
"Bukan nya Kamu paling anti berhubungan dengan pria yang lebih dewasa?". Tanya Dewa sambil tersenyum mencibir.
"Ralat, bukan anti namun hanya berharap, sekira nya ada jodoh lebih berharap dengan yang seumur atau beda beberapa tahun bukan belasan tahun".
"Tapi mungkin Allah, lebih menunjukkan bahwa pria dengan beda umur belasan tahun memiliki pemikiran yang lebih matang. Mereka lebih siap untuk berkomitmen dalam menjalin hubungan lebih serius bukan hanya pacaran yang hanya akan menjadi mudharat nya". Ujar Chika panjang lebar seolah menampar Dewa yang selalu mengajak Chika berpacaran.
"Udah selesai ngobrol nya?".
Chika dan Dewa melihat kearah sang pemilik suara yang sudah berada tepat di sisi kanan Chika. Dewa tersenyum kecut melihat Bagas yang sedang menatap nya dengan tajam.
"Sebenarnya belum Pak. Bahkan kami belum mulai ngobrol nya". Balas Dewa santai yang di balas dengan senyuman tipis Bagas.
"Sayang nya Kami harus segera pergi. Iya kan Sayang". Ujar Bagas yang merangkul Chika dengan mesra.
Chika hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Seandainya tidak ada Dewa di depan nya, sudah bisa di pastikan rangkulan Bagas akan segera terhempas dari bahu gadis mungil itu.
"Sayang?". Dewa tersenyum mengejek kepada Bagas.
"Chika itu lebih pantas kalau menjadi keponakan Bapak, bukan sebagai kekasih Bapak". Cetus Dewa di susul tawa kecil Bagas.
"Sayang nya Chika memang bukan kekasih Saya". Ucap Bagas yang membuat Chika maupun Dewa terkejut.
"Tapi, hari minggu nanti Chika akan menjadi istri Saya". Chika tampak menghela nafas pelan, lain hal nya dengan Dewa yang langsung membulat kan kedua bola mata nya tak percaya.
"Memang kalau dari segi umur, ucapan Kamu benar ada nya. Tapi kalau dari segi penampilan, Saya rasa kita terlihat seperti sebaya bukan?". Dewa memutar malas kedua bola mata nya mendengar ucapan Bagas yang di sertai kekehan kecil nya.
Sementara Chika, gadis itunya sepakat dalam hati, kalau apa yang di ucapkan Bagas benar ada nya. Dilihat dari segi penampilan nya saat ini, mungkin orang akan berpikir usia Bagas masih di bawah 30 tahun bukan menjelang 40 tahun.
"Kami permisi dulu, seperti nya calon istri saya semakin merasa tidak nyaman berada di dekat Anda". Bagas pun segera mengajak Chika berjalan meninggalkan Dewa yang menatap kepergian mereka dengan kesal.
"Berengsek". Umpat Dewa yang masih bisa melihat Bagas kini mengelus lembut pucuk kepala Chika sambil tersenyum kepada Chika.
"Tuh bibir kenapa dimajuin?". Tanya Bagas saat sudah menjauh dari Dewa.
"Ini tangan kapan turun nya?". Balik tanya Chika sambil mengarahkan pandangan kepada tangan Bagas yang masih betah bertengger di bahu Chika.
__ADS_1
Bagas pun tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke kiri ke kanan seraya bersiul pelan, mengacuhkan ucapan Chika.
"Hanya di rangkul Chika nggak di ci_". Chika menatap tajam Bagas, sehingga Bagas pun terpaksa tidak melanjutkan ucapan.
"Lagi pula tangan nya masih betah di bahu kamu Sayang". Lagi-lagi Bagas menggoda Chika dengan kalimat sayang.
"Ish... Berdigik Aku denger kata sayang keluar dari mulut Pak Bagas". Chika mengangkat kedua bahu nya seraya bergidik ngeri sehingga akhirnya Bagas pun tertawa lepas.
"Turunin ah. Risih Aku Pak". Rengek Chika dan akhirnya pun terpaksa mengalah. Pria itu akhirnya menurunkan tangan nya dari bahu Chika.
"Pegangan aja. Masa nggak boleh juga sih Chika". Ujar Bagas, saat Chika menolak jemari Bagas saat akan menggenggam nya.
"Masih belum SAH ". Ucap Chika seraya menekankan kata Sah. Bagas pun berdecak kesal menanggapi ucapan Chika.
"Aku halalin juga nih Kamu malam ini". Ujar Bagas penuh dengan penekanan.
"Nggak. Pokok nya hari minggu titik". Ucap Chika tegas.
