
...❄️...
...❄️...
...❄️...
...SEAM GROUP...
"Tuan. Ini laporan minggu ini. Dan tentang keberangkatan anda ke Miami akan dilakukan dua hari lagi." kata sekertaris Owen saat menyerahkan laporan padanya.
"Baiklah." sahut Owen.
"Apa Presdir sudah tiba di kantor?"
"Presdir sudah tiba di kantor tuan. Dan satu lagi, Rapat untuk kunjungan ke Miami akan dilaksanakan dua puluh menit lagi. Sebelum itu, anda diminta untuk menemui Presdir." jawab sekertaris Owen.
"Baiklah. Kalau begitu kau bisa kembali."
Setelah membaca sebentar laporan yang tadi diberikan padanya, Owen pun langsung pergi untuk menemui ayahnya.
...Tok..Tok.....
Setelah mengetuk sebentar, Owen langsung membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut. "Papa, kau memanggil ku?" tanya Owen saat menunjukkan dirinya dari balik pintu.
"Kemarilah son. Kau harus melihat ini." kata Mr.Reaghal dengan wajah gusar. Tanpa bertanya lagi, Owen pun langsung menghampiri ayahnya.
"Ada apa papa?"
Saat itu juga Mr. Reaghal memberikan laporan pada Owen untuk dibaca. "Sepertinya kau harus pergi ke sana untuk mengatasi hal ini lebih dulu."
Yang ditunjukan padanya adalah laporan dari kantor cabang dimana Vivian bekerja saat ini. Terjadi penurunan drastis yang dialami kantor cabang, bahkan laporan keuangan yang diberikan terlihat kacau.
Entah bagaimana kerja wanita itu selama ini. Padahal jelas sebelumnya, jika melihat kinerja Vivian selama ini, pantang baginya untuk mengirimkan laporan yang berantakan seperti ini. Tapi sekarang kelihatan nya sudah berbeda.
"Baiklah papa. Aku akan pergi hari ini juga. Setelah itu aku akan langsung pergi ke Miami." kata Owen yang masih membaca laporan ditangannya dengan dahi berkerut.
"Lakukan seperti itu saja Son. Aku tidak tahu bagaimana hal seperti ini bisa terjadi. Padahal sebelumnya kantor cabang baik-baik saja." keluh Mr.Reaghal berpikir keras.
"Papa tenang saja. Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana. "
...Drrtt... Drrtt......
Ponsel dalam saku Owen bergetar. Sekertaris nya lah yang menghubungi. "Rapat akan dimulai sepuluh menit lagi tuan." kata sekertaris itu mengingatkan.
"Baiklah. Aku akan kesana sekarang. Tolong siapkan semuanya."
__ADS_1
"Baik tuan."
...❄️❄️...
Pada siang harinya, Owen beserta sekertaris pribadinya pun tiba di pusat kota, tempat dimana kantor cabang milik SEAM GROUP berada.
Tanpa menunda-nunda lagi Owen langsung pergi ke kantor untuk menindaklanjuti laporan yang ia terima sebelumnya.
"Selamat datang Presdir." Sapa seorang pria paruh baya yang menempati jabatan manager di kantor cabang tersebut. Kedatangan Owen kali ini memang mendadak, bahkan tanpa pemberitahuan sedikitpun.
"Segera adakan rapat. Dan bawa semua laporan bulan ini kepada ku." perintah Owen, membuat sang manager sedikit gelagapan.
"Baik Presdir. Sesuai permintaan anda."
Dalam dua puluh menit, semua kepala divisi bahkan Vivian sudah berkumpul diruang rapat.
"Owen? kau datang?" Vivian tersenyum lebar menyambut pria yang dianggap nya masih sebagai kekasihnya itu.
"Kenapa tidak mengabariku jika kau akan datang? padahal aku bisa,-
"Duduklah ditempatkan mu Vi. Ini bukan pertemuan pribadi. Aku masih harus meminta pertanggungjawaban dari laporan yang dikirimkan ke kantor pusat." kata Owen dengan ekspresi datar. Membuat suasana saat itu sedikit mencekam.
Dalam hati Vivian justru tersenyum senang. Rencananya telah berhasil untuk membuat Owen datang ketempat itu.
"Tuan, rapat akan dimulai sekarang." kata sekertaris nya mengingatkan. Owen duduk di tempatnya, sedang Vivian memilih untuk duduk di kursi yang paling dekat dengan Owen.
Di kantor cabang, Vivian bahkan sudah menyebarkan berita bahwa Presdir akan datang untuk menemui dirinya.
