
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Masih di tempat pembaringan yang sama, Elston seakan-akan enggan untuk melepaskan pelukannya dari tubuh Mia.
Ia masih teramat sangat merindukan gadis itu. Meski sudah menghabiskan waktu seharian pun rasanya rindu yang bersarang di dalam dadanya belum akan mereda.
"Apa kita hanya akan seperti ini sepanjang hari?" tanya Mia seraya menatap Elston yang juga sedang menatap lekat pada dirinya. "Em.. kau tidak bekerja? sepertinya kau sudah sangat terlambat." Mia mengingatkan. Karena saat itu waktu sudah menunjukkan pukul satu siang.
...Sudah sangat jelas bahwa Elston memang terlambat. Semoga saja Bones tidak akan mengomeli mereka....
"Apa aku harus bekerja? rasanya aku tidak ingin pergi kemana pun." sahut Elston malas. Pria itu enggan untuk berjauh-jauhan dengan Mia. Elston menghirup udara banyak-banyak dan menghembuskan nya perlahan. "Begini saja lebih baik." katanya kembali merapatkan pelukannya pada Mia. Hangat.
"Kau sungguh-sungguh tidak ingin bekerja? Bagaimana jika Bones mengomeli mu? atau mungkin orang-orang dari perusahaan sedang mencarimu saat ini." bujuk Mia masih berusaha membuat Elston beranjak dari atas ranjang.
Sambil menyunggingkan senyum arogan, Elston menjawab "Itu mudah saja. Bukankah aku hanya perlu memerintahkan pada Bones agar meliburkan seluruh karyawan khusus untuk hari ini." katanya gamblang.
"Wah. Kau benar-benar terdengar bijak." sarkas Mia, menggeleng samar.
"Tentu saja. Apa kau baru menyadarinya." Lucu bukan? Elston selalu saja memiliki argumen balasan. Tentu saja. Bukankah sejak pertama bertemu, pria ini memang seperti itu? kenapa baru menyadarinya Mia?
...Kau yang aneh jika berpikir Elston akan menuruti mu seperti anak kecil yang selalu menunggu untuk diarahkan. Gumam Mia dalam hati....
Karena Elston tidak juga mau mengalah, dengan sekuat tenaga Mia melepaskan dirinya hingga benar-benar terduduk di samping Elston. Akhirnya. "Sudahlah. Jangan bercanda lagi. Ayo. Kau harus bangun." Mia menarik pelan tangan yang masih terjalin di sela-sela jari-jari miliknya.
"Kau sudah melewatkan waktu sarapan mu. Dan sekarang aku tidak akan membiarkan mu melewatkan jam makan siang juga. Jika kau melakukan itu, aku juga pasti akan mendapat omelan dari Bones." Mia masih berusaha menarik tangan Elston hingga pria itu duduk meskipun dengan raut wajah terpaksa.
Karena usaha Mia, mau tidak mau Elston pun menurut saja. "Apa sekarang kau sedang perhatian padaku?" Elston tersenyum. menggoda Mia.
"Aku sedang melakukan pekerjaan ku Els." sahut Mia tanpa berpikir. "Karena kau menganggap aku adalah orang yang spesial untuk mu kan?" Elston masih berusaha mencari tahu isi hati Mia.
"Karena kau bos ku?" lagi. Ah...Apa gadis ini benar-benar tidak bisa mempertimbangkan perkataannya sebelum keluar dari mulutnya begitu saja? dasar gadis penyihir. Gerutu Elston dengan wajah cemberut.
"Hanya itu? tidak lebih?" Kini giliran Mia yang mengulas senyum. "Dan juga, karena aku ingin yang terbaik untuk mu Els. Aku tidak ingin kau sakit karena melewatkan jam makan mu. Kesehatan adalah prioritas." jelas Mia dengan suara yang lembut.
Hati Elston menghangat, wajah nya kembali berbinar. "Jadi artinya karena kau peduli padaku?"
