
"Jadi Saya minta, mulai detik ini jangan pernah lagi menganggu Putra. Jadi Saya harap di kemudian hari, tidak ada kabar yang tidak tidak lagi mengenai Putra dan Anissa ".
Wajah Anissa semakin mendung. Penolak Mama Rani membuat nya sudah tidak bisa lagi mendekati Putra.
Ya Anissa sadar, sejak Dia lebih sering mendekati Putra, pria itu justru menjauhi nya. Bukan Anissa tidak punya malu, namun keinginan sang Mama lah yang ingin memiliki menantu seperti Putra, membuat nya harus menghilangkan rasa malu tersebut.
Dan kini apa yang di dapat nya, bukan nya mendapatkan apa yang di inginkan sang Bunda. Dia justru merasa terhina dengan ucapan yang Mama Rani ucapkan kepada nya.
Putra pun akhirnya bisa bernafas dengan lega. Akhirnya sang Mama turun tangan membantu nya bisa lepas dari gangguan Anissa juga Bu Rahma yang setiap hari selalu menganggu aktivitas nya.
"Saya harap Bu Rani tidak akan menyesal melepaskan Putri saya hanya demi wanita yang aurat nya terbuka". Ujar Bu Rahma menatap Reina dengan dingin.
"Bukan kan aurat yang terbuka perlahan lahan bisa di tutup?. Namun apabila dengan sengaja melanggar syariat bukan kah hal itu tak wajar?".
Skak Mat.
Mama Rani lagi lagi membuat lidah Bu Rahma terasa keluh, hingga tidak bisa lagi membalas ucapan Bu Rani.
"Saya do'a kan kelak Anissa mendapatkan jodoh yang lebih baik dari suami nya yang terdahulu". Ucap Mama Rani tulus.
"Kami permisi lebih dahulu. Assalamu'alaikum". Mama Rani pun beranjak dari duduk nya, lalu mengajak Reina pun mengikuti nya.
Reina dan Putra hanya sedikit menganggukkan kepala mereka berpamitan kepada Anissa dan Bu Rahma.
"Kurang ajar. Mereka pikir siapa mereka". Bu Rahma yang kesal itu pun menggebrak meja dengan cukup keras, sehingga membuat beberapa pasang mata melihat ke arah nya dengan tatapan penuh tanya.
"Sudah Mah". Ucap Anissa lirih.
"Kamu juga bodoh. Kenapa Kamu tidak menjebak Putra seperti yang Kamu lakukan kepada Tyo". Ucap Bu Rahma kesal kepada Anissa.
"Dasar anak bodoh. Begitu saja tidak bisa". Dengan kasar Bu Rahma menoyor kening Anissa hingga gadis itu semakin menahan lajunya tangisan nya yang tertahan.
"Cukup Mah". Anissa pun akhirnya meluapkan emosinya. Gadis itu pun akhirnya meninggikan suara nya kepada sang Mama yang selalu mengontrol kehidupan nya sejak dulu.
__ADS_1
"Nissa sudah tidak tahan lagi dengan sikap Mama". Ujar Nissa dengan terisak.
"Berani Kamu melawan Mama". Bentak Bu Rahma.
"Bukan maksud Nissa melawan Mama. Tapi Nissa sudah tidak sanggup lagi mengikuti semua keinginan Mama".
Plak
Bu Rahma melayangkan sebuah tamparan di pipi kiri Anissa, hingga Anissa pun terkejut memandang tak percaya kepada sang Mama.
"Dasar anak bodoh, tidak tau di untung, berani Kamu melawan Mama?. Bisa apa Kamu tanpa Mama hah". Bentak Bu Rahma, lalu pergi meninggalkan Anissa.
Anissa pun menarik nafas nya dengan perlahan guna menutupi rasa kesal juga sedih nya seraya menatap punggung sang Mama yang semakin menjauh.
"Astaghfirullahalazim". Gumam Anissa seraya menarik nafas panjang dan menghela dengan pelan.
Anissa pun melangkahkan kaki nya keluar dari restoran cepat saji tersebut dengan menundukkan kepala nya dalam dalam.
