
Gadis cantik itu pun meraih tangan kanan Oma Shinta dan kemudian mencium punggung tangan kanan itu dengan penuh takzim.
"Iya hati-hati ya Sayang. Naik apa ke kampus?". Tanya Oma.
"Sama Bram Oma, udah kangen Aku sama Bram". Jawab Chika.
"Siapa itu Bram?". Oma mengulum senyum saat melihat wajah Adit merah menahan marah. Chika justru memandang Adit kebingungan.
"Bram ya Bram". Jawab Chika lalu hendak beranjak dari sisi Oma Shinta.
"Chika berangkat ya Oma, Kak Adit. Assalamu'alaikum ". Ucap Chika.
" Waalaikumsalam ". Sahut Oma dan Adit bersamaan, Chika pun segera beranjak meninggalkan kamar Oma Shinta.
"Bram siapa Oma? ". Tanya Adit.
"Kesayangan nya Arsy. Cinta mati banget Arsy sama si Bram. Kalau Bram kenapa-kenapa Dia bakal nangis se nangis nangis nya". Ucap Oma Shinta. Hingga membuat Adit pun berlari beranjak keluar dari kamar Oma Shinta, tanpa melihat sang Oma yang sedang mengulum senyum.
Adit mempercepat jalan nya, kala melihat Chika baru keluar dari ruang tamu menuju teras.
"Kak Adit antar Kamu". Adit langsung menarik ujung tas ransel Chika hingga membuat gadis mungil itu terseret mengikuti langkah Adit menuju mobil nya.
"Ampun Kak Adit, apa apaan sih main tarik tarik kaya gini". Protes Chika berusaha lepas dari tarikan Adit.
"Diam. Duduk yang bener". Titah Adit saat memasukkan tubuh Chika kedalam kursi penumpang mobil nya dengan paksa.
Chika bahkan harus menahan nafas saat bagian samping wajah Adit tepat berada di depan wajah nya, saat pria itu memasangkan seatbelt.
Bahkan Chika masih bisa menghirup aroma maskulin dari parfum yang Adit kenakan saat pria itu sedang berjalan mengitari mobil nya sebelum masuk kedalam kursi pengendara.
"Kak Adit apa-apaan sih. Kasian kan si Bram". Protes Chika saat Adit akan menstarter mobil nya.
"Mau Aku bikin babak belur si Bram, berani nganter Kamu?". Chika membulatkan kedua bola mata nya kearah Adit sambil mengulum senyum.
Melihat wajah Adit yang merah menahan marah itu, membuat Chika akhirnya melepas tawa hingga membuatmu Adit terheran.
"Emang Kak Adit bisa bikin babak belur itu?". Ucap Chika sambil menunjuk kearah sebuah motor matic berwarna hitam. yang terparkir di depan mobil Adit sambil tertawa kecil.
Adit mengerutkan kening nya masih menatap Chika dengan tatapan heran.
__ADS_1
"Itu Bram?". Adit mengacungkan jari telunjuk nya kearah motor matic tersebut. Chika mengangguk mantap.
Adit mendengus kesal lalu meraup wajah nya dengan kasar lalu melajukan mobil nya keluar dari pekarangan rumah Oma.
"Dia mah nggak usah di bikin babak belur Kak, di senggol dikit aja juga dia nyungsep". Chika kembali tertawa dan membuat Adit menjadi malu.
"Jangan bilang tadi Kak Adit sempat cemburu sama Bram?". Adit hanya terdiam sambil berpura-pura mengemudikan mobil dengan serius.
"Hahahahahaha..". Chika semakin tertawa hingga terpingkal pingkal, hingga membuat Adit mengulurkan telapak tangan kiri nya untuk menutup mulut Chika.
"Jorok Kamu". Pekik Adit saat Chika dengan sengaja menyembur pada telapak tangan kiri Adit yang tadi menutup mulut Chika.
"Lagian main tutup mulut orang sembarangan aja". Protes Chika tak mau kalah.
"Ya masa, mau nutup mulut Kamu yang ngakak itu pakai bibir?". Kali ini Adit yang tertawa melihat wajah masam Chika akibat ucapan nya.
"Nggak lucu". Gerutu Chika.
"Aku kan bukan pelawak Sy maka nya omongan nya jadi nggak lucu". Chika memukul pelan lengan Adit karena kesal dengan ucapan Adit.
Suasana pun kembali hening. Baik Adit ataupun Chika lebih memilih sibuk dengan pikiran nya masing.
