnya membenarkan duduk nya kembali menghadap Chika.


"Kamu menyukai Dito?". Chika menggeleng.


"Kalau Kakak ?. Apa Kamu menyukai Kakak?". Chika mengangguk lalu menggeleng dan kemudian melihat kearah Adit yang sedang tersenyum usil.


"Candaan nya nggak lucu". Gumam Chika, namun masih biss terdengar jelas oleh Adit. Adit menarik ujung hidung Chika karena merasa gemas melihat bibir Chika yang mengerucut.


"Kalau gitu, Ayok kita bilang sama Oma kalau Kamu menolak lamaran Dito". Ujar Adit beranjak dari duduk nya.


"Chika nggak mau bikin Oma kecewa Kak". Adit menghentikan laju nya mendengar ucapan Chika.


"Kamu bisa menolak keinginan Oma, kalau Kamu tidak berkenan". Ujar Adit membuat Chika pun gamang. "Dan Oma tidak bisa memaksakan hal itu sama Kamu Chika". Chika menghela nafas pelan lalu menatap Adit yang kini tengah berdiri di hadapan nya.


Kedua saling melempar pandangan, hingga akhirnya Chika memutuskan lebih dulu pandangan dan kembali menundukkan kepala nya, "Kalau Chika menolak keinginan Oma, Oma pasti kecewa sama Chika Kak. Dan Chika nggak mau bikin Oma kecewa".


Adit menghampiri Chika dan kemudian menggenggam kedua tangan Chika dengan erat.


"Jangan kamu jalani kalau kamu terpaksa".


Chika menarik tangan nya dari gengamanAdit seraya berkata "Asalkan Oma bahagia, Chika akan menjalani nya dengan Ikhlas walaupun terpaksa".


"Selain di pilih kamu juga berhak memilih". Adit pun kembali menarik tangan kanan Chika dan menggenggam nya dengan erat.


Adit dan Chika keluar dari kamar Chika bertepatan dengan Oma yang seperti nya akan mengetuk kamar Chika.


"Ngapain Kalian berduaan di kamar ?". Adit menggeser tubuh Chika ke belakang nya. Pandangan Oma tertuju kepada tangan Adit yang mengenggam erat tangan Chika.


"Oma tanya ngapain kalian di kamar berduaan?". Oma menatap Adit dengan kesal. Adit pun mengurai genggaman kepada Chika lalu merangkul Oma Shinta dan memboyong tubuh Oma menuju kamar Oma.


"Kita bicara di kamar Oma saja ya".


########

__ADS_1


"Jelaskan sama Oma ngapain Kamu di kamar nya Chika?".


Oma Shinta menatap horor kepada Adit, sementara yang mendapat tatapan memasang wajah usil.


Ah sungguh sifat yang berbanding terbalik dengan Pak Bagas, itulah monolog yang disuarakan Chika dalam hati nya.


Entah mengapa gadis itu lebih menyukai sikap Bagas yang selalu terlihat misterius, dengan sedikit senyum namun bisa membuat perasaan Chika jungkir balik.


"Chika nggak mau terima lamaran nya Dito Oma".


Oma Shinta mengalihkan pandangannya kearah Chika saat mendengar ucapan Adit.


"Benar itu Chika?. Kamu berencana menolak lamaran Dito?".


Chika mengangguk pelan, dan Oma pun menarik nafas pelan.


"Berikan alasan yang masuk akal sama Oma, kenapa Kamu menolak lamarannya Dito". Chika terdiam. Oma pun mengalihkan pandangan nya kearah Adit.


"Jangan bilang bocah ini yang suruh Kamu menolak lamaran Dito".


Adit tersenyum kecut mendengar panggilan baru yang di hadiah kan Oma Shinta buat nya.


"Chika nggak suka sama Kak Dito Oma". Cicit Chika pelan.


"Kamu bisa belajar menyukai bahkan mencintai Dito setelah Kalian menikah".


"Tapi Oma". Oma mengangkat tangan kanan nya, dan hal itu membuat Chika pun menghentikan ucapannya.


Chika menghela nafas pasrah, sementara Adit yang ingin protes langsung terdiam saat sang Oma sudah lebih dahulu menatapnya dengan tatapan tajam, seolah memintanya untuk diam.


