Oh My Dosen ( Remake )

Oh My Dosen ( Remake )
Bab 82. Balada Resepsi


__ADS_3

"Cape?". Reina tersenyum kepada Putra saat Pria itu menundukkan kepala kala melihat nya duduk sambil memukuli pelan betis kiri nya yang terasa kebas setelah beberapa saat menerima rombongan rekan kerja Putra di kesatuannya.


"Nggak Mas". Ucap Reina tak enak hati, karena Putra tiba tiba menjongkokkan tubuh nya di hadapan Reina yang sedang duduk di pelaminan.


"Eh jangan Mas, malu. Lagi pula nggak enak di lihat banyak orang, Mas". Reina menarik kaki nya, saat Putra hendak menyentuh kaki nya.


Namun Putra justru menarik kaki kiri Reina dan kemudian memijat pelan betis Reina.


"Kaki Kamu kram?". Reina mengangguk pelan, sambil meringis kecil saat Putra memijat betis kiri nya.


"Kenapa Rein?". Mama Rani yang baru saja menemui samak saudara yang baru datang segera menghampiri pelaminan saat melihat Putra berjongkok di hadapan Reina, dan wajah Reina yang tampak meringis.


"Kaki nya Kram Ma". Putra menjawab pertanyaan Mama Rani.


"Ya sudah, Kamu duduk saja, sayang. Tidak usah berdiri.Nanti kalau ada tamu, kalau masih kram lebih baik Kamu duduk saja. Mau Mama ambil kan balsam?". Ujar Mama Rani khawatir.


"Nggak usah Ma. Ini udah enakan kok". Jawab Reina yang lalu meraih tangan Putra yang sedang memijat betis nya.


Putra menatap Reina dengan penuh tanya. Gadis yang beberapa jam lalu itu resmi menjadi istrinya itu tersenyum lembut kepada nya.


"Sudah nggak sakit lagi, Mas". Ucap Reina, lalu menarik tubuh Putra agar bangkit dari jongkok nya.


"Benar sudah nggak sakit?". Putra yang sudah berdiri di hadapan Reina tampak masih ragu melihat Reina yang masih terlihat sesekali meringis kecil.


"Bener Mas, ini udah enakan kok. Ternyata Kamu ada bakat juga buat jadi tukang pijat". Putra mengusap lembut pucuk kepala Reina yang kini mengenakan hijab senada dengan gaun pengantin nya.


"Mau di pijat di tempat yang lain nya?". Putra menaik turun kan alis nya menggoda Reina selepas bertanya kepada Reina.


Reina memukul pelan lengan kanan Putra menanggapi ucapan suami nya.


"Mesum". Gumam Reina menahan malu.


"Mesum sama istri itu dapat pahala, sayang". Wajah Reina memerah saat Putra mendaratkan kecupan singkat di pucuk kepala nya, saat Pria itu akan beranjak kembali ke posisi nya yang berada di samping Reina.


Sebuah senyuman terukir di bibir Reina menanggapi ucapan sang suami yang terdengar menggoda nya.

__ADS_1


Namun senyuman itu perlahan-lahan surut kala melihat dua orang tamu yang sudah berada di pelaminan yang kini tengah menatap nya dengan satu tatapan penuh harap dan satu tatapan lagi penuh amarah juga dendam.


Kedua berjalan beriringan. Sementara dari kejauhan Mama Rani yang tadi sudah turun untuk menyapa tamu yang datang, terlihat tergesa-gesa menghampiri pelaminan.


Putra pun tampak berdiri di depan Reina. Tangan kanan nya mengenggam erat tangan Reina. Tubuh tingginya pun menutup sebagian tubuh Reina.


Reina menyunggingkan senyuman dengan perlakuan sang suami yang seakan menjadi tameng dalam menghadapi kedua tamu yang semakin dekat menghampiri mereka.


Putra mengalihkan pandangannya kepada Reina, kala merasakan kepala Reina yang bersandar manja di balik punggungnya. Bahkan sebelah tangan Reina kini sudah bertengger manis dipinggang sang suami. Hingga membuat kedua tamu nya itu meradang dengan pikiran mereka masing masing.


Ya Bu Rahma dan Anissa hadir di acara resepsi yang Putra dan Reina laksanakan. Padahal baik Putra maupun Reina tidak mengundang kedua nya, apa mungkin Mama Rani yang mengundang mereka?.


Entah lah sepasang pengantin baru itu tetap memberikan senyuman terbaik mereka kepada tamu yang tak di undang itu.


"Selamat ya Nak Putra". Putra hanya mengangguk menanggapi ucapan tamu nya karena kedua tangan nya sedang sibuk memegang sang istri.


"Terima kasih Bu Rahma". Balas Putra sopan


"Semoga nasib buruk Kamu setelah menikah tidak terulang lagi". Kedua bola mata Putra menatap heran Bu Rahma karena ucapan wanita paruh baya yang tampak nya lebih tua di bandingkan Mama nya.


Sosok Akhtar tampak berlari kecil dan kemudian berdiri tidak jauh dari mereka dengan mengatupkan kedua telapak tangan nya sambil memasang wajah memelas kepada Putra yang kini menatap nya dengan tajam.


