OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-54


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Mia menghalau tangan Elston dan berpindah untuk memberi sedikit jarak. Ia tidak menghindar atau menolak untuk di sentuh, tapi perasaan Mia saat ini sedang kembali kacau. Terlebih pada pernyataan tiba-tiba yang Elston utarakan. Dan juga tawaran itu...


"Dunia seperti apa maksudmu yang pantas untuk ku?" tatapan nanar Mia membuat hati Elston berubah tak nyaman. "Aku tidak tahu jika ada dunia lain yang pantas untuk ku tinggali, selain dunia ku saat ini Els."


"Ini adalah kesalahan pertama ku." Mia berpaling. "Seharusnya aku tahu jika peringatan dari mu adalah sebuah kebenaran. Tapi aku dengan bodohnya. Dengan tidak tahu malu justru..-"


"Mia,-


"Kau benar. Aku memang harus tahu siapa diriku. Karena itulah sejak awal kau sudah memperingatkan nya padaku." Mia tersenyum miris. "Tapi dengan bodohnya, aku membiarkan hati ku pergi begitu saja, dan akhirnya, lihatlah. Aku lah yang terluka."


Mia kembali menangis. "Aku memang bodoh. Aku yang terlalu terlena dengan apa yang ku rasakan. Sehingga aku melupakan semua kemungkinan yang bisa saja terjadi. Aku lupa bahwa ada dunia dan tempat lain yang tidak boleh untuk ku injak. Berharap saja bahkan aku tidak pantas." Mia menghapus cepat air mata dari pipi nya. "Aku memang menyedihkan. Bisa-bisanya aku melakukan hal seperti ini."


Mia bukan ingin mengasihani dirinya, ia hanya mengatakan sebuah kebenaran tentang apa yang sudah ia rasakan. Jika sedikit saja ia bisa menangkap kemungkinan tentang siapa Owen, mungkin Mia bisa sedikit mempersiapkan hatinya.


Tapi setidaknya, mengatakan semua ini kepada Elston bisa membuat dirinya merasa lebih baik. Layaknya sebuah pengakuan dosa.

__ADS_1


"Mia. Dengarkan aku." Elston meraih tangan Mia dan membelainya dengan hati-hati. Elston memang belum pernah berurusan dengan hal seperti ini. Tapi ia tahu bagaimana rasanya di sakiti. Dan ia bisa sedikit membagi pengalaman nya dengan Mia.


"Kau adalah wanita yang cukup luar biasa. Untuk saat ini. Bahkan di usiamu yang sangat muda. Kau sungguh luar biasa Mia." kata Elston dengan sungguh-sungguh.


"Dan dengarkan aku," Elston menghapus sedikit air mata yang masih membekas di pipi Mia. Tatapan nanar itu kembali tertuju pada dirinya. "Jika orang lain melakukan hal yang tidak seharusnya kau terima, itu bukan karena dirimu masalahnya. Tapi karena orang itu sendiri. Ingat itu baik-baik."


"Kau bisa belajar dari hal ini bukan? dengan begitu, kau akan menjadi wanita yang lebih kuat." Elston membelai punggung Mia. "Cinta pertama tidak hanya manis Mia. Tapi juga menyakitkan. Dan kau sudah merasakannya bukan?"


"Aku tidak tahu pria seperti apa yang telah membuat mu hingga seperti ini. Tapi yang perlu kau tahu, tidak perduli seperti apapun dia, aku bisa menjatuhkan nya untuk mu. Aku bisa menyeretnya agar memohon di bawah kakimu. Bahkan saat ini."


Elston tidak pernah main-main dengan apa yang dikatakannya. Ia sungguh bisa melakukan apa saja dengan kekuatan dan kekuasaan yang ia miliki.


"Karena itu, biarkan aku berdiri di sisimu. Biarkan aku yang membuatnya membayar semua sakit hati yang telah kau terima. Kau hanya perlu memilih dunia ku. Tinggalkan dunia mu, dan datanglah padaku."


Mia tidak mengatakan apapun. Ia hanya bisa menangis dalam pelukan Elston. Mia memang marah pada Owen, tapi dari lubuk hatinya yang terdalam, ia masih memiliki perasaan yang sama pada pria itu.


"Aku tidak tahu Els. Aku tidak yakin harus membuat keputusan yang seperti apa. Aku tidak bisa memberi jawaban apapun padamu saat ini."


Elston tersenyum samar. Tatapan matanya lembut dan penuh pengertian. Mia bisa melihat kesungguhan serta ketulusan Elston padanya. "Aku tahu. Kau tidak harus menjawab nya sekarang. Tapi pikirkan lah. Aku selalu sungguh-sungguh dengan apa yang ku katakan Mia."


...❄️❄️...

__ADS_1


Pukul sembilan malam, Mia sudah sampai di apartment nya. Ia tidak tahu apakah Owen berada di sana ataukah di tempat lain seperti sebelumnya.


Kaki Mia bahkan terasa enggan untuk lewati satu per satu tangga yang akan ia naiki.


"Kau sudah kembali Mia." suara lega dan lelah menyapa inderanya. Mia tahu suara milik siapa itu. Dan juga alasan mengapa pria ini berdiri di ujung tangga.


Owen melangkah mendekat. Tapi kaki Mia justru melangkah mundur. Ia sungguh tidak ingin menghindar. Tapi tubuhnya merespon dengan cara yang berbeda.


Tatapan mata Owen terlihat ragu dan juga bertanya-tanya. Melihat sikap Mia, Owen pun memilih untuk menunggu dan membiarkan Mia yang mendekat padanya.


"Masuklah. Jika kau tidak ingin bicara padaku sekarang. Kita bisa menunggu hingga besok pagi Mia." kata Owen dengan tenang. Sedang Mia terus saja menghindari tatapan pria itu. Dan hal itu membuat hati Owen tidak tenang.


"Sebaiknya begitu. Aku lelah. Kita juga tidak bisa bicara di saat seperti ini." Mia melewati Owen begitu saja. Dan ia bisa merasakan bahwa Owen tengah menatap dirinya dari tempat pria itu berdiri saat ini.


Tapi Mia tidak peduli. Untuk kali ini saja, setidaknya Owen harus menunggu untuk dirinya.


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2