
"Mas Bagas". Pekik Reina saat melihat Bagas memasuki kelas. Chika yang berada di samping Reina langsung melayangkan pukulan di bahu kanan Reina, hingga gadis itu pun berteriak kaget.
Seisi kelas langsung melihat kearah Reina dengan tatapan penuh intimidasi.
"Astaghfirullah Chika. Sakit pea". Umpat Reina mengusapi
bahu nya yang terasa nyeri di pukul Chika.
"Ya elah biasa aja kale muka nya. Lo Lo pada kaya nggak pernah denger Gue teriak aja. Kalau Gue nangis tuh baru Lo Lo pada ngasih muka heran sama Gue". Ucap Reina seolah tanpa dosa kepada yang melihat nya heran.
"Rein, Kamu mau duduk di depan?". Tanya Bu Dosen dengan dingin, membuat Reina pun bergidik ngeri dan menolak seraya berucap, "No To The Way Bu, Rein masih pengen menjawab soal dengan aman, tenang dan sentosa".
"Rein nggak bakal bisa jawab pertanyaan Ibu, kalau di awasin sama Pak Bagas. Ish serem Bu". Derai tawa kini menghiasi ruang kelas saat mendengar jawaban Reina.
"Baik. Kuesioner dimulai sekarang, setengah jam lagi kalian kumpulkan".
Suasana kelas pun kembali hening. Para Mahasiswa dan Mahasiswi mulai berkutat dengan lembaran soal dan mulai memikirkan jawabannya.
Rasa nya setengah jam berjalan dengan amat sangat lambat. Soal yang susah dan malah ada beberapa soal yang keluar dari materi yang sudah Chika pelajari semalam membuat Chika harus memutar dan memeras otak nya untuk mengerjakan soal kuesioner hari ini.
Belum lagi Bagas yang sesekali berdeham saat melihat Lia terlihat kasak kusuk mengganggu Chika. Membuat konsentrasi Chika sedikit terpecah.
"Selesai". Ucap Bagas hingga membuat seisi kelas terkejut termasuk Bu Martha yang langsung mengerjapkan kedua mata nya.
Tampak nya ibu dosen paruh baya itu sempat memejamkan mata nya beberapa saat, kala mengawasi kuesioner pelajaran nya sendiri.
Gerutuan pun terdengar kala lembar jawaban sudah berpindah tangan dari para mahasiswa ke mahasiswa yang lain nya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Lo ada kelas lagi Ka?". Tanya Lia. Chika menggelengkan kepala nya seraya memasukkan peralatan tulis nya kedalam tas ranselnya.
"Ngumpul di cafe nya Dewa yuk". Chika menggelengkan kepala nya mendengar ajakan Lia.
"Sekali kali ikut kita ngumpul ke Ka". Rengek Lia dengan wajah memelas.
"Sori. Gue nggak bisa. Lo tau kan Gue paling nggak ninggalin Oma Shinta lama-lama". Chika pun meletakan tas ransel nya di belakang punggung nya.
__ADS_1
"Oma, apa Pak Bagas?". Tanya Reina sambil mengarahkan dagu kearah pintu kelas yang terbuka, dan tampak Bagas sudah berdiri sambil melipat kedua lengan nya di dada nya.
"Kedua nya. Gue duluan ya. Lo nggak mau kan kalau ngeliat singa ngamuk" Ujar Chika lalu berjalan meninggalkan keempat teman kampusnya.
"Alesan. Palingan juga Lo mau jalan sama Pak Bagas". Ucap Lia di susul tonjokan ke udara oleh Chika.
"Undangan nya jangan lupa Pak". Ucap Reina sambil berteriak yang di angguki oleh Bagas.
"Pak Bagas kaya nya seriusan mau nikah sama si Chika deh sis". Ucap Lia.
"Kaya nya. Beruntung banget ya Chika dapetin Pak Bagas. Udah cakep, ganteng, keren, tajir, Pokok nya Pak Bagas itu definisi cowok idaman". Khayal Riska.
"Jangan lupa Pak Bagas udah tua". Ucap Lia di susul gelak tawa yang lain nya.
"Bukan tua, tapi matang". Bela Echa yang seperti terdengar bergumam. Riska, Reina juga Lia melihat kearah Echa dengan heran.
"Chika tuh tuman sama omongan nya sendiri.Dia bilang, Dia nggak bakal suka sama pria matang. Tapi malah jadian sama Pak Bagas ". Ucap Echa sambil menyinggung kan senyum kecil seolah mengejek.
"Lo kenapa Ca?". Tanya Lia heran.
"Kenapa maksud Lo?". Jawab Echa sedikit meninggi.
"Kalau menurut Gue Chika tuh munafik. Giliran Pak Bagas yang ganteng dia terima, tapi waktu Pak Angga nembak dia, malah dia tolak". Ucap Echa.
