OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-80


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Mata Mia membulat dengan sempurna saat melihat bahwa Owen benar-benar berada di depan sana untuk menunggu dirinya.


Pria itu bersender di depan mobil dengan satu tangan di sembunyikan ke dalam saku celana, dan satunya lagi memegang sebuket bunga.


Saat owen mendapati tatapan tak percaya dari Mia, pria itu menampilkan senyum tipis yang Mia yakini bahwa hal itu membuat perasaan nya berubah tidak nyaman.


Mia benar-benar tidak habis pikir, apa yang sebenarnya sedang Owen lakukan. Bukankah sudah jelas bahwa hubungan mereka sudah berakhir? bahkan semua itu sudah berlalu sejak lama. Lalu kenapa?


''Apa yang kau lakukan di sini Owen?" tanya Mia dengan nafas yang sedikit memburu. Dia berlari? Ah manisnya.


''Tidak ada. Hanya sedang menunggu mu saja.'' jawab Owen dengan santainya. Pria itu juga menunjukan senyum tipis dengan sorot mata yang lembut.


Tatapan yang akan membuat Mia berdebar karena malu. Dulu Owen sering melakukannya. Tapi sekarang tidak lagi.


Mia justru merasa kesal. Ditambah lagi jawaban yang keluar dari mulut Owen bukanlah jawaban yang ingin Mia dengarkan.


''Apa kau sedang mempermainkan aku?" kata Mia kesal. "Dan barusan kau bilang hanya karena kau menunggu ku? Apa kau pikir ini masuk akal? kenapa kau,-''


Tidak. Tidak. Ini tidak benar. Kenapa juga ia harus marah? Sialan. Seharusnya ku abaikan saja tadi. Seharusnya aku menolak dengan tegas meskipun pria ini mengatakan ingin menerobos masuk. Kenapa kau bodoh sekali Mia!


Melihat sorot mata yang kesal bercampur dengan keraguan di wajah Mia, Owen kembali tersenyum. Ia berjalan selangkah lebih dekat dengan Mia dan menutup jarak di antara mereka.


Mata Mia kembali membulat. Mereka benar-benar dekat, bahkan terlalu dekat. ''Tadi aku melihat mu, Maksudku kalian.'' kata Owen. Pria itu tidak langsung menatap Mia. Tapi di balik wajah yang tertunduk, Mia bisa merasakan aura yang berbeda, dan perasaan itu membuat Mia bergidik ngeri.


''Apa yang bersamamu didalam sana adalah bos mu, maksudku pria yang Mension itu, tempat mu bekerja dulu? kau masih bekerja dengan nya?'' tanya Owen mengalihkan pembicaraan.


Kali ini pria itu menatap dirinya dengan sorot mata yang berbeda. Tatapan yang mengatakan jika Mia telah melakukan sesuatu yang salah.


''Iya.'' Sahut Mia singkat. ''Kalau kau datang hanya untuk,-'' belum lagi Mia menyelesaikan kalimatnya, Owen kembali menyela dengan menyodorkan sebuket bunga yang sejak tadi ia pegang. ''Untuk mu.'' katanya dengan nada yang sama.


Perasaan Mia berubah gelisah. Ia hanya menatap nanar pada bunga itu. Bunga yang sama seperti yang diberikan Elston pada dirinya. Apa ini sebuah kebetulan?


Tapi Mia tidak bergerak sedikitpun, ia juga tidak mengatakan apa-apa. Mia tidak bisa menerima bunga dari Owen.


Karena di dalam sana, ia sudah menerima bunga dari pria lain. Dan saat ini juga, bukanlah saat yang tepat untuk ragu. Bahkan sesungguhnya Mia tidak berniat untuk ragu sedikitpun.


''Owen, maaf,-


''Kau ingin mengatakan jika kau tidak bisa menerimanya karena kau sedang bersama dengan bos mu?'' Owen kembali menyela, membuat Mia kembali bungkam.


''Tidak. Bukan seperti itu.''


''Kalau begitu ayo kita masuk saja.'' Owen menarik tangan Mia, bermaksud untuk menggandeng nya. Namun, entah karena perasaan enggan ataukah memang secara naluriah ia melakukan hal itu, Mia menepis tangan Owen.


Gadis itu masih mematung.


Sadar akan penolakan Mia membuat Owen kembali menghadap pada gadis itu. Kali ini wajah Owen lebih lembut dari sebelumnya.


''Kau tidak ingin aku menggandeng mu karena takut jika seseorang akan diam-diam memotret kita?'' Kata-kata pria itu membuat Mia teringat kembali dengan permasalahan awal dari berakhirnya hubungan mereka dulu.


''Tenang saja. Tidak ada siapapun yang mengikuti ku ketempat ini. Lagipula aku tidak keberatan untuk diberitakan bersama mu.'' Owen tersenyum kecil. Tapi tidak dengan Mia. Gadis itu kembali menatap Owen dengan tatapan yang asing.