"Deal ya, kita nikah hari minggu ini!" Ucap Bagas tak kalah tegas.
"Kan Bapak udah buat pengumuman". Ujar Chika membalas ucapan Bagas asal.
"Nggak!". Ucap Chika tegas. Bahkan gadis itu langsung mendelikkan kedua bola matanya kepada Bagas, hingga Bagas pun menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
"Hari minggu. Atau nggak nikah sama sekali". Ancam Chika di susul gelengan kepala Bagas.
"Ya udah. Ini kita mau kemana, dari tadi cuma muterin mall aja". Protes Chika, lalu Bagas pun menepuk kening nya.
"Astaghfirullah, lupa. Toko mas nya udah kelewatan. Kita balik lagi". Chika menghela nafas kesal saat Bagas menarik ujung lengan tunik nya.
Setiba nya di toko emas langganan Oma, Bagas dan Chika pun tampak sibuk memilih terkadang berdebat kecil dengan model cincin yang akan Bagas dan Chika kenakan setelah menikah nanti.
Sedangkan untuk mas kawin Bagas sudah mempersiapkan satu set perhiasan yang sudah dia pesan saat masih tinggal di Negri Paman Sam tiga tahun yang lalu.
"Yang titanium aja Mbak. Jangan yang emas. Baik gold, rose ataupun putih". Ucap Chika, saat seorang pramuniaga wanita menawarkan beberapa pasang cincin nikah. Namun tatapan menggoda terarahkan kepada Bagas.
__ADS_1
Sementara yang di tatap justru sibuk mengekori Chika kesana kesini, tanpa sadar kalau Chika sedang menuntun Bagas menghindari tatapan menggoda sang pramuniaga.
"Tapi yang ini lebih cocok dengan Mas nya Dek". Ucap sang pramuniaga wanita.
"Ish, Saya bukan Adik nya". Protes Chika.
"Keponakan?". Bibir Chika kini sudah mulai mengerucut saat sang pramuniaga itu terang-terangan tersenyum kepada Bagas, namun di balas Bagas dengan tatapan tajam, sehingga perlahan-lahan senyum di pramuniaga itu pun memudar.
"Ini calon istri Saya. Bukan nya Oma Shinta sering membawa nya ke toko ini ?". Pramuniaga itu tampak terkejut lalu melihat ke Chika dengan seksama.
"Biasa nya Saya dan Oma Saya bertemu dengan Mbak Sarah Mbak". Ujar Chika, dan tak lama kemudian orang yang Chika maksud keluar dari sebuah ruangan yang berada di toko tersebut.
" Chika. Apa kabar?". Orang yang di maksud oleh Chika itu pun langsung menyambut Chika dengan cipika-cipiki.
"Ini Mas Aditya?". Tanya Sarah mengulurkan tangan kanan nya kepada Bagas seraya tersenyum.
Bagas hanya mengangguk sambil menangkup kedua telapak tangan nya sebatas dada nya, dan ibu satu anak itu pun kembali membalas Bagas dengan senyuman serta anggukan kecil.
"Wah ganteng lho calon mu Ka". Ujar Sarah berbisik sambil menepuk-nepuk bagi Chika.
"Bisa aja Mbak Sarah. Nanti kalau orang nya denger bisa besar kepala dia". Bisik Chika di susul tawa Sarah juga Chika bersamaan.
"Jadi gimana udah ketemu yang cocok?". Tanya Sarah seraya merangkul lengan Chika sambil membawa Chika ke etalase perhiasan.
"Udah, cuma Mbak nya kekeuh nyuruh buat Mas Bagas nya harus cincin Emas. Padahal sudah Aku bilang Aku mau nya titanium". Sarah langsung mengarahkan pandangan kepada Pramuniaga yang sejak awal Chika dan Bagas masuk toko melayani nya.
"Yulia, kamu urus Mbak Manda di dalam, biar Chika dan Pak Aditya saya yang handle". Ujar Sarah.
"Baik Mbak". Pramuniaga itu pun segera masuk kedalam ruangan private member.
Baru beberapa saat Pramuniaga itu masuk terdengar keributan dari dalam ruangan Private Customer.
"Saya mau nya Sarah yang handle saya, bukan Kamu. Dasar SPG". Sebuah suara dan hentakan pintu terbuka kasar dari ruangan yang baru beberapa saat lalu di masuki pramuniaga bernama Yulia itu pun terbuka.
############################################
__ADS_1
JANGAN LUPA DI LIKE, KOMEN DAN KALAU BERKENAN BERIKAN VOTE NYA YA.
SEE YOU NEXT BAB