OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-38


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


ELSTON menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan dirinya. Akhir-akhir ini ia merasakan sebuah perubahan yang cukup mengejutkan.


Meskipun masih belum pasti sejak kapan ia mulai mengalami semua itu, Elston hanya yakin jika kehidupannya secara perlahan tapi pasti semakin dekat dengan kata seimbang.


Dalam hati kecilnya Elston mulai merasakan sesuatu yang telah lama hilang. Ada sesuatu kehangatan asing yang sedang mendekap erat dirinya. Kehampaan dalam hatinya pun perlahan-lahan mulai sirna.


Dan kekosongan yang nyaris membuatnya menyerah dengan kehidupan normal perlahan-lahan mulai kembali terisi.


Walaupun selama ini Elston selalu berusaha untuk mempertahankan kewarasan dengan menggunakan topeng sebagai seorang pria pesolek, tidak menutup kemungkinan jika Elston bisa saja terjebak dengan semua pilihan yang sejak awal sudah sangat beresiko.


Tapi sekarang, entah sejak kapan Elston merasa semuanya mulai kembali pada tempatnya. Ada sesuatu yang memicu semua perasaan itu.


Perasaan asing yang membuat Elston mulai melihat dunianya dengan warna-warna yang nyata. Bukan lagi antara hitam dan putih, atau pun abu-abu. Tapi warna-warna yang tidak bisa Elston pungkiri kenyataannya. Indah dan mendebarkan.


Semua perasaan itu membuat Elston kembali menginginkan dirinya yang dulu. Menjadi sosok Elston yang sebenarnya.


Seorang Stuard yang sesungguhnya. Bukan lagi Elston si pria pesolek, tapi Elston Stuard yang sebenarnya. Elston mulai menginginkan hal seperti itu kembali pada dirinya. Pada kehidupannya.


Apakah semua itu karena dia...? Benarkah?


"Ada apa dengan ku? kenapa wajah ku jadi memerah seperti ini?" Elston menatap pantulan wajahnya yang terasa menghangat.


Bukan hanya wajahnya, tapi juga dadanya. Ada perasaan asing yang terus-menerus memancing adrenalin Elston. Sesuatu yang membuat Elston terus bergerak pada satu jalan.

__ADS_1


Jalan kepada "Mia."


"Tidak. Ini tidak mungkin. Aku tidak mungkin memiliki perasaan pada gadis penyihir itu." Tubuh Elston menegang.


Setiap kali ia mengingat atau menyebutkan nama Mia, tubuhnya akan memberikan reaksi yang tidak ia kenali.


"Tenang lah Elston. Ini bukan dirimu. Kau hanya sedang bermain, karena gadis kecil itu lebih menyenangkan dari yang kau pikirkan. Itu saja. Tidak ada yang berarti dari semua ini."


"Lihatlah betapa can..." Tidak. Bukan seperti ini. Lidah Elston terasa kelu. Untuk kesekian kalinya hati nurani Elston menolak untuk melakukan peran yang seharusnya begitu mudah. "Kau sungguh sempurna. Ya.. Kau terlihat mengagumkan."


...❄️❄️...


Mia yang menunggu terlalu lama diruang menonton mulai merasa jenuh. Sudah satu jam lamanya ia berada di sana. Tapi Elston belum juga datang.


Jelas-jelas Mia sudah menyiapkan semuanya sesuai dengan permintaan Elston. Dan yang membuat Mia semakin merasa kesal tidak hanya itu, tapi juga karena mereka harus menonton film yang berdurasi cukup lama hingga pastilah akan membuat Mia melewatkan jam kerjanya.


"Mia..?"


"Dari mana saja yang mulia?" suara Mia terdengar kesal. "Apa mengganti pakaian memerlukan waktu selama itu? Jika lima menit saja kau tidak datang, aku akan pergi dari ruangan ini."


Mia mengambil remote dan mulai memutar film yang akan mereka tonton. Tapi Elston masih berada di sana. Tidak bergerak sedikitpun. Mia berubah gusar.


"Els...?" Suara Mia membuat Elston kembali pada kesadarannya. Dengan langkah yang gontai Elston menghampiri Mia.


Mia duduk di sofa, sedang Elston justru duduk di atas karpet berbulu dan melingkarkan tangan di pangkuan Mia.


"Els.. apa yang..?"


"Apa kau akan membenciku jika aku tidak seperti diriku yang kau kenal saat ini Mia?" suara Elston terdengar aneh. Pria itu menunjukkan sisi lain yang belum pernah Mia lihat sebelumnya.

__ADS_1


Elston seperti seorang anak kecil yang sedang meminta perlindungan dari dirinya. "Apa maksud mu Els..?"


"Aku tidak ingin kau membenciku Mia. Aku ingin kau tetap dekat dengan ku seperti ini. Apa aku terlalu egois?"


Mia masih tidak tahu apa yang Elston bicarakan. Yang pasti Elston sedang bersikap seperti anak kecil yang sedang mengharapkan perhatian dari dirinya.


"Tidak. Tentu saja itu bukanlah hal yang egois." sahut Mia menjawab pertanyaan Elston sebelumnya.


Elston mendongak dengan mata berbinar. Ya Tuhan. Tatapan yang tidak seharusnya Elston perlihatkan. "Benarkah? Benarkah aku boleh melakukan itu? boleh kah aku menginginkan agar kau tetap bersama ku?"


"Tentu. Kenapa tidak. Asalkan kau tetap membayar gajih Ku. Aku tidak masalah dengan kontrak baru."


Ah, sial. Apa gadis ini sengaja ingin mempermainkan diriku?


Elston menggeleng kecil seraya tersenyum.


"Cih.Kalau begitu aku akan membuat mu bekerja seumur hidup bersama ku." balas Elston asal.


"Kau akan menaikkan gajih ku?"


"Kau bisa menentukan gajih mu sendiri asalkan itu kontrak seumur hidup."


"Kau sungguh-sungguh?"


"Apa aku terlihat bercanda..? kau sungguh perusak suasana."


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2