
Arsy tampak bolak balik di dalam salah satu ruangan tunggu pengadilan. Putra sengaja meminta satu ruangan untuk tempat berunding nya, Ardi, Bagas juga Arsy.
"Tenang Dek, jangan hilir mudik begitu, nanti Kamu yang cape". Ujar Bagas mengingatkan Arsy. Arsy berdecak kecil lalu mendudukkan tubuh nya di samping Bagas.
Ibu hamil yang tengah mengandung 3 bulan itu menggenggam erat telapak tangan kiri sang suami dengan kepala yang sengaja di sandarkan nya di lengan Bagas.
"Bismillah, sayang. Kita serahkan semua nya kepada Allah". Arsy mengangguk pelan, dan kemudian Bagas mengecup singkat pucuk kepala Arsy.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka. Arsy dan Bagas mengalihkan pandangan mereka ke pintu. Tampak Ardi sudah mengenakan seragam khusus pengacara, sementara Putra sendiri tampak gagah dengan seragam kesatuan nya.
"Gimana, apa mereka sudah datang?". Tanya Bagas ketika Ardi akan duduk di sofa yang berada di hadapan nya.
"Bastian, mengaku sakit perut, tapi pihak pengadilan tetap memaksa nya untuk hadir. Karena menurut hasil pemeriksaan Dokter dari pihak pengadilan atau pun Kepolisian tidak di temukan masalah pada kesehatan Bastian". Papar Ardi ketika baru saja duduk di sofa yang berada di hadapan Bagas dan Arsy.
"Ck. Apa nggak ada alasan lain selain sakit. Perasaan setiap tersangka kasus apapun itu, sakit selalu menjadi alasan mereka untuk mangkir dari sidang". Bagas berdecih dengan kesal.
"Kenapa nggak sekalian kecelakaan aja gitu". Ucap Bagas kesal, Arsy memukul pelan lengan Bagas menegur ucapan nya.
"Hanya orang bodoh yang mau mencelakakan diri nya sendiri Pak Dosen". Ucap Ardi menimpali ucapan Bagas dan Bagas pun tertawa kecil.
"Lo sendiri udah siap mental ngelawan mertua Lo?". Ardi mengangkat kedua bahu nya. Bagas hanya bisa menghela nafas pelan.
"Jujur, Gue jadi nggak enak hati sama Lo juga Riska Ar, tapi mau gimana lagi yang pingin kasus ini di bongkar bukan Arsy ataupun Gue, tapi Riska anak mereka sendiri". Ardi menyenderkan tubuh nya di sofa, sementara Putra tampak sedang sibuk memeriksa berkas yang akan Ardi ajukan di persidangan nanti.
"Itu yang sekarang jadi isu panas di persidangan Gas. Banyak yang mulai mencurigai Riska yang melaporkan kedua orang tua nya pihak berwajib". Ucap Ardi bingung.
Sejak beberapa hari ini baik Dia dan Riska mendapatkan teror misterius berupa surat kaleng berisi ancaman pembunuhan, bingkisan berisi bangkai hewan yang penuh darah atau boneka yang tercabik-cabik.
__ADS_1
Ternyata ancaman juga diterima Umi Risma. Wanita paruh baya itu sempat mendapatkan ancaman melalui telepon, namun Umi Risma tak menanggapi ancaman tersebut
Namun Ardi dan yang lain justru merasa khawatir dengan keselamatan Umi Risma, karena itu lah Ardi pun dengan terpaksa mengungsikan Riska juga Umi Risma di kediaman Putra.
"Riska sendiri gimana Om?". Tanya Arsy.
"Dia malah santai. Bahkan sangat bersemangat untuk bertemu dengan kedua orang tua nya di pengadilan". Jawab Ardi sedikit tertawa kecil.
Bayangkan saja, saat anak anak lain menutupi atau pun menyembunyikan keberadaan orang tua nya, Riska justru dengan gamblang membongkar aib kedua orang tua nya kepada pihak berwajib secara diam-diam.
Walaupun dirahasiakan namun banyak berita yang beredar kalau Riska lah yang dengan sengaja membongkar aib keluarga nya karena dendam Riska yang sejak dalam kandungan tidak di inginkan sang ibu.
