
"Oma hanya ingin, pernikahan kalian di umumkan dan buat resepsinya. Sehingga orang-orang tau kalau Kamu menikah dengan Ananda Arsy Hidayat bukan dengan Arsyka Cahaya Gumilang".
"Bukan nya hal itu akan memancing mereka untuk kembali menyakiti Arsy, Oma?". Oma menggelengkan kepala nya menanggapi ucapan Bagas.
"Setidak nya Kamu sudah ada di sisi Arsy. Jadi Oma bisa lebih tenang Dit. Salah satu hal yang membuat Oma merahasiakan keberadaan Arsy adalah Kamu" Ucap Oma kepada Bagas, Bagas tampak terkejut dengan ucapan Oma Shinta sehingga sebuah pertanyaan pun meluncur dari Bagas untuk Oma Shinta.
"Maksud Oma?". Oma menghela nafas pendek. Entah mengapa Oma merasa tubuh nya sejak pagi tadi terasa sangat lemah, dan hanya ingin berada di pembaringan saja.
"Setelah Kamu pergi, tak ada yang menjaga Arsy. Karena itulah Oma memutuskan Arsy menjadi pengganti adik mu yang ikut tewas dalam kecelakaan kedua orang tua Kamu. Karena itulah kenapa Oma selalu meminta Kamu untuk pulang Dit. Karena Oma ingin Kamu bisa cepat menjaga Arsy dari para manusia serakah itu. Dan setelah belasan tahun akhirnya Kamu pulang juga. Oma sangat bersyukur dan senang, akhirnya hari yang Oma tunggu agar Chika bisa kembali menjadi Ananda Arsy Hidayat lagi itu telah tiba. Berjanjilah jaga Arsy dengan baik. Lindungi dia, sayangi juga cintai dia dengan tulus dan apa ada nya. Jangan pernah sedikit pun kamu menyakiti hati juga tubuh nya. Dia adalah pelita, cahaya Oma selain Kamu juga Almarhumah adik Kamu" Ucap Oma Shinta panjang lebar di sela nafas yang terasa semakin susah untuk hanya sekedar menf
"Oma jangan khawatir, semenjak kecelakaan kedua orang tua Arsy. Adit sudah berjanji akan bertanggung jawab kepada Arsy. Jadi tidak pernah terlintas dalam pikiran Adit untuk menyakiti Arsy sedikit pun Oma. Oma tenang saja, Adit akan selalu berada di sisi Arsy, menyayangi juga menjaga nya hingga batas akhir hidup Adit ".
Greb
Oma memeluk tubuh Bagas dengan erat, menumpahkan derai air mata yang sudah menganak sungai di pelupuk mata nya sejak tadi.
"Kamu memang cucu Oma yang paling bisa Oma andalkan". Oma mengucupi wajah Bagas dengan lembut.
"Waduh, pagi-pagi udah peluk cium nggak ngajak-ngajak". Oma melerai pelukan kepada Bagas lalu merentang tangan nya lebar lebar kala melihat sang pemrotes.
Arsy langsung masuk kedalam pelukan Oma Shinta lalu Oma mengecupi wajah Arsy, seperti tadi saat Oma mengecupi wajah Bagas.
"Kesayangan Oma. Bingung mau nyebut nya cucu Oma atau cucu mantu ya?". Arsy mengerucutkan bibir nya mendengar godaan Oma Shinta.
"Mau yang mana juga sama aja Oma". Entah mengapa Arsy pun merasakan ada yang berbeda dengan sang Oma. Mantan gadis itu merasa selalu ingin berada di sisi Oma Shinta.
"Kita sarapan dulu yuk Oma ". Arsy melerai pelukan nya kepada Oma Shinta. Oma menyunggingkan senyuman seraya menggelengkan pelan kepala nya.
"Kalian duluan saja". Tolak Oma. "Oma ingin istirahat dulu. Nanti setelah kalian selesai sarapan, tolong bawakan Oma sarapan ke kamar ya". Ucap Oma sambil menepuk nepuk punggung tangan Arsy dengan lembut.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, kami sarapan dulu ya Oma. Soal nya pagi ini Mas Bagas ada kelas mengajar di kelas Aku". Ujar Arsy lalu melirik kearah suami nya yang entah mengapa menampilkan wajah khawatir kala menatap Oma Shinta.