Reina tersenyum kecil menanggapi ucapan Bu Rahma. Anisaa tampak menundukkan kepala nya dalam dalam, ketika Reina kini berdiri di hadapan nya dan Ibu nya.


"Jaga ucapan Kamu Rahma".


Reina tersenyum kecil menanggapi ucapan Bu Rahma. Anisaa tampak menundukkan kepala nya dalam dalam, ketika Reina kini berdiri di hadapan nya dan Ibu nya.


"Mbak Risma?". Bu Rahma membulatkan mata nya tidak percaya melihat kepada Umi Risma.


"Ya ini Aku, Risma" Ucap Umi Risma.


Wanita yang biasa nya bersikap ramah itu tampak memandang kesal kepada Bu Rahma.


"Ternyata sifat buruk Kamu itu tidak pernah berubah". Umi Risma berdecak kesal melihat Bu Rahma dan Anissa bergantian.

__ADS_1


"Oh jadi anak Kamu yang selalu menganggu kegiatan Putra setiap hari?".


"Umi..". Umi Risma mengangkat tangan kanan nya saat Akhtar menghampiri nya.


"Kamu yang bawa mereka ke sini?". Akhtar menundukkan kepala nya dalam-dalam tanpa mampu menjawab dan melihat wajah Umi Risma yang marah.


"Kamu tau siapa Dia?". Akhtar menggeleng pelan saat Umi Risma menujuk kepada Bu Rahma.


"Wanita ini, yang ingin memisahkan Kedua orang tua Kamu saat Kamu masih bayi". Kedua bola mata Akhtar membulat tak percaya. Di tatap nya dengan tajam Bu Rahma dan Anissa secara bergantian.


"Wanita yang dengan tega ingin merusak kebahagiaan adik kandung nya sendiri karena cemburu ternyata pria yang di jodohkan kakek Kamu lebih memilih Mama Kamu di bandingkan Dia.Untung Mama Kamu bukan lah orang yang bodoh, sehingga dia tidak dengan mudah percaya begitu saja dengan apa yang di kata kan oleh Kakak Kandung nya. Dan beruntung pula kalau ada yang mengetahui siapa Ayah sesungguhnya anak yang selalu Dia katakan sebagai anak dari Ayah Kamu. Dan sekarang Kamu mau mengulang kembali kisah lama yang Kamu buat lagi?. Ck. Rahma Rahma, benar benar nggak otak nya Kamu ini". Bu Rahma mengepal kedua telapak tangan nya dengan erat, tak ada bantahan yang Dia ucapkan atas apa yang di ucapkan Umi Rahma.


"Jadi apa rencana Kamu untuk selanjut nya. Apa masih sama seperti dulu dengan menjebak Putra untuk meniduri anak Kamu, sama seperti yang Kamu lakukan kepada Armand adik ipar Kamu dulu? ". Bisik Umi Rahma Pelan namun bisa terdengar oleh Akhtar juga Anissa.


"Sadar Rahma. Jangan sampai kebobrokan hidup Kamu, Saya bongkar semua nya". Ancam Umi Rahma.


"Pulang lah. Kalian adalah tamu yang tidak di harapkan kedatangan nya di sini". Umi Risma memaksa Anissa membawa ibu nya turun dari pelaminan. Walaupun enggan, Bu Rahma terpaksa mengikuti langkah putri nya untuk turun dari pelaminan.


"Dan Kamu, mulai sekarang jauhi kedua manusia itu. Mereka tidak layak Kamu bantu, walaupun pada kenyataannya mereka adalah Tante dan juga saudara sepupu Kamu". Akhtar hanya terdiam namun anggukan kecil nya cukup menjadi jawaban atas ucapan Umi Risma.


"Jadi wanita itu yang dulu ngaku hamil anak nya Om Armand Umi?". Tanya Ardi saat menghampiri Umi nya.


"Iya, Dia juga Kakak kandung Rahmi, Tante Kamu Ibu nya Si Akhtar. Ngakunya hacker tapi nggak bisa ngelacak masa lalu". Akhtar meringis kala mendapat pukulan di tengkuk nya dari Umi Risma.


"Selamat ya Putra juga Reina". Reina dan Putra saling bertatapan dengan bingung. Pasal nya baru beberapa detik yang lalu wajah Umi Risma terlihat marah. Dan saat melihat kepada mereka wajah Umi Risma sudah berubah kembali teduh dan ramah.


"Eh, iya. Terima kasih Umi". Ucap Reina yang menyambut pelukan Umi Rahma, sementara Putra hanya menangkup kedua telapak tangan nya kepada Umi Rahma.


"Semoga jodoh kalian dunia dan akhirat. Dikaruniai anak anak yang sholeh dan sholehah. Aamiin". Ucap Umi Risma yang di Aamiin yang mendengar doa tulus Umi Risma untuk Putra dan Reina.


########################


T B C


JANGAN LUPA DI LIKE JUGA KOMEN YA

__ADS_1


SEE YOU NEXT BAB


__ADS_2