
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Makan siang yang di janjikan Owen kepada Mia bertempat di salah satu hotel bintang lima yang pernah Mia kunjungi sebelumnya saat menemani Elston bertemu dengan seorang klien.
Jika saat itu Mia datang karena urusan pekerjaan, maka kali ini ia datang karena sebuah kencan. "Kau yakin kita akan makan siang di sini?" tanya Mia dengan suara rendah. Jujur saja Mia sedikit terkejut karena Owen mengajaknya makan siang di tempat mewah seperti itu.
Bukan karena Mia merasa tidak nyaman, hanya saja ia tidak ingin Owen memaksakan dirinya hanya untuk sebuah makan siang. Lagipula Mia tahu makan di tempat seperti ini sudah pasti akan mengeluarkan banyak uang.
Mia sangat anti melakukan pemborosan yang tidak berarti. Terlebih lagi hanya untuk sebuah makan siang.
Bagi Mia, makan di tempat biasa pun tak akan jadi masalah. Yang terpenting adalah waktu yang mereka habiskan bersama.
Melihat keengganan Mia, dahi Owen berkerut, "Kau tidak suka tempat ini?" Owen juga menyunggingkan sedikit senyuman. Sementara tangan pria itu tidak pernah melepaskan tangan Mia. "Bukan begitu, hanya saja.." Mia diam sejenak.
Mia merasa sungkan jika ia harus mengatakan yang sebenarnya pada Owen; bahwa Mia khawatir. Mia takut Owen tersinggung atas kekhawatiran nya.
Sebagai seorang yang cukup rasional, Mia tidak ingin Owen menghabiskan uang nya hanya untuk sebuah makan siang. Meskipun ini adalah hari yang spesial bagi keduanya.
"Kau tidak harus melakukan ini Owen." kata Mia terlihat bersungguh-sungguh. Dan Owen mengerti dengan apa yang Mia pikirkan. Gadisnya memang tidak sama seperti wanita pada umumnya.
Owen tersenyum lembut, "Hari ini adalah hari yang benar-benar penting untuk ku sugar palm. Aku ingin hari ini menjadi sebuah kenangan manis untuk kita. Bisakah hari ini sebagai pengecualian?" Mia tidak bisa menyela keinginan hati Owen.
__ADS_1
Mia juga ingin menjaga harga dirinya prianya, mungkin saja Owen memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan perasaannya. Karena itulah, sebaiknya Mia tak banyak bicara lagi..
"Baiklah." kata Mia mengalah. Ini adalah hari baik mereka; ia juga tidak berniat merusak suasana.
...❄️❄️...
Sesampainya di meja yang sudah Owen reservasi, seorang pelayan datang dengan membawa sebuket bunga mawar putih yang cantik kearah mereka;
"Bunga anda tuan." kata si pelayan. Owen menerima bunga itu dan mengucapkan terimakasih. Setelah nya tatapannya langsung tertuju pada Mia.
...Sekali lagi Mia kembali berdebar karena tatapan memuja yang Owen tunjukan pada dirinya....
Kali ini senyuman Owen sungguh bisa melelehkan kutub selatan, "Untuk mu Mia. Untuk gadis manis yang aku cintai." Ah, jantung ku. Mia terlampau bahagia mendengar kata-kata Owen. Owen sungguh bermulut manis. Mia saja sampai tak bisa berkata-kata karenanya.
Owen tersenyum puas saat melihat binar bahagia di mata Mia. Sejak lama ia ingin membuat gadis itu tersenyum seperti ini, tapi dulu ia tidak punya kesempatan. Dan sekarang, setelah memilikinya, Owen akan membuat Mia tersenyum bahagia setiap hari.
"Apa kau sebelumnya menghadiri pertemuan penting?" Mia mengalihkan pembicaraan. Mia sedikit penasaran. Sejak tadi ia ingin menanyakan hal itu pada Owen. Kekasihnya terlihat berbeda di bandingkan hari-hari biasa.
Prianya terlihat tampan mengenakan setelan seperti sekarang. Bukan berarti Owen yang biasanya tidak tampan, hanya saja kali ini pria itu terlihat luar biasa.
Menanggapi pertanyaan Mia, Owen terlihat ragu untuk menjawab, "Hem. Iya. Aku menggantikan dekan untuk menghadiri sebuah rapat formal." sahut Owen. Berbohong. Ia belum bisa mengatakan yang sebenarnya pada Mia, jika dalam beberapa hari ke depan ia akan mengambil cuti sebagai seorang dosen.
Ia tidak bermaksud melakukan ini, hanya saja Owen menunggu waktu yang tepat.
Mia mengangguk seraya tersenyum lembut, "Pantas saja. Kau terlihat berbeda." puji Mia dalam artian yang baik.
__ADS_1
Owen bergerak gelisah, "Apa aku terlihat aneh?" tanyanya. Dan entah kenapa pendapat Mia menjadi satu hal penting yang ingin Owen ketahui.
"Tidak. Kau terlihat tampan." sahut Mia tanpa harus berpikir. Karena Owen memang tampan memakai apa saja. Dan Mia tidak akan memungkiri hal tersebut.
Mendengar kejujuran dari Mia membuat Owen tersenyum, "Benarkah?" pria itu bersemu. Lucunya. "Lalu bagaimana dengan penampilan ku sebelumnya?" tanya Owen lagi. Sepertinya ia ketagihan mendengarkan pujian dari mulut kekasihnya.
Kali ini Mia tidak langsung menjawab, tapi ia lebih dulu tertawa. Bagi Mia Owen sangat menggemaskan untuk ukuran seorang pria dewasa; sisi lain yang belum pernah Mia lihat. Dan Owen menunjukan nya begitu cepat. Tepat di hari pertama mereka menjadi sepasang kekasih.
"Sebelumnya kau juga sangat tampan." sahut Mia kembali dengan jawaban yang jujur.
Kali ini Owen kembali dibuat tersipu. Ia tidak tahu jika pujian tulus dari mulut Mia mampu membuat perasaan nya menjadi lebih baik.
...Ah, aku menyukai perasaan ini....
...Owen tersenyum....
"Terimakasih sugar palm. Kau membuat ku benar-benar bahagia." Owen meraih tangan Mia dan memberikan ciuman yang dalam.
...Dan kau akan membuat ku gila, Owen. Manisnya....
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1