
"Kalau nggak mau jangan di paksa".
Chika, Lia dan Dewa mengalihkan pandangan mereka kearah pemilik suara.
Tampak Bagas berdiri tidak jauh dari posisi mereka bertiga. Kedua telapak tangan nya di masukkan kedalam saku celana panjangnya. Tatapan mata tajam nya menatap lekat kepada Dewa, hingga Dewa beranjak beberapa langkah menjauh dari Chika.
"Ini sudah mau Maghrib. Bukan nya tadi Kamu bilang langsung pulang ke rumah. Ada Oma kamu yang sudah nunggu Kamu pulang?". Tanya Bagas sambil menjinjing tas ransel Chika sehingga menarik tubuh gadis mungil itu untuk berdiri di samping nya.
"Astaghfirullah Pak, Aku tuh udah kaya anak kucing nyebur got tau, mau tarik ujung tas kaya gini".Umpat Chika kesal dalam hati.
"Ini udah mau pulang Pak. Cuma karena Lia mau pergi ke tempat Dewa, jadi saya mau pulang naik ojol". Ucap Chika menunjukkan HP nya yang sudah terbuka aplikasi salah satu ojol.
"Biar Lo bareng Gue aja. Sori Wa Gue nggak jadi pergi ke tempat Lo". Ucap Lia lalu berdiri di sisi kiri Bagas hingga Bagas pun menaikkan sebelah alis nya.
Lia memasang senyum manis kearah Bagas, namun di balas tatapan dingin Dosen Ganteng tersebut. Dan akhirnya senyum Lia itu pun perlahan-lahan luntur tergantikan dengan wajah nya yang tertunduk malu.
Chika mengulum senyum melihat Lia yang langsung mati kutu di hadapan Bagas.
Pletak...
"Ish Bapak... Inilah sentilan udah 3x lho Pak. Udah kaya minum obat tau". Protes Chika yang lagi-lagi di hadiahi Bagas sentilan di kening.
"Pulang". Ucap Bagas meninggi.
"Iya Bapak, ini juga mau pulang". Ucap Chika tegas.
"Jangan ngayap, keluyuran". Ucap Bagas lagi.
"Iya Bapak, nggak bakal ngayap juga keluyuran". Lagi lagi Chika membalas ucapan Bagas.
"Ish Pak Bagas ini udah kaya nyuruh pacar nya pulang". Ucap Lia usil disertai tawa kecil sok manis nya di depan Bagas, membuat Chika memutar malas kedua bola mata nya.
Plak
"Aduh sakit Chika". Pekik Lia saat mendapat pukulan kencang di bahu nya.
"Lo tuh kalau ngomong yang bener, ntar malah jadi fitnah". Protes Chika.
"Yah malah jadi ribut". Bagas pun menarik ujung tas ransel Chika dan menarik tubuh gadis mungil itu kearah mobil nya yang terparkir tidak jauh dari tempat parkiran motor Lia.
"Aduh, Pak Bagas. Apaan sih ini tas saya di lepas atuh". Protes Chika berusaha memukul lengan Bagas yang sedang menjinjing ujung tas ranselnya. Namun malang hentakan pukulan yang Chika tujukan kepada Bagas hanya menjadi angin saja.
__ADS_1
"Ya ampun Pak. Kalau Pak Bagas bawa saya kaya gini, Saya jadi ngerasa kaya anak kucing kecebur got tau Pak". Protes Chika yang masih tak di gubris Bagas.
Dosen Ganteng itu justru memencet tombol remot mobil nya untuk membuka pintu mobil penumpang di sebelah kiri, dan langsung mendudukkan Chika di kursi penumpang.
"Jangan protes". Ucap Bagas saat Chika baru saja duduk dan akan mengeluarkan suara. Bagas segera menutup pintu kursi penumpang dan menekan tombol mengunci otomatis.
Chika pun membatalkan ucapannya. Gadis mungil itu lebih memilih diam dan mengerucutkan bibir nya sambil mata nya melihat Bagas yang memutari mobil nya untuk masuk ke kursi pengemudi.
"Saya bisa pulang sendiri lho Pak". Ucap Chika saat Bagas masuk dan duduk di balik kemudi.
"Diam. Pasang seatbelt nya dengan benar. Kalau nggak benar, kita nggak bakal pulang". Balas Bagas yang mulai Menstatrer mobil nya.
Klik
Terdengar bunyi seatbelt terpasang. Bagas pun mulai melajukan mobil nya meninggalkan parkiran kampus juga Lia dan Dewa yang menatap kepergian mobil Bagas yang membawa Chika.