Hingga beberapa saat setelah Vivian mengirimkan laporan palsu tersebut, para pegawai wanita sudah mulai membicarakan hal tersebut.
...Rapat pun dimulai....
Saat rapat sedang berlangsung Owen sengaja memberikan sedikit tekanan dalam rapat tersebut. Bahkan sang manajer masih bingung apa yang membuat Presdir dari kantor pusat datang untuk melakukan inspeksi seperti ini.
"Ini laporan yang anda minta Presdir." sekertaris memberikan laporan yang dibawa oleh manager. Owen membaca semua laporan sejenak. Dahinya berkerut dengan wajah yang mulai memerah. Sialan.
Laporan keuangan tersebut jauh berbeda dari laporan yang ia baca Sebelumnya di kantor pusat. Kali ini ia kembali tertipu.
Braak!
Owen menghempaskan laporan tersebut ke atas meja membuat semua yang ada diruang itu terkejut. Kecuali Vivian.
Wanita itu sedikit banyak sudah bisa memprediksi bagaimana reaksi Owen saat pria itu tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dengan wajah yang kaku. Kini Owen beralih kepada Vivian. Jika ada yang salah pada saat ini, maka semua itu pastilah ulah dari wanita yang masih bisa duduk dengan santai menunjukkan wajah tidak bersalah.
__ADS_1
"Apa-apaan ini Vivian." kata Owen dengan suara rendah dan tajam. Owen masih berusaha menahan geram dengan ulah Vivian sudah berani mengirimkan laporan palsu padanya.
"Owen, apa maksud mu?" kata Vivian masih pura-pura terkejut. Dasar pembohong! Wanita licik! Owen mengutuk Vivian dalam hati.
Tapi kali ini Owen tidak akan membiarkan wanita itu berulah. Vivian sudah keluar dari kata profesional dalam bekerja.
Owen berdiri sambil menatap tajam pada wanita itu. "Aku tidak tahu jika kau akan berbuat sejauh ini hanya untuk bermain-main Vi. Sepertinya kau terlalu menganggap tinggi dirimu." suara Owen semakin terdengar dingin.
Bahkan manager yang ada diseberang meja pun tidak berani bersuara karena takut dengan kemarahan pria itu.
"Dengarkan aku baik-baik." Kata Owen melirik tajam pada sang manajer. "Berikan surat pemecatan untuk manager keuangan hari ini juga." perintahnya lalu pergi meninggalkan ruang rapat tanpa satu patah katapun.
"Ap..apa? yang barusan itu?" semua mata kini tengah tertuju pada Vivian. Wanita yang katanya adalah tunangan sang Presdir.
"OWEN!"
Vivian yang tidak terima dengan keputusan tersebut langsung berlari keluar untuk mengejar Owen.
"Owen apa maksud dengan surat pemecatan? kau ingin memecat ku? atas ijin siapa? apa uncle tahu apa yang kau lakukan? Kau pikir para dewan direksi akan setuju?" wanita itu masih mendesak Owen dengan teriakan marah yang menggebu-gebu.
Owen menghentikan langkahnya kemudian berbalik pada Vivian. Kemarahan jelas masih terpancar nyata pada wajah pria itu.
Vivian bergidik. Namun wanita itu masih saja keras kepala. Ia tidak ingin tunduk dibawah Owen. Karena seharusnya pria itulah yang memohon pada dirinya. Tapi sepertinya, kali ini Vivian salah dalam memperhitungkan sesuatu.
"Aku tidak perlu ijin siapapun untuk memecat mu." kata Owen menunjuk pada Vivian dengan suara rendah.
"Aku adalah Presdir. Dan perusahaan ini milik ku Vi. Kau hanya pekerja yang ku gajih dari uang perusahaan ku. Berani sekali kau mempertanyakan keputusan yang ku buat.!" Kata Owen memberikan tatapan muak pada Vivian.
Wanita itu tidak bersuara atas penghinaan yang diterimanya.
"Sialan! Kau brengsek Owen. Brengsek!" Vivian berteriak marah.
Setelah mengatakan keputusan nya dengan jelas Owen pun langsung meninggalkan kantor cabang untuk meneruskan perjalanan bisnisnya.
Kali ini Owen benar-benar tidak bisa memaafkan perbuatan Vivian.
Tidak hanya bisa merugikan perusahaan, tindakan wanita itu benar-benar diluar nalar sama sekali. Dan Owen tidak ingin terlibat lebih jauh lagi dengan Vivian.
...Cukup dua kali ia menanggung akibatnya.....
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1