
" Akhtar...". Pria muda itu mengalihkan pandangan kepada pemilik suara yang memangil sebuah nama.
Mata Anissa membulat tidak percaya saat melihat pria yang memangil nama Pria yang berada di hadapan nya.
Sesosok pria yang baru saja bertemu dan menolak nya itu sudah tampak gagah dengan seragam yang membalut tubuh kekar.
Ya sosok pria berseragam itu adalah Putra.
"Lho, Nissa, ngapain Kamu di sini?. Kemana Bu Rahma?. Kamu tidak pulang bersama Ibu Kamu?".
Anissa tersenyum miris, karena pertanyaan Pria itu, yang membuat nya merasa di perhatikan.
"Ibu sudah pulang lebih dahulu Pak Putra". Anissa pun menjawab pertanyaan Putra.
Panggilan untuk Putra pun berubah dari Mas menjadi Pak. Memang sudah seharusnya Anissa memangil nya dengan Pak bukan Mas.
"Lebih baik Kamu pulang, daerah sini cukup rawan kejahatan". Ucap Putra.
"Abang kenal?". Tanya Akhtar menanyai Anissa.
"Dia Anissa". Jawab Putra, dan Akhtar pun ber oh ria.
Akhtar hanya tahu desas desus tentang Anissa yang selalu mengejar Putra, dan baru kali ini Akhtar melihat Anissa secara langsung.
Cantik itulah yang ada dalam pikiran Akhtar. Namun mengingat cara Anissa yang mengejar Putra, membuat Akhtar pun berubah pikiran.
"Cantik lho Bang". Bisik Akhtar pelan.
"Ck. Buat Kamu aja". Balas Putra.
"Bener, ntar nyesel nggak?". Putra menoyor kening Akhtar dengan kesal, karena pria muda terus menerus menggoda nya.
"Mungkin bisa jadi jodoh Kamu". Ucap Putra.
Akhtar hanya tercengir pelan, sambil mengusap belakang leher nya.
"Gimana, udah ada tanda tanda nya?". Akhtar menggelengkan kepala nya. Putra hanya menghela nafas.
"Balik aja gih. Udah mau maghrib". Kali ini Akhtar mengangguk menjawab pernyataan Putra.
"Kalau gitu, Saya balik duluan. Kamu juga pulang Nissa, nggak baik seorang perempuan udah mau Maghrib masih di jalan". Ucap Putra lalu beranjak pergi meninggalkan Akhtar dan Anissa, setelah Anissa mengangguk pelan dan Akhtar memberikan hormat.
__ADS_1
"Saya duluan Mbak". Ucap Akhtar lalu beranjak pergi meninggalkan Anissa.
Namun baru beberapa langkah Akhtar melangkah, pergerakan nya terhenti, saat ujung hoodie nya ditarik dari belakang.
"Maaf". Gumam Anissa pelan.
Ternyata janda rasa gadis itu lah yang menarik ujung hoodie Akhtar. Akhtar pun membalikkan tubuh nya menghadap Anissa.
"Ada apa Mbak?". Tanya Akhtar. Anissa tampak gugup, ujung jari kedua telapak tangan nya saling meremas dengan erat.
"Apa boleh, Saya ikut Kamu pulang". Jawab Anissa sedikit berbisik.
"Apa?". Akhtar berteriak kencang mendengar jawaban Anissa. Beberapa orang lewat tampak melirik kearah Akhtar heran.
Pria itu pun mengatup kedua telapak tangan nya menandakan meminta maaf.
Akhtar pun menarik ujung sling bag Anissa untuk menepi di pinggir jalan.
"Astaghfirullah Mbak. Jangan ngadi ngadi Mbak. Saya tuh nggak kenal Mbak, Mbak juga nggak kenal sama Saya". Ucap Akhtar melepaskan ujung sling bag yang Anissa pakai.
"Lebih baik Saya antar Mbak pulang saja. Saya takut kalau Mbak ikut Saya, nanti akan menjadi fitnah buat Kita berdua ". Tutur Akhtar menjelaskan kepada Anissa.
"Tapi Saya tidak mau pulang. Saya takut Ibu Saya akan marah dan menampar Saya lagi". Ujar Anissa dengan nada memelas.
"Sebaik nya Mbak hubungi orang tua Mbak, bilang kalau Mbak akan menginap di rumah teman Mbak. Nanti biar Saya yang antar Mbak ke rumah teman Mbak". Ucap Akhtar.
