Oh My Dosen ( Remake )

Oh My Dosen ( Remake )
Bab 62. Rencana Untuk Amanda


__ADS_3

Sebuah senyuman terukir di balik wajah tampan nya yang berhiaskan kacamata kala melihat hasil dari flash disk yang Riska berikan tadi.


"Nice job sweetie". Puji Akhtar sambil mengedipkan mata kanan nya kepada Riska.


Deg


Mendapat senyuman Akhtar membuat detak jantung Riska berderu dengan kencang.


Pletak


"Au, sakit Om". Pekik kecil Akhtar, ketika Ardi mendaratkan jentikan jari nya di kening Akhtar dengan kencang.


"Fokus, bukan tebar pesona. Sweetie, siapa yang Kamu panggil Sweetie". Ucap Ardi kesal.


"Ya elah Om. Gitu aja ribet amat sih". Protes Akhtar yang kembali fokus kepada layar laptop nya.


Ruangan itu pun sunyi yang terdengar hanya ketikan jemari Akhtar pada tuts laptop nya.


Ardi tampak sesekali malas chat di layar HP nya. Sementara Riska tampak dengan seksama memperhatikanmu gerakan jemari Akhtar yang bergerak dengan cepat.


"Apa bukti ini valid?". Tanya Akhtar yang seketika mengangkat kepala nya seraya melihat kearah Riska yang sedang melihat kepada nya.


Akhtar tersenyum manakala pandangan dan Riska bertemu dalam satu titik yang di balas dengan wajah canggung Riska, yang ternyata terpergok oleh Akhtar.


Akhtar pun memutus pandangan dengan Riska dan kemudian menyodorkan layar laptop kearah Ardi.


Kedua bola mata Ardi membulat dengan sempurna. Dan semakin membulat kala Riska menganggukan kepala nya sesaat setelah Ardi menyodorkan laptop kearah Riska.


"Kita harus mendapatkan bukti yang lain lagi dari Bu Amanda. Seperti nya wanita ini mudah untuk di dekati". Oceh Akhtar.


"Ya sudah Kamu saja yang dekati Dia". Titah Ardi.


"Aku Om?". Tanya Akhtar sambil menunjuk diri nya dengan telunjuk tangan kanan nya.


"Ya Kamu lah. Mau siapa lagi, Ya masa Om". Ucap Ardi sewot.


Akhtar berdecak pelan dengan mata nya yang masih menatap lekat layar laptop nya.


"Nggak pakai kontak fisik ya Om". Pinta Akhtar.


"Memang kenapa?". Tanya Ardi usil.

__ADS_1


Pria itu paham sekali kalau Akhtar paling anti untuk melakukan kontak fisik dengan wanita yang menjadi target penyelidikan mereka. Karena itulah dia selalu menolak tawaran Ardi apabila di haruskan menyamar dan melakukan pendekatan apabila target pengamatan mereka adalah seorang wanita.


"Ya kalau nggak ada kontak fisik, gimana mau dapat bukti yang konkrit, bocah". Ucap Ardi lalu menepuk punggung Akhtar hingga pemuda itu mengaduh.


"Ogah kalau gitu. Dosa Om bukan Mahram". Ardi mengumam pelan menirukan ucapan Akhtar.


"Kamu bisa menyamar sebagai petugas pengawas CCTV, Saya akan membantu Kamu untuk mendekatkan kepada Mama Saya tanpa kontak fisik". Tawar Riska.


"Mama?". Ardi mengangguk menjawab ucapan Akhtar sambil mengarahkan dagu nya ke layar laptop.


"Kamu anak nya Bu Amanda?". Akhtar yang terkejut pun melihat kearah Riska. Yang dibalas anggukan Riska.


"Wah, bukan nya usia Bu Amanda dan Om Ardi juga Pak Bagas sebaya ya?. Kok bisa ya Bu Amanda sudah mempunyai seorang putri, sementara Pak Bagas baru saja menikah dengan gadis yang seusia dengan Putri Bu Amanda, Dan parah nya ...".


"Om belum mempunyai anak bahkan pendamping hidup. Itu kan maksud Kamu". Ardi melanjutkan ucapan Akhtar yang belum selesai dan kemudian menepuk punggung leher Akhtar dengan gemas.


"Dasar kemenakan kurang adab". Umpat Ardi kesal seraya meratapi kejombloan nya di usia matang.


"Jangan salahkan kejombloan yang selalu mengikuti kemana pun Om melangkah. Tapi salahkan paras Om yang di atas rata-rata". Riska mengulum senyum mendengar celotehan Akhtar yang tanpa filter dalam mengomentari paras Om nya.


"Kampret. Udah Kamu kerjain tuh urusan Amanda. Pokok nya Om nggak mau tau dalam sebulan ini, Kamu harus bisa mendapatkan bukti kejahatan mereka". Akhtar menghela nafas pasrah mendengar titah sang Om.


