OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-64


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


...8 bulan kemudian.....


Mia berjalan menuruni tangga sambil memperhatikan sekelilingnya. Saat tiba di lantai dasar, mata Mia langsung tertuju pada satu sosok yang saat ini tengah berselonjor dengan nyaman di atas Sofa. Siapa lagi kalau bukan Elston. Satu-satunya pria yang ada di penthause megah itu.


"Kau tidak bekerja? akhir-akhir ini seperti nya kau juga lebih sering dirumah..?" Mia mengambil tempat dan duduk di sebelah Elston yang saat ini sedang berbaring dengan nyaman seraya membolak-balikkan lembaran majalah bisnis di tangannya.


"Sedang malas saja. Lagipula aku sedang ingin bersama mu." balasnya. "Karena aku tidak kemana-mana, apa kau mau pergi membeli cake?" ajak Elston yang langsung mengalihkan perhatian kepada Mia.


"Cake lagi?" Mia menggelengkan kepalanya heran. Akhir-akhir ini Elston sangat suka membeli berbagai macam cake dari toko yang ada di persimpangan kantornya.


Katanya, toko itu menyajikan begitu banyak cake dengan varian rasa yang enak. Selain itu semua cake juga di desain dengan tampilan yang indah. Karena itulah hampir setiap hari Elston membeli kue dari toko tersebut setelah ia pulang bekerja.


Dan coba tebak apa yang paling membuat Mia kesal?


"Kenapa, kau sudah tidak suka lagi?"


"Yang kemarin saja masih tersisa banyak di kulkas. Sekarang kau mau beli lagi, kenapa tidak sekalian saja kita pindahkan tokonya kerumah ini." balas Mia, ketus. Jujur saja, Mia sudah mulai bosan menjadi alat pencicip bagi Elston.


Entah berapa banyak cake yang harus ia habiskan karena merasa sayang jika di buang begitu saja. Sedangkan Elston selalu membeli kue-kue itu tanpa menanyakan pendapat Mia terlebih dahulu. Benar-benar bersikap sesuka hati.


Dalam hitungan detik, wajah Elston langsung terlihat berbinar. "Benarkah? ku rasa itu ide yang bagus." turut Elston dengan senyum sumringah. Seakan-akan kata-kata sarkas Mia adalah sebuah ide cemerlang baginya.


"Els..." ujar Mia membulatkan mata memperingati. Mia heran, apakah akhir-akhir ini Elston sedang merasa bosan dengan pekerjaannya, karena itulah ia menghibur diri dengan membeli berbagai macam jenis cake yang bisa ia dapati dari toko tersebut.

__ADS_1


"Ya. Ya baiklah gadis kecilku." Elston memutar matanya gemas melihat wajah kesal Mia. "O, ya bagaimana dengan kuliah mu, apakah semuanya baik-baik saja?" Elston kembali berbaring sambil membalik majalah ke halaman berikutnya.


"Hem. Semua baik-baik saja. Semua ini karena dirimu." kata Mia dengan tulus. Jika bukan karena Elston, Mia tidak tahu bagaimana harus menyelesaikan studinya pada situasi seperti ini. Karena bantuan Elston lah Mia hampir menyelesaikan studi akhirnya dengan baik.


Dan rencananya, setelah studinya nanti selesai, Mia akan langsung bekerja dengan salah satu perusahaan Mode ternama milik sahabat Elston. Dan itu semua bisa dengan mudah Mia dapatkan bukan hanya karena dirinya, tapi berkat Elston juga. Karena itulah Mia sangat bersyukur telah mengenal Elston dalam hidupnya.


Elston kembali duduk dengan kedua tangan yang di ulurkan langsung pada Mia, "Kalau begitu berikan aku satu kecupan. Di sini." Elston menunjuk pipinya yang tengah menunjukkan bulatan dalam. (Lesung pipi)


"His. Kau ini." Tepis Mia. Ini bukan yang pertama atau kedua kalinya Elston menggoda Mia seperti ini. Tapi sudah puluhan atau mungkin ratusan kalinya. Dan pria itu tidak juga bosan melakukan hal yang sama.