Dia amat sangat malu dengan sikap sang Mama yang dengan tega mencaci juga menampar nya di muka umum.
Akibat perintah sang Mama, Anissa terpaksa merendahkan diri nya untuk mendekati Putra, walaupun pada akhir hal itu membuat Putra menjadi risih dan terganggu akibat ulah nya.
Seharusnya Dia tidak terlalu mengejar Putra, kalau pada akhirnya pria itu menjadi menjauhi nya.
Ya seharusnya hanya akan menjadi kata pembela kala kita merasa salah jalan.
Lagi lagi Anissa menghela nafas nya dan menghembuskan nya dengan perlahan.
Bingung, resah dan tak tau akan kemana Dia selanjutnya. Dia terlalu engan untuk pulang dan bertemu dengan sang Mama, karena sang Mama pasti akan kembali menyalahkan nya lagi dan lagi
Dan hal itu membuatnya terpaksa untuk tidak bertemu lebih dahulu dengan sang Mama, setidaknya Dia butuh waktu beberapa hari untuk meredakan rasa kecewa atas kelakuan dan perbuatan Mama nya, juga terpaksa merelakan perasaan nya terhadap Putra.
Namun kemana dia harus melangkah pun dia tidak tahu, karena dia tidak pernah mempunyai seorang teman dekat ataupun sahabat. Hal itu terjadi karena sang Mama yang selalu membatasi ruang gerak dalam berteman.
__ADS_1
Lelah kaki nya melangkah membuat nya mendudukkan tubuh nya di sebuah halte kosong. Mata nya menatap nanar laju kendaraan yang melintas silih berganti, hingga tanpa sadar kedua kelopak mata nya meneteskan air mata nya.
Meratapi nasib baik yang selalu tak berpihak kepada nya. Menikah dengan pria yang di pilihkan sang Mama karena anggap baik dan sholeh serta memiliki usaha keluarga yang mumpuni, namun nyata nya hanya sakit hati yang di dapati nya.
Beruntung selama pernikahan, Almarhum suaminya tidak pernah menyentuh nya, sehingga sampai saat ini mahkota nya masih terjaga.
Dan kemudian bertemu dengan pria yang bernasib sama karena di khianati oleh pasangan masing masing, membuat nya berpikir pria itu akan membuka hati nya untuk memilih nya karena mempunyai masalah yang sama.
Namun nyata nya penolakan lah yang dia dapat, dan semua nya karena ulah sang Mama yang lagi lagi mengatur kehidupan pribadi nya.
"Apa salah Hamba, Ya Allah?". Gumam nya lirih. Menangkup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya guna menutupi derai tangisan nya.
"Sampai kapan Aku harus seperti ini". Rintih Anissa yang masih setia menundukkan kepala nya menutupi tangisan nya.
"Tak perlu meratapi apa yang sudah terjadi". Anissa menghentikan tangisannya, lalu membuka telapak tangan nya, kala mendengar sebuah seruan suara pria tepat di samping nya.
"Jalani dengan ikhlas, InsyaAllah, Allah akan menggantikan yang hilang dengan yang lebih baik lagi. Tak perlu meratapi apalagi menyesali apa yang sudah terjadi, karena semua nya tidak akan pernah kembali. Justru kalau terus di ingat membuat kita akan menjadi kufur atas nikmat yang sudah Allah berikan.Ikhlaskan walaupun itu berat ''. Anissa hanya mendengarkan apa yang di sampai oleh Pria yang usia nya lebih muda beberapa tahun itu.
"Minumlah". Pria ber hoodie hitam itu menyodorkan sebuah botol kecil air mineral.
Anissa tak mengambil nya hanya menatap tangan yang masih menyodorkan botol air mineral tersebut.
"Tenang saja, Saya bukan orang jahat kok". Anissa mendongakkan kepala nya guna melihat pria muda tersebut.
Pria tersebut tersenyum kala pandangan mata nya bertemu dengan pandangan Anissa, dengan tangan yang masih menyodorkan sebotol air mineral itu.
"Akhtar..."
##############################
TBC
JANGAN LUPA DI LIKE JUGA KOMEN NYA YA
__ADS_1
SEE YOU NEXT BAB