"Iya sayang, Kamu harus sarapan yang banyak, agar bisa secepatnya Oma mempunyai cicit hehehehe''. Ujar Oma sambil tertawa kecil bersama Bagas. Sementara Arsy hanya tertunduk malu.
"Kamu tidak ada niatan untuk menunda momongan kan Sayang?". Arsy menggelengkan kepalanya dan Bagas hanya menghela nafas pelan.
"Lebih baik di tunda dulu Sayang. Mas nggak mau kuliah Kamu terganggu atau malah putus kuliah karena Kamu hamil. Dan Mas ...".
"Mas Bagas nggak mau punya anak dari Aku?". Arsy memutuskan ucapan Bagas yang belum selesai.
" Bukan begitu, hanya... ".
"Aku nggak keberatan kok kalau hamil saat ini. Masalah kuliah kan bisa berjalan walaupun Aku hamil". Kembali Arsy memotong ucapan Bagas. "Memang Mas Bagas nggak pengen punya penerus?. Atau mungkin Mas Bagas memang nggak mau..."
"Stop". Oma Shinta mengangkat kedua telapak tangan nya dan hal itu berhasil membuat Arsy menghentikan ucapan nya.
"Di usia Kamu sekarang, harus nya Kamu sudah mempunyai anak remaja bukan malah menikah dengan remaja". Tawa Arys pun akhirnya pecah saat Oma Shinta mengakhiri ucapan seraya tertawa kecil, melihat wajah cucu semata wayangnya yang muram.
Bagas pun menghela nafas nya dengan pasrah. Di lihatnya wajah sang istri dan Oma yang penuh harap kepada nya itu secara bergantian.
"Ya sudah, kalau Kamu memang tidak ingin menunda kehamilan, Mas bisa apa?". Akhirnya Bagas pun mengalah dan menerima keputusan Arsy yang akan tidak menunda kehamilan.
"Toh tugas Mas kan cuma menebar bibit si entong di rumah nya si Eneng hehehe". Bagas pun terkekeh dengan ucapan nya sendirian.
Sementara Arsy dan Oma Shinta memutar malas kedua bola mata nya mendengar celotoh Bagas yang nyeleneh tersebut.
"Sebelum omongan juga otak nya makin ngawur, Kamu ajak suami tua Kamu ini sarapan dulu, Sayang". Ucap Oma Shinta mendorong pelan tubuh Arsy.
"Siap Oma" Arsy pun langsung mengaitkan kedua lengan nya ke lengan kanan suaminya.
__ADS_1
"Kami sarapan dulu ya Oma". Oma mengangguk kan kepala.
"Assalamu'alaikum Oma". Ucap Bagas dan Arsy bersamaan.
"Waalaikumsalam". Sahut Oma. Kedua pengantin seminggu itu pun keluar dari kamar Oma Shinta.
"Ya Allah, Berikanlah Mereka jodoh yang panjang, yang saling melengkapi dalam suka dan duka. Berikanlah Mereka anak-anak yang Sholeh dan sholehah, serta jauhkanlah mereka dari marabahaya. Aamiin". Gumam do'a Oma Shinta dengan lirih.
Perlahan tubuh renta itu merebahkan diri, duduk bersandar di hard board selama beberapa menit membuat punggung Oma terasa pegal.
Oma menarik selimut hingga menutupi bagian dada nya. Senyum nya tampak terukir kala menutup perlahan kedua kelopak mata nya.
"Mama". Oma Shinta membuka kedua bola mata nya, kala mendengar suara yang sudah belasan tahun tidak pernah di dengar nya lagi.
Hamparan padang luas tanpa rerumputan menyabut setiap arah pandangan nya.
Pandangan mata Oma terus mencari arah sang pemilik suara. Senyum Oma mengembang kala melihat seseorang pria paruh baya berdiri beberapa meter di hadapan nya.
Tampak seorang wanita baya serta seorang gadis seusia Arsy berdiri tidak jauh dari sang pria pun melebarkan senyum mereka seraya merentangkan kedua tangan mereka.
"Bas". Senyum pria itu terukir dengan lebar, kala Oma mengucapkan sebuah nama.
####################
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA
LIKE KOMEN JANGAN LUPA
SEE YOU NEXT BAB
__ADS_1