OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-33


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


...SEAM GROUP...


...OWEN mengenakan salah satu jas yang tersimpan dengan rapi di fitting room miliknya. Dengan garis wajah yang semakin dewasa, tidak bisa memungkiri fakta bahwa Owen adalah tipikal yang sangat di incar oleh para wanita. Ini Adalah kali pertama bagi Owen setelah beberapa tahun berlalu....


...Jika dulu dirinya masih begitu muda dan naif untuk mengetahui bagaimana cara dunia bisnis bekerja; maka sekarang Owen sedikit lebih siap untuk menerima kenyataan tentang siapa dirinya....


Suara ketukan terdengar begitu tergesa-gesa di pintu ruang kerjanya, "Kau sudah siap?" Vivian tersenyum saat kepala nya lebih dulu muncul dari balik pintu.


"Semua orang sudah menunggu mu." Vivian berjalan lebih dekat dengan mata menilai; "Lihatlah Owen, kau memang lebih cocok dengan stelan seperti ini. Lebih seperti dirimu." kata Vivian.


"Di bandingkan dengan mengenakan pakaian biasa dan juga kacamata aneh mu itu, ini lebih terlihat seperti kau. Owen ku sudah kembali." komentar Vivian yang merasa senang karena Owen telah menepati janjinya.


Tatapan Owen berubah tajam. Sedang dahinya terlihat berkerut; Owen sedang tidak merasa nyaman dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Vivian.


"Bagaimana pun diriku, aku adalah aku Vi. Dan ku harap kau tidak menganggap remeh sesuatu yang sangat ku sukai." peringat Owen yang merasa tersinggung karena Vivian meremehkan mimpinya.


Tapi bagi Vivian, ketidaknyamanan Owen bukanlah urusannya; "Well, baiklah. Kau benar. Apapun yang kau lakukan, kau tetap lah dirimu. Dan tidak ada yang bisa mengubah fakta bahwa kau lah tuannya. Aku mengerti." turut Vivian. Tangannya meraih dasi Owen hingga meninggalkan sedikit jarak di antara mereka.


Vivian tersenyum; matanya kembali mengobservasi kedalam tatapan tajam yang Owen berikan;

__ADS_1


"Meskipun sedikit terlambat, tapi aku akan tetap mengatakan nya." kata Vivian menepis pelan bahu Owen. "Selamat datang kembali Owen Reaghal. Selamat atas posisi barumu." Vivian tahu bagaimana harus mengendalikan permainan. Karena itulah ia akan membuat Owen menjadi pria yang sama. Pria miliknya.


Sebuah ciuman lembut dan intim mendarat begitu saja di bibir Owen.


Owen sempat tersentak; tapi ia memilih untuk tidak merespon ciuman Vivian. Karena itulah Owen langsung mendorong Vivian agar ia bisa lepas dari wanita itu.


"Apa yang telah kau lakukan Vi. Jangan melakukan sesuatu yang tidak ku kehendaki. Ini peringatan pertama ku sebagai atasanmu."


Setelah nya Owen berlalu meninggalkan ruangannya. Dengan senyuman geli Vivian langsung mengikuti di belakang Owen.


...❄️❄️...


Limousine putih dengan lambang E-X-S, berhenti di depan gerbang universitas yang tidak lain adalah kampus Mia.


"Tidak perlu Els. Aku akan kembali tepat pukul 3. Dan aku akan datang tepat waktu." tolak Mia. Karena sebenarnya ia tidak memiliki pertemuan pada mata kuliah apapun; selain janji makan siang bersama kekasihnya, Owen.


"Kau yakin? aku tidak keberatan menunggu hingga jam kuliah mu berakhir." Elston bersikeras. Lagi-lagi Mia harus mengeluarkan jurus ampuhnya agar Elston mau mendengarkan kata-kata nya.


"Aku tidak ingin membuat mu terlalu lama berada didalam mobil ini Els. Kau perlu istirahat. Kau juga harus memeriksa pekerjaan mu bukan?" Mia tersenyum. "Pulanglah. Aku akan menemani mu menonton film itu jika kau menurut." bujuk Mia.


Mata Elston menyipit; "Film itu? kau yakin?" Mia mengangguk cepat, "Aku janji. Aku akan menemani mu menonton nya."jawab Mia.


Bones menatap keduanya dari kaca spion; Elston tersenyum lebar. "Baiklah. Kalau begitu pergilah sekarang. Siiiuuu... siiiiuuuu... pergilah." jari lentik Elston mendorong bahu Mia.


"Baiklah. Sampai nanti Els. Terimakasih atas tumpangannya tuan Bones." ucap Mia yang langsung keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


Di persimpangan kampus; tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di depan Mia. Kacanya perlahan terbuka.


"Hai sugar palm." Owen tersenyum dari dalam mobil. Itu kekasihnya. "Masuklah." kata Owen. Dengan wajah bersemu Mia pun duduk tepat di sebelah Owen.


Dan Owen mencium bibir Mia untuk keduakalinya. Ciuman yang lebih menuntut dan mendebarkan. Mia sedikit terkejut karena bukan hanya mereka berdua yang ada di sana. Tapi juga supir Owen yang baru pertama kali Mia temui.


"Aku merindukan mu sugar palm." Mata Owen menghangat. Owen memegang tangan Mia dan menghujani nya dengan ciuman seringan kapas. Wajah Mia semakin bersemu.


Mia memang masih belum terbiasa dengan suasana baru yang terjadi di antara mereka. Owen sangat berbeda dengan citra yang Mia ketahui selama ini.


Mia kira Owen adalah tipe yang canggung dan berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Tapi ternyata Mia salah. Setelah menjadi kekasih Owen, Mia mendapati bahwa pria itu lebih ekspresif dari yang Mia bayangkan dan juga.. sedikit berani.


"Kita akan makan siang di luar?" tanya Mia mengalihkan tatapannya. "Bolehkah aku memakan mu saja?" lagi-lagi mata itu.


Tatapan yang Owen berikan benar-benar membuat Mia jadi salah tingkah.


Melihat Mia yang tidak bisa berkata-kata membuat hati Owen tergelitik; "Aku bercanda. Kau manis sekali sugar palm." kata Owen tertawa kecil kemudian menciumi kedua pipi Mia.


"Aku hanya belum terbiasa." Aku Mia kikuk. "Aku akan membuat mu terbiasa."


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2