Oh My Dosen ( Remake )

Oh My Dosen ( Remake )
Bab 23. Amanda Saraswati Hidayat


__ADS_3

Baru beberapa saat Pramuniaga itu masuk terdengar keributan dari dalam ruangan Private Customer.


"Saya mau nya Sarah yang handle saya, bukan Kamu. Dasar SPG". Sebuah suara dan hentakan pintu terbuka kasar dari ruangan yang baru beberapa saat lalu di masuki pramuniaga bernama Yulia itu pun terbuka.


Seorang wanita seusia Sarah keluar dari ruangan itu dengan wajah marah.


Chika dan Sarah pun terkejut dengan hal tersebut. Pandangan mereka pun teralihkan kepada sang wanita yang kini sedang berjalan ke arah Sarah dengan tatapan tajam.


Sementara Bagas izin keluar toko untuk menerima telepon dari Tante Mar'ie.


"Maaf Mbak Manda. Ada apa ini?". Ujar Sarah saat wanita yang baru keluar dari ruang private menghampiri nya dan Chika.


"Kamu itu gimana sih Sarah. Saya ini Private Customer toko Ini, kenapa Kamu langsung tinggalin saya kaya gitu, dan nyuruh orang ini meng-handle Saya?". Ucap Wanita bernama Manda itu dengan nada tinggi.


"Maaf Mbak Manda, Saya sudah ada janji lebih dahulu dengan Mbak Chika". Ujar Sarah.


"Tapi kan saya lebih dahulu datang". Ucap tamu bernama Manda itu dengan nada tinggi.


"Mbak Manda nggak buat janji terlebih dahulu". Ujar Sarah menjelaskan kepada Manda.


"Mbak Manda sudah tahu aturan toko ini bukan?". Tanya Sarah yang juga owner toko perhiasan tersebut.


"Bagi private costumer harus booking minimal 1 jam sebelum pertemuan. Dan Mbak Chika sudah booking Saya sejak kemarin". Ujar Sarah tegas.


Namun hal itu tidak juga membuat Manda sang customer merasa tenang. Wanita itu tampak memandang Chika dari atas ke bawah. Namun tiba-tiba raut wajah nya menjadi serba salah saat dia memperhatikan lebih lekat wajah Chika.


"Ada apa Sayang?". Tiba-tiba Bagas datang dan berdiri di samping Chika.


Kedua bola mata Manda, menatap tidak percaya kepada Bagas yang tampak nya tidak memperhatikan Manda yang menatap nya terkejut.


"Ditya?". Bagas mengalihkan pandangannya kepada sosok wanita yang sedang berdiri dihadapan Chika.


Kening nya berkerut saat melihat wanita itu tersenyum manis kepada Bagas. Jangan lupakan Chika yang berada di samping Bagas, namun menatap penuh waspada kepada wanita yang usia nya sebaya dengan Bagas, yang sedang berada tepat di hadapan nya, dan sedang menatap intens kepada Bagas.


"Kamu lupa sama Aku? ".


Chika semakin heran melihat kearah Manda dan Bagas bergantian, namun wajah Bagas yang biasa saja melihat Manda.

__ADS_1


Bahkan wajah Bagas terlihat tak berminat melihat Manda. Dan membuat perasaan Chika tenang. Karena seperti nya pria yang berada di samping nya hanya cuek tak menanggapi Manda.


"Beneran Kamu nggak inget sama Aku?".


"Aku Manda". Manda bahkan sampai menepuk nepuk pelan dada nya seolah berusaha mengingatkan Bagas akan keberadaan nya.


Bagas membuang pandangan kepada Chika yang semakin menatap tajam Manda.


"Amanda Saraswati Hidayat". Kali ini Chika yang terkejut. Bahkan tubuhnya nyaris mundur kebelakang kala mendengar ucapan Manda yang menyebutkan nama lengkap nya tersebut.


Beruntung Bagas berada di sampingnya dan kemudian merangkul bahu nya, sehingga Dia merasa terlindungi.


"Sudah selesai milih nya?" Bagas menulikan rentetan ucapan Manda.


Pria itu justru menarik Chika menjauh dari Manda dan membawa Chika untuk melihat isi etalase perhiasan. Sarah pun menyusul mengikuti Chika dan Bagas dan meninggalkan Manda yang terdiam dengan sikap Bagas yang seolah tidak mengenal nya.


"Kami pilih yang ini saja Mbak". Ujar Bagas menunjuk sepasang cincin. "Tolong nanti di dalam nya di ukir nama kami berdua ya Mbak, nanti Oma akan kirimkan nama Kami ke nomor Mbak Sarah". Sarah menganggukkan kepala nya mendengar ucapan Bagas.


