
...❄️...
...❄️...
...❄️...
...MIAMI...
Sudah hampir empat hari lamanya Owen pergi untuk melakukan perjalanan bisnis. Selama itu juga Owen hanya fokus pada pekerjaannya.
Ia ingin cepat-cepat pulang untuk bisa bertemu dengan Mia lagi. Meskipun selama kepergian nya tidak sehari pun ia lewatkan tanpa memantau Mia, tetap saja keberadaan nya yang jauh dari gadis itu, selalu membuat hatinya tidak tenang.
"Tuan. Laporan yang dikirimkan oleh detektif dari London." kata sekertaris pribadinya menyerahkan FD yang berisikan hasil-hasil potretan tentang Mia.
Dengan cepat Owen mengambil FD dan langsung memeriksa isinya. "Selama beberapa hari terakhir, ada orang yang selalu mengikuti nona Mia. Detektif bahkan sudah mengambil gambar orang-orang tersebut."
Mendengar hal itu kening Owen berkerut disertai perasaan cemas. Siapa orang yang selalu mengikuti wanitanya? apa kali ini Mia dalam bahaya? batin Owen mulai gusar.
Setelah melihat lebih teliti isi file tersebut, Owen merasa sedikit lega. "Biarkan saja. Pria ini bukan ancaman." orang yang dimaksud oleh sekertaris Owen adalah Elston.
Meskipun Owen merasa terganggu dengan keberadaan Elston yang ternyata selalu ada dibelakang Mia seperti dirinya, tapi hal itu dianggap nya tidak masalah.
Setidaknya selama ia pergi Mia akan selalu aman. Itulah yang membuat kecemasan di hati Owen sedikit berkurang.
"Apakah kita perlu menghentikan detektif itu tuan?" tanya sekertaris yang bernama Troy tersebut. "Tidak usah. Biarkan saja ia melanjutkan pekerjaan nya. Aku ingin terus mendapatkan informasi tentang Mia." kata Owen lagi.
"Baiklah tuan. Akan saya sampaikan seperti perintah anda"
Setelah menutup laptop didepannya, Owen mengambil ponsel yang ada di atas meja di sisi kanannya. Dicarinya nama Mia, kemudian...
...Tuuuuuuuuttttt.......
...Tuuuuuuuutttt.......
...Panggil pertama, gagal....
Owen masih ingin mencoba lagi.
...Tuuuuuuuutttt......
...Tuuuuuuttttt........
...Panggilan kedua, gagal....
Apa Mia sudah tidur? jam berapa sekarang? Owen melihat jam ditangan nya, kemudian meletakkan ponsel itu kembali.
Sejak perdebatan malam itu, mereka memang tidak pernah lagi berbicara melalui telepon. Bahkan semua pesan yang Owen kirimkan bagai spam pun hanya pernah di balas satu kali oleh Mia.
Karena itulah, sebenarnya Owen tidak pernah berharap lebih. Karena sejak awal, memang dirinya lah yang lebih dulu jatuh hati dan mencintai gadis itu.
Dan dirinya jugalah yang membuat gadis itu terluka. Jika sekarang Mia mengabaikan dirinya, dan mendorongnya pergi, hal itu adalah hal yang pantas untuk ia terima.
Owen tidak perduli dengan pria lain yang mendekati wanita nya. Dan juga kata-kata Mia yang mengatakan bahwa ia sudah mencintai laki-laki lain.
__ADS_1
Ia bisa merasakan bahwa kata-kata itu tidak benar. Kata-kata yang keluar hanya karena Mia marah pada dirinya. Owen sangat yakin bahwa Mia masih mencintai dirinya, dan kata hatinya tidak akan pernah salah.
Owen kembali mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan singkat..
...To : My sugar palm...
..."Aku merindukan mu. Hanya ingin kau tau. Selamat malam."...
...-Send...
Setelah mengirimkan pesan tersebut, Owen kembali mencoba untuk memfokuskan diri pada pekerjaannya. Jika ingin segera bertemu Mia, maka ia harus bisa menyelesaikan semua berkas di depannya tepat waktu.
...❄️❄️...
"Kau tidak ingin ikut bersama kami? kami akan pergi makan malam bersama." tanya Maurin pada Mia. Keduanya baru saja keluar dari lift.
Karena ada sedikit pekerjaan yang sebelumnya tertunda, sebagai gantinya malam ini mereka harus bekerja lembur.
"Kali ini aku tidak ikut. Aku akan langsung pulang saja." tolak Mia yang benar-benar merasa lelah. "Kau yakin?" kata Maurin lagi.
"Hem. Aku yakin. Kalian saja. Sampai bertemu besok." balas Mia melambaikan tangannya.
"Baiklah. Hati-hati di jalan Mia. Sampai besok." balas gadis itu ramah seperti biasa.
Saat keluar dari gedung kantornya, sebuah mobil yang sangat Mia kenali berhenti tepat di depannya.
