
"Itu nggak seperti yang kamu pikirin atau Kamu bayangin". Ujar Juwono saat memberikan alasan kepada Lia yang menatap nya penuh selidik kepada Juwono dan pria yang usia nya di atas Lia dan kini sedang duduk sambil terkantuk-kantuk diatas kasur dengan selimut menutupi tubuh nya.
Lia menepis tangan Juwono saat pria itu akan menyentuh tangan nya. Tatapan tajam Lia membuat Juwono menelan saliva nya dengan kasar.
"Berisik amat si Bang. Nggak tau apa Aku tuh masih ngantuk, habis dikerjain abang semalam suntuk... Aduh". Juwono membulatkan matanya. Dan pria yang terduduk sambil terkantuk-kantuk itu pun menghentikan ucapan nya yang belum selesai dan langsung membulatkan mata terkejut karena pukulan di tengkuk kepala nya dengan keras.
"Sialan". Pekik sang pria terkantuk-kantuk itu yang langsung berdiri hingga selimut yang menutupi tubuh nya itu pun terjatuh ke lantai.
"Aa.." Teriak Lia menutup kedua mata nya dengan menggunakan kedua telapak tangan nya, seraya berteriak, "Benc*** sial**". Lia menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangan nya saat selimut pria itu terjatuh ke lantai
Beruntung Juwono segera meraih kepala Lia dan menyembunyikan kepala Lia di dada nya, walaupun pada kenyataan nya pria itu masih mengenakan boxer untuk menutupi bagian bawah tubuh nya.
"Abang. Ngapain ada perempuan di apartemen?". Tanya sang pria gusar saat melihat Juwono memeluk tubuh Lia yang sedang sibuk berontak dalam pelukan Juwono.
"Lepasin nggak". Ucap Lia kesal sambil memukuli dada Juwono dengan brutal, membuat Juwono sesekali meringis pelan.
"Chiko pakai baju Kamu yang benar". Ucap Juwono kesal kepada pria itu yang masih saja santai melihat Lia yang tengah marah dalam pelukan Juwono.
"Yaelah Bang. Udah biasa kali Gue pake boxer doang di dalem kamar". Ucap Pria itu yang kemudian mengenakan kaos yang tersampir di atas hard board kasur.
"Lagian ngapain Kamu tidur di kamar abang?". Ucap Juwono kesal kepada pria yang tadi panggil Chiko oleh Juwono
"Lah abang juga ngapain peluk-peluk perempuan". Pria itu menarik tubuh Lia untuk menjauh dari tubuh Juwono, dan
"Aduh"
Lia yang memang mempunyai pertahanan juga refleks yang baik itu segera memiting tangan pria bernama Chiko itu dan langsung mengunci tubuh belakang hingga Chiko tidak bisa bergerak.
"Ampun ... Astaga siapa sih nih perempuan. Nggak ada lembut lembut nya amat si Lo jadi perempuan". Protes Chiko. "Aduh sakit". Chiko memekik kesakitan saat Lia menekan kuncian nya dengan menarik lagi satu tangan Chiko yang hendak menarik Lia balik.
"Sayang, lepasin. Dia ini adik bungsu Aku. Nama nya Chico. Dia adik nya Tira". Ucap Juwono sangat lembut kepada Lia, namun Lia memandang tidak percaya kepada Juwono. Seperti gadis itu masih belum percaya kalau suami nya itu walaupun sempat belok, namun Juwon bukanlah penggemar apalagi menjadi atlet anggar.
"Tunggu, Lo manggil nih cewe Sayang?". Chiko mengernyitkan kening nya tidak percaya kepada Juwono, sementara Lia masih tetap mengunci kedua tangan Chiko. "Jadi bener yang Tira bilang kalau Lo numpang akad di acaranya Bang Ditya?". Juwono mengangguki ucapan Chiko.
"Astaga Bang. Lo dipaksa nikah sama nih cewek?".Lia mengeratkan kuncian nya hingga membuat Chiko kesakitan.
__ADS_1
"Aduh sakit. Astaga Bang. Masa perempuan modelan kaya gini yang gini yang istri Lo?". Kembali Chiko melakukan protes, karena Lia masih tetap belum melepaskan posisi nya kepada Chiko.
"Berisik Lo". Umpat Lia kesal kepada Chiko yang masih berusaha memberontak dari kuncia Lia.
"Juwono Kusumawardhana Bin Haji Muhammad Rasyid Kusumawardhana". Sesosok wanita paruh baya menghambur masuk kedalam kamar Juwono tanpa permisi.
"Yudhistira Kusumawardhana Bin Haji Muhammad Rasyid Kusumawardhana laporan ke Momma kalau Kamu... ". Wanita itu melihat kepada Chiko yang tampak memasang wajah meringis kepada sang wanita.
