
...❄️...
...❄️...
...❄️...
...Kamar....
...Adalah tugas pertama Mia. Semoga saja pekerjaan pertamanya tidak terlalu melelahkan....
Tanpa ragu sedikitpun Mia langsung mengikuti Elston. Elston pun hanya tersenyum dalam diam saat Mia berjalan perlahan mengikuti ritme langkahnya.
Elston masih menunggu. Ia ingin melihat berapa lama gadis kecil itu akan menunjukan taringnya. Bagaimana pun, Mia tetap lah gadis yang di kirimkan oleh keluarga nya. Dengan kata lain Mia adalah seorang mata-mata. Sama seperti para wanita sebelumnya.
Saat tiba di depan kamar pria itu hanya dalam hitungan detik pintu di depan mereka sudah terbuka lebar, Mia sempat takjub dengan apa yang di lihatnya.
Mension itu sedikit berbeda dengan rumah-rumah orang kaya yang sering ia lihat pada umumnya. Terlihat lebih modern dan juga canggih.
"Masuklah Mia." ujar Elston, saat gadis itu hanya memandang takjub di depan pintu. Benarkah yang ia lihat ini?
Kamar ini lebih cocok jika di miliki oleh seorang tuan muda genius. Bukan pria cantik seperti ini. Setidaknya itulah yang Mia pikirkan.
Dan tanpa banyak bertanya, Mia pun masuk lebih dalam untuk melihat kamar itu secara keseluruhan. Dan sekali lagi Mia benar-benar terpukau dengan apa yang ada di depannya.
Amazing. Adalah kata yang tepat untuk menggantikan bagaimana rupa dan bentuk dari kamar pria yang ada di depannya saat ini.
Elston berbalik sambil berkacak pinggang di depan Mia. Tidak lupa ia juga menyilang kan kakinya dengan anggun khas seorang pria pesolek.
Dalam hati Mia sangat yakin, jika saja Elston sama seperti pria pada umumnya, maka pria itu akan terlihat sangat rupawan. Sangat pas jika di sandingkan dengan pemandangan yang ada ditempat ini. Melihat nya sekilas saja, Mia yakin jika penilaian nya tidak akan salah.
Klien kali ini memang luar biasa..
"Nah, Mia." Elston menunjuk dengan telunjuknya yang begitu lentik. Sampai-sampai membuat Mia tergoda untuk menyatukannya.
"Sebaiknya kau ubah caramu memanggil ku. Kita tidak membutuhkan cara-cara formal agar kita bisa saling memuaskan."
...Memuaskan?...
Elston melanjutkan kata-katanya. Sebab ia sangat yakin, apapun yang dilakukan gadis di depannya ini tujuan akhirnya tidak lain adalah berada diatas ranjangnya.
"Karena kau sudah di sini. Maka tugas pertama mu adalah melayani ku." Elston sengaja mengatakan kata-kata vulgar tersebut untuk menggoda Mia. Elston ingin melihat sebagaimana lihai gadis itu menyembunyikan niat terselubungnya.
__ADS_1
"Kau ingin aku apa?" Sahut Mia dengan santai. "Merapikan barang-barang mu? membersihkan ranjang?" Mia melirik ke atas tempat tidur yang masih berantakan.
"Atau mungkin membawakan sarapan untuk mu..? aku siap untuk bekerja." Mia mengatakan semua hal yang berhubungan dengan melayani tuan mudanya itu.
Bertingkah sok polos! Cih. Menyebalkan! Elston tersenyum sinis.
Tapi anehnya, senyum Elston justru terlihat mencurigakan bagi Mia. Dan benar saja, tidak lama setelah itu piyama yang menutupi tubuh putih semampai itu pun melorot dengan sendirinya. Jantung Mia terhenti sesaat. Ah sial.
...Sepertinya kali ini ia harus berurusan dengan pria cantik yang mesum....
Bernafas lah Mia. Bernafas. Mengingat kata profesional. Sebisa mungkin Mia menahan ekspresi wajahnya agar tetap datar tenang. Ini benar-benar gila. Dasar pria mesum sialan! Dalam hati Mia berdecak kesal.
Tapi ia tahu bahwa ia tidak harus mengeluarkan semua isi kepalanya saat ini. Mia harus menahannya. Sial. Kenapa aku harus terikat kontrak dengan manusia seperti ini!
Elston yang melihat Mia bergeming pun hanya diam saja.. "Tunggu apa lagi. Bukan kah kau seharusnya mulai melayaniku?" perintah Elston semakin memprovokasi.
Tanpa pikir panjang, Mia pun meletakan tasnya di atas meja terdekat kemudian kembali pada Elston. Elston tersenyum sinis. Tapi gadis itu tidak berkomentar apapun untuk sesaat. Sepertinya tebakannya benar. Dasar gadis menjijikkan.
