Oh My Dosen ( Remake )

Oh My Dosen ( Remake )
Bab 65. Rajukan Bumil


__ADS_3

Bagas hanya terdiam tak menjawab pertanyaan Arsy, hingga membuat jiwa usil Arsy pun meronta ingin mengerjai sang suami yang sedang merajuk.


Masih dalam posisi duduk di atas pangkuan Bagas. Arsy terlihat mengotak atik layar HP nya. Senyum kecil Arsy tampak terlihat oleh Bagas, pada saat wanita nya itu akan meletakkan HP nya di telinga kanan nya.


"Hallo Assalamu'alaikum Dewa..."


Bagas menaikkan sebelah alis nya saat mendengar Arsy menyapa lewat panggilan telepon.


"Lagi dimana?". Bagas memicingkan mata nya. Arsy masih tampak santai duduk di pangkuan Bagas, sambil berbincang dengan Dewa.


"Ya udah, nanti Aku mampir ke cafe Kamu ya". Bagas semakin meradang saat melihat wajah Arsy tampak merah merona saat berbincang dengan Dewa di telepon.


"Nggak, orang Dia yang suruh buat minta makan sama Kamu. Ya udah maka nya Aku mau minta makan sama Kamu aja. Bolehkan ?".


"Iya. Aku...".


Arsy tersenyum tipis saat Bagas langsung mengambil HP nya sebelum dia melanjutkan ucapan nya.


"Mau makan aja harus ada drama dulu". Gumam Arsy lalu beranjak dari pangkuan Bagas.


Dengan berpura pura kesal wanita itu berjalan meninggalkan Bagas dan lebih memilih keluar ruangan.


Bagas pun membuka layar HP Arsy dan mencari nomor yang terakhir di telepon nya. Mata nya membulat kala melihat nama nya lah yang memenuhi daftar panggilan Arsy.


"Arsy tuh nggak bakal mungkin hubungin Dewa. Dia cuma mau ngetes Bapak aja. Gitu aja nggak peka". Lia yang kesal dengan Bagas itu pun langsung menarik lengan suami nya untuk keluar dari ruangan guna menyusul Arsy.


"Segitu bucin nya". Ardi menggelengkan kepalanya melihat Bagas yang masih saja diam.


"Bini Lo laper. Susul sono, jangan sampe beneran Dia minta makan sama Si Dewa". Ujar Ardi kesal.


Bagas yang baru tersadar itu pun langsung berlari keluar ruangan. Ardi dan Riska hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan Bagas.


🌷


🌷


Arsy terus menyantap makanan yang berada di hadapan nya. Dia seolah tak perduli dengan keberadaan Bagas yang sudah ada di samping nya.


Sementara Lia dan Juwono sudah undur diri untuk pergi ke kampus lebih dahulu. Riska dan Ardi masih terus memantau penyelidikan para orang tua Riska.


"Sayang".


"Hem".

__ADS_1


Sudah kesekian kali Arsy hanya menjawab panggilan Bahas dengan menggumam saja.


"Habis ini langsung ke kampus kan?".


"Hem".


Lagi lagi Bagas menghela nafas nya mendengar jawaban Arsy.


"Kamu marah sama Mas?". Arsy mengangguk pelan lalu menyesap es teh manis untuk menutup acara makan siang nya.


"Mau kemana?". Cegah Bagas saat Arsy hendak beranjak dari duduk nya.


Namun wanita itu hanya diam lalu menghempaskan pelan tangan Bagas dari nya.


Dengan santai wanita itu berjalan meninggalkan sang suami yang menatap kepergian nya.


"Sial". Umpat Bagas yang bergegas menyusul Arsy.


🌷


🌷


"Maafin Mas ya. Mas cemburu kalau Kamu muji muji lelaki lain apalagi di depan Mas".


Bagas merasa resah karena sejak keluar dari ruangan Putra, hingga makan siang juga saat mengantarkan Arsy ke kampus, istri kecil nya itu tetap merajuk dan selalu diam.


Kalau pun di tanya yang di jawab hanya dehaman, gelengan atau hanya anggukan kepala saja.


Berkali-kali kata maaf terucap dari bibir Bagas, namun entah mengapa ibu hamil ini susah sekali memaafkan nya.