__ADS_1
Mia mendekatkan wajahnya hingga mata keduanya benar-benar bertatapan. "Tentu saja. Kau pikir tidak?" Deg. Wajah Elston merona.
Ia tahu jika Mia memang peduli pada dirinya. "Aku selalu percaya padamu gadis penyihir. Meskipun mulutmu terkadang seperti belati, tapi hatimu sangat hangat dan lembut. Karena itulah aku menyukaimu."
Wajah Mia bersemu. Apa kau benar-benar bisa memahami maksud ku Els? "Kalau begitu ayo bangun. Aku akan menyiapkan makan siang mu. Kau juga harus mandi dan bersiap-siap." Mia kembali menarik tangan Elston.
Tapi Elston menghentikan Mia dengan melakukan yang sebaliknya, tangan gadis itulah yang kini di tarik hingga tubuh Mia limbung kearah Elston dan membuat keduanya kehilangan jarak. "Apa tidak boleh aku memakan mu saja?" goda Elston sambil memeluk Mia.
Tahu bahwa Elston sedang berniat menggoda dirinya, Mia hanya memutar matanya, kemudian membalas dengan tatapan sinis pada Elston. "Apa aku terlihat seperti makanan cepat saji?" ucap Mia dengan bibir cemberut.
Melihat tingkah Mia benar-benar membuat hati Elston tergelitik. Ah manisnya. Elston tertawa. "Kau memang tidak mau mengalah ya?"
"Aku belajar dari mu."
...❄️❄️...
Setelah menyiapkan makan siang dan menatanya di atas meja makan, Mia kembali kelantai atas untuk memeriksa kesiapan Elston.
Saat Mia mencari Elston ke kamarnya, pria itu tidak ada di sana. Mia pun melihat ke arah ruang kerja. Pintu ruangan itu terbuka. Dan dari sana Mia bisa mendengar suara Elston.
"Katanya tidak ingin bekerja. Tapi lihat, apa ini?" gumam Mia berjalan mendekat ke arah ruang kerja. "Kerjakan semuanya serapi mungkin. Aku tidak ingin ada kesalahan. Baik tentang Vivian maupun Mr. Reaghal." suara Elston terdengar dingin.
Langkah Mia terhenti. Ia tidak tahu mengapa Elston menyebutkan kedua nama itu. "Lakukan seperti yang ku perintahkan."
Apa yang sedang kau bicarakan Els? dada Mia berdegup cepat. "Aku tidak ingin melihat wanita itu ada di sekitar ku. Camkan itu. Tentang Mr. Reaghal, aku akan mengurus nya sendiri." Kata Elston masih melanjutkan pembicaraan dengan seseorang yang Mia tidak ketahui.
Meskipun hatinya dipenuhi berbagai macam pertanyaan, Mia tidak ingin menyela Elston, karena ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya pria itu bicarakan. Yang Mia tahu hanyalah Elston yang berulang kali menyebutkan nama Vivian dan juga Owen.
...Apa ini tentang pekerjaan?...
Karena tidak ingin di anggap menguping, Mia pun kembali turun ke lantai dasar. Ia memilih untuk menunggu di sana seraya mencerna apa maksud dari perkataan Elston sebelumnya.
Walau bagaimanapun, Elston adalah bos nya. Dan meskipun mereka dekat, bukan berarti ia bisa ikut campur begitu saja dalam berbagai hal. Ia tahu dimana batasan dirinya.
"Mia...?" suara khas Elston terdengar beriringan dengan suara langkah kakinya yang menuruni tangga. "Mia kau dimana?" panggil Elston lagi.
"Nona Mia ada di pantry tuan." sahut Bones cepat. "Benarkah? baiklah. Terimakasih Bones." Elston melangkah dengan cepat ke arah pantry untuk mencari sosok yang masih dirindukannya.