__ADS_1


Dan hal itu membuat hati Owen tidak nyaman. ''Bukan kah kau bersama Mr. Stuard?" kata Owen membuat Mia bergeming.


''Kau kenal dengan Elston?" Mia teralihkan.


Elston? Kau memanggil nama depannya? Cih. Ternyata kalian lebih dekat dari yang ku pikirkan. Dalam diam Owen menyimpan semua rasa cemburu yang mulai berkobar dalam dadanya.


Meskipun didalam sana ia merasa marah, tapi Owen tidak akan menunjukkan semua itu di depan Mia, tidak untuk saat ini. Ia harus menahannya.


...Berani sekali pria itu mendekati wanita ku!...


''Tentu saja. Kami juga kolega. Baru tadi siang kami bertemu. Dan karena kalian ada di sini, sekalian saja. Ada hal penting yang ingin ku tanyakan secara langsung padanya. Tapi sebelum itu, ini, terima dulu bunga ku.'' Owen masih kekeh dengan tujuan awal.


Tanpa menunggu persetujuan dari Mia, Owen langsung menggandeng tangan gadis itu dan membuatnya mengikuti Owen dengan patuh.


Mia tidak tahu jika selama ini Owen dan Elston berteman. Padahal tadi ia sempat berprasangka yang tidak-tidak. Tapi ternyata, ia hanya terlalu khawatir karena masalah yang terjadi di antara mereka.


''Apa kalian benar-benar kenal? sejak kapan?'' tanya Mia sambil sesekali melihat pada Owen. Ia ingin tahu semua hal tentang Elston yang tidak diketahuinya. Mungkin saja, Owen tahu.


''Kau pikir aku bohong. Tanya saja pada Bos mu yang cantik itu. Tadi siang saja kami baru bertemu."


Benarkah?


"Ada hal lucu yang ku tanyakan padanya.'' tambah Owen masih menggandeng tangan Mia. Bahkan penampakan keduanya lebih terlihat seperti sepasang kekasih di bandingkan mantan ataupun calon kekasih.


"Aku tidak tahu jika kalian sedekat itu. Bahkan kalian berbagi hal lucu bersama." komentar Mia menanggapi kata-kata Owen. Gadis itu memikirkan semuanya dengan seksama.


Mendengar tanggapan Mia, membuat Owen tersenyum lebih lebar dari sebelumnya. Gadis disebelahnya itu memang seperti ini. Sangat manis dan juga polos.


"Sebagai kolega bukankah kami harus memiliki hubungan yang baik? apa kau justru berpikir sebaliknya?" Owen menepuk tangan Mia yang berada di dalam genggamannya. Gadis itu menggeleng sambil tersenyum.


Pria berteman dengan pria. Tunggu? apakah pikiran itu benar? tentu saja. Tidak mungkin Elston akan jatuh cinta pada Owen. Meskipun harus Mia akui bahwa Owen memang sangat mempesona.


Tidak. Tidak. Itu tidak benar. Itu hanya pikiran bodoh ku saja. Bukankah mereka sama-sama seorang pebisnis? tidak ada salahnya jika menambah relasi sekaligus teman dekat. Pikirnya lagi.


Saat pintu kembali terbuka, Elston yang sejak awal memang tidak pernah melepaskan pandangannya dari sana kini telah terbakar api cemburu.


Bagaimana tidak. Gadis yang baru saja ia minta untuk hidup bersama dirinya, kini justru sedang bergandengan tangan dengan pria lain. Lebih tepatnya si pria lah yang memaksa untuk menggandeng tangan gadis kecilnya.


Saat Mia menyadari tatapan Elston yang tertuju kepada dirinya, dengan refleks Mia menarik lepas tangannya dari genggaman Owen.


''Selamat malam Mr. Stuard, kita bertemu lagi.'' sapa Owen dengan ramah. Pria itu tersenyum. Seolah-olah ia adalah tamu di tempat itu. Dalam hitungan detik, mata Owen langsung tertuju pada buket bunga yang di tinggalkan di kursi Mia.


Bunga yang sama dengan bunga yang saat ini ada dalam pelukan wanitanya. Owen kembali menunjukkan senyum penuh kemenangan.


Sedangkan sebaliknya, Wajah Elston justru terlihat kaku. Di saat seperti ini sangat sulit baginya untuk tidak menunjukan kecemburuan. Dasar pria brengsek.


''Sepertinya kita memang sering bertemu ya." komentar Elston dengan wajah datar. Elston ingin memasang wajah seperti biasanya, tapi ia tidak bisa. Terlebih lagi saat mereka berada dalam situasi seperti ini.


''Ada hal apa sampai anda berada disini Mr. Reaghal, anda tidak datang kesini hanya untuk bergabung dengan makan malam kami bukan? karena tidak mungkin orang seperti anda tidak bisa membeli makan malam sendiri." kata Elston cemburu.