"Kau ingin apa?" sahut Mia bersikap biasa. "Ganti baju? atau ingin mandi?" Mia menunduk untuk mengambil piyama Elston yang berserakan di dekat tumpuan kakinya. Menutup mata saat harus melewati bagian sensitif yang sialnya sempat terlihat sekilas.
...Pria mesum sialan!...
"Bukankah kau sudah lihat sebelumnya? aku masih gadis di bawah umur. Tolong jangan menodai mata ku dengan cara seperti ini. Jika anda berpikiran ingin melakukan hal-hal dewasa seperti itu, tolong cari yang lain saja. Aku tidak berminat untuk melakukan seperti yang ada didalam pikiran anda " Mia memasangkan kembali piyama Elston dengan tatapan tegas. Ini adalah peringatan pertamanya.
Dalam hitungan detik, Mia bergegas untuk berjalan ke arah kamar mandi.
"Aku akan menyiapkan air hangat. Karena sepertinya anda membutuhkan itu." suara Mia terdengar sedikit nyaring. Meskipun ia menyindir dengan halus, Mia tetap ingin menjaga keprofesionalan dirinya dalam bekerja.
Dalam diam dan keheningan yang terasa begitu panjang, Elston tak kuasa menahan rasa malunya. Awalnya ia hanya berencana menggoda Mia dan melihat bagaimana reaksi gadis itu. Tapi ternyata, ia harus membuat dirinya sendiri menelan pil rasa malu yang sedikit melukai harga dirinya.
Gadis itu tidak termakan oleh muslihat Elston. Sial.
...❄️❄️❄️...
Pukul satu siang adalah waktu Mia untuk menghadiri mata kuliah pertama nya hari ini. Beruntung hari ini ia hanya memiliki satu kali pertemuan. Dan itupun dengan dosen yang tidak suka menghabiskan waktu dari para siswanya yang berharga untuk sekedar berbasa-basi.
Dan untungnya lagi, majikan barunya tak memiliki aktivitas lain di luar rumah. Sehingga Mia bisa mendapatkan ijin untuk pergi ke kampus.
"Selamat siang Mr. Owen." Sapa Mia saat ia berjalan mendahului dosen tertampan di kampus nya itu.
"Selamat siang juga Mia." Owen balas tersenyum. Gadis itu selalu saja ceria setiap kali mereka bertemu.
__ADS_1
Sesampainya di kelas. Hal pertama yang di cari oleh mata pun Owen adalah tempat duduk Mia. Gadis itu seperti sumber energi saat Owen sedang mengajar.
"Selamat siang semuanya. Saya harap pertemuan kali ini tidak akan membosankan." sapa Owen memberikan salam pertamanya.
"Yes sir." jawab semua mahasiswa.
...❄️❄️❄️...
"Mr.Owen?" Panggil Mia. Ia ingin meminta waktu sejenak saat jam pertemuan sudah berakhir. Saat ini mereka sedang berada di koridor, tepat di depan kelas yang sudah kosong.
Owen berbalik karena mengenali suara yang memanggil dirinya. "Ada apa Mia?" gadis itu mendekat dengan cepat.
"Apa aku boleh minta ijin untuk tugas kelompok?" tanya Mia. Owen mengernyit. "Maksud ku. Aku ingin mengerjakan tugas kelompok itu sendiri."
"Kau sudah mendapatkan pekerjaan baru?" sela Owen mengganti topik pembicaraan. Sedang Mia tidak yakin apakah ia harus bercerita tentang pekerjaan barunya saat ini atau sebaliknya.
Hanya karena mereka bertetangga, bukan berarti hal pribadi yang menyangkut dirinya harus ia ceritakan semuanya, bukan?
"Begitulah. Jadi kalau bisa..?"
"Bukan kah kau harus menyelesaikan tugas itu secara berpasangan? bagaimana mungkin kau bisa mengerjakan nya sendiri?" sela Owen lagi.
"Karena itulah.."
"Kalau begitu biar aku yang membantu mu. Setelah kau selesai bekerja, kita bisa mengerjakannya perlahan. Bagaimana?"
Mia hampir tidak bisa berkata-kata. Bagaimana ia harus menanggapi saran tersebut. Tawaran dosennya memang terdengar lebih baik. Terlebih lagi Mia juga tidak punya waktu jika harus menyelesaikan nya bersama orang lain.
...Tapi apakah hal seperti ini boleh di lakukan? Bagaimana dosen membantu muridnya menyelesaikan tugas, sedang tugas itu di berikan oleh dirinya sendiri....
...Ah... Masa bodoh!...
"Baiklah. Begitu saja." putus Mia tidak ingin membuang kesempatan bagus. Tawaran tersebut adalah kesempatan yang langka bukan?
"Kalau begitu katakan saja kapan kau ingin mengerjakannya." sambung Owen. Kesepakatan pun sudah di buat. Mia tersenyum. "Baiklah. Terimakasih sir."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1