OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-70


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Dengan perasaan yang gelisah dan juga dada yang tak henti-hentinya berdebar, Elston terus saja mondar mandir di ruang tamu demi sedikit menenangkan dirinya.


Dan hal itu sudah terjadi sejak satu jam yang lalu. Sejak terakhir kali Mia menghubungi dirinya dan mengatakan bahwa gadis itu akan segera masuk ke ruang sidang. Sejak saat itu, jantung Elston selalu saja berdebar tak menentu.


Ada perasaan khawatir bercampur dengan begitu banyak kecemasan ketika memikirkan apa yang akan di hadapi Mia saat ini.


Sementara Bones diam-diam mengawasi Elston yang menunjukkan perasaannya dengan begitu kentara. Pria paruh baya itu tak banyak berkomentar ketika melihat apa yang sedang dilakukan oleh tuan mudanya. Karena baginya, hal ini adalah pemandangan yang langka.


Seorang Elston yang biasanya bersikap dingin, terlihat masa bodoh dan juga tak suka terlibat dengan urusan orang lain, justru sedang dibuat cemas berkepanjangan hanya karena memikirkan seorang gadis.


"Mau saya ambilkan camilan atau mungkin minuman tuan?" tawar Bones yang melihat Elston tak henti-hentinya menunjukkan wajah gusar. Berharap Elston bisa sedikit mengurangi ketegangan dalam dirinya.


Tapi anehnya, mendengar tawaran Bones Elston justru memberikan tatapan seorang ayah yang tak berdaya ketika mencemaskan putri kecilnya. Entah pria itu menyadari nya atau tidak. "Ah.. Tidak usah Bones." jawab Elston seraya menggeleng kecil. "Saat ini aku tidak bisa makan ataupun minum."


...Benar-benar seperti seorang ayah yang sedang mengkhawatirkan putri kecilnya. Bones mengangguk maklum....


"Nona Mia pasti akan baik-baik saja tuan." Bones kembali berucap berharap ketenangan dirinya bisa sedikit mengurangi ketegangan yang sedang berlangsung.


"Aku yakin juga begitu. Tapi tetap saja aku belum bisa tenang jika belum mendengarnya langsung." kata Elston lagi. "Lagi pula kenapa juga jam ujiannya harus sore. Kasihan sekali Mia ku. Dia pasti ketakutan menghadapi semuanya seorang diri. Seharusnya aku ada di sana."


Bones hanya mengangguk ikut menyetujui pendapat Elston. Karena mereka memang tak bisa berbuat apa-apa dengan hal itu.


Ditambah lagi Perbedaan waktu delapan jam antara LA dan London semakin membuat Elston merasa frustasi.

__ADS_1


"Kita tunggu saja tuan. Semoga saja nona Mia bisa menyelesaikan semuanya dengan baik." Itu adalah kata penghiburan kecil sekaligus doa tulus dari seorang pria paruh baya yang juga mulai terbawa arus ketegangan karena melihat kecemasan dari tuannya.


"Tentu saja Bones. Hal itu sudah pasti. Jangan meragukan Aprhodite kecilku." sambung Elston sedikit tak setuju dengan kata-kata semoga yang Bones ucapkan.


Melihat raut wajah Elston yang berubah kesal, membuat Bones buru-buru menjelaskan maksud dari ucapannya. "Saya tidak meragukan nona Mia sama sekali tuan. saya hanya mendoakan nya saja."


Bones sangat mengenal Elston, meskipun lahir di jaman modern, tapi pikiran pria muda itu sedikit kolot dan kaku dari yang seharusnya. Ditambah lagi, tuannya itu sangat sensitif jika menyangkut hal-hal yang di anggap nya penting.


"Ah.." wajah yang tadinya mengkritik kini secara spontan berubah melunak. Elston salah paham akan maksud dari Bones. "Aku tahu maksud mu, maafkan aku." Benar-benar hal yang langka.


"Ayolah Aprhodite. Kenapa lama sekali.." keluh Elston lagi, sambil menatap cemas pada ponsel canggih miliknya.