Kedua bola mata Chika langsung membulat lebar. Ditatap nya lelaki yang sedang mengemudi di samping nya.
"Astaghfirullah Kak, kalau ngomong tuh bisa nggak yang nggak ngajak ribut orang. Ini masih jam 10 lho, masih pagi menjelang siang. Dan biasa nya jam jam segini otak kita masih fresh belum error ".
Chika yang kikuk mendengar pernyataan Adit pun pada akhir nya lebih memilih melihat kearah jendela guna melihat laju mobil di sisi kiri.
"Justru karena masih pagi. Dan otak Kakak juga masih fresh. Maka nya Kakak ngajuin pernyataan ke kamu". Chika mengalihkan pandangan nya kearah Adit. Tatapan mata mereka bertemu sekilas, sebelum Chika memilih untuk memutuskannya.
"Becanda nya nggak lucu". Gumam Chika.
"Kakak nggak bercanda Sy". Semenjak Adit mengetahui nama asli Chika, Adit lebih memilih memanggil nama Chika dengan panggilan Arsy.
"Kamu tau kan usia kakak tidak muda lagi?. Malah bisa di bilang kematengan ". Adit bahkan sampai tertawa kecil saat berucap, sementara Chika hanya mengulum senyum nya.
"Untungan nggak busuk". Akhirnya Chika tidak bisa menahan ucapan yang ingin di ucapkan nya.
Tawa mereka pun akhirnya pecah.
__ADS_1
"Hahahaha, bisa dibilang mendekati lodoh". Ujar Adit sambil menggaruk belakang leher nya yang tidak gatal.
Dan lagi-lagi Diam menghinggap di antara mereka.
Sungguh mereka berdua benar benar dalam keadaan yang canggung.
Chika baru sehari bertemu dengan Adit sebagai kakak angkat nya. Sementara sebagai Bagas, gadis itu baru mengenal Bagas selama 6 bulan ini.
Jadi bisa di bilang Chika masih buta dengan kepribadian baik sebagai Adit ataupun Bagas. Sementara Adit sudah lebih mengenal Chika, karena sejak Chika di adopsi Oma Shinta, Oma selalu bercerita tentang Chika.
Adit berusaha fokus melajukan kendaraan memasuki gerbang Kampus mereka. Adit Melambatkan laju mobil nya saat memasuki parkiran khusus Dosen.
"Gimana?". Ucap Adit saat baru memarkirkan mobil nya.
Chika yang baru akan membuka seatbelt nya melihat kearah Adit dengan heran.
"Jawaban pernyataan Kak Adit tadi". Adit menatap Chika dengan dalam, hingga membuat gadis itu menjadi gugup.
"Bukan nya Oma nggak setuju?". Adit berdecih pelan mendengar ucapan Chika.
"Maaf Kak, Aku lebih nyaman sebagai adik dengan Kak Adit" Adit menundukkan kepalanya mendengar kan ucapan Chika.
"Jadi Kak Adit di tolak?". Chika menganggukkan kepalanya, dan terdengar ******* kecewa Adit.
Adit menyandarkan punggung nya di jok mobil. Pandangan lurus menatap kedepan, seraya memainkan ujung jemari nya di atas setir mobil.
"Maaf Kak. Sampai kapan pun Chika hanya menganggap Kak Adit sebagai Kakak". Adit mengulum senyuman kecewa, mata nya masih fokus menghadap kedepan, dengan ujung jemari yang semakin cepat dimainkan di atas setir mobil nya.
"Dan Chika harap Kak Adit pun bisa tetap menganggap Chika sebagai adik Kak Adit". Adit tertawa kecil dengan nada getir.
Dia tidak menyangka kalau Chika akan menolak lamarannya. Bahkan gadis yang sejak di adopsi Oma sudah di anggap sebagai calon istri oleh Adit itu terlihat biasa saja saat berucap, hingga membuat Adit semakin kecewa.
"Tapi kalau sebagai Pak Bagas mungkin Arsy akan memikirkan nya lebih lanjut". Adit menghentikan memainkan jemari nya di atas setir mobil, lalu melihat kearah Chika dengan tatapan bingung.
"Kalau sebagai Pak Bagas, pernyataan nya jangan di ucapkan kaya gitu. Nggak ada romatis nya". Chika mengerucutkan bibir nya hingga membuat Adit gemas ingin menarik bibir Chika yang seperti tweety itu.
############################################
Jangan lupa di like, komen, kalau berkenan vote nya ya...
__ADS_1
############################################