
...❄️...
...❄️...
...❄️...
...Restoran berbintang michelin telah di sulap sedemikian rupa atas permintaan Elston Stuard. Tentu saja tanpa sepengetahuan Mia. ...
...Makan malam yang berkedok pesta perayaan itu sejujurnya hanyalah alasan lain untuk bisa kembali menyatakan cintanya pada gadis itu....
...Kali ini Elston tidak akan mengijinkan Mia mengulur-ulur waktu lagi. Ia benar-benar ingin mendengarkan jawaban yang telah gadis itu janjikan sebelumnya....
...Menunda lebih lama hanya akan membuat perasaan Elston semakin tidak karuan. Terlebih lagi, posisinya mulai terancam oleh seseorang dari masa lalu Mia. Meskipun tidak ingin mengakuinya, Elston mulai khawatir....
...Bukan karena ia tidak percaya diri, hanya saja, insting nya sebagai seorang pria mengatakan hal demikian....
...Karena itulah, Elston tidak ingin lengah. Ia harus memastikan bagaimana perasaan Mia yang sebenarnya. ...
...Jika gadis itu memang memiliki perasaan yang sama seperti dirinya, maka Elston tidak akan ragu lagi untuk memberi hati bahkan jiwanya pada Mia....
...Malam ini Elston bertekad untuk menjadikan Mia sebagai miliknya, dan menandai gadis itu dengan cara yang tepat....
''Turunlah, kita sudah sampai.'' Elston mengulurkan tangan dan menuntun Mia keluar dari dalam mobil kemudian menggandengnya dengan begitu mesra.
''Kita benar-benar akan merayakannya di sini? padahal di tempat biasa pun aku tidak keberatan.'' ungkap Mia saat tahu kemana Elston telah membawa dirinya.
''Aku yang merasa keberatan.'' sela Elston. ''Hari ini adalah hari baik untuk kita. Aku tidak ingin merayakannya di tempat biasa.'' Binar kesungguhan yang terpancar dari mata pria itu membuat dada Mia kembali menghangat.
Seperti inilah sosok Elston. Pria yang selalu memperlakukan Mia dengan cara yang istimewa.
Andai saja...
''Kau terlalu berlebihan Els. Ini hanyalah perayaan biasa.'' Ujar Mia yang tidak ingin terlalu terpesona pada Elston.
''Tapi untuk ku tidak.'' Elston akan melakukan apapun untuk gadis itu. Karena Ia mencintai Mia lebih dari apapun. "Karena kau berbeda Mia.''
Mia adalah cinta pertamanya. Gadis pertama yang membuat dunia Elston berubah sepenuhnya. Dan satu-satunya wanita yang bisa memikat hati Elston.
''Selamat datang tuan. Nona. Mari saya hantarkan ke meja anda.'' Seorang pria berpenampilan rapi yang tidak lain adalah manager restoran tersebut menyambut keduanya. Mengikuti pria itu, keduanya pun masuk ke dalam.
Saat melihat dekorasi di dalamnya Mia kembali tertegun. Di dalam sana hanya ada dirinya dan Elston beserta beberapa pelayan yang bertugas untuk melayani mereka pada malam itu.
Mia berpaling sejenak untuk menatap Elston. Elston pun melakukan hal yang sama. Ia suka melihat ekspresi yang ditunjukan Mia.
Gadis itu seakan tahu apa yang sedang terjadi, tapi ia ragu untuk mengatakannya. ''Apakah ini seperti yang ku pikirkan?" Mia memicing pada Elston.
__ADS_1
Lagi-lagi Elston melakukan hal yang menurutnya sedikit berlebihan. Memesan satu restoran hanya untuk makan malam, menurut Mia adalah salah satu pemborosan yang tidak perlu. Tapi Elston justru melakukan hal itu.
Elston tersenyum kecil atas kepekaan yang dimiliki Mia. Kejutan yang ia siapkan kini mulai sedikit terbaca. ''Duduklah dulu. Kita belum membuka sampanye nya bukan?'' Elston menarik kursi untuk Mia, kemudian ia juga mengambil tempat yang berhadapan dengan gadis itu.
Tidak lama setelahnya, satu per satu pelayan yang bertugas untuk menjalankan perintah Elston pun datang. Pelayan pertama membuka Sampanye lalu menuangkannya. ''Untuk keberhasilan mu.'' Elston mengangkat gelasnya untuk bersulang dengan Mia.
''Untuk mu juga.'' balas Mia yang turut mengangkat gelasnya. Beberapa menit berselang, terdengar suara instrumen yang di mainkan oleh sekelompok orang.
Namun kali ini hanya Mia seorang yang di buat terkejut, sementara Elston terus memberikan tatapan tidak biasa pada dirinya. Seakan-akan pria itu menang telah menunggu hal itu.
''Els...?" Mia tidak bisa menutupi perasaan senang yang tiba-tiba saja membuncah dalam dadanya. Siapapun wanita yang berada di posisinya kali ini pun pasti akan merasakan hal yang sama. Elston hanya menunjukan senyum lembut.
Pelayan lain kembali menghampiri keduanya. Kali ini seorang wanita yang bertugas membawakan sebuket bunga yang telah di rangkai sedemikian rupa.
