OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-73


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Dalam kegelapan malam. Owen yang tengah di rundung perasaan cemburu, hanya bisa duduk diam di tengah-tengah ruang tamunya yang terasa semakin sunyi.


Sedang waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Tapi matanya masih juga terjaga. Ia sama sekali tidak bisa terpejam.


Seharusnya, ini adalah hari paling membahagiakan lainnya dalam hidup Owen. Hari-hari nya yang di isi dengan kerinduan, mungkin akan segera berakhir. Tapi anehnya, ia tidak merasa demikian.


Dan saat ini, hanya beberapa kaleng bir yang masih setia menemani dirinya. Owen masih berusaha menahan diri dari rasa rindu dan juga cemburu yang sejak tadi terus mengusik hatinya.


Meskipun di lubuk terdalam hatinya ia merasa lega dan juga bahagia karena bisa bertemu dan melihat Mia lagi, gadis yang selama beberapa waktu lalu bahkan ia tak tahu dimana keberadaan nya, namun saat ini hanya berada beberapa langkah di depannya; tetap saja tak bisa menutupi apa yang sedang Owen rasakan.


Mendengar gadis yang di cintai nya merindukan pria lain, menimbulkan gejolak perasaan asing dalam dada Owen. Ada rasa sakit dan juga kecewa yang semakin lama semakin merongrong akal sehatnya, dan semakin lama semakin brutal. Owen kesakitan.


Bahkan rasa cemburu itu sepertinya tak membiarkan Owen untuk bisa berpikir sebagaimana mestinya. Ia terlalu marah dan gelisah. Pria mana yang saat ini telah membuat wanitanya berpaling?


...Brengsek!...


...Owen hanya bisa meratapi diri....


Ternyata selama ini ia sudah terlalu terlambat. Gadis yang sangat dicintainya ternyata telah menambatkan hatinya pada pria lain. Pria yang entah siapa. Tapi ia yakin bahwa pria itu adalah pria yang bisa menggoyahkan hati Mia..


...Argh. Sial! Sial! Sial!...


Semua ini karena kesalahannya. Kesalahan yang membuat dirinya bahkan tidak bisa mengelak. Jangankan untuk membela diri, bahkan sepertinya Owen tidak lagi memiliki kesempatan meskipun ia sangat ingin mendapatkan nya.


Apakah ia begitu tak tahu malu, karena menginginkan sesuatu yang sudah tidak lagi menjadi miliknya? Atau haruskah ia bersikap egois, sekali lagi? hanya sekali lagi saja.


Owen ingin membuktikan, jika perasaan nya selama ini tidak pernah berubah. Jika cinta yang dimilikinya dulu masih tetap sama. Bahkan hatinya tak pernah teralihkan walau hanya sesaat..


Semuanya masih sama. Masih tetap untuk Mia seorang. Owen hanya ingin menunjukkan itu. Kesungguhan hatinya. Ketulusan cintanya. Hanya itu..


Owen ingin diberikan kesempatan untuk menebus kesalahan sebelumnya. Ia ingin di berikan kesempatan untuk sekali lagi memberikan kebahagiaan pada wanita yang sangat ia cintai.


...Tapi sepertinya.......


"Owen..?"


Suara lembut yang khas bercampur dengan keterkejutan menyeruak menghantam kesadaran Owen. Membuat tubuhnya menegang. Itu Mia. Gadis yang bahkan terlihat enggan untuk menatap matanya, tadi.


...Apa yang dilakukannya di jam seperti ini? ingin melarikan diri lagi?...


Mia sendiri tidak yakin dengan apa yang dilihatnya saat ini. Sebab tempat itu terlalu gelap. Tapi dari cahaya samar-samar diluar balkon, Mia mengenali sosok itu. Sosok yang saat ini terlihat lebih waspada dari sebelumnya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di sana? kau belum tidur?" tanya Mia meyakinkan dirinya bahwa itu adalah Owen.


Mia berjalan perlahan untuk mencari dimana tempat untuk menyalakan lampu. Ia ingin pergi ke dapur untuk mengambil minuman. Ia pikir Owen sudah tertidur sama seperti dirinya. Tapi ternyata.. "Kau perlu sesuatu?" ujar Owen menghentikan langkah Mia.


"Aku haus. Aku hanya ingin.."


"Tunggu saja. Aku akan mengambil nya untuk mu." ujar Owen sekali lagi membuat Mia benar-benar terdiam ditempatnya.


Ia berdiri dengan patuh di dekat pintu kamar yang saat ini ia tempati, bersender pada tembok, menunggu.


Mia tidak tahu jika Owen masih terjaga. Apa Owen merasa tidak nyaman dengan keberadaan ku di sini? karena itukah dia juga tidak bisa tidur? karena aku mengganggu nya? pikir Mia masih mematung.


"Ini, minumlah." Samar-samar Mia bisa melihat gelas yang di sodorkan Owen padanya. Juga hembusan nafas Owen yang sedikit berbau alkohol.


...Apa Owen baru saja minum-minum disini? sendirian? Kenapa?...


Mia tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi wajah Owen saat ini. Apakah pria itu sedang menatap dirinya, ataukah sebaliknya?