Elston merasa jantung nya akan segera melompat keluar karena terus dibuat khawatir dan berdebar tak karuan seperti ini.


Ia sendiri merasa bingung dengan dirinya. Mia yang sedang melakukan ujian tapi kenapa justru dirinya yang dibuat gelisah.


Rasanya ia ingin berada di sana untuk memastikan semuanya secara langsung. Elston juga ingin menjadi orang pertama yang memeluk Mia dan mengucapkan selamat kepada gadis itu setelah ia menyelesaikan sidangnya. Ia sangat ingin melakukan hal itu.


...Jika terus begini lebih lama lagi yang ada aku akan tambah frustasi....


Karena memikirkan sesuatu, Elston menghentikan kegiatan mondar-mandir yang dilakukannya sejak tadi, kemudian bergegas menaiki tangga. "Tuan, anda,-"


"Siapkan semuanya Bones, aku akan terbang ke LA malam ini juga." ujar Elston memberi perintah. Itu adalah ide baru yang ia dapatkan karena ia tak bisa memikirkan hal lainnya lagi.


"Itu tidak mungkin tuan." Cegah Bones. Dan lagi-lagi wajah Elston menunjukkan rasa tak suka. "Kenapa tak mungkin Bones?" tanya Elston yang kini mulai merasa kesal.


Dengan suara yang tenang, Bones mulai menjelaskan semuanya secara perlahan pada Elston. "Anda memiliki meeting penting besok pagi tuan. Dan penerbangan ke LA akan memakan waktu yang cukup lama."


Satu hal yang harus Bones ingatkan agar tuannya itu tidak bersikap gegabah. "Jika anda pergi sekarang, anda tidak akan kembali tepat waktu meskipun anda pergi dengan Jet pribadi tuan."

__ADS_1


...Ah. Sial....


Seharusnya Elston tahu akan hal itu. Tapi bagaimana lagi, ia tak menemukan jalan keluar lainnya yang memungkinkan agar bisa merasa lebih baik.


Pada akhirnya Elston hanya bisa menghela nafas berat. Kata-kata yang bones ucapkan memang benar adanya. Dan ini sungguh situasi yang sangat mengesalkan.


Ia benar-benar tak bisa melakukan apa-apa untuk memastikan bagaimana keadaan gadis Aprhodite nya. Padahal ia sudah berjanji akan ada dalam situasi apapun, tapi kali ini ia justru dibuat tak berdaya.


"Sebaiknya kita tunggu saja tuan, mungkin sebentar lagi nona Mia akan memberi kabar.." Elston pun mengharapkan hal yang sama. Tapi tetap saja ia tak bisa tenang.


"Ya. Baiklah." Elston hanya bisa menuruti kata-kata Bones. Setelahnya, Elston tetap melanjutkan langkahnya dan memilih kembali ke kamarnya. Bukan untuk bersiap-siap. Tapi kembali untuk menunggu.


...❄️❄️...


"Selamat Miss Mia Allura. Anda di nyatakan lulus." salah satu penguji memberikan keputusan terakhir di tengah-tengah kecemasan dan juga kegugupan yang mulai mengintimidasi Mia.


Dan kata Lulus adalah kata-kata yang sejak tadi sudah ia tunggu-tunggu dengan jantung berdebar. Akhirnya ia bisa bernafas dengan lega. "Terimakasih Prof. Nixel." ucap Mia dengan mimik wajah bahagia.


Satu lagi tugas penting dalam hidupnya sudah terselesaikan dengan baik. Dan selanjutnya yang akan ia lakukan adalah melangkah ke tahap yang lebih tinggi.


Di saat seperti ini, yang terlintas dalam pikiran Mia hanyalah Elston. Ia ingin berbagi kebahagiaan nya bersama pria itu.


Pria yang selalu menjadi penyemangat dan juga penyeimbang dalam diri Mia. Selain itu, ia pindah ke LA Elston lah satu-satunya orang yang berperan penting dalam hidup Mia. Dan apa yang di raihnya saat ini, tidak lain karena kerja keras dan juga dukungan dari Elston.


"Akhirnya. Terimakasih Els. Terimakasih sudah bersama ku selama ini."


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2