OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-11


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Owen berjalan gusar di depan apartemen miliknya. Ia sedang menunggu dalam kecemasan. Tidak biasanya ia seperti ini. Tapi ini adalah pertama kalinya ia di buat cemas hanya karena pekerjaan - menunggu.


Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, dan Owen sangat yakin jika Mia belum juga pulang dari tempat nya bekerja. Andai saja ia tahu dimana gadis itu bekerja, setidaknya ia akan berpura-pura memiliki urusan ditempat yang sama. Dan membawa Mia pulang dengan selamat.


Meskipun sadar jika ia tidak berhak ikut campur dalam urusan Mia, setidaknya Owen bisa memastikan jika gadis itu baik-baik saja. Owen benar-benar sedang mencemaskan Mia.


"Apa aku bersikap keterlaluan padanya?" Owen mengingat kejadian sebelumnya. Owen tidak habis pikir kenapa ia harus bersikap kasar hanya karena Mia menyebut nama Vivian.


Apakah karena itu Mia tidak kembali? karena tidak ingin bertemu dirinya? benarkah gadis itu sedang menghindar?


Seharusnya Owen bisa mengendalikan diri dan memisahkan urusan pribadi antara dirinya dengan Vivian terhadap urusan nya dengan Mia.


Tapi apa yang dilakukan nya? "Sial. Aku juga tidak bisa bertanya langsung!" Owen kesal pada dirinya sendiri.


Sebagai laki-laki yang tidak memiliki hubungan apapun dengan Mia, akan terasa canggung jika ia bersikap posesif dan bertanya langsung pada gadis itu tentang keberadaan dirinya saat ini.


"Apa yang harus ku lakukan? berpikir lah Owen. Berpikir!"


...❄️❄️❄️...

__ADS_1


...MENSION ELSTON...


...Pukul 3 dini hari......


"Kita belum selesai juga?" Elston merenggangkan tangan dan tubuhnya yang mulai terasa pegal. Ia juga beberapa kali menguap karena menahan kantuk.


"Sedikit lagi." Mia memelas. "Aku harus mengumpulkan tugas ini besok. Jadi bantu aku sedikit lagi, Hem?" Jika saja Bones bisa menggunakan kamera seperti Elston, maka Mia tidak akan minta bantuan tuannya itu. Mia cukup tahu diri tentang apa yang di mintanya saat ini. Tapi ia tidak punya pilihan lain.


Lagi pula ini juga bukan keinginan nya untuk menyelesaikan tugas pada jam seperti ini. Jika saja Elston tidak mengajak dirinya pergi ke pesta, seharusnya semua tugas Mia sudah selesai sejak awal.


Ditambah lagi Mia juga tidak mungkin minta bantuan pada Owen mengingat bagaimana pria itu bersikap dingin padanya tadi siang. Bukan karena Mia marah atas sikap Owen yang tiba-tiba terasa asing, hanya saja ia tidak enak hati jika harus merepotkan pria yang sudah memiliki seorang tunangan.


"Kau harus memijat ku setelah ini sebagai bayarannya." sahut Elston menuruti permintaan Mia.


"Kau pikir hanya dirimu yang lelah? Siapa suruh kau terlalu lama berada di pesta aneh itu." gerutu Mia dengan suara rendah.


"Aku memang ingin kau mendengar nya."


Cih. Elston hanya bisa tersenyum. Gadis kecil di depannya memang selalu bersikap terang-terangan. Dan Elston cukup menyukai sikap itu.


Baginya, Mia terasa seperti manusia yang sebenarnya. Jauh dari kemunafikan.


...❄️❄️❄️...


Pukul 5 dini hari, Elston yang tidak ingat kapan ia mulai tertidur mulai terjaga karena merasa haus. Tenggorokan nya terasa serat dan kering. Baru kali ini ia merasa sesak di dalam kamar yang luasnya seperti lapangan tenis tersebut.

__ADS_1


"Apa gadis kecil itu sudah menyelesaikan tugasnya?" Elston menggeleng pelan. mencari-cari keberadaan Mia.


Saat ingin bangun dan berbalik Elston merasakan beban yang cukup berat menekan tangannya. Tapi kemudian ia mengurungkan niatnya untuk bangun karena mendapati Mia sedang tertidur pulas sambil menindih tangannya. Ternyata gadis itulah sumber ketidaknyamanan yang baru saja Elston rasakan.


Mia tertidur sangat pulas di sebelahnya. Di atas tangannya. Manisnya.


"Seperti nya kau mulai lupa jika aku adalah tuan mu." gerutu Elston sambil menekan pelan hidung kecil dan lancip milik Mia.


"Aku benar bukan? kau benar-benar mengincar ranjang ku!" Elston tak bisa menutupi senyuman lebar di wajahnya.


Lama Elston memandangi wajah Mia. Dan entah sejak kapan wajahnya terasa menghangat. Bahkan Elston merasa malu sendiri dengan tingkahnya yang diam-diam memandangi wajah cantik Mia.


Biasanya gadis itu selalu terlihat cerewet dan sedikit menyebalkan. Bahkan tak jarang Elston melihat raut wajah tegas dan enggan dari Mia. Tapi saat ini, saat gadis itu tertidur dengan pulas, wajah Mia terlihat seperti seorang dewi yang sesungguhnya.


"Tidurlah dengan nyenyak gadis kecil. Aku akan memeluk mu agar kau tidak kedinginan." Elston tersenyum lebar saat merapatkan tubuhnya dengan tubuh Mia.


"Ah, lihatlah tubuh kecil ini, sangat pas untuk di peluk. Kau membuat ku ingin tidur lebih lama. Salah mu yang naik ke ranjang ku. Sekarang aku akan tidur seperti ini." Elston menutup tubuh keduanya dengan selimut.


Rasa haus yang tadi menggerogoti dirinya kini entah hilang kemana. Ia tidak akan bergeser walau sedikit jika bisa terus seperti ini.


"Ah... nyamannya!"


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2