Lagi lagi Riska mengalihkan pandangan kikuk nya kala pandangan nya bersitatap dengan Akhtar.


"Riska". Jawab Riska dan Ardi bersamaan.


"Jangan kebanyakan tebar pesona. Dan hati-hati jangan sampai terpikat oleh target". Pesan Ardi.


Sebenarnya pria matang itu ingin mengingat Akhtar, bahwasanya Amanda adalah target yang sangat menggoda. Namun pria itu enggan mengungkapkan maksud nya karena keberadaan Riska yang adalah putri Amanda.


"Ck. Kalau masih ada yang sebaya, kenapa harus terpikat dengan yang nyaris setengah baya". Ujar Akhtar sambil mengerlingkan mata sebelah kanan nya kepada Riska. Riska menggelengkan kepala nya pelan, melihat tingkah Akhtar yang selalu terlihat tebar pesona kepada nya.


"Saya pamit dulu Om". Ucapan Riska mengejutkan Ardi yang sedang sibuk berbalas chat. Dan mengabaikan Akhtar yang tengah menatap nya dengan lekat.


"Nggak mau ikut makan siang, sekalian ketemuan dengan Arsy juga Bagas?". Tawar Ardi.


"Tidak untuk saat ini Om. Saya tidak ingin mata-mata Mereka yang selalu mengawasi Chika curiga dengan keberadaan Saya di sana nanti ". Tolak Riska yang di setujui oleh Ardi.


"Baiklah. Mulai saat ini Kamu harus lebih berhati-hati. Jangan sampai Mereka curiga dengan Kamu dan malah nanti akan membahayakan Kamu". Ucap Ardi khawatir. Riska tersenyum tipis menanggapi ucapan Ardi.


"Bagi Mereka saya seperti makhluk tak kasat mata Om. Ada nuj tidak terlihat. Dekat namun tidak di anggap". Ucap Riska tersenyum miris.

__ADS_1


Ardi tampak terkejut dengan ucapan Riska. Pandangan teralihkan kepada wajah Riska yang menyiratkan kesedihan.


Ardi menghampiri Riska lalu menepuk bahu Riska dengan lembut. Riska menundukkan sedikit kepala nya guna menghalau air mata yang ingin keluar dari pelupuk kedua mata nya.


"Kamu harus bersabar. Jangan pernah merasa tidak ada yang perduli terhadap Kamu". Hanya anggukan yang Riska berikan atas ucapan Ardi.


"Saya pamit Om". Ardi tampak terkejut kala Riska meraih telapak tangan kanan nya dan kemudian mencium punggung tangan Ardi dengan takzim.


"Maaf Om". Ucap Riska menyesal karena melihat reaksi Ardi yang terkejut.


"Eh iya. Nggak apa apa Saya hanya kaget aja. Soal nya keponakan Saya sendiri saja nggak pernah cium tanggan". Ucap Ardi melirik tajam kepada Akhtar yang sedang berpura-pura menggaruki belakang leher nya.


"Ya sudah, Kalau begitu Saya permisi dulu Om Ardi, Akhtar".


"Assalamu'alaikum". Pamit Riska


"Waalaikumsalam". Jawab Akhtar dan Ardi bersamaan.


Ardi menatap sedih kepergian Riska. Dia merasa iba dengan keadaan yang Riska alami. Entah sejak kapan gadis itu merasa sendiri di dalam ruang lingkup keluarga nya sendiri.


Ardi hanya dapat melihat kekecewaan di wajah Riska, manakala membahas tentang keluarga nya.


"Gadis yang malang". Gumam Ardi pelan.


"Jangan punya pikiran untuk mengambil jatah keponakan ya Om". Ardi mengangkat alis sebelah kanan nya mendengar ucapan Akhtar dengan nada sedikit mengancam.


"Riska lebih cocok jadi keponakan Om, bukan pendamping Om". Protes Akhtar di susul senyuman smirk Ardi.


"Kamu takut tersaingi oleh Om Kamu sendiri?". Akhtar memutar malas kedua bola mata nya sebelum akhirnya akan beranjak keluar dari ruangan Om.


"Balik dulu Om". Ucap Akhtar yang dengan malas malasan mencium punggung tangan kanan Ardi hingga membuat ke dua bola mata Ardi membulat.


"Nggak usah komen. Assalamu'alaikum". Ujar Akhtar sebelum Ardi mengucapkan sepatah kata.


"Waalaikumsalam". Balas Ardi seraya menatap kepergian Akhtar keluar dari ruang kerja nya.


##############


TBC


JANGAN LUPA LIKE JUGA KOMEN NYA YA

__ADS_1


SEE YOU NEXT BAB


__ADS_2