Mia pikir bunga itu akan langsung di berikan pada dirinya tapi ternyata bunga itu di berikan pada Elston. Dan sekarang giliran Elston lah yang harus menyelesaikan sisanya..
Elston beranjak dari kursinya, tubuh Mia menegang. Pria itu melangkah lebih dekat hingga menjulang di depan Mia. Dalam hitungan detik, kini Elston sudah berlutut di depannya dengan sebuket bunga.
''Kau tahu betapa aku menyukai mu Mia.'' kata Elston. Mia berdebar. ''Kau satu-satunya wanita yang mengubah kegelapan dalam dunia ku menjadi cahaya yang begitu menyilaukan. Kau membuatku bahagia.'' Tatapan Elston menyita perhatian Mia.
''Kau harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan. Karena aku tidak akan bisa hidup tanpa mu.'' Elston mengambil kotak kecil yang tersimpan rapi dalam saku jasnya. Mata Mia mengikuti pergerakan Elston.
Ya Tuhan. Ini tidak mungkin kan?
Mia kembali takjub dengan pernyataan cinta yang diucapkan Elston. Pria itu mengatakan isi hatinya dengan cara yang begitu sederhana.
Setiap keinginan hatinya diucapkan tanpa embel-embel janji manis sedikitpun. Inilah Elston yang Mia kenal selama ini. Elston yang apa adanya. Orang yang selalu jujur dengan perasaannya. Pria yang selalu bersinar untuknya.
Pria yang sama. Yang telah membuat hatinya berdebar. Pria yang telah menjadi sandaran dan juga penyemangat dalam hidupnya.
Elston adalah satu-satunya orang yang selalu ada untuk Mia. Bahkan saat dunianya terasa asing, pria itu tetap berdiri di sampingnya dan memberikan seberkas cahaya yang membuat dunianya kembali bersinar. Elston menjadi penerang dengan cara yang begitu indah.
Pria yang telah memberikan segalanya bagi Mia...
Bagaimana bisa ia menolak semua ketulusan itu?
Semua perasaan yang telah mereka pupuk selama ini. Ketulusan dan juga kebenaran akan perasaan mereka masing-masing. Bagaimana bisa Mia mengabaikan semua itu..
Karena ia juga memiliki perasaan yang sama. Hatinya telah terpaut. Dan kini, hanya ada kebenaran diantara mereka..
Kebenaran yang ingin segera Mia ungkapkan..
''Kau benar-benar membuat ku tidak bisa berkata-kata.'' Tatapan mata yang lembut serta suara Mia yang mulai bergetar, menunjukan betapa ia tersentuh dengan sikap manis Elston.
Dddrrrrttt..... Ddrrrrrttttt..... ponsel di dalam tas Mia bergetar. Namun di abaikannya begitu saja.
__ADS_1
''Aku tidak perlu kata-kata yang panjang dari mu Mia, Kau hanya cukup mengatakan satu kata saja.'' Timpal Elston
Drrrttttt...... Dddrrrttttt..... sekali lagi ponsel di dalam tasnya bergetar, dan mulai mengusik Mia. Elston tertawa kecil. Sepertinya mereka harus sedikit menunda.
''Angkat saja ponsel mu, mungkin itu hal penting.'' Elston bangkit dari berlutut nya, namun matanya masih melekat pada Mia.
Gadis itupun melakukan seperti yang Elston katakan.
...Owen Calling......
Deg...
Bagaimana bisa nomor ini masih tersimpan di sini? apakah selama ini aku tidak menghapusnya? Mia tertegun.
...Dddrrrtttt..... Dddrrrtttt.......
Mia menatap ragu pada Elston. Ah... sial. Kenapa aku harus merasa seperti ini? aku seperti gadis yang akan tertangkap basah saat melakukan perselingkuhan.
''Kenapa tidak di angkat? angkat saja.'' kata Elston sekali lagi tersenyum maklum. Andai kau tahu siapa yang menghubungiku, apakah kau masih bisa tersenyum seperti itu Els?
''Baiklah.'' Dengan jantung yang berdegup cepat Mia pun menjawab panggilan yang sejak tadi terus menyela diantara keduanya.
''Ha.. Hallo?"
''Mia, kau ada di dalam sana?" suara Owen membanjiri indera pendengarannya. Di dalam sana? ''Keluarlah. Aku menunggu mu di depan restoran.'' Mia masih membisu.
...di depan restoran? apakah maksudnya di depan sana? di luar restoran ini? hah?...
''Apa maksud mu?" Mia masih tidak mengerti kenapa owen bisa berada di depan sana. Dan bagaimana pria itu tahu bahwa ia sedang ada ditempat ini?
''Ada yang ingin ku katakan pada mu.'' kata Owen, sekali lagi dengan suara membujuk. ''Kau ingin keluar atau aku yang akan masuk?"
''Apa..?" Mia masih berusaha mencerna. Elston menatap penuh tanya saat raut wajah berubah panik.
"Ada apa?" ujar Elston pelan. "Maaf Els, aku keluar sebentar."
Mia beranjak dari kursinya berlari meninggalkan restoran. Sementara Elston belum sempat bertanya apapun..
"Mia....?"
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1