
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Saat mobilnya terparkir di garasi, Elston bisa bernafas dengan lega karena mengetahui bahwa Mia masih berada di dalam mension.
Seperti apa yang ia perintahkan sebelumnya, Bones benar-benar menjaga agar Mia tidak pergi meninggalkan mension barang sebentar.
Hal itu tentu saja dikarena rasa khawatir yang Elston miliki atas niat Vivian yang ingin melenyapkan Mia seperti rencananya. Sial. Untung saja Elston sudah mengetahui rencana tersebut lebih dulu, jika sebaliknya, maka ia tahu apa yang akan bisa terjadi pada Mia.
Wanita seperti Vivian benar-benar licik dan jahat. Tapi tidak seorang pun bisa menyentuh milik Elston, terlebih lagi jika orang itu adalah Vivian. Ingin membuat Mia menghilang selamanya? Cih. Mimpi saja. Sampai mati sekalipun Elston tetap akan menjaga Mia dengan semua yang ia miliki.
Elston bahkan bisa berbuat sebaliknya kepada Vivian jika wanita itu berani menggoreskan sedikit saja ujung jarinya pada Mia.
"Selamat datang tuan muda." Bones menyambut Elston. "Nona ada di kamar anda tuan. Terakhir saya melihatnya, nona sedang menonton di ruang santai." lapor Bones yang tahu bahwa tuannya pastilah ingin tahu dimana keberadaan Mia saat ini. Sementara Bones tetap berdiri di depan ruang kontrol tempat dimana dirinya harus bekerja.
Sekali lagi Elston menghela nafas lega. Bahkan ketegangan ditubuhnya perlahan-lahan menghilang. "Terimakasih Bones. Aku tidak tahu harus bagaimana jika kau tidak ada. Terimakasih karena telah membuat Mia masih berada di sini."
Tidak biasanya Bones melihat raut seperti itu muncul pada wajah tuan muda yang sudah ia layani begitu lama. Kali ini Elston tidak menutup-nutupi rasa kepedulian nya terhadap Mia. Bahkan kini ia secara terang-terangan menunjukkan perasaannya.
"Apa ada hal yang harus saya waspadai tuan?" tanya Bones lagi. Selain menjadi pelayan pribadi Elston, Bones juga memiliki tugas penting lainnya, yaitu memastikan keselamatan seorang Elston Stuard. Karena ia memang diberi amanat demikian.
Tangan Elston mengepal, sedang matanya kembali berkilat marah. Ia kembali mengingat semua kata-kata Vivian di Club sebelumnya.
"Untuk saat ini kau tidak harus mengkhawatirkan apapun. Tapi akan terjadi dalam waktu dekat." Kata Elston. Kemudian ia mengambil waktu untuk berpikir sejenak. "Bones, tolong siapkan semua keperluanku. Aku dan Mia akan pergi ke LA. Tolong persiapkan semuanya secepat mungkin." putus Elston lagi.
Untuk menjaga Mia tetap aman, Elston harus membawa Mia menjauh dari kota itu. Terutama ia harus menjauhkan Mia dari pangeran sialan dan wanita jahat tunangannya.
__ADS_1
"Apa ada pekerjaan mendesak di sana tuan?" Bones sengaja bertanya karena ia benar-benar ingin tahu tentang apa yang membuat tuannya membuat rencana seperti itu.
"Hem. Aku harus membawa Mia pergi dari tempat ini. Ini adalah hal yang penting. Kau siapkan saja semuanya. Kami akan pergi untuk beberapa saat. Mungkin kami akan tinggal di sana untuk sementara sampai situasi nya menjadi lebih baik." Atau mungkin selamanya.
Ini adalah kali pertama bagi Elston untuk meninggalkan kota itu setelah kepergiannya beberapa tahun silam. Cukup aneh rasanya. Tapi tak apa. Mungkin ini adalah salah satu alasan juga bagi dirinya untuk meninggalkan kehidupan lamanya yang menyakitkan.
"Tapi tuan, Bagaimana dengan kuliah nona Mia. Bukankah saat ini nona masih belum memasuki liburan musim panas?" satu hal yang hampir saja Elston lupakan.
