Oh My Dosen ( Remake )

Oh My Dosen ( Remake )
Bab 11. Mengubur Rasa


__ADS_3

"Oma pikir selama tinggal dengan Mar'ie, kamu mengikuti kepercayaan Mar'ie di sana Dit". Ucap Oma disela makan malam bersama.


"Astaghfirullahalazim Oma. Tante Mar'ie justru yang selalu mengingatkan Adit kalau Adit lalai di sana". Ucap Adit.


Setelah berdebat selepas melaksanakan sholat mengenai panggil nama untuk Bagas, akhirnya Chika pun setuju kalau di rumah akan memanggil Bagas dengan nama Kak Adit, sedangkan kalau di sekitar Kampus Chika akan memanggilnya Pak Bagas.


Mereka berdua pun sepakat untuk tetap merahasiakan hubungan sebagai kakak dan adik angkat saat berada di luar rumah.


Alasannya sederhana, Chika tidak mau nanti akan beredar gosip yang tidak tidak semisalnya banyak yang tahu kalau Chika adalah anak angkat keluarga Gumilang, karena publik hanya mengetahui Adit adalah pewaris tunggal keluarga Gumilang.


Oma juga sangat takut akan kehilangan hak asuh atas Chika, jika banyak yang mengetahui hal tersebut. Karena itulah Oma meminta kepada Adit untuk bisa menjaga dan tetap menganggap Chika sebagai adik nya.


Walaupun entah mengapa keputusan Oma tersebut justru membuat Adit dan Chika merasa berat menjalani nya.


Selepas makan malam bersama, Chika pun pamit untuk belajar karena persiapan besok test. Sehingga Oma dan Adit pun memutuskan untuk berbincang bincang di taman belakang.


"Kapan Kamu mulai tinggal di rumah ini?". Tanya Oma.


"Adit masih belum tau Oma. Rasanya masih agak sungkan kalau terlalu dekat dengan Chika". Jawab Adit.


"Kenapa?".


"Setiap melihat Chika, Adit selalu teringat dengan Mama nya Chika. Semakin Adit perhatikan, semakin mirip dan hal itu membuat Adit semakin merasa bersalah Oma". Ucap Adit Lirih.


"Bayangan Mama Chika memeluk Chika, saat terlempar dari motor selalu terbayang dalam pikiran Adit Oma". Adit menyugar kasar rambut nya kebelakang.


"Apalagi saat terakhir Mama Chika tersenyum kepada Adit sebelum kepala nya terbentur pembatas jalan ...". Adit menghentikan ucapan nya seraya menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya.


Tubuh nya yang biasa tegak gagah berdiri kini tampak tertunduk dalam duduk dengan tubuh yang bergetar dan tangisan lirih di setiap ucapan nya.


"Adit nggak sanggup Oma, terlalu dekat dengan Chika membuat Adit selalu terbayang peristiwa naas itu Oma". Tubuh Adit semakin tergetar saat dia kembali teringat kejadian belasan tahun silam yang masih membuat nya trauma sampai saat ini.


Oma memeluk bahu Adit. Tangan renta itu pun mengusap lembut bahu cucu semata wayang nya. Sungguh Oma pun merasa sakit atas kejadian yang menimpa Adit.


Sematan pembunuh selalu menghiasi bayangan masa lalu cucu kesayangannya, hingga membuat Adit terpaksa berhenti melanjutkan kuliah nya di sebuah universitas negeri di kota nya.


Memaksa Adit muda mengubur impian menjadi seorang pengacara sukses seperti mendiang kedua orang tua nya, walaupun pada akhir nya semua bukti mengarah pada kecelakaan, namun tetap saja Adit merasa dia telah membunuh kedua orang tua Chika.


"Setidak nya Kak Adit bisa membagi nya dengan Chika".


Adit mengangkat kepala nya dan mengalihkan pandangan kearah suara yang berasal dari belakang nya dan Oma.


Chika berjalan pelan kearah Adit yang menatapnya dengan tatapan penuh rasa bersalah.

__ADS_1


Chika pun mendudukkan tubuh di sisi kiri Adit. Diraih nya kedua tangan Adit dan kemudian mengenggam nya dengan erat.


"Jangan di pendam sendiri. Berbagilah, agar Kak Adit nggak tersiksa sendirian". Chika menepuk-nepuk pelan telapak tangan Adit dan menyandarkan kepalanya di bahu Adit.


"Semua nya sudah terjadi. Tak bisa kita tolak dan hanya bisa kita terima sebagai takdir kita".


"Sejak kecil Oma sudah menjaga juga merawat Chika dengan sangat baik".


"Kak Adit pun sama. Walaupun tak pernah menampakkan barang hidung Kak Adit di hadapan Chika, tapi Kak Adit selalu menyempatkan waktu untuk sekedar menyapa walaupun cuma dikasih punggung atau tembok doang". Chika mengerucutkan bibir nya hingga membuat Adit pun tersenyum tipis.