"Please Mas nggak bisa tahan kalau Kamu ngambek lama kaya gini Sayang". Bagas yang frustasi itu pun mengacak-acak surai nya hingga tatanan rambut nya pun berantakan.


"Damn". Gumaman hati Arsy yang meratapi kebodohan nya yang terpesona dengan sang suami yang berpenampilan berantakan seperti itu.


"Ya Allah, kenapa berantakan gini jadi tambah ganteng ya". Bisik hati Arsy yang mengagumi pesona sang suami dengan keadaan rambut acak-acakan layak nya sedang bangun tidur.


Dia pun tak habis pikir dengan hormon kehamilan nya yang lebih meningkat saat melihat sang suami berantakan. Libi** nya seakan langsung melonjak mana kala setiap bangun pagi melihat keadaan sang suami yang baru bangun tidur.


Bahkan tak jarang, tanpa malu wanita yang tengah hamil muda itu selalu menyosor sang suami dan bahkan tak jarang kegiatan olah raga bi**** itu pun terjadi setiap mereka baru membuka mata.


Hal itu lah yang membuat Bagas dan Arsy bangun lebih pagi sebelum adzan shubuh hanya untuk menyalurkan ha*** Arsy yang setiap hari semakin meningkat.


Arsy mengeram pelan, saat sang suami yang kini mulai membuka kencing atas kemeja nya untuk meredakan sesak yang mendera karena kata maaf tak kunjung terucap dari bi*** mungil sang istri.

__ADS_1


Bagas mengeram frustasi sementara Arsy mengeram menahan has*** nya.


"Stop". Bagas menghentikan gerakan yang akan membuka kancing kemeja nya satu lagi.


Wajah Arsy tampak merah merona seraya hati nya bergumam kepada sang bayi yang masih berbentuk janin, manakala selalu saja terpesona kala sang Ibu yang tengah mengandung nya itu terpesona dengan sang Ayah yang berpenampilan acak-acak an.


"Ya Tuhan. Kalau kaya gini gimana bisa marah lama-lama coba". Lagi lagi ratapan hati nya berkata meratapi kelemahan nya.


"Jangan di buka lagi kancing nya. Aku nggak bisa tahan kalau Mas acak acakan kaya gini". Ucap Arsy dengan nada lirih yang sensual.


Bagas mengernyitkan kening nya mana kala mendengar suara serta wajah sang istri yang menahan has*** nya.


"Ya Allah. Pahala Aku kaya nya bakal banyak banget ya, gara-gara selalu minta duluan sama suami". Kembali hati Arsy yang berbicara.


Tanpa babibu Arsy langsung menerjang sang suami yang kini terkejut mendapatkan serangan dadakan sang istri yang sedang sibuk melu**** bi*** nya.


Seolah paham dengan keinginan sang istri Bagas pun membalas serangan Arsy dengan lembut.


"Jangan di acak acak lagi". Ucap Arsy setelah mengakhiri aksi panas nya dengan sang suami.


"Kenapa?". Tanya Bagas dengan suara serak nya.


"Aku nggak tahan kalau liat Kamu berantakannkaya gini, Mas". Jawab Arsy dengan suara seksi nya.


"Kalau gitu, Mas akan selalu berantakan kalau di depan Kamu". Bisik Bagas yang langsung menyambar bi*** mungil sang istri sambil sesekali tangan nya yang sudah menyusup di balik tunik yang Arsy kenakan.


Arsy mendesah mana kala tangan Bagas yang menyusup itu sudah mulai beraksi menjelahi bukit kembar milik Arsy yang masih berbalut kain berenda berwarna merah.


"Kamu semakin sek** Sayang". Bisik Bagas meremas gemas kedua bukit kembar yang sudah menjadi hak milik nya termasuk perkebunan yang berada di luar rumah si Eneng.


Beruntung suasana parkiran dosen saat ini sedang sepi, dan kaca mobil Bagas pun tidak tembus pandang dari luar, sehingga perbuatan mereka tidak ada yang mengetahui nya.


******* Arsy membuat Bagas semakin bersemangat untuk menjelajahi sang istri.


Namun kala Bagas hendak membuka hijab pashmina biru yang Arsy kenakan. Tangan Arsy mencegah nya.


"Stop...".


################


TBC


JANGAN LUPA LIKE JUGA KOMEN NYA YA

__ADS_1


SEE YOU NEXT BAB


__ADS_2