OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-67


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Besok adalah pertama kalinya Elston berpisah dengan Mia, bahkan setelah beberapa tahun kebersamaan mereka.


Satu kenyataan yang kembali menyentak kesadaran Elston. Kenyataan, bahwa setelah ini, ia tak akan bisa lagi hidup seperti sebelumnya.


Elston yang melakukan sesuatu tanpa memperdulikan orang lain. Elston yang tak pernah mementingkan pendapat orang lain atas dirinya. Elston yang gemar membuat sensasi di sana sini, bahkan ia bisa membuat skandal tentang cinta sesama jenis yang mampu menghebohkan sosial media. Elston yang selalu yakin bahwa segala sesuatu bisa ia dapatkan dengan mudah. Ia tak akan bisa lagi jadi Elston yang itu.


Karena setelah ini, Elston yang dulu telah menjadi Elston yang lain. Elston yang selalu ingin terlihat baik di mata seseorang. Dan Elston yang ingin terlihat pantas bagi seseorang.


Elston yang akan membuat kagum seseorang saat melihat dirinya. Tapi ia tak butuh penilaian dari orang lain. Karena ia hanya butuh satu pendapat. Yaitu pendapat Mia.


"Aku juga akan merindukan mu Els."


Sepertinya Mia tak menyadari, bahwa ia telah menyentuh sesuatu yang tak boleh di sentuh oleh siapapun, yaitu hati Elston. Hati yang saat ini tanpa di sadari telah berhasil di genggam erat oleh gadis itu.


...Ah yang benar saja. Kau benar-benar membuat ku gila!...


"O,ya. Kau sudah menyiapkan semua barang-barang mu? jika perlu bantuan katakan saja. Aku akan membereskan semuanya."


Meskipun Elston mengatakan suka pada dirinya, bukan berarti tugas dan tanggung jawab Mia pada pria itu berubah. Mengurus Elston dan semua keperluannya adalah pekerjaan utama Mia.


"Hem. Aku sudah melakukannya. Kau tenang saja. Aku tidak ingin selalu merepotkan mu." Karena bukan bantuan seorang gadis pendamping yang di inginkan Elston saat ini.


Melainkan Mia. Hanya dengan gadis itu berada dalam pelukannya sudah cukup bagi Elston. Diam seperti saat ini. Saling memberi kehangatan. Seandainya saja waktu bisa dihentikan, Elston akan membayar berapapun mahalnya untuk waktu yang mereka miliki saat ini.


"Berjanjilah jika kau akan baik-baik saja selama aku tidak ada. Aku akan menelpon mu setiap hari. Akan ku pastikan bahwa kau juga akan selalu merindukan kehadiran ku."


Mia pun mengharapkan hal yang sama. Elston sungguh terlalu baik untuknya. karena itu, ia berharap agar perasaannya bisa bertumbuh dengan cepat. Ia tak ingin membuat Elston menunggu lebih lama lagi.


"Jangan menelpon saat aku sedang mengerjakan tugas. Kau mengerti kan?"

__ADS_1


"Meskipun aku merindukanmu?"


"Meskipun kau merindukanku."


"Kau kejam sekali."


"Bukankah aku memang seperti ini."


"Hem. Kau memang selalu seperti ini. Karena itulah aku tetap menyukaimu. Karena kau tidak akan berubah."


Keduanya tergelak. Kehangatan saat itu terasa begitu berharga.


...❄️❄️...


...Keesokan harinya,...


Mia menghela nafas lelah. Ia menatap ke sekeliling ruangan. Matanya hanya tertuju pada langit-langit yang di pasangi hiasan lampu kristal mewah. Tapi hanya itu. Tak ada apa-apa lagi di sana. Tak ada suara orang bertanya. Tak ada canda tawa. Dan juga pria menyebalkan yang selalu berusaha menggodanya.


Meskipun biasanya memang tak ada orang lain selain dirinya dan Elston, tapi rumah itu tak pernah terasa sesunyi ini.