"Selama Dito mencintai Kamu, bagi Oma itu sudah cukup".


" Chika, lebih baik kita bersama dengan orang yang mencintai Kita bukan yang kita cintai ".


"Karena dengan kita bersama dengan orang yang mencintai kita, sudah bisa di pastikan Dia akan menyayangi Kita tanpa batas".


"Namun apa bila Kamu yang mencintai, belum tentu orang itu mencintai Kamu dan menyayangi kamu tanpa batas. Karena itulah Oma meminta Kamu untuk menerima lamaran Dito".


"Karena Oma melihat Dito mencintai Kamu".


Chika meremas kedua telapak tangan nya. Gadis itu sudah tidak bisa lagi mengeluarkan kata-kata penolakan. Hanya buliran air mata mulai menetes di pelupuk mata nya.


Benar yang Oma bilang, lebih baik kita bersama dengan orang yang mencintai daripada dengan orang yang kita cintai. Karena bisa jadi orang yang kita cintai belum tentu mencintai kita, seperti kita mencintai nya.


"Oma". Adit duduk bersimpuh di hadapan sang Oma. Kedua tangan nya bertumpu kepada kedua tangan Oma yang berada di paha Oma Shinta.


"Adit mencintai Chika". Chika membulatkan mata nya, Oma tersenyumlah kecil lalu menepis tangan Adit yang bertumpu di kedua paha Oma.

__ADS_1


"Kamu tidak boleh mencintai Chika". Bentak Oma.


"Dan jangan harap Oma akan menyetujui nya". Ucap Oma tegas.


"Kenapa?. Kenapa Adit tidak boleh mencintai Chika?". Adit pun tidak mau kalah. Pria itu pun mulai menaikan nada bicara nya.


"Kak Adit". Panggil Chika. Adit pun beranjak dari tempat bersimpuh nya. Pria itu kini sudah berada bersisian dengan Chika.


"Kamu lupa siapa Chika?". Adit menatap sang Oma penuh tanya.


"Secara hukum negara Chika itu adik Kamu". Ucap Oma mengingatkan Adit.


"Kalau begitu Adit akan membatalkan hukum tersebut". Oma tertawa pelan seolah mengejek keputusan Adit.


"Dengan apa?. Dengan membatalkan hak asuh dan mencopot gelar Gumilang dari nama Chika?".


"Jangan bermimpi anak muda". Ucap Oma mengejek Adit.


"Sampai kapan pun Oma tidak akan membatalkan hak asuh Chika dari keluarga Gumilang titik". Ucap Oma Shinta tegas.


"Oma egois". Ucap Adit kesal.


"Egois?. Kamu yang egois Dit".


"Apa Kamu pikir dengan membatalkan hak asuh Chika semua nya akan mudah bagi kalian bersama?".


" Tidak. Ingat apa yang akan orang orang bicarakan tentang Kamu kelak ".


"Mereka akan tahu siapa Kamu dan juga Chika".


"Apa Kamu ingin hidup bersama Chika dengan bayang bayang Kamu sebagai penyebab kedua orang tua Chika meninggal?".


"Ingat Dit. Cap pembunuh kedua orang tua Chika selalu tersemat buat Kamu dari dulu, sekarang dan juga nanti".


Adit pun terdiam seribu bahasa. Perasaan bersalah itu kembali menghinggapi nya.


"Kak Adit". Panggil Chika lembut lalu meraih tangan kanan Adit dan mengenggam nya dengan erat.


Sungguh Dia sudah bisa menerima takdir kedua orang tua nya tewas kecelakaan melalui Adit. Dia sudah ikhlas, toh selama ini baik Oma maupun Adit sudah bertanggung jawab atas kehidupan juga masa depan nya.


Tak bisakah Dia dan Adit hidup dengan tenang tanpa harus merasakan dendam juga rasa bersalah atas kehilangan kedua orang tua Chika.


"Maaf Oma, bagi Chika Kak Adit bukanlah pembunuh".


Adit tersentak mendengar ucapan Chika, genggam Chika mulai menyusup menyusuri jemari Adit dan mengenggam erat tautan jemari Adit.


##########

__ADS_1


BANTU LIKE, KOMEN JUGA VOTE NYA YA


###########


__ADS_2