
...❄️...
...❄️...
...❄️...
...UNIVERSITAS X...
Vivian dan Drigo akhirnya tiba di tempat Owen bekerja. Karena tidak menemukan pria itu di rumahnya, maka Vivian tidak punya pilihan lain selain datang menemui pria itu di sini.
Tempat Owen menjalani karier barunya. Sebuah universitas yang cukup ternama. Vivian baru tahu jika mantan tunangannya itu memiliki bakat sebagai seorang pengajar.
"Kau tunggu saja di sini Drigo. Aku akan pergi sendiri." Perintah Vivian pada asisten nya.
"Baik nona.* turut Drigo yang memilih menunggu di luar mobil. Sementara Vivian sudah berjalan ke dalam kampus.
"Dimana aku bisa menemui Owen Reaghal?" tanya Vivian pada salah satu mahasiswa di kampus X.
"Sir Owen sedang berada di kelas nona. Seharusnya sir Owen berada di ruang Alfa, yang berada di lantai tiga." jelas si pria.
"Kalau begitu di mana cafetaria kampus ini?" tanya Vivian lagi. Ia tidak ingin menunjukkan diri pada saat Owen sedang melakukan pekerjaan nya. Karena ia tak ingin pria itu menyambutnya dengan wajah kaku seperti terakhir kali mereka bertemu.
"Ada di lantai 2. Sebelah kiri." Dua orang pria di depan Vivian terlihat cengengesan saat bertatapan langsung dengan dirinya.
Vivian sudah terbiasa saat para pria melihat dirinya lapar. Ia memang memiliki kemampuan itu.
"Apa aku merepotkan mu jika meminta tolong sekali lagi?" pinta Vivian dengan suara membujuk. Sedikit memelas menunjukkan sedikit daya tarik. Para pria biasanya sangat menyukai saat wanita terlihat lemah..
__ADS_1
"Tidak masalah nona. Katakan saja." Benar bukan. Pria-pria ini terbujuk.
"Tolong katakan pada sir Owen jika Vivian Chalondra menunggu nya di cafetaria. Dan ku ucapkan terimakasih atas pertolongan mu, tampan." Sedikit senyuman menggoda Vivian suguhkan sebagai ucapan terimakasih.
"Baik nona. Akan segera kami sampaikan seperti yang anda inginkan."
...❄️❄️❄️...
...Alfa Room...
Saat mengetahui Vivian ada di tempatnya bekerja, Owen langsung buru-buru keluar dari kelasnya. Bukan karena Owen ingin melihat Vivian dalam hitungan detik. Tapi karena ia benci untuk bertemu dengan wanita itu.
Apa yang ingin dilakukannya di tempat ini? Sialan!
Saat tiba di Cafetaria, Owen langsung bisa mengenali sosok Vivian. Meskipun mereka tak pernah bertemu sejak beberapa tahun lalu, tapi siluet wanita itu tak pernah berubah.
Masih sangat akrab di ingatan nya. "Apa yang kau lakukan di sini Vivian?" suara Owen dingin jauh dari keramahan saat menyapa mantan tunangannya itu.
Jika dulu, mungkin nada itu bisa menggetarkan jiwanya saat nama Owen di sebut, tapi sekarang, ia muak.
"Bukan kah hubungan kita sudah berakhir sejak lama?" sahut Owen tegas.
"Maksud mu saat kau menghilang begitu saja dua tahun lalu?" cibir Vivian.
"Cih. Sepertinya kau lupa apa yang sudah kau lakukan. Kau menjebak ku Vivian!" Owen menatap dingin wajah Vivian.
"Apakah begitu kejadian nya? aku benar-benar lupa. Seingat ku saat itu kau juga menyukainya. Bahkan kau yang datang sendiri. Apa aku salah?" Kenyataan yang tidak akan bisa Owen pungkiri. Saat ia tertipu oleh cinta palsu dari Vivian. Setidaknya Sekarang ia bisa menganggap nya begitu.
__ADS_1
"Tapi kau yang membuat semua wartawan itu datang." Kesabaran Owen mulai menipis. Sampai saat ini ia masih begitu menyalahkan dirinya sendiri atas kesalahan yang diperbuatnya.
Vivian menghalau kan tangan ke udara, senyum itu lagi. Cih. "Sudahlah Owen. Jangan membahas masa lalu lagi. Aku datang bukan untuk itu." ujar Vivian enggan untuk terus berbasa-basi. "Duduk lah."
Dengan perasaan enggan, Owen pun duduk berhadapan dengan Vivian. Sungguh situasi yang di bencinya.
"Aku datang karena ingin kau tahu bahwa paman membutuhkan mu sekarang. Kembalilah ke tempat mu seharusnya berada." karena memang itulah tujuan Vivian. Owen harus segera kembali ketempat dimana seharusnya pria itu berada dan menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai seorang putra tunggal pemilik SEAM GROUP.
Kening Owen mengernyit, sedang sorot matanya terlihat tajam. "Kau sedang memerintah ku seperti saat itu Vi?" ujar Owen sinis.
Vivian tersenyum mengejek. "Tidak. Aku tidak berhak melakukan itu jika saja kau sadar apa yang sedang kau katakan. Aku hanya mengingatkan tentang posisimu. Atau kau akan melihat paman berjuang sendiri dalam situasi yang tidak memungkinkan ini." elak Vivian.
Owen menautkan kedua alisnya bingung, "Apa maksud mu?" Selama ini Owen memang tidak pernah menghubungi ayahnya. Bukan karena ia tak ingin tahu apa yang sedang ayah nya hadapi, tapi karena ia yakin bahwa ayahnya selama ini selalu baik-baik saja.
"Heh. Ternyata kau benar-benar putus hubungan dengan paman." Cibir Vivian. Salah satu yang sangat Owen benci adalah saat orang-orang mulai ikut berkomentar tentang hubungan antara dirinya dengan sang ayah.
"Kembalilah jika kau ingin tahu Owen. Atau setidaknya bicaralah dengan paman. Itu saja yang bisa ku katakan sebagai tunangan mu. Aku permisi." Vivian melewati Owen begitu saja.
"Aku bukan tunangan mu lagi. Camkan itu!" Mendengar peringatan Owen, Vivian segera berbalik.
"Ini bukan tentang kita Owen. Tapi tentang paman. Jika kau masih peduli dengan paman dan juga apa yang seharusnya menjadi milikmu, maka kembalilah."
...Sekali lagi Vivian mengatakan sesuatu yang belum Owen mengerti. ...
...Apakah sesuatu sedang terjadi?...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...