
...❄️...
...❄️...
...❄️...
...MENSION ELSTON...
Pukul sembilan lewat tiga puluh menit, Mia menepati janjinya untuk kembali ke Mension Elston. Dan sepertinya, Bones pun menjaga janji nya pada Mia untuk tidak mengatakan apa-apa perihal kedatangannya tadi pagi.
"Selamat pagi nona, sepertinya anda tiba dengan selamat." Sapa Bones yang sudah berada di ruang kontrol. Pria itu sudah siap untuk bertugas seperti biasa.
"Selamat pagi juga Bones. Terimakasih atas bantuan mu tadi pagi." Mia tersenyum lembut. Jika tidak ada Bones ia tidak tahu bagaimana nasibnya, mungkin saja ia akan terus berada dalam situasi yang canggung bersama Owen. Karena itulah, Mia sangat merasa bersyukur atas kebaikan pria itu.
"Tidak masalah nona. Anda bisa minta bantuan saya kapanpun." balas Bones dengan anggukan samar. Mia tahu jika ia akan sangat bisa mengandalkan orang-orang yang ada ditempat ini. Orang-orang yang selama ini telah memperlakukan dirinya dengan begitu baik.
Bahkan Mia sendiri pun tidak terpikirkan dengan cara apa untuk membalas semua kebaikan yang telah ia terima.
"Aku akan pergi melihat tuan muda. Kalau begitu, aku akan naik sekarang." pamit Mia. Bones hanya mengangguk. Dengan langkah gontai, Mia menaiki anak tangga satu per satu.
Dalam hatinya, ia masih terpikirkan tentang Owen. Bagaimana raut wajah pria itu saat meninggalkan apartment nya tadi pagi. Mia harap, mereka tidak akan lagi berada dalam situasi yang tidak nyaman seperti itu.
"Jangan khawatir Mia, semuanya pasti akan baik-baik saja." Gumamnya menenangkan hatinya. Dan tanpa terasa langkah kakinya sudah membawa Mia berdiri di depan pintu kamar Elston.
Kamar yang dulu selalu ia masuki dengan percaya diri. Tapi sekarang, ia merasa sedikit cemas. Sial. Semua ini karena pertemuannya dengan Owen.
"Tenanglah Mia. Pikirkan Elston saja. Bukankah kau datang untuk ini? jangan pikirkan yang lainnya."
Mia diam sejenak. Ia masih berdiri di depan pintu, menempelkan kuping kearah pintu. Kamar itu terdengar begitu sunyi, yang artinya, Elston masih belum bangun. Syukurlah.
Dan beruntung nya lagi, sebelumnya Mia sudah meminta remote cadangan dari Bones, karena itulah ia bisa membuka pintu di depannya tanpa harus meminta ijin dari pria yang ada di dalam sana.
Dengan hati-hati Mia membuka pintu kamar Elston. Ia takut jika sedikit saja suara yang di timbulkan nya akan membuat Elston terbangun. Saat pintu sedikit terbuka, Mia sedikit mengintip ke dalam, dan benar saja, Elston masih tertidur dengan pulas. Mia menghela nafas lega.
Ia pun masuk perlahan, dan kembali menutup pintu dengan cara yang sama. Mia menghampiri tempat tidur Elston dan berdiri di sisi ranjang. Diam-diam ia memperhatikan wajah maskulin yang saat ini masih terpejam. Hati Mia kembali berdebar. Bahkan wajahnya di buat bersemu.
__ADS_1
Wajah Elston sangat berbeda dengan sebelumnya. Jika beberapa bulan yang lalu Mia masih bisa mendapati bulu mata palsu yang menempel pada mata yang tertutup itu, tapi sekarang, wajah itu terlihat berbeda. Jauh lebih indah, dan juga mengagumkan.
Rahang tegas namun berbentuk sempurna, di balut dengan kulit mulus dan kumis tipis yang mulai tubuh semakin menambah kesan maskulin dari pria itu.
Mia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana luar biasanya wajah Elston saat mata itu terbuka nantinya, karena pesona seorang Elston terletak pada bola mata indah yang berwarna biru kristal.
"Kau benar-benar sudah gila Mia." Wajah Mia menghangat. Kali ini ia sedang mengagumi sosok dari pria yang membuat hatinya berdebar.
Mia duduk di pinggiran ranjang dengan gerakan seringan bulu. "Selamat pagi Els, apa kau tau jika aku merindukan mu." Mia tersenyum hangat saat kembali memandangi wajah Elston.
Bahkan tanpa ia sadari, tangan Mia sudah bergerak lebih dulu untuk membelai rambut halus yang sedikit menudungi bulu mata Elston.
Grab!
Mia tersentak, saat tangannya tiba-tiba saja di genggam dengan begitu erat. Jantungnya berdebar cepat. Bahkan ia sedikit takut, karena tindakan nya hampir sama seperti seorang mesum yang sedang memperhatikan seseorang yang di kagumi dengan cara diam-diam.
