
...❄️...
...❄️...
...❄️...
...MENSION ELSTON...
Mia sedikit terkejut dengan penampakan yang ada di hadapannya saat ia tiba di kamar Elston. Entah pria itu sengaja ataukah benar-benar sedang kebingungan memilih busana yang akan ia kenakan malam ini.
Yang pasti semua baju sudah keluar dari tempat yang seharusnya. Begitu juga dengan tas dan sepatu. Mia benar-benar pusing melihat semua ketidakrapihan tersebut.
"Kenapa wajah mu begitu? Kau tidak lihat jika aku sedang sibuk? cepat bantu aku." ucap Elston sedikit kesal. Mia tidak tahu apa yang membuat pria di depannya kebingungan memilih busana yang akan ia kenakan nanti malam.
Memang nya pria ini akan bertemu siapa? Yang mulia raja? pikir Mia menggerutu dalam hati.
"Ah, baiklah Elston yang agung." Alih-alih membahas semua kekacauan di depan matanya, Mia memilih untuk bersikap bijak dengan segera melakukan tugasnya.
Elston pun terlihat senang dengan kegesitan Mia dalam bekerja. Gadis itu juga terbilang cukup cepat tanggap di usianya yang masih belasan.
"Apa tema pestanya? apakah ada busana khusus yang harus kau pakai?" Mia cukup sering menghadiri acara-acara penting bersama dengan keluarga klien nya sebelum ia bekerja dengan Elston. Jadi sedikit banyak Mia mengetahui busana seperti apa yang sesuai untuk beberapa pesta tertentu.
Lagi pula ia bukanlah gadis yang tidak mengerti mode. Meskipun bukan dari kelas atas, ataupun menengah, Mia cukup sering pergi ke pesta untuk mengurus para nona muda, anak-anak dari kliennya dulu.
"Aku ingin menunjukkan keindahan seorang dewi yunani. Bahkan aku ingin menunjukkan bahwa aku lebih indah di bandingkan dewi Afrodite." ucap Elston dengan tangan di dada. Entah kenapa Elston suka sekali membandingkan dirinya dengan seorang dewi kecantikan yang ada dalam kisah klasik para dewa.
"Bagaimana seorang pria ingin mengalahkan seorang Dewi." gerutu Mia saat menyeleksi beberapa busana yang akan Elston gunakan.
"Bagaimana jika kali ini anda mengalahkan keagungan sang Dewa saja,, alih-alih hanya mengalahkan keindahan seorang dewi. Kau mau?" Mia memberikan sebuah usulan sekaligus tantangan bagi Elston.
kata-kata Mia justru membuat Elston tersipu malu, "Cih. Aku memang suka rupa para dewa yang tampan dan gagah. Apalagi jika tubuh mereka penuh dengan otot dan juga.."
__ADS_1
"Stop." Mia menghentikan kata-kata Elston. Mia tidak ingin mendengar seorang pria menceritakan tubuh pria lainnya. Sungguh aneh untuk di dengar.
Mia menghela nafas, kemudian tersenyum. Tapi kini Elston sudah membulatkan matanya sambil berkacak pinggang. "Barusan kau membentak ku gadis kecil?" tuduh Elston tidak senang.
"Aku?" Mia menunjuk dirinya sendiri. "Tidak. Kau salah faham. Aku hanya memberi saran."
"Tapi ku yakin sekali bahwa kau baru saja membentak ku." Elston bersikeras. "Tidak. Kau salah dengar. Bagaimana aku berani membentak Elston yang agung. Tidak." Mia membela diri. Meskipun ia memang melakukan hal itu sebelumnya.
"Cih. Gadis nakal. Menyebalkan!"
Mia hanya tersenyum sumringah. Hampir saja ia keceplosan. Dasar aku!
...❄️❄️❄️...
Setelah satu jam tawar-menawar dengan Elston. Kini Mia dapat bernafas lega. Pasalnya Elston mau mendengarkan pendapat nya untuk mengenakan pakaian seorang pria.
Yah meskipun wajahnya masih di penuhi dengan makeup seperti yang biasa ia lakukan tapi setidaknya Elston sudah terlihat sedikit normal. Sebagai seorang pria.
"Wow. Kau terlihat..." Elston meneliti Mia secara seksama. "Tidak secantik diriku." lanjut Elston memberikan pujian setengah iri.
Mia sudah bisa menebak jika tuannya akan mengatakan hal seperti itu. "Bagaimana bisa aku yang seorang gadis biasa ini mengalahkan keagungan dirimu yang mulia." balas Mia menunduk dengan anggun.
"Cih. Dasar mulut berbisa." Elston mencubit gemas tangan Mia. Jujur saja, Elston sudah menyukai gadis kecil yang saat ini sudah menjadi teman bermainnya itu.
"Kau harus memberiku tips lebih untuk semua ini." gumam Mia mengibaskan gaunnya yang melewati mata kaki.
"Aku memberimu kesempatan sekali seumur hidup untuk mengenakan gaun kesukaan ku dan kau justru meminta tips?" Elston membulatkan matanya, heran.
"Aku lebih suka tips di bandingkan gaun mewah ini tuan yang agung." Mia melebarkan kedua tangannya dan tentu saja Elston merasa iri dengan kecantikan alami gadis itu.
...Wajahnya Mia membuat nya sedikit tak nyaman. ...
__ADS_1
...Dadanya berdebar tak karuan....
"Aih ..aih... kau benar-benar gadis berbisa." Elston berdecak gemas. Mata tajamnya seolah-olah ingin mengintimidasi Mia.
"Ayo. Aku tidak ingin datang terlambat. Aku tetap harus menjadi pusat perhatian. Meskipun memakai kostum aneh ini." Elston tetap berjalan anggun meskipun menggunakan pakaian seorang pria.
"Hei, tunggu aku Elston yang agung. Gaun ini sulit di ajak bekerja sama." Mia berusaha mengikuti langkah Elston yang cukup lebar.
"Makanya panjangkan sedikit kakimu."
"Pertumbuhan ku hanya segini."
"Aih. Kau memang gadis kecil."
"Dilarang menghina sesama tuan."
"Apa aku melakukan itu? aku hanya mengatakan yang sebenarnya."
"Ya. Ya. Terserah anda saja."
Mendengar kebisingan yang berasal dari tangga atas, Bones hanya bisa memperhatikan dari kamera pengawas.
Bones tersenyum kecil saat melihat bagaimana Keduanya berinteraksi. Setidaknya, rumah itu tidak sesunyi sebelumnya..
"Hari ini benar-benar menyenangkan seperti biasanya."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1