Oh My Dosen ( Remake )

Oh My Dosen ( Remake )
Bab 98. The First Meet


__ADS_3

Seorang pemuda tampan tampak tengah menikmati perjalanan menuju kampus nya dengan kereta api itu sedang asyik mendengarkan lantunan shalawat yang tengah di dengar nya melalui headset wireless yang selalu bertengger manja di kedua lubang telinganya.


Selain mendengarkan pemuda tampan itu juga tengah menghindari tatapan memuja para pemudi yang entah mengapa selalu saja di temuinya setiap Dia menaiki kereta api saat pergi maupun pulang kampus.


Ya Rafasya Ananda Bagaskara adalah pemuda tampan tersebut, Dia di beri nama oleh kedua orang tua nya saat baru saja di lahirkan kedunia dua puluh tahun yang lalu.


Sosok pemuda tampan yang sangat dingin dengan lawan jenis nya, kecuali Ibu dan adik kesayangan nya. Bahkan dengan putri sahabat Ayah dan Bunda nya saja Rafa paling malas berinteraksi dengan mereka, dengan alasan tidak ingin menghabiskan masa muda nya hanya untuk masalah asmara.


Namun pagi ini, ketenangan Rafa saat menikmati perjalanan kereta api yang sangat padat tersebut terganggu, saat sebuah pergerakan mendadak langsung saja berdiri di depan nya yang selalu sengaja berdiri di depan pintu kereta api.


"Permisi". Rafa menggeser posisi berdiri nya, namun pergerakan nya tertahan akibat sebuah tarikan di ujung jaket nya.


Rafa melihat kearah ujung jaket yang di tarik, lalu melihat kearah orang yang masih menarik ujung jaket nya itu dengan sangat erat. Membuat Rafa pun menaikkan alis kanan nya lengkap dengan wajah datar dan dingin nya tersebut.


"Maaf, bisa tolong saya Kak?". Rafa mengernyitkan kening nya mendengar bisikan kecil gadis yang masih mengenakan seragam putih abu-abu tersebut semakin merapatkan posisi nya yang seolah sedang mencari perlindungan kepada Rafa.


Rafa justru memundurkan tubuh nya ingin menjauhi gadis tersebut, namun gadis itu justru kembali mencoba merapatkan tubuh nya seolah sedang bersembunyi dan mencari perlindungan.


"Please Kak, tolong Saya". Gadis itu menolehkan kepala nya hingga Rafa bisa melihat wajah cantik sang gadis namun kening Rafa mengernyit kala melihat sudut kiri bibir gadis itu tampak mengeluarkan darah serta pipi yang sedikit lebam dengan tatapan yang sangat memohon dan berharap meminta perlindungan.


"Permisi". Sebuah teriakan kecil dari sebuah suara bariton terdenger tidak jauh terdengar dari mereka.


Rafa melihat kearah pemilik suara yang seperti nya menganggu beberapa penumpang kereta api yang tengah padat tersebut.


Sadar Rafa hanya terdiam bahkan sedikit menjauh dari nya, gadis itu pun akhirnya mulai menggerakkan tubuhnya perlahan menjauh dari Rafa.

__ADS_1


Entah mengapa ketika pria itu mendekat, headset Rafa tersebut tiba-tiba saja mati, dan terdengar lah gerutuan Pria yang lagi-lagi entah mengapa bisa Rafa dengar lewat bibir komat kamit pria dengan wajah sangar yang tengah menahan emosi tersebut.


"Ck, dasar anak sialan, tunggu saja kalau ketemu habis Lo, bakal nggak bisa Gue bikin jalan". Gerutu pria itu sambil sesekali menerobos bahkan dengan tidak tau malu nya pria itu melongok seolah mencari seseorang.


Rafa mengalihkan pandangannya mencari gadis mungil tadi, dan tatapan nya mendapati kalau gadis itu masih tengah mencari persembunyian dengan berpindah tempat berusaha menjauhi pria yang tengah mendumel tersebut.


Setelah menghela nafas pelan Rafa akhir nya menggerakkan tubuh nya menerobos hiruk pikuk penumpang menuju tempat gadis itu yang kini tengah berlindung di sudut pojok pintu kereta api.