"Eh Si Muhammad Rizqon Kusumawardhana diapain Kamu sama... ". Lagi-lagi wanita itu tidak melanjutkan ucapan nya kala melihat Lia mengunci Chiko dari belakang.
"Astaga cantik banget Kamu sayang". Lia pun melepaskan kuncian nya kepada Chiko. Hingga Chiko pun akhirnya bisa bernafas dengan lega seraya mengurut pelan pergelangan tangan nya yang memerah akibat kuncian Lia.
Wanita paruh baya itu bahkan langsung menangkup wajah Lia lalu mengecupi kedua pipi Lia bergantian.
Lia mengernyitkan dahinya seraya melihat kepada Juwono, dan di balas dengan senyuman serta anggukan pelan Juwono.
"Ini istri dadakan Kamu Won?". Juwono menganggukkan kepala nya.
"Astaga Mbak Shinta memang pinter banget nyariin jodoh buat Kamu". Wanita yang memanggil diri nya Momma itu lalu menggenggam kedua tangan Lia.
Lia terkekeh mendengar celoteh Momma sedangkan Juwono memutar malas kedua bola mata nya mendengar ucapan Momma.
"Momma udah takut aja lho, kalau Juwono itu belok terlalu tajam sampai mentok jadi pemain anggar". Momma bergidik ngeri membayang ucapannya sendiri.
"Tapi ya masa Kamu akad pake numpang sama Ditya. Ampun deh Juwon. Nggak kreatif banget deh Kamu tuh". Protes Momma memukuli bahu Juwono.
"Nggak apa-apa kok Bu. Lagi pula Kang Ju Won juga ngajak nikah nya dadakan". Ucap Lia membela Juwono.
Lia yang pada dasar nya cepat akrab dengan orang baru itu pun tak merasa sungkan kepada wanita yang ternyata adalah ibu Juwono itu.
Chiko tertawa terpingkal pingkal mendengar nama panggil nama Lia untuk Juwono.
"Wait. Kang Ju Won?. Buahhaahahahah". Juwono memutar malas kedua bola mata nya.
"Lo se frekuensi sama Momma yang maniak Drakor?". Chiko mengalihkan pandangan nya kepada Lia dan Momma nya bergantian.
__ADS_1
"Buahahaha... Lo ketula omongan sendiri Bang". Pria itu kini sibuk memukuli bahu sang Abang dengan tawa terpingkal-pingkal.
"Inget nggak ocehan Lo kalau Momma lagi nonton Drakor?. Lo bilang, amit-amit punya pasangan yang maniak Drakor kaya Momma. Nah sekarang?". Chiko menaik turun kan alis nya kepada Juwono. "Lo malah dapat istri yang plesetin nama Lo ala Drakor hahahahha". Ucap Chiko puas menertawakan Juwono yang tengah memasang wajah kesal nya.
"Kang Ju Won. Buahahahah". Lia langsung menyumpal mulut Chiko dengan selembar keripik singkong yang berada di dalam toples.
"Berisik". Umpat Lia kesal kepada sang adik ipar yang terus menerus membully suami nya.
Sementara yang di bully justru hanya diam tanpa bicara apa gimana ekspresi.
"Anjim. Sumpah bini Lo nggak punya rasa perikeiparan sama saudara Lo Bang". Ujar Chiko sambil mengunyah keripik singkong yang di sumpalkan Lia ke mulut nya.
"Kamu tuh sama abang pernah ada hormat hormat nya". Ucap Momma memukul punggung leher Chiko hingga pria itu mengaduh pelan.
"Abang tuh bukan tiang bendera yang saban upacara harus di kasih hormat Momma". Elak Chicko.
Momma kembali memukul punggung leher Chiko, sementara Juwono memukul bahu Chiko.
"Mulai hari ini Kamu juga Tira angkat kaki dari sini". Chiko langsung memandang Juwono dengan tatapan memelas.
Momma tampak tersenyum dengan bangga, karena sepertinya kedua bolang itu akan kembali ke rumah.
"Ampun Bang. Gue minta maaf, nggak lagi-lagi deh gue bully Lo". Ucap Chiko seraya mengusap kedua telapak tangan nya.
"Nggak ada. Abang udah punya istri dan butuh privasi". Chico mendengus kelas mendengar alasan sang Kakak yang masuk akal.
Namun kembali ke rumah dan tinggal bersama Momma juga Poppa nya itu bukanlah hal yang menyenangkan.
Nggak bisa kelayapan dan pulang malam, atau bebas berkumpul dengan teman-teman nya membuat kedua anak itu lebih memilih menumpang hidup di apartemen sang Kakak.
############
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK NYA YA
SEE YOU NEXT BAB
__ADS_1