OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-90


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Sekembalinya ke Milan, Owen langsung pulang ke apartemen. Ia mengabaikan semua pekerjaan yang seharusnya ia laporkan untuk papanya, demi hal yang menurut nya jauh lebih penting. Yaitu bertemu Mia.


Ia harus menanyakan secara langsung apa yang sebenarnya terjadi dan apa alasan wanita itu berada di perusahaan Elston sepanjang malam.


Meskipun tahu mungkin tindakan nya akan dianggap berlebihan, dan juga terlalu ikut campur, tapi Owen tidak perduli. Ia hanya ingin tahu apakah Mia benar-benar bersama pria itu ataukah hanya sebuah kesalahan.


Jika ia tidak bertanya langsung, maka rasanya ia akan gila. Memikirkan banyak hal tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi benar-benar telah membuat Owen merasa frustasi sepanjang hari.


Jika memang mereka melakukan itu,..


Sialan! Argh! Benar-benar sialan!


Owen tidak rela, bahkan sedikitpun tidak. Mia adalah miliknya, wanita yang dicintainya selama ini tidak akan ia berikan begitu saja pada pria lain.


...❄️❄️...


Sudah hampir satu jam lamanya Owen berdiri dengan gelisah di depan pintu apartemen Mia. Namun gadis itu belum juga datang.


Owen tidak bisa tenang. Hatinya terus saja gelisah.


"Kau yakin? kalau jadi kau aku tidak akan melakukan hal itu."


Deg...


Perhatian Owen kini teralihkan. Dari tempatnya berdiri, ia bisa mendengar suara Mia meskipun masih samar-samar. "Hem. Baiklah, aku akan melakukan seperti yang kau minta."


Lagi.. Suara itu semakin terdengar jelas. Bahkan suara langkah kaki Mia. Owen bisa tahu dengan pasti jika itu benar-benar Mia. Akhirnya.


Di saat yang sama, Owen pun langsung menghampiri Mia dan menemukan gadis itu di ujung tangga..


"Benarkah, aku akan,-


Deg..


Mia terpaku. Begitu juga dengan Owen. Tatapan keduanya saling bertemu. Namun mereka sama-sama tidak bicara.


Sedangkan ponsel yang ada di tangan Mia masih menyala, dan suara yang sangat samar masih bisa Owen dengar dari tempatnya berdiri. Suara seorang wanita.

__ADS_1


"Maurin, seperti nya aku harus pergi sekarang. Sampai bertemu besok." kata Mia mengakhiri panggilan teleponnya secara sepihak.


Tatapan mata Owen melembut, sedangkan tubuhnya masih mematung. Bisa dibilang ini adalah momen canggung bagi keduanya.


Terlebih lagi akhir-akhir ini mereka sangat jarang bertemu, meskipun sebenarnya Owen selalu mengirimkan pesan dan Mia selalu mengabaikan pesan tersebut.


Dan saat mereka bertemu seperti ini, justru akan membuat mereka sama-sama merasa lebih canggung lagi.


"Owen...?" panggil Mia saat Owen tidak bereaksi sedikitpun. "Kau baik-baik saja?" tanya Mia memastikan. Hal ini sedikit aneh baginya sebab Owen tidak bicara apapun. Biasanya pria itu akan mencari topik atau..


"Owen...? Hei..?" Panggil Mia lagi kemudian menyentuh pelan tangan Owen, dan seperti nya sentuhan Mia membuat Owen sedikit terkejut.


Ah... bisa-bisa nya aku melamun di saat seperti ini.


"Kau baru pulang? tidak bersama pria itu?" suara Owen terdengar ragu namun terkesan dingin. Mia mengernyit. Mungkinkah? "Maksud mu Elston?"


Owen mengangguk tapi kali ini dengan ekspresi wajah yang kembali berbeda. Mia tersenyum kecil. "Kau pikir aku pengasuh? kami tidak harus bersama setiap waktu bukan?"


Kali ini Owen lah yang dibuat mengernyit. Apa maksudnya itu? apa artinya mereka tidak harus bersama setiap waktu? apa karena mereka sudah benar-benar bersama, dan hanya berpisah sebentar karena harus pulang ketempat berbeda?


Dada Owen terasa sesak. Perasaannya berubah gelisah.


Jadi sekarang mereka sudah menjalin hubungan lagi? dan semalam benar adanya jika mereka menghabiskan waktu bersama. Ternyata begitu.


"Owen...?"


"Owen?" suara Mia sedikit meninggi. "Kau yakin kalau kau baik-baik saja?"


