
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Sambil menghapus air matanya yang masih tak kunjung berhenti, Mia menangis dalam diam. Hatinya benar-benar sakit.
Pada akhirnya, ia harus kembali lagi untuk merasakan semua rasa sakit itu. Meskipun tidak sesakit dulu, tapi rasa sakit yang dirasakannya saat ini dibalut dengan rasa bersalah.
Karena bukan hanya dirinya yang merasakan itu, tapi Owen juga. Karena sekarang, justru Mia lah yang berperan untuk menggoreskan luka itu. Padahal ia tidak ingin melakukannya.
"Ku mohon sampai di sini saja Owen. Ku mohon." Mia terisak. Dengan tangan yang menutupi wajahnya. "Maafkan aku. Tapi aku tidak merasakan hal yang sama lagi. Perasaan itu sudah lama hilang." bohong!
"Aku sudah tidak merasakannya lagi." Bohong! "Aku sudah mencintai orang lain." Bohong! Kenapa semuanya harus sejauh ini? kenapa aku harus melakukannya? hati Mia semakin sakit. Semua itu karena rasa bersalah yang semakin menggerogoti hatinya.
Mungkin dulu ia memang terluka karena ketidakjujuran Owen. Tapi baginya itu sudah berlalu. Mia sudah memaafkannya.
Ia sadar betul, mungkin saat itu juga berat bagi Owen. Apalagi mengingat bagaimana status mereka, dan hubungan seumur jagung yang baru mereka jalani.
Mia sungguh tidak apa-apa. Bahkan ia mulai melupakan semuanya. Dan saat mereka bertemu kembali, Mia sudah bertekad agar hatinya tidak kembali goyah.
Dan ia juga berharap, jika hubungan mereka baik-baik saja meskipun bukan sebagai seorang kekasih.
"Kau yakin Mia?" suara Owen bergetar. Tangannya mengepal semakin kuat, hingga buku-buku tangannya memutih. Hal yang benar-benar tidak pernah Mia harapkan. Mia tidak ingin Owen membenci dirinya.
Setidaknya mereka tidak akan saling melukai seperti ini. "Kau tidak mencintai ku lagi? Benarkah? Benarkah kau sudah melupakan janji itu?" Suara Owen semakin lama semakin melemah.
Pria itu terluka. Benar-benar terluka. Owen tidak berdaya dengan keputusan Mia. Gadis itu tidak mencintainya lagi.
Apakah ini akhir dari semuanya? Kenapa harus seperti ini?
Bukankah mereka bisa saling bicara meskipun tidak sedekat dulu. Mereka bisa saling mengingat hal baik yang pernah terjadi di antara mereka. Mia ingin semuanya tetap baik-baik saja.
Mia masih menangis. Hati Owen maupun hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Owen melangkah, namun Elston menarik Mia menjauh, hingga pria itu mengurungkan niatnya. "Lihat aku Mia. Lihat aku, ku mohon!" kata Owen meninggikan suaranya.
"Ku mohon katakan padaku yang sebenarnya. Apakah kau sungguh-sungguh sudah tidak mencintaiku lagi, walau hanya sedikit?"
__ADS_1
Karena hal inilah Mia ingin menjaga jarak dari Owen. Ia berharap agar pria itu bisa mengerti dan menerima keputusan nya. Agar mereka kembali baik-baik saja seperti dulu.
"Hem. Aku,-" Tapi ternyata itu hanyalah keinginan hatinya saja. Mia tidak bisa melakukan hal itu. Ternyata, ia terlalu serakah. Hati dan juga perasaannya terlalu serakah.
Mia mengangkat kepalanya dan menatap mata Owen yang menunjukkan luka. Tatapan itu kini mencabik-cabik hati Mia. "Aku tidak mencintai mu lagi." Bohong!
Ia terlalu egois karena rasa sakit yang diterimanya. Ia pikir ia sendiri satu-satunya korban di sana.
Mia tidak pernah memikirkan jika ternyata bukan hanya dirinya. Tapi pria itu juga. Pria itu juga terluka, sama seperti dirinya.
"Kembali lah Owen. Semuanya sudah berakhir." Kata Mia dengan suara terbata. "Kau dan aku. Kita tidak mungkin bersama lagi."
Owen tidak ingin mengakui semua itu. Hatinya mengatakan hal yang lain. Hatinya bahkan sangat yakin bahwa Mia masih mencintai dirinya.
"Kau bohong Mia. Kau bohong! Seharusnya kau jujur dengan perasaan mu seperti janji kita. Karena aku masih mencintaimu. Aku masih sangat mencintai mu."
Setelah mengatakan semua itu, Owen pun pergi meninggalkan keduanya. Ia pergi dengan membawa semua kekecewaan dan juga rasa cemburunya.