"Baru saja berpisah, tapi aku sudah ingin melihat mu."


Jika aku tahu akan merasa kesepian seperti ini, seharusnya aku merengek saja agar Elston membawaku pulang bersamanya.


Tapi mau bagaimana lagi, jika bukan karena alasan yang juga sama pentingnya, mungkin Mia tidak akan berada di tempat yang masih terasa asing ini.


"Inilah alasan aku tak mau bergantung pada siapapun. Awas saja. Aku akan memarahi mu saat aku pulang nanti."


Mia kesal karena Elston telah membuat dirinya merasa terbiasa dengan keberadaan pria itu. Tapi sekarang ia justru di tinggalkan. Benar-benar situasi yang mengesalkan.


...❄️❄️...


Minggu pertama tanpa Elston, Mia masih baik-baik saja. Karena seperti janjinya, Elston selalu menghubunginya setiap hari..


Begitu juga dengan Minggu kedua dan ketiga. Meskipun harus Mia akui, ia semakin merindukan Elston, tapi ia baik-baik saja. Alih-alih selalu memikirkan pria itu, Mia mengalihkan fokusnya untuk menyelesaikan semua tugasnya menjelang sidang akhir.

__ADS_1


...Dan tanpa terasa......


Waktu berlalu begitu saja. Semua hal yang pernah terjadi perlahan-lahan hanya menjadi bias ingatan samar.


Perasaan yang dulu disangka tak akan pernah hilang, sedikit demi sedikit mulai terkikis. Dan sekarang pun mulai terasa asing.


Hingga tanpa disadari pula kekosongan yang dulu selalu menyesakkan kini mulai disusupi oleh kenyamanan baru. Sakit yang setiap malam menyiksa perlahan-lahan sembuh dengan sendirinya.


Fokus itu pun mulai teralihkan. Bukan lagi tentang masalalu, tapi tentang masa kini. Bukan lagi tentang dia yang menyakiti, tapi tentang dia yang selalu menyemangati. Memberi dukungan dan juga kehangatan.


Semua hal yang dianggap hanya perhatian biasa, kini berubah menjadi benih-benih kecil dari sebuah rasa. Rasa yang semakin hari terus bertumbuh, dan lama-kelamaan menjadi subur, hingga perlahan-lahan mampu mengisi setiap celah-celah sepi yang dulu pernah di singgahi. Sulit memang. Tapi bukan tidak mungkin.


Benar kata orang; jika kasih tak perlu sampai keterlaluan. Karena semua hal bisa dan pasti akan terganti.


Tak ada yang abadi. Begitu juga hati. Dan hal seperti itu jugalah yang terkadang membuat seseorang bisa bertahan.


Membuat seseorang kembali bangkit, kembali mengenal hal-hal baru. Bukan sekedar terjebak dalam dimensi masalalu. Tapi mau berusaha berjalan selangkah demi selangkah demi mendapatkan sebuah tempat yang memang akan menjadi milik sendiri. Bukan hanya tempat untuk berteduh sejenak, tapi juga tempat untuk berdiam selamanya.


Tempat yang tidak akan di rampas orang lain. Tapi benar-benar tempat yang hanya akan di miliki sendiri.


Tapi semua itu pastilah tak akan mudah..


Karena ini bukan hanya tentang membuka hati. Tapi juga mempertahankan hati.


Hati. Huh. Ada apa dengan hati. Kenapa hati selalu menjadi teka-teki?


Dan pada akhirnya, Mia harus mengakui.. bahwa saat ini, perasaannya mulai tertuju pada seseorang. Dan orang itu adalah Elston..


"Kau sedang apa? katanya kau akan menghubungi ku setiap hari. Mana buktinya?" Mia menekan-nekan ponselnya kesal. Karena sepanjang hari ini tidak ada kabar dari Elston.


"Dasar menyebalkan! Lihat saja. Aku akan membalas mu nanti."


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2