"Saya tidak punya teman". Ucap Anissa lirih. Akhtar lagi lagi menghela nafas.
"Mohon maaf, Saya tetap tidak bisa membawa Mbak ke tempat tinggal Saya, tapi kalau Mbak berkenan, untuk malam ini Saya akan mengajak Mbak ke tempat tinggal Om Saya. Kebetulan Om Saya sudah menikah dan di sana juga ada Bude Saya. Bagaimana?. Apa Mbak berminat?. Besok pagi Insya Allah Saya akan mengantarkan Mbak pulang ke rumah Mbak". Anissa mengangguk pelan menyetujui rencana Akhtar.
"Ya sudah, kalau begitu Mbak ikut dengan Saya". Akhtar pun melangkah kembali di ikuti Anissa yang mengekor di belakang nya.
"Kita naik ini?". Anissa tampak ragu saat melihat motor trail yang Akhtar bawa.
"Saya bawa nya hanya kendaraan ini Mbak". Ujar Akhtar.
"Jadi mau ikut atau tidak. Rumah Om Saya tidak jauh dari sini kok". Ucap Akhtar.
Anissa tampak kebingungan saat akan menaiki motor Akhtar. Untuk duduk mengangkang rasa sulit karena harus menyesuaikan dengan pakaian gamis yang di kenakan nya. Walau sudah memakai ****** ***** gamis, tetap saja akan membuat janda rasa gadis itu tidak lah nyaman.
"Duduk miring saja. Nanti pegangan di tas ransel Saya saja". Akhirnya setelah berusaha susah payah Anissa pun berhasil naik keatas motor trail milik Akhtar. Untung nya Akhtar selalu membawa helm cadangan, karena Ardi sering kali menumpang motor nya. Tapi itu dulu, sebelum pria itu menikah dan menikung nya.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian mereka pun tiba di parkiran sebuah apartemen. Akhtar mengajak Anissa untuk pergi ke unit apartment milik Ardi.
Biasa nya menjelang maghrib begini, Umi Risma sudah selesai membuat makan malam. Karena selepas Maghrib hingga sehabis Isya Umi Risma, Ardi juga Riska akan lebih menghabiskan waktu mereka mengkaji masalah agama di ruang yang di khusus kan untuk Sholat.
Ting Tong
Akhtar memencet bel yang berada di sisi kiri pintu unit apartment Ardi.
Sementara itu di dalam unit Ardi saat ini ramai oleh teman teman sang istri yang sedang berkumpul mengerjakan tugas yang di berikan Bagas di kampus.
Sementara sang pemberi tugas tampak sedang sibuk berdiskusi membahas masalah keluarga Riska yang saat ini sudah memasuki tahapan persidangan dengan Ardi dan juga Putra. Jangan lupakan Juwono dengan alibi mengantarkan sang istri, pria itu pun akhir nya ikut dalam perbincangan bersama Bagas.
"Biar Gue yang buka aja". Reina menunjuk diri untuk membukakan pintu unit apartment, karena posisi nya berada tidak jauh dari pintu.
Ceklek
Pintu pun terbuka menampakkan Akhtar yang berdiri di depan unit apartment sambil melipat kedua tangan nya sebatas dada.
"Lelet amat Lo buka pintu nya". Reina spontan menoyor kening Akhtar kala pria itu membuka mulut nya.
"Orang tuh ngucap salam, bukan malah ngedumel". Ucap Reina tak kalah sewot.
"Assalamu'alaikum". Salam Akhtar dengan nada ketus.
"Waalaikumsalam". Balas salam Reina tak kalah ketus.
"Siapa Rein?". Tanya Riska yang akhir nya menghampiri Reina.
"Keponakan Lo". Jawab Reina lalu berlalu meninggal kan pintu di gantikan oleh Riska.
"Tumben Lo lemari Tar?". Akhtar mendengus kesal mendengar pertanyaan Riska.
"Eh sama siapa Lo kemari?". Riska menelisik Anissa yang berada di belakang. Tubuh mungil nya memang tertutupi oleh tubuh Akhtar, sehingga Riska hanya melihat sekelebat baju yang di kenakan Anissa.
"Lho, Mbak Nissa".
##########################
TBC
JANGAN LUPA DI LIKE JUGA KOMEN NYA YA
__ADS_1
SEE YOU NEXT BAB
THANK YOU