Bones keluar dari pintu pengemudi, dan menghampiri Mia. "Bones?" ujar Mia yang sedikit terkejut dengan keberadaan pria paruh baya itu. Ia sempat berpikir bahwa yang akan keluar dari sana adalah Elston. Ah.. apa yang ku pikirkan!
"Selamat malam nona." sapa Bones yang langsung membukakan pintu bagian belakang. "Silahkan masuk. Saya akan mengantar anda pulang." tambah Bones menegaskan alasan dari kedatangannya.
"Apa,-
"Tuan tidak ada di dalam." kata Bones yang bisa mengerti alasan keraguan di wajah Mia.
"Tidak ada?"
"Tuan masih berada di kantor. Setelah mengantar anda pulang saya akan menjemput tuan." jelas Bones. Mia kembali melihat jam ditangannya. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Mia pun tidak bersuara lagi, ia masuk ke dalam mobil seperti permintaan Bones.
Dua puluh menit kemudian, mereka pun tiba. Tapi kali ini bukan ke apartemen Mia, melainkan ke kantor Elston.
"Kau mau ikut bersama ku?" tanya Mia ragu. Ia merasa sedikit canggung karena sudah cukup lama tidak bertemu Elston.
Setidaknya ia tidak akan bisa bersikap seperti sebelumnya. Mia juga ragu bagaimana reaksi Elston nanti saat melihat dirinya. Apakah Elston akan marah? ataukah justru mengabaikan dirinya?
"Tidak nona. Saya menunggu di sini saja." tolak Bones yang ingin memberikan waktu bagi Mia dan tuan mudanya untuk bicara.
"Kau yakin?"
"Saya yakin." sahut Bones. "Tuan ada diruangan nya. Pergilah."
"Baik kalau begitu. Sampai nanti. Kami tidak akan lama."
__ADS_1
...❄️❄️...
Mia yang sudah tahu dimana letak ruang kerja Elston langsung pergi ke tempat tujuannya. Ia tidak perlu minta bantuan satpam atau siapapun. Dulu Elston sering membawanya ketempat ini.
Meskipun sekarang hati Mia masih dipenuhi keraguan tentang apakah kedatangan nya adalah keputusan yang tepat atau justru sebaliknya, tapi yang ia tahu debaran yang ia rasakan sangat nyata.
...Tok.. Tok.....
...Mia mengetuk pelan pintu didepannya....
"Masuk saja Bones!" kata Elston. Suara yang berasal dari dalam sana terdengar lelah. Apakah Elston bekerja lebih keras dari biasanya?
Dengan perlahan Mia pun membuka pintu dan sedikit mengintip kedalam.
Pria itu ada di sana. Duduk di kursinya dengan posisi membelakangi. "Apa kau sudah mengantar Mia pulang? apa kali ini dia terlihat lelah lagi?" tanya Elston yang seharusnya pertanyaan tersebut ditujukan pada Bones.
Lagi? Ternyata Elston mengkhawatirkan aku. Wajah Mia bersemu...
"Seharusnya tadi aku meminta mu untuk membelikan makan malam untuknya. Gadis itu pasti lupa makan karena terlalu sibuk bekerja. Ah... bisa-bisa nya aku,-"
Pria itu memutar kursinya, hanya dalam hitungan detik keduanya pun saling bertatapan..
Deg...
Mata Mia membulat dengan sempurna. Sedangkan irama degup jantungnya mulai tidak karuan. Bak tersihir mantra pemikat keduanya saling terpaku dalam diam..
Deg..
Deg..
Sadarlah Mia. Apa yang kau lakukan! Bicaralah. Kau bukan patung! batin gadis itu mengingatkan untuk kembali pada kesadarannya saat itu juga.
"Ma.. mau makan malam bersama?" kata-kata itu keluar dengan terbata. Mia gugup. Apa aku harus tersenyum? tapi rasanya sangat canggung.
Sedangkan di depan sana, Elston yang terkejut langsung berdiri dari kursinya. Ia ingin berlari pada Mia saat itu juga. Tidak. Tidak. Tahan. Tahan. Benar seperti ini. Tahanlah...
"Mia, apa yang? maksud ku kenapa kau,-" Elston tidak bisa menentukan mana kata-kata yang tepat untuk ia katakan.
Dadanya terasa penuh dan sesak hanya karena keberadaan gadis itu. Terlebih lagi Mia sudah mau bicara padanya.
Apakah waktu penantian ku sudah berakhir? apakah ini mimpi? tidak. Ini bukan mimpi. Ini nyata.
Melihat Elston yang diam saja tanpa melanjutkan kata-katanya, Mia pun memberanikan diri untuk berjalan menghampiri pria itu. "Apa kau sudah makan malam? mau makan bersama?" kata Mia mengulang pertanyaan sebelumnya.
Makan malam? berdua? Sungguh?
Elston bahkan hampir kehilangan kata-kata karena merasa senang. Moments seperti inilah yang sudah ia nantikan sejak lama.
"Hem. Tentu. Ayo kita makan malam bersama."
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...