Oh My Dosen ( Remake )

Oh My Dosen ( Remake )
Bab 94. Rafasya Ananda Bagaskara


__ADS_3

"Jangan pegang-pegang!"


Ucap Bagas tegas, saat melihat beberapa mahasiswa atau mahasiswi yang gemas melihat Rafa dan hendak menyentuh bayi yang tengah tersenyum ramah kepada yang menyapa nya.


Arsy menghela nafas mendengar ucapan protektif yang di ucapan Bagas.


Ya Bagas amat sangat over protektif terhadap Rafa. Pria itu tidak mengizinkan sembarang orang untuk bisa menyentuh ataupun menggendoy bayi yang sangat menggemaskan itu.


Perpaduan wajah tegas Bagas dan sikap ramah Arsy membuat bayi itu banyak menarik perhatian orang sekitar yang melihat nya.


Beberapa orang mahasiswa juga mahasiswi yang mendapatkan protes Bagas itu pun tampak kecewa dengan ucapan Bagas.


Dan pada akhir nya Arsy pun mengeluarkan alasan mengapa Bagas bersikap protektif terhadap Rafa.


"Maaf ya, Rafa nya nggak boleh di pegang dulu sebelum Om dan Tante cuci tangan ya. Soal nya Rafa masih baby, jadi masih rentan sama kuman, bakteri juga penyakit. Jadi nanti kalau Om dan Tante sudah cuci tangan baru boleh pegang Rafa. Itu juga kalau Ayah nya Rafa izinin pegang Rafa". Ucapan Arsy membuat yang kecewa itu pun tersenyum dan paham mengapa Bagas melarang nya menyentuh Rafa.


Apalagi saat mereka mengingat kejadian 8 bulan yang lalu. Di kelas yang sama dengan pengajar yang sama, tiba tiba kelas di kejutkan oleh Arsy yang tiba tiba mengalami kontraksi.


Flash Back


Arsy tampak berjalan bolak balik di dalam kamar nya. Sejak selesai sholat shubuh tadi, dan bayi semakin tak bisa diam.


Terhitung sudah setengah jam sekali dia mengalami kontraksi. Bayi yang berjenis kelamin laki laki itu, tampak nya sudah tidak sabar ingin menghirup udara luar.


Namun perkiraan kelahiran nya masih seminggu lagi. Walau pun bisa saja bayi nya bisa lahir sebelum waktu nya.


"Sabar ya sayang hari ini Bunda ada test. Kalau nggak ikut Bunda harus ngulang sendirian". Ucap Arsy mengusap perut jua dan seketika itu juga sang bayi pun tenang.


"Kenapa sayang?". Bagas yang baru keluar dari kamar mandi menegur Arsy yang sedang mengusap perut nya.


"Nggak apa apa Mas. Ayo buruan, jangan mentang mentang dosen, kamu jadi datang nya telat". Protes Arsy saat melihat Bagas terlihat santai mengenakan kemeja maroon nya.


"Iya sayang. Nggak sabar benget sih mau ketemu sama dosen ganteng nya". Arsy mencembik kan bibir nya mendengar ucapan narsis Bagas.


"Bibir tolong di kondisi ya Bun, bisa bikin khilaf tuh". Arsy memukul lengan Bagas dengan kencang, saat Bagas menggoda nya.


🌷


🌷


🌷


"Kenapa Lo?". Tanya Riska saat melihat Arsy mengeluarkan keringat dingin di sela sela mengerjakan ujian.


"Mules Ris". Jawab Arsy merintih.


"Mau bo**r". Arsy menoyor kening Riska dengan kesal, hingga Riska berdecih kesal.

__ADS_1


Kakak sepupu nya itu memang paling suka menoyor kening nya setiap dia merasa kesal dengan Riska.


Byur


"Aduh...".


Riska spontan langsung berdiri saat dari bagian bawah tubuh Arsy menumpahkan cairan bening.


"Chika... Pak Bagas ... Chika mau beranak".


Bagas menghentikan kegiatan nya, Pria itu berlari secepatnya menuju tempat Arsy.


"Kelas bubar". Ucap Bagas lantang dan hal itu membuat para mahasiswa dan mahasiswi pun segera bergerak merapikan perlengkapan juga alat tulis mereka sebelum keluar kelas.


Arsy menggelengkan kepala nya saat Bagas akan membopong nya.


"Sayang...". Arsy tersenyum kecil.


"Udah nggak tahan lagi Mas, udah pengen ngeden". Ucapan lirih Arsy membuat Bagas semakin panik.


Bagaimana bisa sang jagoan yang seharus nya lauching minggu depan, tapi minta sekarang launching nya.


Bahkan bayi nya ini tidak tahu tempat untuk launching nya.


"Iya tapi nggak di sini juga sayang". Ucap Bagas.