"Semuanya benar-benar sudah berakhir."
Bruk! Mia jatuh tersungkur. "Mia!" Elston menangkap gadis itu dan memeluknya, erat.
Menyedihkan. Apa Owen juga merasakan ini, dulu? Atau mungkin sampai detik ini Owen masih merasakan apa yang ku rasakan sekarang?
"Mia?" panggil Elston, sementara tangan nya masih merangkul tubuh gadis itu dengan erat. "Kau sudah melakukan hal yang benar. Kau sudah benar-benar mengakhiri semuanya. Sama seperti satu tahun yang lalu."
Kenangan menyakitkan itu, Elston tidak ingin Mia merasakan nya lagi.
"Jangan menangis sayangku. Aku di sini bersama mu." Meskipun belum mengerti dengan apa yang dirasakannya, perasaan senang yang kini bercampur dengan rasa sedih, tapi Owen tidak ingin menjadi lemah di depan Mia.
Ia tahu bahwa gadis itu kembali membuka lama yang masih bernanah, dan ia pun merasakan hal yang sama.
Hatinya juga sedang merasakan ketakutan. Ia juga sedang tidak baik-baik saja. Disini, saat ini. "Maafkan aku." Elston semakin mengeratkan pelukannya.
"Ayo kita pulang." ajaknya sambil mengangkat tubuh Mia. Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya mengangguk samar menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Elston.
Selama dalam perjalanan pulang, Mia tidak mengatakan apapun, begitu juga dengan Elston. Saat itu, entah mengapa dunia mereka terasa begitu hampa.
Dan bagi Elston, bukanlah hal yang tepat jika ia masih memaksa Mia untuk menjawab perasaannya saat ini.
__ADS_1
Sepertinya kali inipun ia harus kembali bersabar.
Elston menghela nafasnya berat. Apa cinta memang serumit dan sesakit ini?
...❄️❄️...
Malam ini Elston tidak mengantarkan Mia kembali ke apartemen miliknya, meskipun gadis itu sempat meminta sebelumnya.
Elston tidak tenang jika harus membiarkan Mia seorang diri di saat seperti ini. Setidaknya besok pagi ia bisa memastikan apakah gadis itu baik-baik saja ataukah justru sebaliknya. Elston ingin selalu berada di sisi Mia.
"Tuan?"
"Ssttt... diamlah Bones. Kau tidak lihat?" ujar Elston memperingati, karena Mia yang sedang tertidur dalam pelukannya.
Bones yang awalnya ingin membantu membatalkan niatnya saat melihat bagaimana tuan mudanya itu ingin mengurus semuanya seorang sendiri.
"Gunakan lift saja tuan." Bones mengarahkan kedua ke pintu yang langsung terhubung dengan lift di lantai atas.
Lift itu hanya digunakan dalam keadaan darurat saja, dan mungkin dalam situasi seperti saat ini juga.
"Anda butuh yang lainnya tuan?" tanya Bones saat keduanya sudah masuk ke dalam lift. "Tidak. Kau istirahatlah juga." jawab Elston dengan suara rendah.
"Baik tuan. Selamat malam." setelah memencet tombol, Bones pun kembali ke ruang kerja miliknya, sambil mengawasi keduanya dari monitor. Dan Elston tau akan hal itu.
Hanya dalam hitungan detik, keduanya sudah sampai di lantai tiga. Tempat dimana kamar Elston berada. Tanpa merasa kesulitan sedikit pun, Elston membawa tubuh Mia dan membaringkan nya di atas tempat tidur.
Mata gadis itu terlihat sembab. Dan masih terlihat jejak air mata yang mengering di sudut matanya yang tertutup bulu mata lentik. "Maafkan aku Mia. Seharusnya, tadi aku tidak membentak mu." kata Elston yang masih merasa bersalah.
Tangannya meraih rambut Mia, dan membelai nya lembut. Ia juga mencium ujung-ujungnya dalam keheningan, "Sepertinya aku mulai serakah atas dirimu. Aku benar-benar minta maaf. Maafkan aku."
Elston tahu betul apa yang terjadi. Seandainya ia tidak terlalu cemburu, mungkin malam ini tidak akan berakhir seperti ini. Mungkin juga, Mia tidak akan kembali terluka. "Semua ini karena aku terlalu mencintaimu Mia."
"Aku tidak tahu bagaimana harus menahan perasaan ini. Aku cemburu melihat mu tersenyum pada pria itu. Aku takut kalau kau akan kembali jatuh cinta padanya dan meninggalkan aku."
"Aku tidak ingin kehilangan dirimu. Maafkan aku. Maafkan aku."
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...