OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-62


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


...Hari keberangkatan.....


"Kau sudah siap? kita harus naik pesawat sekarang." kata Elston sambil mengulurkan tangannya secara natural kepada Mia.


Sedangkan Mia berdiri di hadapannya dengan tatapan meragu. Mata itu seakan mempertanyakan semua yang ia lakukan. Mia sungguh ingin mempercayai Elston dan juga dirinya sendiri.


Dan bagi Elston, bukan ia tidak tahu alasan mengapa Mia terlihat enggan untuk meraih tangannya. Tapi untuk kali ini saja ia akan mengabaikan semua perasaan tidak nyaman yang seakan terus mengolok-olok dirinya.


Persetan dengan apa yang orang lain pikirkan. Tapi baginya hanya Mia lah yang terpenting untuk saat ini.


"Kalau kau sudah siap, kita harus pergi sekarang." ulang Elston sekali lagi.


Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, keduanya akan pergi meninggalkan Milan hari ini juga. Kepergian mereka pun bahkan di rahasiakan. Hanya Bones dan juga beberapa orang kepercayaan Elston yang tahu tentang kepergian ini. Semua itu karena Elston tidak ingin mengambil resiko mengenai keselamatan Mia.


"Hem. Aku sudah siap." sahut Mia. Hari ini adalah hari terakhir dimana Mia bisa melihat potret Owen dari layar besar yang terpampang nyata didepannya. Putra tunggal salah satu pengusaha ternama kembali terlibat skandal. Judul provokatif yang tertulis di sana.


Mia hanya bisa menghela nafas gusar. Ingatan nya kini berputar kembali pada hari-hari dimana ia dibuat jatuh cinta pada sosok yang sama yang telah menorehkan luka di hatinya.


Mia teringat akan hari dimana mereka bisa saling bertukar tawa. Bergandengan tangan. Saling menggoda, dan juga saling berpelukan dengan hangat tanpa khawatir akan apapun. Hari yang akan Mia rindukan tentunya. Tapi tentu saja semua itu hanya akan ia simpan dalam hati. Karena saat ini Owen sudah bukan miliknya lagi.


Owen sudah kembali pada wanita yang tepat. Wanita yang sesuai dengan dirinya. Dan juga wanita yang bisa membantu Owen dengan semua hal yang berkaitan dengan kehidupan para elite. Tidak seperti dirinya.

__ADS_1


"Bones, kami akan pergi sekarang. Lakukan semuanya seperti yang ku minta. Aku akan menghubungi mu begitu kami tiba di LA." kata Elston lagi menyampaikan salam perpisahannya.


Sebelumnya Bones sudah mengurus semua yang Elston minta. Seperti; Tentang pembelian apartemen Mia, pemutusan kontrak kerja dengan pihak penyedia jasa, dan juga tentang pendidikan gadis itu, serta hal-hal yang menurut Elston bisa ia lakukan. Karena pada akhirnya, hanya dirinyalah yang akan menjaga Mia selamanya.


"Baik tuan." Bones membungkuk pada Elston. Setelahnya ia juga mengarahkan perhatian pada Mia. Tersenyum hangat sambil mengangguk samar. "Sampai bertemu kembali nona Mia. Semoga perjalanan kalian menyenangkan. Mungkin saya akan memikirkan anda, sedikit." Bagi Bones keduanya sudah seperti putra dan putri nya sendiri.


Menyenangkan bukanlah kata yang tepat Bones. Sanggah Mia dalam hati. Tapi mungkin kata-kata itu bisa sedikit membantu menghilangkan kegelisahan dalam hatinya.


"Terimakasih Bones. Sampai bertemu lagi." balas Mia. Setelahnya, keduanya pun pergi untuk melakukan boarding pass.


...Aku benar-benar akan merindukan tempat ini lagi....


...❄️❄️...


...Sementara itu, di tempat lainnya.....


"Agenda selama anda berada di sana akan saya laporkan seperti biasanya. Saya juga akan mengirimkan semua laporan dari SEAM GROUP langsung kepada anda setiap hari."


Owen mengangguk samar. Ia melirik pada jam tangannya, dan lima belas menit lagi ia akan benar-benar pergi jauh dari tempat itu. Tidak hanya meninggalkan papa nya, tapi juga gadis yang ia cintai.


Owen sudah berjanji. Tidak hanya pada papanya, tapi juga pada dirinya sendiri. Jika ia kembali nanti, ia akan menunjukkan sisi terbaik dari dirinya.


Ia akan melakukan semuanya dengan baik sampai tidak satupun orang yang bisa mendapati celah dalam dirinya. Ia akan menjadi sosok yang sempurna sebagai seorang pewaris tunggal dari SEAM GROUP.


"Baiklah. Terimakasih atas bantuan mu." Kata Owen. "Dan satu lagi, tolong kirimkan bunga yang sudah ku pesan sebelumnya ke alamat ini. Pastikan yang menerimanya adalah nona Mia Allura secara langsung." pinta Owen.


"Ada opsi alamat lain juga jika kau tidak bisa menemukan nya ditempat pertama. Aku sudah menuliskan semuanya disini." Owen menyerahkan secarik kertas pada asistennya.

__ADS_1


"Baik tuan. Akan saya lakukan seperti permintaan anda."


Hari dimana Mia meninggalkan London adalah hari yang sama saat Owen juga pergi untuk melakukan pekerjaan pertamanya. Atau yang ia yakini sebagai hari pelarian terakhirnya.


Mungkin saat itu, adalah saat-saat terberat bagi keduanya. Bagi Owen; ia harus pergi meskipun rasanya ia tidak akan bisa bahagia saat tidak melihat Mia barang sehari pun.


Dan bagi Mia; ia mungkin tidak akan pernah bisa benar-benar melupakan cinta pertamanya. Meskipun ia akan pergi jauh meninggalkan semua kenangan itu.


Jika ada takdir lain dalam hidup; Keduanya berharap, semoga saja takdir tidak akan membuat mereka saling melukai lagi. Alih-alih saling menyakiti, lebih baik keduanya tidak saling bertemu lagi. Dengan begitu, mereka tidak akan saling jatuh cinta, dan juga saling melukai seperti saat ini.


...❄️❄️...


"Brengsek! Apa saja yang sebenarnya kau lakukan?" Teriak Vivian histeris. Kemarahan nya telah memuncak. Selain karena ia tidak bisa membujuk Owen untuk tetap tinggal, Vivian juga tidak bisa membuat Owen menuruti nya secara paksa.


"Dimana gadis itu sekarang? Bagaimana aku bisa menahan Owen jika kau tidak bisa menemukan nya seperti ini. Hah? Sialan. Brengsek!"


"Maafkan aku nona. Aku sudah berusaha. Tapi sepertinya, seseorang sedang berusaha menghancurkan semua rencana kita."


Vivian bernafas cepat. Dengan wajah merah padam Vivian kembali teringat pada malam saat dimana ia bertemu dengan Elston.


Hanya Elston saja yang tahu rencana Vivian untuk menggunakan Mia sebagai senjata memeras Owen, tapi sekarang semua rencana nya sudah kacau. Mungkinkah Elston yang telah menghancurkan semua rencana yang sudah disusun nya? tapi kenapa?


"Siapkan mobil. Aku harus bertemu seseorang. Beraninya laki-laki banci itu mengacaukan semuanya!"


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2