"Lagipula, masih ada yang harus kami bicarakan. Dan saat ini kami sedang melakukan private Dinner.'' Jelas Elston benar-benar mengeluarkan kekesalan nya.


''Kami? maksudnya anda dan Mia?'' Owen terkekeh. Mia yang masih tidak mengerti situasinya sudah lebih dulu kembali ke kursi yang tadi ia tinggalkan.


"Kau tidak duduk?" ujar Mia pada Owen. Dan kata-kata itu tentu saja membuat Elston semakin merasa kesal.


Berbeda lagi dengan Owen yang saat ini sedang tersenyum manis dan menatap Mia dengan tatapan seorang kekasih.

__ADS_1


"Nanti saja. Mr.Stuard belum mengijinkan hal itu." kata Owen dengan lembut. "Aku tidak ingin mengganggu. Seperti kataku, aku hanya ingin menanyakan sesuatu."


Apakah sesama teman harus secanggung ini? Mia tidak bersuara lagi. Tatapannya kini beralih pada Elston.


Sekilas Mia bisa melihat kemarahan dari raut wajah itu, tapi saat mata mereka bertemu, wajah Elston melunak. Pria itu tersenyum dengan lembut dan mengangguk kecil pada Mia.


"Kemarilah Afrodite ku." panggil Elston mengisyaratkan dengan tangannya yang lentik. Apapun yang terjadi ia harus memenangkan pertarungan ini.


"Ada apa?" Mia bangkit dari kursinya ingin menghampiri Elston. Tapi baru saja ia berdiri, Owen kembali bersuara.


''Aku sedikit bingung.'' kata pria itu membuat Mia ikut menghentikan langkahnya. ''Kau ingat pembicaraan kita tadi bukan?'' lanjut Owen menatap Elston dengan alis berkerut.


''Bukankah tadi siang anda mengatakan jika anda tidak mengenal Mia?"


Aku? mereka membicarakan aku? saat mereka bersama? apa-apaan mereka berdua. Mia kembali merasa kesal.


"Tapi melihat semua ini, saya rasa anda sedikit tidak sopan karena berada di sini bersama dengan wanita yang saya cintai, dan jelas anda tahu kebenaran itu.'' kata Owen yang dengan sadar menunjukkan ketidaksukaan nya pada Elston.


Deg...


"Anda juga bilang jika anda tidak ingin terlibat dengan wanita yang masih memiliki hubungan dengan masa lalunya." Owen tersenyum geli. "Apa anda sedang berbohong?"


Tubuh Elston menegang. Rasanya ia sangat ingin menghadiahkan satu bogem mentah pada wajah yang saat ini sedang berbicara pada dirinya.


Mia masih diam mendengarkan Owen. Ia sedang mencerna apa yang saat ini sedang dibicarakan kedua pria itu.


''Gadis ini.'' Owen menatap pada Mia. ''Adalah gadis yang sama. Mia Allura. Wanita yang saya cintai sejak lama.'' Kini Mia benar-benar terkejut saat kembali mendengar pengakuan Owen.


"Wanita yang sama yang dengan jelas anda katakan bahwa anda tidak mengenalnya." Sial.


Braak!


Elston memukul meja yang ada di hadapannya. Kali ini bukan hanya Mia, tapi pelayan yang ada di sekitar mereka juga dibuat terkejut.


"Kau pikir siapa dirimu? Kau hanya pria sampah yang mengharapkan untuk mendapatkan kembali cinta yang sudah kau sia-siakan." balas Elston, dengan suara geram.


Baru kali ini Mia melihat Elston marah sampai seperti ini. Dan sialnya lagi, tubuh Mia justru gemetar. Ia tidak ingin ada perkelahian diantara kedua pria itu.


"Dia bukan lagi Mia Allura yang sama. Bukan lagi wanita yang mencintaimu." kata Elston yang menarik tangan Mia hingga gadis itu benar-benar berdiri di sebelahnya.


Melihat hal itu Owen mengepalkan tangannya marah. Kecemburuan nya telah sampai di ubun-ubun.


Elston menatap Mia dengan sorot mata marah bercampur rasa khawatir. "Katakan padanya Mia. Katakan bahwa kau tidak lagi mencintai nya." kata Elston menuntut.


Mata Mia membulat dengan rasa panas yang merayapi nya dengan cepat. Pikirnya kembali kacau. Apa yang harus dilakukannya?


"Katakan Mia!" desak Elston membentak. Meskipun sebenarnya ia tidak berniat demikian. Mia menunduk dengan cepat sementara air matanya kembali jatuh. Sesaat ia sempat melihat raut wajah Owen yang terluka.


Tapi di sisi lain, Mia juga tidak ingin melukai perasaan Elston..


"Kau benar Els." kata Mia, gadis itu kini menangis. "Aku tidak mencintainya lagi."


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2