Grep


Gadis itu mengangkat kepala nya kala tubuh mungil nya tiba tiba sudah di balut oleh sebuah jaket bertudung.


Rafa menaruh tas ransel nya di dada nya lalu menarik ujung jaket nya dan menutup kepala sang gadis dengan tudung jaket nya kala pria yang tengah mencari seseorang itu mulai mendekat kearah mereka.


"Permisi". Pria itu menyentuh bahu Rafa, sementara gadis itu tampak meremas kencang tas ransel Rafa.


"Ngapain Om, ngeliatin pacar saya". Bentak Rafa merapatkan tubuh gadis itu kedalam pelukan nya, hingga membuat perhatian penumpang lain nya terarah kepada mereka.


"Maaf". Ucap Pria itu menahan malu karena terdengar umpatan beberapa orang penumpang lain nya yang ternyata merasa terganggu atas kelakuan pria tersebut.


" Ganggu aja. Kaya nggak pernah muda saja ". Umpat Rafa yang langsung menarik tubuh mungil gadis itu semakin masuk kedalam rangkulan nya hingga membuat wajah gadis itu mendarat di bahu Rafa dengan erat.


Pria itu pun akhir nya meninggalkan Rafa dan melanjutkan pencarian nya.


Gadis itu menghela nafas lega setelah beberapa menit tidak terdengar suara bariton pria yang mencari nya tersebut.

__ADS_1


"Orang nya masih belum pindah gerbong, dan masih melihat kearah kita". Bisik Rafa hingga gadis itu kembali merapatkan tubuh nya kepada Rafa walau pun harus terganjal tas ransel yang berada tepat di wajah nya.


"Tas nya ganggu Kak". Gumam gadis itu kesal.


"Kalau nggak ada tas Kamu yang ganggu Dek". Bisik Rafa sambil membenarkan tudung jaket nya yang menutupi kepala gadis mungil tersebut.


"Maksud nya?". Rafa tertegun menatap wajah bingung sang gadis yang kini sedang beradu tatap dengan nya.


Kedua bola mata bernetra coklat itu membuat kedua bola Rafa engan beralih melihat kearah yang lain.


"Cantik". Gumam Rafa yang seperti nya terdengar oleh gadis mungil itu, hingga membuat gadis itu menundukkan kepala nya dengan wajah merah merona, karena mendengar pujian dari Rafa.


Rafa menggaruk tengkuk nya kala menyadari ucapan nya terdengar oleh gadis tersebut.


"Maaf" Ucap bisik mereka bersamaan dan dengan canggung kedua nya melemparkan senyuman.


"Kak" Gadis cantik itu memanggil Rafa dengan sangat lembut, suara yang lembut itu sangat cocok dengan wajah cantik yang ada luka nya tersebut.


"Boleh nggak Saya minta tolong?" Bisik gadis cantik itu dengan pelan namun terdengar sangat lirih, bahkan terdengar desis kecil menahan sakit yang mungkin dari luka berdarah yang berada di sudut bibir mungil nya itu.


Rafa hanya terdiam seolah tak menanggapi ucapan gadis cantik tersebut, membuat gadis itu pun menjadi salah tingkah.


"Maaf Kak". Kembali gadis cantik itu berbicara dan meminta maaf. Seperti nya Dia terlalu memaksa dan terkesan tidak tahu terima kasih, karena Rafa tadi sudah bersedia membantu nya dengan memberikan perlindungan dari pria sangar yang tadi mencari nya tersebut.


"Maaf, bukan Saya tidak berterima kasih, hanya saja, saat ini Saya tidak membawa uang sama sekali dan emoney saya juga sudah habis" Ucap gadis itu pelan sambil memainkan kedua ujung telunjuk jari nya dengan gugup.

__ADS_1


Rafa terhenyak kala melihat ujung kuku gadis itu terdapat bekas darah yang sudah mengering, membuat Rafa refleks menarik kedua telapak tangan gadis tersebut.


"Ini kenapa?"


__ADS_2