Owen mulai kehilangan semangat dalam dirinya, dan hal itu membuat kakinya seperti tak bertenaga. Ia sudah menggunakan semua keberanian dan keyakinan hatinya untuk memastikan semuanya. Dan inilah jawaban yang ia dapat.


Owen menggeser kakinya, Ia bersandar di ujung tangga dengan kepala tertunduk lesu menyembunyikan kemuraman diwajahnya.


Apa lagi yang ia harapkan? Owen sudah kehilangan semuanya. Dan sekarang, sepertinya ia harus tahu diri, bahwa cinta nya hanyalah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Cinta yang tidak akan pernah berbalas lagi.


Dan sedikit pun ia sudah tidak memiliki kesempatan untuk itu. Tidak ada lagi.


Mia benar-benar bingung melihat sikap Owen yang seperti ini. Ada apa dengan Owen? Tidak biasanya pria ini menunjukkan ekspresi seperti saat ini. Apa telah terjadi sesuatu?


"Ow..


"Pulang lah. Kau pasti lelah." suara Owen terdengar lebih dingin dari sebelumnya. Apa aku melakukan kesalahan? "Kau baik-baik saja? wajah mu terlihat pucat?" tanya Mia mengabaikan kata-kata pria didepannya.


Owen menaikan tatapannya, dilihatnya wajah Mia. Tatapan gadis itu, serta ekspresi wajahnya saat ini. Mia sedang mengkhawatirkan dirinya.

__ADS_1


Tapi apa arti dari rasa khawatir mu saat ini Mia? apa kau hanya ingin mempermainkan aku? atau kau memang berencana untuk balas dendam?


"Aku baik-baik saja. Pulanglah." kata Owen kembali tertunduk. Apakah ini saatnya untuk menyerah? Hah!


Owen mulai membenci dirinya. Rasa bersalah dan rasa tidak dicintai membuat hatinya kembali tercabik-cabik.


Kau sungguh bodoh kawan! Benar-benar bodoh! Owen mentertawakan dirinya sendiri. Meskipun begitu, hatinya benar-benar sakit. Mau bagaimana lagi, sebab Owen sungguh mencintai Mia. Ia benar-benar mencintai gadis itu.


"Ayo. Kau juga harus pulang. Sepertinya kau juga lelah." kata Mia mencoba meraih tangan Owen. Tapi Owen menepis tangan Mia saat itu juga.


"Kenapa kau harus peduli? bukan kah selama ini aku hanya menyusahkan mu? karena itulah kau membenciku bukan?" suara Owen bergetar dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Deg..


Pria itu kembali tertunduk. "Pulanglah Mia. Maafkan aku. Sepertinya aku melakukan kesalahan lagi. Maafkan aku."


Mendengar kata-kata Owen, Mia tidak tahu harus berkata apa. Meskipun ia memang merasa sedikit terganggu dengan semua yang Owen lakukan selama ini, tapi ia tidak membenci pria itu. Mia tidak pernah membenci Owen.


"Baiklah. Aku akan pulang, kembali lah jika kau sudah merasa lebih baik. Udaranya akan semakin dingin." kata Mia yang tidak tahu harus melakukan apa lagi.


Meskipun tidak membenci pria itu, tapi Mia tidak punya alasan untuk tetap berada di sana. Pria itu sudah menyuruhnya pergi, bahkan menepis tangannya. Meskipun sedikit terkejut dengan sikap Owen, tapi hal seperti itu mungkin saja terjadi, bukan?


Saat Mia mulai melangkah, Owen kembali bersuara..


"Kenapa kau harus peduli? seharusnya kau abaikan saja. Seharusnya kau tidak menunjukkan ekspresi seperti itu."


Deg.. Dada Mia terasa ngilu.


"Dengan begitu.. dengan begitu aku tidak akan." suara Owen mulai samar.. Mia sempat ragu untuk sesaat. Tapi kemudian ia memutuskan untuk berbalik..


Saat itu kembali mengarahkan pandangan pada pria itu, posisi pria itu sudah berubah. Owen tengah meringkuk di ujung tangga dengan wajah yang di sembunyikan diantar kedua tangan dan lutut yang melingkar membentuk sebuah pertahanan.


Mia belum pernah melihat punggung yang seperti ini. Punggung seseorang yang terluka dan putus asa. Apakah Owen sedang terluka, oleh ku?


Dengan perasaan yang bercampur aduk, Mia kembali melangkah pada Owen.. tangannya terulur untuk menyentuh punggung itu. Punggung yang kokoh namun bergetar.


"Owen, aku minta maaf. Ku mohon jangan seperti ini."


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2