"Kau menunggu lama?" Elston mencium pucuk kepala Mia, sambil menyunggingkan senyum simpul. "Tidak juga. Ayo duduk dan makanlah." Mia menyiapkan makanan Elston dan juga menyiapkan makanan lain di atas nampan. "Aku akan mengantarkan ini untuk Bones." kata Mia cepat.
__ADS_1
"Kau akan membiarkan aku makan sendiri?" tanya Elston terlihat muram.
"Aku tidak akan lama. Hanya mengantarkan ini." sahut Mia di sertai sedikit senyuman. Elston pun mengangguk.
Seperti perkataan nya, setelah mengantarkan makan siang Bones Mia kembali lagi ke meja makan untuk menemani Elston, dan keduanya pun makan bersama sambil berbincang-bincang hangat.
Selesai makan siang, Bones sudah berdiri di samping keduanya. "Sekertaris anda menelpon tuan, pimpinan SEAM GROUP ingin bertemu dengan anda sekarang juga." lapor Bones menyampaikan sesuai permintaan dari sekertaris pribadi Elston.
Elston menyeka mulutnya sambil mencuri pandang dengan hati-hati kepada Mia. "Apa ku bilang, kau harus pergi bekerja bukan?" ujar Mia yang tidak ingin suasana di sana berubah canggung karena Elston mengkhawatirkan dirinya.
Elston tersenyum masam. "Hah.. ini menyebalkan. Kalau begitu, kau ikut saja dengan ku. Aku masih merindukanmu." pinta Elston pada Mia. Dan jelas, pria itu tidak ingin di bantah.
Yang benar saja. Bagaimana jika aku dan Owen bertemu lagi? terlebih lagi kami bertemu saat aku sedang bersama Elston. Apa yang harus ku katakan nanti?
"Apa aku harus ikut? ada beberapa pekerjaan yang harus ku selesaikan Els. Aku juga harus bertemu dengan Mrs. Olivia." tawar Mia, dengan sejujurnya ditambah sedikit alasan untuk menolak. Olivia adalah rekan kerja Elston saat di LA, dan orang yang sama yang ingin merekrut Mia bergabung di perusahaan miliknya.
"Kalian sudah membuat janji?" tanya Elston dengan alis terangkat.
"Hem. Mrs. Olivia ingin aku datang ke kantor nya siang ini. Jadi..."
"Baiklah. Aku akan menjemputmu di sana. Telepon aku jika kau sudah selesai. Oke?" Akhirnya. "Baiklah."
"Mari tuan, mobil anda sudah siap." ujar Bones menyela keduanya. "Ya ya.. kau sangat tidak sabaran sekali Bones." Elston terlihat sedikit kesal.
"Jangan lupa hubungi aku." peringat Elston lagi pada Mia. Gadis itu hanya mengangguk sambil tersenyum. "Sampai nanti Els." ujar Mia saat keduanya sudah berlalu.
Mia pun bisa bernafas lega. Ia masih belum siap bertemu Owen dengan situasi yang akan membuat mereka kembali merasa canggung. Terlebih lagi saat ia bersama Elston. Mia tidak bisa membayangkan apa saja yang mungkin akan di lakukan Elston di sana.
"Hei.. " sapa Elston lagi membuat Mia sedikit terkejut. "Els.. ada apa?" pria itu kembali. Berdiri di belakang Mia dengan tatapan yang entah apa artinya.
"Boleh aku mencium mu? di pipi saja. Tidak lebih." pintanya dengan sopan dan sedikit canggung. What? ada-ada saja. Menggemaskan. Mia mengulas senyum kecil. Ia berdiri dan menghadap pada Elston. "Lakukan saja." ujar Mia.
Mendapatkan ijin dari Mia, benar-benar membuat Elston nmerasa senang. Tanpa ragu-ragu ia pun mencium Mia seperti permintaannya. Pipi kanan, pipi kiri, dengan lembut dan juga perasaan berdebar.
"Terimakasih Mia."
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...