"Jadi mulai sekarang, berbagilah semua kesedihan Kak Adit sama Chika. Jangan pernah mencoba menghadapi nya sendiri lagi".


"Chika akan selalu ada buat Kak Adit, seperti Kak Adit juga Oma yang selalu ada buat Chika, selama ini ".


Chika merapatkan genggaman tangan nya kepada Adit dan di balas dengan Adit yang mengecup singkat punggung tangan Chika.


"Ish. Bukan Mahram". Proses Chika lalu menarik tangannya dari genggaman Adit.


"Kemana aja dari tadi Neng".


Adit pun mengacak-acak pucuk hijab Chika hingga sedikit berantakan.


"Oma, Kak Adit nih" Rengek Chika yang hanya di tanggapi Omq Shinta dengan gelengan kepala saja.


"Ampun Chika, sakit ih. Kamu itu nyubit apa nyapit sih".


Oma menggelengkan kepalanya kembali melihat Chika yang kini sedang mengejar Adit yang berlari menghindari cubitan Chika.


"Ampun Kak Adit". Pekik Chika saat Adit menenggelamkan kepala Chika di ketiak nya.


"Ish, lepasin nggak. Chika nggak bisa nafas neh". Chika menepuk-nepuk lengan Adit yang melingkar di leher nya.


"Oma.. Tolongin Chika atuh". Pekik Chika meminta pertolongan kepada Oma Shinta.


"Oma mau istirahat, ngantuk". Oma pun berlalu meninggalkan Adit dan Chika.


"Astaghfirullah Oma, bukan bantuin Chika malah ninggalin ke kamar". Oma Shinta melambaikan tangan kanan mengabaikan Chika yang masih meminta bantuan nya agar terlepas dari Adit


"Oma...". Rengek Chika sesaat sebelum Oma Shinta masuk kedalam kamar nya


" Kak Adit udahan atuh, sumpah Chika jadi nggak deg deg an nih ".


Chika menutup mulut nya saat keceplosan berucap.

__ADS_1


Adit menangkup wajah Chika, hingga membuat pipi Chika mengembung dan bibir nya mengerucut.


Cup


"Selamat malam".


Chika tertegun saat tiba-tiba Adit mengecup singkat ujung hijab di kening nya.


Dengan santai Adit berjalan menuju kamar nya meninggalkan Chika yang sedang mengerjapkan mata nya berkali-kali.


"Astaghfirullahalazim". Gumam Chika lalu berlari menuju kamar nya. Namun soal ternyata Adit baru saja akan menutup pintu kamar nya yang berhadapan dengan kamar Chika.


"Sweet dream Liby".


Dada Chika semakin berdegup dengan kencang saat mendengar ucapan Adit sebelum menutup pintu kamar nya.


"Liby". Gumam Chika sambil tersenyum sendiri saat mengingat panggilan kesayangan yang Adit berikan untuk nya sejak Chika kecil


"Liby, Little Baby". Senyum kembali mengukir di bibir mungil Chika.


"Astaghfirullahalazim, dosa nggak kalau ternyata jatuh cinta beneran sama Kak Adit?". Lagi-lagi Chika bermonolog sambil berucap.


"Nggak. Itu nggak boleh terjadi. Aku nggak boleh jatuh cinta sama Kak Adit".


"Biar bagaimana juga Kak Adit adalah Kakak Aku, walaupun hanya Kakak Angkat". Chika merenung namun kembali menggelengkan kepala nya membuyarkan khayalan nya tentang Adit.


"Tapi... Nggak. Aku nggak boleh punya rasa sama Kak Adit". Ucap Chika memantapkan hati nya untuk tetap menganggap Adit hanya sebatas Kakak nya saat di rumah, dan dosen nya saat di kampus dan tidak boleh lebih.


"Ya Tuhan, bantu Aku untuk bisa mengubur rasa cinta ini". Gumam Chika tersenyum kecut seraya merebahkan tubuh nya di atas pembaringan nya.


*******


" Apa Oma akan setuju? ". Adit menghempaskan tubuh nya di atas pembaringan.


" Ish, padahal pingin bibir nya kenapa jadi kening nya coba ". Adit menyentil kening nya sendiri sambil tersenyum saat mengingat wajah Chika yang termenung saat Dia sengaja mengecup ujung hijab di kening Chika.


" Astaghfirullahalazim ". Adit pun segera beranjak dari tidur nya dan melangkah menuju kamar mandi untuk berwudhu sebelum akhirnya memutuskan untuk bertadarus dibandingkan mengkhayal yang tidak tidak tentang Chika.


########


BANTU DI LIKE YA


########

__ADS_1


__ADS_2