"Jangan bilang kalau Lo juga naksir Pak Bagas". Sergah Lia, hingga membuat Echa terkejut, namun segera menutupi kegugupan nya dengan tersenyum miring.
"Bohong kalau kalian juga nggak naksir Pak Bagas". Lia, Reina dan Riska membulatkan mata nya tak percaya akan ucapan Echa.
"Nggak usah muna dengan berpura-pura ngasih do'a buat Chika, kalau di dalam hati kalian sendiri bilang kalau Chika emang nggak layak buat Pak Bagas". Lia menggebrak meja dengan kesal mendengar ucapan Echa.
"Yang nama nya jodoh kita nggak ada yang tau Ca. Oke, anggaplah Chika tuman sama omongan nya sendiri. Tapi Lo liat sendiri kan perlakuan Pak Bagas ke Chika. Keliatan banget kalau emang Pak Bagas tulus sama Chika, walaupun bisa Gue liat kalau Chika masih belum membuka diri buat Pak Bagas ". Rentetan ucapan Riska tak jua membuat pikiran Echa terbuka.
Bahkan gadis yang biasa nya pendiam itu menggebrak meja dengan keras, hingga membuat ketiga teman nya membulatkan mata mereka tidak percaya.
"Cih. Kalian memang sama dengan Chika sama-sama munafik". Echa pun beranjak dari duduk nya.
Namun gerakannya tertahan karena Reina menarik tubuh Echa hingga gadis itu terduduk kembali.
__ADS_1
"Maksud Lo?". Tanya Reina yang di balas Echa dengan menyunggingkan senyum sinis nya.
"Lo pasti berpikir apa sih yang di lihat Pak Bagas dari Chika kan?. Gue aja yang cewe ogah banget kalau harus milih Chika". Ucapan Echa membuat Lia nyaris menampar wajah Echa, kalau Riska tidak menahannya.
"Bahkan Dewa juga di tolak sama Chika. Cih berasa jadi primadona tuh si Chika setelah berhasil ngegaet Pak Bagas". Ucap Echa santai sambil tersenyum sinis mengingat banyak nya mahasiswa yang menyukai Chika. Padahal kalau dilihat memang tidak ada yang menarik pada penampilan Chika.
Chika yang selalu mengenakan hijab, berkaca mata, serta berwajah polos tanpa make up. Bahkan gadis itu hanya mengenal lip balm dan sunscreen yang selalu kakak nya kirimkan dari Negeri Paman Sam.
Namun hal itu tidak mengurangi kecantikan yang mungkin hanya bisa terlihat lewat mata yang bisa melihat betapa tulus nya seorang Arsyka Cahaya Gumilang.
"Jadi Lo ngerasa Lo lebih baik dari Chika?". Tanya Reina dengan nada mencibir Echa.
Echa hanya membalas nya dengan diam. Namun terlihat jawaban mengiyakan dari raut wajah nya. Dan hal tertangkap oleh pandangan mata Reina, hingga senyuman sinis pun di hadiahkan Reina kepada gadis yang selalu menumpang bonceng saat pulang dari kampus.
"Lo tau apa yang bikin para cowok suka sama Chika, yang menurut Lo dan para cewe sok kece lain nya itu nggak secantik kalian?". Tanya Reina dengan senyum sinis yang tak pernah luntur menatap Echa.
"Hati" Jawab Reina, Riska dan Lia bersamaan, hingga ketiga gadis itu pun tertawa kecil mendengar ucapan yang terucap bersamaan tersebut.
Chika punya hati yang tulus terkesan polos, sehingga dia mau berteman sama Lo yang bermuka dua kaya gini". Ucap Reina tersenyum sinis kepada Echa, hingga membuat Echa menundukkan kepala nya.
" Lia ". Panggil Riska
"Kaya nya Lo harus kasih tau nih orang apa yang udah Chika lakuin buat dia, sehingga dia sampai detik ini masih bisa belajar di kampus ini". Ujar Riska melihat Echa dengan tatapan yang sama dengan yang Reina berikan.
"Biar mata, pikiran juga hati nya kebuka buat bisa ngeliat apa yang Chika punya tapi dia nggak punya". Ujar Reina melanjutkan ucapan Riska.
"Biar dia yang cari tau sendiri. Biar dia tambah malu sista". Ujar Lia membuat Echa membulatkan mata tidak percaya.
"Lo mau tau apa yang Chika udah lakuin biar Lo bisa tetep kuliah di sini Ca?". Tanya Lia tersenyum sinis.
###########################################
KIRA-KIRA APA YANG DI SEMBUNYIKAN OLEH LIA, REINA JUGA RISKA YA SISTA???
PENASARAN KAN 😊😊😊
JANGAN LUPA DI LIKE, KOMEN JIKALAU BERKENAN VOTE JUGA HADIAH NYA YA BIAR MAKNYAK MAKIN SEMANGAT NGELAJUTIN CERITA NYA ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1
############################################