OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-28


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


...Sebuah pengakuan seharusnya sangatlah membahagiakan. Terutama jika pengakuan tersebut memang berasal dari orang yang diharapkan.....


Seperti pengakuan yang Mia dapatkan dari Owen. Kata-kata yang mendebarkan hingga membuat Mia hampir gila.


Percaya atau tidak, jantung Mia saat ini berdegup lebih keras dari yang seharusnya. Mia berdebar. Luar biasa berdebar. Bagaimana ia harus mengungkapkan perasaannya saat ini?


Pria itu. Owen. Owen jatuh cinta padanya? Bahkan Owen mengakui semua pada Mia. Saat ini. Di sini. Di apartemen miliknya.


Tapi sejak kapan? Sejak kapan pria itu juga menyukai dirinya?


Mia akui jika mereka memang memiliki hubungan yang baik. Tidak hanya sebagai seorang dosen dengan mahasiswi, tapi juga sebagai tetangga. Tapi sejak kapan..?


Mia pikir hanya dirinya yang menganggap hubungan mereka lebih dari yang seharusnya. Apalagi saat dimana Mia tahu jika Owen sudah memiliki seorang tunangan. Mia sudah memutuskan untuk menyerah dan melupakan perasaan nya saat itu juga.


Siapa pun akan menganggap Mia wanita tidak bermoral jika mencintai pria yang sudah bertunangan.


Tapi barusan Owen memeluk dirinya dengan erat dan mengungkapkan perasaan pria itu untuk dirinya.


Apakah pernyataan cinta barusan adalah kebenaran? atau kah hanya halusinasi Mia saja?


Seandainya saja hanya halusinasi, lantas kenapa Owen memeluk nya begitu erat hingga membuat tubuh Mia terasa kaku?

__ADS_1


...Ini nyata Mia. Nyata. Sadarlah!...


...❄️❄️...


Dengan kesadaran penuh Mia menggerakkan badannya hingga menimbulkan sedikit jarak antara dirinya dan Owen.


"Owen?" kata Mia, pelan. Berharap Owen bisa membiarkan dirinya lolos. Mia perlu bernafas. Sungguh. Meskipun ini momen mendebarkan, tetap saja tidak benar jika sampai membuat dirinya pingsan.


"Sebentar saja Mia. Biarkan aku memeluk mu sebentar saja." cegah Owen menolak untuk melonggarkan tangannya. "Aku hanya ingin merasakan dirimu dalam pelukan ku seperti sekarang."


Jantung Mia kembali berdegup cepat. Bahkan wajahnya terasa hangat. Mia tersipu. Owen terlalu manis untuk bisa Mia atasi. Terutama jika pria itu sedang bersikap seperti ini. Apakah benar pria ini adalah pria yang sama yang dikenal Mia selama ini, tetangganya?


"Owen. Tunggu. Aku tidak bisa bernafas. Tolong bergeser lah sedikit." pinta Mia tersekat. Mendengar permintaan Mia Owen pun tersadar jika pelukannya terlalu erat.


Tubuh Mia terlalu kecil dan rapuh untuk dirinya yang seorang pria. Dan saat ini Owen sedang mengerahkan semua tenaga untuk mendekap wanita itu. Bodoh.


"Maafkan aku Mia." ujar Owen dengan manik-manik cemas. "Apa aku menyakitimu? Kau terluka? aku sungguh tidak sengaja. Aku hanya ingin..." Mia tersenyum kecil. Owen benar-benar terlihat manis dimatanya.


Dan anehnya, Mia sangat ingin kembali dalam pelukan hangat tadi. Pelukan yang tiba-tiba membuat dirinya merasa kehilangan.


"Duduklah. Kita harus bicara bukan?" kata Mia berusaha tersenyum kepada Owen. Hah. Andai saja Mia bisa menetralkan degup jantung nya lebih cepat.


"Kau benar. Kita harus bicara." turut Owen dengan senyum canggung. Jantung nya juga berdegup dengan luar biasa. Owen bahkan bisa melihat tangannya bergetar. Ia nervous. Mia membuat nya menjadi seperti ini. Tenang lah kawan. Kau seorang pria dewasa.


"Bicaralah." kata Mia lagi. Kali ini, Mia ingin memastikan bahwa apa yang di dengarnya tadi adalah sebuah kebenaran. Bukan hanya sekedar luapan emosional sesaat.


Dan untuk keduakalinya, Owen sudah lebih siap. Di dalam kepalanya ia sudah bisa menyusun semua kata-kata yang ingin di sampaikan nya pada Mia. Terlepas dari gadis itu menerima dirinya atau tidak.

__ADS_1


"Aku tahu ini terdengar gila bagimu Mia." Kata Owen memulai, sementara matanya terus melekat pada Mia.


"Kau bisa menganggap ku konyol atau apapun. Tapi aku sungguh-sungguh. Apa yang ku katakan tadi adalah kebenaran." sambung Owen lagi.


Ini benar-benar mendebarkan. "Aku jatuh cinta padamu. Dan perasaan ini sudah ada sejak lama. Aku tidak ingat kapan ini di mulai, hanya saja aku sudah tidak bisa lagi menyembunyikan perasaan ku padamu. Rasanya aku akan gila jika aku hanya bisa menatap mu diam-diam tanpa mengatakan semua yang aku rasakan."


...Dengarlah Mia. Pengakuan ini. Ini nyata!....


"Kau bisa menganggap ku gila. Aku tahu ini sangat konyol untuk mu. Terlebih lagi jika mengingat hubungan kita selama ini." kata Owen mulai resah.


"Dan yang harus kau ketahui, aku tidak ingin membuat mu merasa terbebani dengan pengakuan ku. Tapi jika boleh dan jika kau juga memiliki perasaan yang sama untuk ku, dengan segala kesungguhan; Aku ingin kau menjadi kekasihku, Mia. Jadilah wanita ku."


...Sebuah permintaan yang Mia pikir tidak akan pernah menjadi kenyataan......


...Owen memintanya untuk menjadi seorang kekasih......


Wajah Mia tiba-tiba memucat, ia teringat sesuatu. "Owen tunggu." Mia ragu, tapi ia harus memperjelas semuanya.


"Bagaimana dengan tunangan mu.." sela Mia dengan wajah kaku. Inilah permasalahan mereka yang seharusnya mereka bicarakan terlebih dahulu di bandingkan larut dalam pernyataan cinta yang memabukkan.


Owen lupa tentang itu. "Maksud mu Vivian?" Mia mengangguk serius. "Vivian bukan tunangan ku Mia. Vivian hanya masalalu.."


Mia bingung untuk menanggapi pernyataan tersebut...


...Hanya sebuah masalalu. Itulah yang Owen katakan. Jika begitu, kenapa Vivian mengatakan hal yang sebaliknya? Yang mana yang bisa Mia percaya?...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2