Mata yang tadinya terpejam, perlahan-lahan terbuka. Sedang tangan Mia masih di genggam erat. Mia bisa merasakan jika jantung nya akan melompat keluar saat ini juga. Ia bingung harus mengatakan apa jika Elston sampai marah padanya karena telah melakukan hal seperti ini.
...Ah, bodohnya!...
Tapi anehnya, ketakutan Mia menyurut begitu saja. Ia justru melihat yang sebaliknya, Elston malah tersenyum dengan lembut padanya, "Hem.. Aprhodite ku." katanya seraya melenguh. Apa Elston sedang mengigau? ya Tuhan.
"Aku merindukan mu. Dan sepertinya aku beruntung, karena kau selalu hadir dalam mimpiku seperti sekarang." gumam Elston yang perlahan-lahan kembali terpejam.
Hati Mia terasa hangat. Dirindukan sampai seperti ini membuat perasaan nya kembali membuncah. "Aku gadis yang beruntung Els, dan kau yang membuat nya demikian."
Selang waktu berlalu, Mia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak mungkin menarik tangannya begitu saja. Ia juga tidak berani membangunkan Elston. Mia belum siap untuk menerima kemarahan pria itu.
...Tenanglah Mia. Tenanglah. Bernafas.... Huh.... Huh... Bernafas.......
Setelah cukup lama tangannya berada dalam pelukan Elston, dengan perlahan-lahan Mia ingin menarik kembali menarik tangannya, tapi ternyata usahanya terbuang sia-sia. Genggaman Elston terlalu erat. Bahkan sesekali Elston mencium tangan Mia sambil terpejam.
"Apa ku bangunkan saja ya?" ujar Mia yang mulai gusar. "Jika berada dalam posisi ini sebentar tidak masalah. Tapi jika untuk beberapa jam, bisa-bisa punggung ku cidera." Mia benar-benar di buat kebingungan.
Akhirnya ia hanya bisa menepuk-nepuk punggung Elston agar pria itu tidur semakin pulas. Meskipun sebenarnya Mia justru harus melakukan hal yang sebaliknya. Karena Elston harus bekerja.
__ADS_1
..."Kenapa aku harus berada dalam situasi ini?"...
...❄️...
Pukul sepuluh lewat lima belas menit. Elston mulai terbangun. Tidurnya terasa begitu nyaman bahkan ia bisa merasakan jika tubuhnya yang lelah kembali segar.
Saat sudah benar-benar terbangun, Elston baru menyadari jika tangannya sedang menggenggam erat tangan seseorang.
Ia sungguh-sungguh melihat tangan dalam genggamannya. Saat berbalik dan memastikan dengan mata kepalanya sendiri, jantung Elston benar-benar berdebar cepat.
...Ya Tuhan, apa ini? Apa aku masih bermimpi?...
Plak! Elston memukul pipinya sendiri. Sakit. Itulah yang ia rasakan. Yang artinya, ia sedang tidak bermimpi ataupun berhalusinasi kerena terlalu merindukan gadis itu.
Gadis yang tertidur dengan pulas di sebelahnya. Mia. Bahkan tanpa Elston sadari matanya mulai terasa panas. Bukan karena ia terlalu sensitif, tapi karena perasaan bahagia yang mulai membuncah dalam dadanya.
Elston masih belum percaya jika saat ini ia bisa melihat, bahkan membelai gadis yang sangat ia rindukan. Gadis miliknya. Mia-nya.
Tanpa menunggu-nunggu lagi Elston langsung memeluk tubuh Mia yang sedang tertidur dengan begitu erat. "Kau benar-benar akan membuat ku gila, Mia. Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku. Hem?"
Elston tidak peduli jika Mia akan marah pada dirinya, yang pasti ia sedang berbahagia. Dan pelukan Elston yang erat, kini membangunkan Mia yang sebelumnya tidak sadar jatuh tertidur di samping Elston.
Tubuh Mia menegang saat menyadari Elston sedang memeluknya erat. Saat ini.
"Els..." panggil Mia lembut. "Kau jahat sekali. Kenapa tidak bilang jika kau akan pulang? apa kau sengaja?" sahut Elston masih memeluk Mia dan berulang kali mencium kening Mia.
"Surprise..." ujar Mia sedikit ragu. Namun ternyata membuat hati Elston semakin berdebar. "Sebenarnya aku ingin membuat kejutan, tapi ternyata.."
Elston melepaskan pelukannya. Mia masih berbaring di atas tangan Elston, membuat wajah keduanya begitu dekat.
"Kau benar-benar gadis penyihir." ucap Elston dengan mata berkaca-kaca. "Apa kau menyukai kejutannya?"
"Suka. Sangat suka. Aku merindukan mu." Elston kembali memeluk Mia. "Aku juga merindukanmu Els.."
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...