Elston menekuk wajahnya sambil memicing kepada Mia, "Kenapa? katanya semua itu karena aku, lalu kenapa kau menolak saat ku minta balasannya? Padahal kau bisa melakukannya dengan mudah. Atau perlu ku tunjukan caranya? hah? bagaimana? Mau ku tunjukan caranya?"


Tidak ingin meladeni Elston lebih lama, Mia pun memilih untuk pergi ke pantry. "Dasar kekanak-kanakan." ucap Mia sambil lalu.


"Biar saja. Aku begini hanya padamu Miaaaaa..." seru Elston cukup nyaring. Tidak lama setelahnya terdengar suara cekikikan yang membuat Mia sekali lagi menggelengkan kepala. Lagi-lagi Elston berhasil menggodanya.


"Dasar menyebalkan!"


...Di tempat lainnya.....


...Newcastle...


"Semua laporan yang anda minta ada di sini tuan." Sebuah map di serahkan di atas meja Owen. "Dan setelah istirahat makan siang, kita bisa langsung pergi untuk melihat proses pembangunannya." lapor Tomy.


Tomy adalah sekertaris yang Owen pilih sendiri saat ia mulai bekerja di kantor cabang SEAM GROUP yang berada di Newcastle.


Saat ini Owen sedang fokus untuk memantau pengerjaan proyek baru SEAM GROUP dan sejauh ini, semuanya berjalan dengan baik. Jika pengerjaan sesuai rencana, maka dalam waktu beberapa bulan lagi pembangunannya bisa di selesaikan hingga rampung.


"Hem. Baiklah. Kalau begitu ingatkan aku jika waktu nya tiba. Kau bisa keluar sekarang." Sahut Owen yang merasa cukup dengan laporan tersebut.

__ADS_1


"Baik tuan."


Setelah Tomy keluar dari ruang kerjanya, Owen kembali menghadap ke laptop yang ada di depannya, sebab sebelumnya ia sedang melakukan panggilan langsung ke London.


"Bagaimana, apa kau sudah menemukan dimana Mia berada?" tanya Owen melanjutkan pembicaraan yang tadinya sempat terputus. karena kehadiran Tomy.


"Belum tuan. Tidak ada tanda-tanda keberadaan nona Mia untuk saat ini. Saya sudah memeriksa semua hal yang mungkin berkaitan dengan nona Mia, tapi tidak ada satupun yang bisa di jadikan petunjuk."


"Namun ada satu hal yang bisa di pastikan. Bahwa Mr. Stuard juga meninggalkan London di hari yang sama dengan keberangkatan anda. Hal itu bisa di konfirmasikan melalui daftar penerbangan tuan Stuard. Hanya saja, nama nona Mia tidak terdaftar dalam penerbangan tersebut." lapor sekertaris Owen sesuai dengan penyelidikannya.


Owen diam sesaat. Mungkin saat ini sudah waktunya ia menyerah dengan keinginannya untuk menemukan keberadaan Mia. "Hentikan saja pencarian mu. Mungkin saat ini gadis itu sudah menemukan tempat nya sendiri. Terimakasih untuk kerja kerasmu selama ini." perintah Owen dengan berat hati.


"Baik tuan. Dan juga,-"


"Apalagi?"


"Tentang nona Vivian, Presdir akan memutasikan nona Vivian ke perusahaan cabang yang ada di greenhils dalam waktu dekat."


"Baiklah. Terimakasih atas informasinya." setelahnya, Owen langsung mengakhiri panggilan tersebut. Dalam hatinya ia merasa sedikit khawatir karena tidak menemukan keberadaan Mia.


Sejak mereka berpisah, jejak keberadaan Mia pun seperti ikut menghilang. Jika sudah begini, bagaimana Ia harus mengatasi hatinya? Bagaimana ia harus mengatasi semua kerinduannya?


Kosong. Hanya kekosongan dan sisa kenangan Mia sajalah yang menemani Owen selama ini. Dan sekarang, saat sudah tidak ada lagi harapan yang tersisa, maka Owen hanya akan bertahan dengan semua yang tersisa di dalam hatinya.


Itu saja.. Tidak ada lagi yang lainnya. Sebab cintanya kini benar-benar telah berakhir.


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2