Padahal Riska hanya ingin agar hidup nya kelak menjadi tenang, tidak ada perasaan bersalah karena Dia mengetahui bahwa kedua orang tua telah tega membunuh kedua orang tua Arsy dan juga Bagas.
Belum lagi setelah kedua orang tua Arsy meninggal, kedua orang tua nya merampas dan menguasai harta kekayaan yang seharusnya menjadi milik Arsy.
Ruangan sidang terasa sangat mencekam, ketika Amanda di hadirkan ke ruang sidang.
Arsy menggenggam erat telapak tangan Riska dengan erat, seolah memberi kekuatan kepada sahabat nya.
"Dasar anak kurang ajar. Anak durhaka Kamu". Caci Amanda kala sidang perdana yang menetapkan Amanda sebagai tersangka dalam kasus kecelakaan yang kemudian menjadi pembunuhan terhadap kakak kandung juga kakak ipar nya itu selesai di gelar.
Hakim dan yang lain nya sudah keluar dari ruang persidangan. Hingga kini ruang persidangan hanya menyisakan bebarapa pengunjung juga beberapa juri yang baru akan beranjak pergi.
Namun tampak nya mereka mengurungkan niat nya. Ada beberapa orang yang keluar namun ada pula yang berpura-pura membahas masalah lain, agar mereka bisa melihat apa yang akan Amanda lakukan kepada Riska.
"Seharus nya sejak di dalam kandungan Saya bunuh Kamu". Teriak Amanda histeris bahkan tubuh nya terus meronta ingin menghampiri Riska yang kini sedang menangis di dalam pelukan Arsy.
Plak
__ADS_1
Amanda dan yang beberapa orang yang masih tersisa di ruang persidangan langsung terdiam kala melihat Umi Risma tiba tiba menampar Amanda. Ibu mertua Riska itu saling menatap tajam dengan besan nya.
"Dalam hal ini, bukan anak Anda yang menjadi anak yang durhaka. Tetapi Anda lah orang tua yang durhaka". Hardik Umi Risma.
"Sangat di sayangkan kalau ternyata Riska dilahirkan oleh wanita yang jahat juga keji seperti Anda". Amanda berdecih sambil membuang ludah ke sisi kanan Umi, hingga membuat Riska pun berang.
"Mama". Bentak Riska yang langsung menghampiri Umi Risma dan berdiri berhadapan dengan Amanda.
"Diam Kamu. Saya tidak sudi kata Mama itu keluar dari mulut Kamu. Mulai sekarang dan seterus nya Kita tidak punya hubungan apa pun". Riska menitik kan air mata mendengar ucapan sang Mama
Beberapa orang yang masih berada di ruang sidang menatap tidak percaya kepada Amanda yang dengan tega membuang anak kandung nya. Darah daging nya sendiri.
"Astaghfirullahalazim". Gumam beberapa orang yang mendengar hardikan Amanda kepada Riska.
"Anda tenang saja. Mulai saat ini dan seterus nya, Riska menjadi tanggung jawab Saya". Ucap Ardi lantang.
Pria yang usia nya sebaya dengan Amanda itu berdiri di hadapan Amanda yang tengah di pegangi oleh 2 orang sipir wanita.
"Cih. Kamu lebih pantas menjadi ayah nya di bandingkan suami nya". Ucap Amanda tak kalah lantang.
"Ck, hal itu berlaku bagi Anda yang menikah dan melahirkan di saat muda Nyonya. Ehm .. Maaf Ibu mertua". Amanda terdiam menanggapi ucapan Ardi, hingga membuat Pria itu tersenyum seolah merasa puas sudah berhasil membungkam ucapan Amanda.
"Kalau Saya menikah di usia 25 tahun, sudah pasti Riska seusia dengan keponakan Saya bukan?. Lagi pula tak masalah bukan kalau anak Anda menikah dengan Saya?". Ucap Ardi yang di angguki beberapa orang yang masih berada di dalam ruang persidangan.
"Bukan kah ayah kandung Riska juga seusia dengan Kakek nya?. Atau lebih tepat nya Kakek nya adalah ayah kandung nya?". Ucap Ardi pelan, namun masih bisa terdengar oleh Riska, Umi Risma serta Amanda, hingga membuat kedua bola mata Amanda membulat lalu melihat kepada Ardi dengan tajam.
#################################
Jangan lupa like dan komen nya ya
__ADS_1
See You Next Bab