Kenyataan bahwa Mia benar-benar masih seorang gadis kecil. Gadis itu masih harus melanjutkan pendidikannya tidak peduli jika bahaya sedang mengancam nyawanya. Benar-benar membuat khawatir.
"Tolong kau urus juga hal itu Bones. Aku mempercayakan semuanya padamu. Dan tolong juga, lakukan semuanya dengan diam-diam. Aku tidak ingin rencana ini di ketahui siapapun. Dan satu lagi, ada hal yang ingin ku minta darimu. Hanya kau yang bisa melakukannya." kata Elston sekali lagi menyerahkan pekerjaan tambahan pada Bones.
"Baik tuan. Akan saya siapkan semuanya seperti permintaan anda. Katakan saja apa yang anda inginkan."
Elston benar-benar merasa jauh lebih baik. Setidaknya ada satu orang yang bisa ia percayai dan bisa melakukan banyak hal untuk dirinya. "Terimakasih Bones." kata Elston tulus. "Aku akan melihat Mia sekarang."
...❄️❄️...
Di lantai tiga. Elston membuka pintu kamarnya untuk memastikan bahwa Mia benar-benar berada di sana. Di ruangan pribadi miliknya.
Saat kakinya melangkah masuk, samar-samar Elston bisa mendengar suara volume dari layar televisi yang menyala dari ruang santai disebelah kiri kamar tidurnya.
Dengan jantung yang berdebar-debar Elston ingin segera melihat wajah Mia. Kali ini ia berharap, gadis itu tidak lagi menunjukkan wajah sedih di depannya. Hati Elston merasa sakit jika harus melihat mata sembab Mia.
Ini jugalah salah satu alasan mengapa sebelumnya Elston tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun. Karena ia tahu, begitu hatinya terjerat maka ia akan menjadi sosok yang mudah goyah dan juga begitu sensitif. Elston tahu bahwa hal ini juga bisa menyakiti dirinya. Tapi ia tetap ingin melakukan semuanya untuk Mia.
Karena Mia adalah......
"Mia?" Elston langsung melangkah masuk keruang santai dan melihat Mia. Gadis itu memang berada di sana. Tapi saat ini ia tidak menggunakan ruangan itu sebagaimana fungsinya. Mia tertidur.
__ADS_1
"Terimakasih Tuhan. Gadis ini masih berada disini, dan selamat."
Dengan langkah yang lebih pelan Elston menghampiri Mia dan dengan perlahan juga ia meraih tubuh Mia, mengangkat nya, dan mendekapnya erat. Elston ingin memindahkan tubuh Mia ke tempat tidur.
Tapi baru saja Elston memeluk Mia, mata sayu itu berkedip-kedip untuk mengumpulkan sedikit kesadaran. "Els, kau sudah pulang?" tanya Mia samar. Elston masih melanjutkan langkahnya. Sementara Mia sudah berada dalam rengkuhannya.
"Hem. Tidurlah lagi. Aku hanya ingin memindahkan mu keatas tempat tidur."
"Apa aku boleh melakukan itu? kau tidak akan memecat ku besok pagi bukan?" Cih. Elston tersenyum simpul.
"Kau mengatakan itu padahal kau sudah sering melakukannya."
Senyum samar sedikit terlihat di wajah Mia, sedang matanya kembali tertutup. "Benarkah aku melakukan itu? aku benar-benar dalam masalah."
"Syukurlah akhirnya kau sadar. Kau memang membuat dirimu selalu dalam masalah." balas Elston.
"Kenapa kau begitu baik padaku? padahal kau tidak memiliki kewajiban untuk menjaga ku seperti ini. Terimakasih Els. Aku benar-benar beruntung telah mengenalmu."
Dalam hitungan detik, tubuh Mia sudah berpindah keatas tempat tidur. Setelah nya Elston hanya diam mematung. Perlahan-lahan senyum samar tergurat jelas di wajah Elston. Ia juga merasa begitu lega. Akhirnya ia bisa menjaga gadis kecil miliknya..
Hanya di saat-saat seperti inilah Elston bisa dengan leluasa memperhatikan Mia tanpa membuat gadis itu memikirkan arti dari tatapannya.
..."Selamat tidur gadisku. Cinta pertama ku. Ku harap kau bisa bermimpi yang indah."...
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1