Bagas memacu kendaraan nya di dalam keheningan. Semenjak mobil melaju, kedua insan beda jenis itu hanya saling diam, namun sesekali Chika melirik Bagas melalui ekor mata nya dengan berpura-pura membenarkan letak posisi kacamata nya.
Bagas memainkan jemari nya diatas kemudian, sementara Chika lebih memilih memperhatikan lampu lalu lintas dari balik jendela mobil.
"Kamu lapar?". Tanya Bagas. Chika mengalihkan pandangannya kearah Bagas, yang mata nya masih menatap jalan
"Kalau bukan Kamu, siapa lagi?". Balas Bagas.
"Ya mana saya tau. Orang mata Bapak liat nya kedepan. Saya pikir Bapak nanya sama kaca spion". Ucap Chika asal.
"Kalau spion bisa makan sudah saya ajak makan dia dari tadi". Ucap Bagas lebih asal.
"Ish Bapak nyebelin". Gerutu Chika pelan namun masih terdengar oleh Bagas.
Bagas mengukir senyum tipis mendengar gerutuan Chika.
"Kok Bapak tau arah rumah Oma saya?". Tanya Chika saat Bagas memasukkan laju kendaraan nya memasuki kavling perumahan Oma Shinta.
"Hem ...". Bagas hanya berdeham membalas ucapan Chika.
Chika semakin terheran saat tiba di pintu pagar rumah Oma, Bagas hanya mengklakson mobil nya dua kali dan otomatis pintu gerbang terbuka, padahal biasanya Dia harus turun dulu dari kendaraan untuk memencet bel kalau tidak ada Pak Ujang sang penjaga pintu gerbang yang membukakan pintu gerbang.
"Kok Bapak bisa masuk?". Tanya Chika bingung, namun lagi lagi hanya di diami oleh Bagas.
Chika pun berdecak dengan pelan saat Bagas hanya menanggapinya dengan dehaman saja.
__ADS_1
Bagas pun segera memarkirkan mobil nya di belakang mobil putih milik Oma Sinta, dan tanpa basa basi Pria dewasa itu pun keluar dari dalam mobil nya dan meninggalkan Chika yang masih terbengong kebingungan saat Dosen ganteng nya itu melangkah dengan santai memasuki teras rumah Oma Shinta.
Tak ingin semakin di selimuti kebingungan, Chika pun segera keluar dari mobil Bagas, dan berjalan mengekor di belakang Bagas.
"Bapak mau ngapain kerumah Oma Shinta?". Chika menarik lengan kemeja Bagas, hingga Bagas pun tertarik pelan kebelakang dan menghentikan langkah nya.
Chika pun berdiri di hadapan Bagas sambil berkecak pinggang.
"Jakarta tuh sempit, nggak usah pakai kecak pinggang". Bagas pun menarik tangan Chika, sehingga kecakan pinggang Chika pun terlepas.
"Saya tanya, ngapain Bapak main ngeloyor masuk ke rumah orang lain tanpa permisi?". Tanya Chika. Bagas tersenyum tipis kepada Chika.
"Menurut Kaku ngapain Saya turun dari mobil?". Balik tanya Bagas. Chika mengangkat kedua bahu nya tanda tidak mengerti.
Bagas pun mengangkat telapak tangan nya, Chika pun refleks menutup kening nya karena takut sentilan Bagas akan hinggap di kening nya. Lama-lama di tukar gelas cantik tuh kening nya Chika kalau sampai 4 kali di sentil oleh Bagas.
"Ngapain di tutup kening nya?". Tanya Bagas.
"Mengamankan aset kalau nanti di sentil Bapak". Jawab Chika kesal. Bagas pun melihat Chika dengan tatapan heran.
"Lah itu Bapak angkat tangan Bapak. Pasti Bapak mau sentil saya lagi kan?. Iya kan?. Pasti kan? Benerkan?". Cerocos Chika, hingga membuat Bagas gemas dan menarik ujung hidung minimalis Chika hingga ujung hidung itu pun memerah.
"Astaghfirullah Pak, sakit tau". Ucap Chika memukul kencang telapak tangan Bagas yang masih bertengger manis di ujung hidung Chika hingga membuat Bagas meringis kesakitan.
"Bawel. Berisik tau". Ucap Bagas lalu mengetuk pintu rumah Oma Shinta.
Tok... Tok... Tok...
"Nggak usah ketuk pintu Pak". Chika pun segera membuka pintu rumah Oma.
"Assalamu'alaikum Oma... Chika pulang". Sapa Chika saat melihat Oma hendak berjalan menuju pintu yang sudah di buka Chika.
"Waalaikumsalam... MasyaAllah". Sahut Oma terkejut.
#######
HAI HAI HAI....
JANGAN LUPA DI LIKE, KOMEN JUGA VOTE YA...
########
__ADS_1