Wanita paruh baya itu menggelar sebuah kain putih di atas tubuh Arsy, sebelum memasukkan tangan nya untuk memeriksa jalan lahir.


"Pembukaan nya sudah sempurna". Bagas semakin lemas saat mendengar ucapan sang wanita paruh baya tersebut, setelah melihat dengan seksama di area bawah Arsy.


Tiba tiba saja sebuah bangkar dan beberapa dekat ruangan sudah menutupi Arsy, Bagas dan juga wanita paruh baya tersebut.


Seorang wanita muda tampak membersihan area di dalam selatan dengan menyemprotkan cairan pensetril ruangan, dan mempersiapkan alat alat untuk proses melahirkan.


"Pak Bagas tolong angkat tubuh Arsyka ke atas bangkar".


Tanpa menunggu waktu lagi Bagas pun mengangkat tubuh Arsy ke atas bangkar.


"Arsyka miring ke kiri sedikit, ingat mengejan kalau Bu Wita suruh, jangan mengejan kalau belum Ibu suruh". Arsy menganggukan kepala nya pelan.


"Tarik nafas, buang". Bisik Bagas namun hal itu justru membuat Arsy kesal.


"Bukan nya bacain do'a malah suruh tarik nafas". Ucap Arsy kesal.


Bu Wita dan asisten nya hanya tersenyum saat melihat dosen muda yang terkenal tampan namun dingin itu hanya pasrah dengan kelakuan istri nya.


"Ayo Arsy mengejan".

__ADS_1


"Eungh...."


Bu Wita tersenyum lalu mengangguk kepada Arsy dan kemudian Arsy pun kembali mengejan.


Oek... Oek... Oek...


"Alhamdulillah". Gumam Bagas, Arsy, Bu WIta juga asisten Bu Wita bersamaan.


"Selamat ya Baby Boy wajah nya mirip Ayah nya".


Bu Wita segera memberikan baby Arsy kepada Asisten nya. Dengan sigap Asisten Bu Wita membersihkan Bayi Arsy dan kemudian membungkus nya dengan selimut.


"Asal jangan sikap nya kaya Ayah nya Bu". Ujar Arsy membalas ucapan Bu Wita.


Bagas pun memasang wajah cemberut menanggapi ucapan Arsy, hingga Bu Wita pun tersenyum.


"Justru bagus dong kalau suami Kamu itu dingin juga jutek sama orang lain". Ucapan Bu Wita membuat Bagas tersenyum dan Arsy mengangguk pelan.


"Iya juga sih Bu, jadi nggak ada wanita lain yang berani deketin". Bu Wita dan Asisten nya tertawa mendengar penuturan Arsy.


"Selamat ya Arsyka". Asisten Bu Wita menyerahkan baby Arsy dan Bahas kepada Bagas.


"Terima Kasih Bu Rina".


"Di azan kan dulu ya Pak".


"Kalau begitu, sebentar Bu, Saya mau berwudhu dulu". Bagas pun menyerahkan Baby nya kepada Arsy. Dan kemudian bergegas keluar dari ruang kelas.


Arsy menerima Baby Boy nya dengan hati hati, dan meletakkan nya di atas dada nya, sementara sang Baby boy mulai mencari cari sumber kehidupan baru nya di dunia.


Setelah berwudhu Bagas pun kembali ke ruang kelas dan mengazankan putra pertama nya.


"Kita ke Rumah Sakit sekarang Bu?". Tanya Bagas, Bu Wita setelah selesai membisikkan azan dan iqamah di telinga kanan dan kiri putra nya.


"Kita ke ruang kesehatan saja Pak. Tidak ada yang berbahaya pada Arsyka juga Baby nya. Jadi nggak perlu ke Rumah Sakit lagi". Bagas hanya bisa pasrah dengan keputusan Bu Wita.


"Bapak tenang saja, fasilitas kesehatan di ruang kesehatan sudah di sesuai kan dengan standar Klinik Fasilitas Kesehatan Pertama BPJS, jadi Insya Allah, sudah sama dengan fasilitas melahirkan di Bidan". Ujar Bu Wita memberikan penjelasan.


"Iya Mas, Aku kan pernah ke ruang kesehatan. Udah enak. Jadi nggak usah ke Rumah Sakit lagi". Ucap Arsy membenarkan ucapan Bu Wita.


"Iya. Cinta banget sih sama Kampus sampai melahirkan saja di Kampus". Ucap Bagas lalu mengecup kening Arsy dengan lembut.


"Pasti nya dong. Apalagi sama dosen nya yang satu ini". Ucapan Arsy membuat wajah Bagas menjadi merah dan hal itu membuat Bu Wita dan Bu Rani mengulum senyuman mereka.


"Oh My Dosen". Bisik Arsy saat Bagas kembali mengecup kening nya.


Like juga komen nya jangan lupa ya.

__ADS_1


See You next bab


__ADS_2