"Terimakasih." ucap Mia. Dan saat mengambil gelas tanpa sengaja jari-jari tangan Mia menyentuh jari-jari tangan Owen.


Dingin. Ya, tangan pria itu terasa dingin. Apa yang dilakukan nya di cuaca seperti ini, bahkan tanpa menyalakan pemanas ruangan. Tapi sudahlah, itu bukan urusan ku.


Setelah menghabiskan air mineral dari dalam gelas, Mia bisa merasa lega. Tenggorokan yang tadinya kering kini sudah terasa segar.


Dan Owen masih berdiri di sana. Tidak bergerak sedikitpun. "Apa kau baik-baik saja?" baru saja Mia bertanya tanpa disadarinya Owen sudah berdiri lebih dekat, bahkan terlalu dekat.


Deg..


Deg..


"Mia, aku senang bisa melihat mu lagi. Sungguh. Dan juga, maafkan aku." Owen tahu apa yang dilakukannya. Tidak seharusnya ia menakuti Mia seperti ini dengan sikapnya. Tapi, sekali saja. Owen sungguh-sungguh ingin menjadi orang itu..


Menjadi orang yang telah membuat gadis yang di cintai nya tersenyum bahagia dengan begitu banyak untaian kata cinta yang menanti keduanya..


"Mia, aku harus bagaimana? bolehkan ku katakan jika selama ini aku tidak baik-baik saja. Aku sangat merindukanmu. Aku mencoba untuk melupakan mu seperti yang kau inginkan. Tapi aku tak bisa. Aku harus bagaimana?" Owen menyandarkan kepalanya di bahu Mia.


Deg..


"Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus ku lakukan sekarang. Apa aku terlalu egois, karena sampai saat ini aku masih mencintaimu?"


Mia tidak tahu apa maksud Owen mengatakan semua itu padanya. Tapi satu yang ia tahu, pengakuan itu, dan juga kedekatan mereka saat ini, Mia tidak membencinya. Bahkan jantung nya berdebar... sekali lagi.


"Owen.." panggil Mia yang ingin agar Owen bisa bicara dengan baik jika pria itu memang ingin bicara. Tapi tidak dengan cara yang mengejutkan seperti ini.


"Owen..-


Panggilan lembut Mia membuat Owen mengangkat kepalanya. Mata keduanya bertatapan meski dalam kegelapan. Dan sekali lagi, darah Mia berdesir dengan cepat.

__ADS_1


Meskipun terasa canggung, tapi perasaan ini masih terlalu familiar bagi keduanya;


Dengan kesadaran penuh, Mia bisa merasakan jika saat ini bibir lembut dan hangat yang dulu pernah menyentuh bibirnya kembali berada di sana. Di tempat yang sama.. tempat yang membuat dirinya merasa .. berdebar.


Deg ..


Tapi anehnya, ciuman Owen bukanlah ciuman yang menuntut ataupun ciuman yang dilakukan dengan paksaan. Tapi sebaliknya, ciuman Owen seperti sentuhan yang begitu lembut. Membelai, membujuk dan juga menunggu..


Menunggu agar Mia membuka diri dan menerima. Menerima apa yang akan diberikan pria itu, menerima apa yang ingin di sampaikan Owen melalui sentuhan bibirnya..


Sadarlah Mia! Kau tidak bisa melakukan ini! Ini bukanlah hal yang benar!


...❄️❄️...


Pukul empat dini hari, Mia hanya bisa diam terpaku sambil membelai lembut rambut Owen yang saat ini tertidur di pangkuannya.


Pria itu langsung tertidur setelah memeluk dan menangis dalam pelukannya. Mia tidak tahu apa yang membuat Owen seperti itu. Owen tidak mengatakan apapun. Selain pengakuan itu. Apakah pria ini benar-benar mabuk?


Tapi kenapa? kenapa ia harus melihat semuanya? Dan kenapa juga ia harus mendengar semua pengakuan itu? kenapa Owen harus menunjukkan sisi dirinya yang seperti ini? dan membuat hatiku....


Tanpa Mia sadari, air matanya mengalir begitu saja. Air mata yang sejak tadi terus saja memaksa untuk keluar dari tempatnya.


Hatinya kembali terasa sakit. Bahkan saat ini dadanya seperti terbakar. Tapi anehnya ia bahagia. Hal itulah yang membuat Mia terheran. Apa yang terjadi pada dirinya. Kenapa ia harus melewati malam dengan perasaan seperti ini.


Selama ini ia sudah berjuang dengan baik untuk mengatasi hati dan juga perasaannya yang terluka. Tapi kenapa, usahanya justru terasa sia-sia.


Kenapa pula hatinya begitu lemah. Apakah selama ini ia sudah benar-benar melupakan semuanya? melupakan perasaannya? dan juga kesalahan pria ini?


...Tidak....


...Kau salah Mia. Kau salah. Ini tidak berarti apapun. Ya.. ini tidak berarti apapun. Semua yang terjadi malam ini bukanlah kenyataan....


...Selama ini kau sudah melakukan yang terbaik. Kau sudah melakukannya.. Kau sudah melakukannya....


.......


.......


.......


...Benarkah?...


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2