"Kalau begitu Kami permisi dulu Mbak. Seperti nya calon istri saya kelaparan jadi nya cuma bisa diam saja". Bagas dan Sarah terkikik pelan. Namun Chika mendaratkan cubitan di lengan Bagas.


"2 hari sudah selesai kan Mbak?. Karena 4 hari lagi akad nya" Ucap Bagas yang masih mengabaikan keberadaan Manda yang berdiri tak jauh dari nya juga Chika dan Sarah.


"Aamiin". Chika dan Bagas mengamini do'a yang diucapkan Sarah.


"Nanti undangan nya jangan lupa". Chika dan Bagas mengangguk menjawab ucapan Sarah.


"Kalau begitu, kami permisi Mbak". Sarah pun mengangguk dan kemudian Chika dan Bagas pun beranjak pergi hendak keluar dari toko perhiasan milik Sarah tersebut.


"Kita makan di rumah atau sekalian di sini?". Tanya Bagas kepada Chika saat akan membuka pintu toko, membiarkan Chika keluar lebih dahulu dengan menahan pintu sebelum Bagas.


"Tunggu". Dorongan tangan Bagas terhenti saat sebuah tarikan di gagang pintu di pegang oleh Manda.


"Urusan kita belum selesai". Ujar Manda menatap tajam Chika yang sudah berada di luar pintu kaca.


"Maaf, kita nggak urusan yang belum selesai". Bagas mendorong dengan kuat pintu toko, hingga Manda nyaris menabrak jendela kaca, kalau wanita itu masih tetap saja menahan gagang pintu toko.


"Kita makan siang di rumah saja". Titah Bagas dan Chika hanya mengangguk pelan.

__ADS_1


Perasaan di penuhi dengan berbagai rasa. Rasa senang karena ternyata dia bisa melihat tante nya. Dan rasa sedih dan kecewa karena atas andil Tante nya pula dia kini hidup sebatang kara.


"Ditya". Seolah tak menyerah Manda terus mengekori Chika dan Bagas.


"Please kita harus bicara". Manda menarik dengan paksa tanga Bagas untuk berhenti.


Dan kini Manda sudah berdiri di hadapan Bagas dan Chika. Bagas menatap tajam kepada Manda. Sementara Chika tampak merapatkan tubuh nya ke dalam tubuh Bagas.


Seolah paham dengan ketakutan Chika, Bagas pun merengkuh dan memeluk samping Chika.


"Maaf, Kami tidak ada waktu". Ucap Bagas lalu mengajak Chika melewati Manda. Bahkan Bagas sengaja menabrak bahu Manda dengan kencang saat melewati nya.


"Ananda Arsy Hidayat". Bagas dan Chika menghentikan langkah mereka. Manda tampak menyunggingkan senyum kemenangan saat melihat Bagas dan Chika masih terdiam di tempat.


"Tampak nya anak sial itu masih hidup". Ucap Manda kembali menghampiri Bagas dan Chika.


Dan untuk kesekian kali Manda berdiri di hadapan Chika dan Bagas. Chika mengenggam erat tangan kiri Bagas.


"Hidup atau Mati Nanda, Aku rasa kamu yang lebih tau hal itu". Ucap Bagas dingin. Sebisa mungkin Chika menutupi perasaannya agar tidak terlihat oleh Manda yang sedang memperhatikan nya dengan seksama. Namun genggaman tangan nya semakin terasa erat di rasakan Bagas.


"Wajah nya mirip sekali dengan Mbak Mila saat seusia nya". Ujar Manda melihat Chika dari atas kebawah.


"Tampak nya Kamu masih terjebak dengan masa lalu Kita Ditya". Bagas memutar malas kedua bola mata nya mendengarkan ucapan Manda yang seolah memprovokasi Chika.


"Mas, Aku lapar. Kita pulang sekarang ya". Rengek Chika manja berusaha mengalihkan perdebatan Bagas dan Chika.


Bagas mengelus lembut punggung tangan Chika dan mengangguk pelan lalu mengelus pucuk kepala Chika dengan lembut.


"Permisi". Bagas dan Chika kembali melanjutkan langkah mereka meninggalkan Manda yang menatap kesal kepergian mereka.


"Gimana rasa nya di kejar masa lalu?". Bisik Chika bertanya kepada Bagas.


"Itu hanya masa lalu. Dan kalau masa lalu belum bisa move on maka itu jadi masalah Lu bagi sang masa lalu". Chika tertawa kecil mendengar ucapan Bagas.


###########################################


JANGAN LUPA DI LIKE, KOMEN DAN KALAU BERKENAN VOTE YA.

__ADS_1


SEE YOU NEXT BAB


__ADS_2